NovelToon NovelToon
Menjerat Hati Sang Ceo Dingin

Menjerat Hati Sang Ceo Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Romansa
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

Alexander "Alex" Ar-Rasyid (30 Tahun)

Seorang CEO muda yang dingin, perfeksionis, dan workaholic. Ia memegang kendali penuh atas Ar-Rasyid Group, sebuah konglomerat raksasa di bidang properti dan investasi. Baginya, pernikahan adalah bentuk kerja sama bisnis yang tidak penting, hingga sebuah perjodohan keluarga memaksa hidupnya jungkir balik.

Keisha Azalea Pramesti (25 Tahun)

Seorang fashion designer berbakat, mandiri, dan memiliki idealisme tinggi. Ia pemilik butik haute couture Azalea Label. Di balik senyum lembutnya, Keisha adalah wanita tangguh yang menolak dipandang sebelah mata dan sangat mencintai dunianya—sketsa, kain, dan jarum jahit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

Matahari sore meredup perlahan, menyisakan bias jingga tua yang memantul di atas permukaan kaca jendela gedung-gedung bertingkat di kawasan Senayan. Di dalam ruang kerja privat lantai empat puluh lima Ar-Rasyid Tower, suasana terasa sunyi dan pekat. Hanya ada deru halus mesin pendingin ruangan dan suara ketukan ritmis jari Alexander di atas meja kerja marmer hitam.

Alex duduk tegak dengan kemeja putih berlengan digulung separuh, menatap tajam ke arah layar laptop yang menampilkan laporan keuangan kuartal terbaru dari cabang-cabang anak perusahaan di Asia Pasifik. Namun, pikirannya tidak sepenuhnya berada di atas deretan angka-angka laba rugi tersebut. Sejak siang tadi, sebuah firasat buruk—naluri bisnis yang jarang meleset—mengusik ketenangannya.

Pintu ruang kerja terketuk dua kali dengan sopan sebelum dibuka perlahan. Siska, sekretaris pribadinya, melangkah masuk dengan membawa sebuah amplop cokelat tebal berstempel khusus. Wajah wanita itu tampak serius, menyembunyikan kekhawatiran yang berusaha ia redam.

"Maaf mengganggu waktu Anda, Tuan Alexander," ucap Siska dengan nada formal sambil meletakkan amplop tersebut di atas meja. "Laporan investigasi dari tim intelijen swasta di Singapura mengenai pergerakan aset sisa milik almarhum faksi Victor Ar-Rasyid baru saja masuk."

Alex mengangkat dagunya, menghentikan ketukan jarinya di atas meja. Manik mata kelamnya langsung menatap amplop cokelat itu lekat-lekat. "Ada perkembangan apa lagi? Bukankah seluruh jaringan Marc Laurent sudah dilumpuhkan di Paris?"

"Benar, Tuan. Jaringan di Eropa sudah bersih," jawab Siska hati-hati. "Namun, laporan ini menunjukkan adanya aliran dana gelap sebesar sepuluh juta dolar yang ditransfer dari sebuah bank lepas pantai (offshore bank) di Kepulauan Cayman ke rekening sebuah perusahaan cangkang baru di Jakarta. Perusahaan itu terdaftar atas nama entitas hukum misterius bernama Meridian Capital."

Alex menyipitkan matanya. Rahang tegasnya mengeras seketika. "Meridian Capital? Aku belum pernah mendengar nama korporasi itu dalam daftar mitra strategis kita."

"Itu karena perusahaan tersebut baru didirikan dua minggu lalu, Tuan," lanjut Siska. "Dan yang lebih menarik sekaligus berbahaya... orang yang memegang kuasa penuh atas operasional Meridian Capital di Indonesia bukanlah orang asing. Dia adalah Julian Pramana—mantan direktur keuangan Wijaya Corp yang dulu sempat buron setelah skandal persekongkolan bisnis tahun lalu."

Mendengar nama itu, udara di dalam ruangan seakan berubah menjadi dingin. Julian Pramana adalah sisa-sisa musuh lama yang berhasil melarikan diri dari jerat hukum saat kejatuhan almarhum saingannya, dan kini pria itu kembali muncul ke permukaan membawa modal finansial besar yang disponsori oleh pihak misterius dari balik bayang-bayang.

"Julian Pramana..." gumam Alex dingin, suaranya bagaikan desisan angin malam dari jurang yang dalam. "Rupanya masih ada tikus got yang belum sempat dibersihkan dari selokan."

"Apa instruksi Anda, Tuan? Apakah kita harus melapor ke pihak kepolisian atau mengerahkan tim hukum untuk membekukan aset mereka?" tanya Siska.

Alex menggelengkan kepalanya pelan, menyandarkan punggungnya pada kursi kulit eksekutif dengan tatapan mata yang menyiratkan kalkulasi berbahaya. "Jangan libatkan polisi dulu. Julian adalah tipe pengecut yang licik; ia pasti bergerak di balik celah hukum. Jika kita menyerangnya secara terbuka sekarang, ia akan bersembunyi di balik tameng formalitas hukum."

Alex terdiam sejenak, lalu memberikan instruksi tegas. "Lacak setiap pergerakan investasi mereka di pasar modal domestik. Cari tahu perusahaan properti mana yang sedang mereka incar untuk diakuisisi secara diam-diam. Kita biarkan mereka masuk ke dalam perangkap kita sendiri."

"Baik, Tuan. Saya akan segera menggerakkan tim audit dan intelijen internal," jawab Siska sebelum membungkuk hormat dan berjalan keluar ruangan.

Setelah pintu tertutup rapat, Alex menghela napas panjang. Ia berdiri dari kursinya, melangkah perlahan menuju dinding kaca besar yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota Jakarta yang mulai menyala di malam hari. Pikirannya langsung melayang kepada Keisha. Istrinya itu sedang berada di galeri seni Menteng untuk menyelesaikan persiapan akhir tata letak pameran bersama para kurator internasional.

Alex merogoh saku celananya, mengambil ponsel pintar terenkripsi, lalu mendial nomor istrinya. Sambungan terhubung setelah deringan ketiga.

"Halo, Tuan CEO," suara lembut dan ceria Keisha langsung menyapa telinganya di ujung sambungan, membuat ketegangan di dada Alex sedikit mencair seketika. "Jangan bilang kau meneleponku hanya untuk menyuruhku pulang makan malam tepat waktu?"

Alex tersenyum tipis, sudut bibirnya melunak. "Bagaimana aku bisa tidak menyuruhmu pulang jika istriku itu selalu lupa waktu kalau sudah berada di galeri seninya?"

Di ujung sambungan, Keisha tertawa renyah—suara merdu yang selalu berhasil menjadi penenang terbaik bagi jiwa Alex. "Aku sedang merapikan penataan pencahayaan galeri bersama kurator asal Milan, Alex. Sepuluh menit lagi semua selesai, dan aku berjanji akan langsung naik ke mobil."

"Bagus," ucap Alex dengan nada protektif yang kentara. "Dan pastikan Malik atau pengawal pribadi lainnya mendampingimu keluar gedung. Aku akan mengirimkan mobil jemputan khusus untukmu."

"Siap, Komandan," jawab Keisha diakhiri dengan tawa kecil sebelum sambungan ditutup.

Meskipun percakapan itu terasa manis, kewaspadaan di dalam diri Alex sama sekali tidak menurun. Kehadiran Julian Pramana di Jakarta menandakan bahwa badai baru sedang merangkak mendekat. Dan kali ini, Alex bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh wanita yang dicintainya.

Sementara itu, di kawasan Menteng yang tenang, gedung galeri seni baru Azalea Label tampak indah diterangi oleh lampu sorot arsitektural yang menonjolkan gaya klasik kolonial berpadu modern. Di dalam aula pameran lantai dua, Keisha sedang berbincang dengan seorang kurator asal Italia mengenai tata letak etalase gaun haute couture edisi khusus musim semi.

"Pencahayaan di sudut ini sudah sempurna, Nyonya Keisha," puji sang kurator sambil mengangguk kagum. "Koleksi ini benar-benar memancarkan aura seni tingkat tinggi."

"Terima kasih banyak atas bantuannya hari ini," balas Keisha ramah. "Mari kita lanjutkan sisa detailnya besok pagi. Hari sudah semakin malam."

Setelah para staf dan kurator meninggalkan gedung satu persatu, Keisha berjalan perlahan menuju ruang kantor pribadinya di lantai dasar untuk merapikan beberapa dokumen rancangan desain terakhir sebelum pulang. Ia mengenakan mantel panjang berbahan wol tipis berwarna krem di atas gaun kerjanya, rambut cokelatnya tergerai rapi.

Saat ia membuka pintu ruang kerjanya, ia mendapati lampu meja kecil di atas meja kerjanya sudah menyala, padahal ia ingat betul ia memadamkannya sebelum pergi ke lantai atas tadi.

Keisha menghentikan langkahnya sejenak. Alisnya berkerut. Ruang kerja privat ini hanya bisa diakses menggunakan kartu sandi digital khusus yang hanya dipegang oleh dirinya dan Alexander.

"Siapa di sana?" panggil Keisha dengan suara tenang namun tegas, menunjukkan keberanian mental yang telah ditempa melalui berbagai pengalaman hidupnya.

Dari balik bayang-bayang rak arsip besar di sudut ruangan, sesosok pria berjas rapi melangkah keluar perlahan. Pria paruh baya berambut kelabu dengan senyuman tipis tersungging di bibirnya—Julian Pramana.

Keisha membelalakkan matanya sesaat. Ia tidak menyangka akan mendapati musuh lama dari masa lalu berdiri di dalam ruangannya sendiri tanpa pengawalan yang terlihat.

"Selamat malam, Nyonya Keisha Ar-Rasyid," sapa Julian dengan nada suara yang tenang, licin, dan terdengar merendahkan. "Senang akhirnya bisa berkenalan langsung dengan desainer hebat yang telah membuat imperium keluarga Ar-Rasyid bertekuk lutut di bawah pesonanya."

Keisha tidak menunjukkan rasa gentar sedikit pun. Ia menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menatap Julian dengan manik mata cokelatnya yang tajam setajam silet.

"Julian Pramana," ucap Keisha dingin, tanpa sedikit pun rasa takut dalam suaranya. "Rupanya buronan seperti dirimu memiliki keberanian yang cukup besar untuk menyelinap masuk ke dalam properti pribadi keluarga Ar-Rasyid. Kau tidak belajar apa pun dari nasib rekanmu, Victor?"

Julian tertawa kecil—suara sumbang yang terdengar tidak menyenangkan. Ia melangkah mendekat perlahan, berhenti dua meter dari meja kerja Keisha. "Victor adalah orang tua serakah yang bodoh. Ia mengandalkan kekuatan kasar dan ancaman murahan, hal itulah yang membuatnya hancur. Tapi aku... aku bermain di level permainan yang sama sekali berbeda."

Julian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jasnya. "Kau pikir kesuksesan Azalea Label di Eropa dan galeri seni megah ini sepenuhnya berada di tangan kalian? Meridian Capital saat ini sedang mengakuisisi seluruh kepemilikan utang properti di kawasan komersial Menteng ini. Dalam hitungan minggu, tanah tempat galeri impianmu berdiri ini akan jatuh ke tangan kami."

Keisha menyipitkan matanya, menganalisis ancaman tersebut dengan cepat. "Jadi, seluruh sandiwara aliran dana gelap itu... adalah upaya pengambilalihan aset secara paksa melalui jalur finansial bawah tanah?"

"Tepat sekali," senyuman licik Julian semakin melebar. "Suamimu mungkin seorang CEO yang hebat di meja bursa, tapi ia tidak akan bisa menyelamatkan butik dan galerimu dari kebangkrutan hukum yang akan kuciptakan. Kecuali..." Julian sengaja menggantung kalimatnya, menatap Keisha dengan sorot mata penuh kalkulasi kotor.

"Kecuali apa?" potong Keisha tanpa gentar sedikit pun.

"Kecuali jika kau bersedia membujuk Alexander untuk menarik diri dari proyek tender investasi energi hijau di Asia Tenggara yang sedang diperebutkan oleh korporasi kami," bisik Julian tajam. "Jika Alexander mundur dari tender itu, aku akan membatalkan seluruh gugatan akuisisi atas galeri ini. Sebuah penawaran yang adil, bukan?"

Keisha terdiam sejenak. Ia menatap pria di hadapannya dengan rasa jijik yang luar biasa. Cara-cara kotor dan manipulatif seperti ini benar-benar membuktikan betapa rendahnya moral orang-orang yang mencoba merusak kebahagiaan mereka.

Sebelum Keisha sempat melontarkan kalimat balasan yang menohok untuk membungkam Julian, pintu utama ruang kerja tiba-tiba terbuka dengan bantingan keras yang menggema ke seluruh ruangan.

Brak!

Langkah kaki tegap yang sangat cepat dan berat terdengar berlari masuk ke dalam ruangan. Alexander Ar-Rasyid, dengan napas sedikit memburu dan sorot mata kelam yang memancarkan kemunafikan maut, berdiri di ambang pintu dengan tatapan predator yang siap mencabik-cabik mangsanya.

Di belakang Alex, tiga orang pengawal pribadi berbadan tegap langsung mengepung ruangan, menghalangi satu-satunya jalan keluar bagi Julian Pramana.

Alexander melangkah masuk dengan kecepatan kilat. Sebelum Julian sempat berkedip atau melarikan diri, Alex mencengkeram kerah jas pria itu dengan satu tangan, lalu mendorong tubuh Julian dengan kekuatan penuh hingga punggung pria paruh baya itu membentur dinding rak arsip dengan bunyi benturan keras.

"Kau..." desis Alex dengan suara bariton rendah yang bergetar karena amarah luar biasa, suaranya bagaikan geraman singa kelaparan dari neraka. "Berani sekali kau menginjakkan kaki di properti milik istriku dan melontarkan ancaman di hadapannya."

Julian meringis kesakitan, napasnya tersenggal-senggal di bawah cengkeraman tangan besi sang CEO, namun ia masih mencoba tersenyum sinis. "A-Alexander... kau pikir dengan membunuhku, rahasia korporasi kami akan lenyap? Perusahaan kami—"

"Aku tidak peduli pada perusahaan sampahmu, Julian," potong Alex dingin, manik matanya menatap tajam penuh ancaman kematian. "Tapi menyentuh istriku adalah garis batas terakhir yang tidak boleh dilanggar oleh siapa pun di dunia ini."

Alex menoleh sekilas ke arah pengawalnya. "Bawa dia ke ruang bawah tanah tingkat empat. Pastikan dia tidak melihat cahaya matahari lagi sampai seluruh tim audit kita melumpuhkan setiap sen aset perusahaannya."

"Baik, Tuan!" jawab para pengawal serempak, langsung menyeret Julian keluar ruangan dengan gerakan cepat dan terukur di tengah jeritan protes panik pria tersebut.

Setelah ruangan kembali sunyi, Alex melepaskan ketegangannya seketika. Ia berbalik cepat, lalu merengkuh tubuh Keisha ke dalam dekapannya dengan sangat erat, seolah-olah ia ingin memastikan bahwa istrinya benar-benar aman tanpa ada satu pun goresan luka.

Keisha melingkarkan kedua tangannya di pinggang suaminya, merasakan deum jantung Alex yang berdegup kencang di balik dada bidang pria itu. Ia mendongak, menatap wajah tegang suaminya dengan senyuman tenang yang menenangkan.

"Aku baik-baik saja, Alexander," bisik Keisha lembut. "Kau datang tepat pada waktunya."

Alex mengecup dahi istrinya lama sekali, menyalurkan seluruh rasa cinta dan perlindungan mutlak yang ia miliki. Badai baru mungkin baru saja dimulai, dan nama Meridian Capital atau Julian Pramana masih harus diselesaikan, namun di dalam pelukan erat itu, mereka berdua tahu persis bahwa tidak ada satu kekuatan pun di dunia ini yang bisa memisahkan atau meruntuhkan benteng cinta yang telah mereka bangun bersama.

1
Exo L
kakk tulisannya, fashion gak sih?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!