NovelToon NovelToon
Mantan Oh Mantan

Mantan Oh Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eureka Irene

Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tetangga di Depan Kamar

Keputusan logis terbesar dalam hidup Dean tidak lagi diambil di dalam ruang rapat korporat berselimut kaca [travel]. Dua hari setelah Valerie melangkah pergi dari rumah utamanya dengan tatapan mata yang mati rasa, Dean mengalihkan seluruh fokus duniabisnisnya menuju sebuah misi baru yang tak masuk akal bagi seorang CEO perfeksionis. Jika duniakah logika kaku miliknya telah mengajari Valerie cara membangun benteng es, maka dialah yang harus meruntuhkan seluruh arsitektur tembok tinggi tersebut, seberapa pun lama dan melelahkannya perjuangan itu nanti.

Langkah taktis pertama yang diambil Dean adalah mengunci pergerakan Carlo secara permanen dari radar Valerie. Melalui firma hukumnya, Dean memastikan bahwa setiap berkas tuntutan tanggung jawab dari keluarga Sarah dipantau ketat, membuat Carlo tidak memiliki celah fisik sedikit pun untuk meninggalkan Jakarta Pusat. Namun, itu saja tidak cukup. Dean tahu, luka terbesar Valerie adalah rasa kesepian dan terasing—perasaan ditinggalkan oleh orang tuanya di rumah, diputus secara kejam oleh dirinya di kantor, dan dikhianati secara tak sengaja oleh Carlo dalam satu malam. Valerie tidak butuh kata maaf jarak jauh; gadis itu membutuhkan kehadiran fisik yang konstan yang membuktikan bahwa dia adalah prioritas utama.

Pukul dua siang, sebuah mobil boks logistik besar terparkir di pelataran gedung apartemen mahasiswa tempat tinggal Valerie. Beberapa petugas pindahan tampak sibuk menaikkan tumpukan perabotan mewah berdesain minimalis modern menuju lantai lima belas.

Dean melangkah keluar dari lift lantai lima belas mengenakan kemeja kasual hitam yang lengannya digulung rapi. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah kunci kartu digital baru. Langkah kakinya yang tegap berhenti tepat di depan pintu unit apartemen nomor 1501—unit kamar kosong yang posisinya tepat berada di seberang lorong, berhadapan langsung dengan pintu unit nomor 1502 milik Valerie. Dean telah membeli unit apartemen tersebut dengan harga dua kali lipat dari harga pasar melalui agensi properti dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.

Klik.

Pintu unit 1501 terbuka. Dean melangkah masuk, menatap ruang tengah yang masih kosong. Jendela besar di unit ini menampilkan sudut lorong yang sama dengan jendela kamar Valerie. Dari titik inilah, Dean bersumpah akan menjadi garda terdepan yang menjaga jalur hidup Valerie dari gangguan pria mana pun, sekaligus memulai pengejaran panjang satu tahun penuh untuk memenangkan kembali hati yang telah mati rasa itu.

Sore harinya, jam digital di dinding lorong apartemen menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit. Pintu lift berdenting terbuka, menampilkan sosok Valerie yang melangkah keluar dengan tubuh yang tampak lebih kurus. Dia baru saja menyelesaikan kelas praktikum laboratorium yang melelahkan di kampus. Wajah manisnya pucat, dipenuhi oleh kelelahan mental yang pekat. Tatapan matanya lurus menatap lantai marmer koridor, mengabaikan duniakah luar seperti sesosok raga tanpa jiwa.

Langkah kaki Valerie terhenti sempurna tepat dua langkah sebelum pintu kamarnya. Insting defensifnya mendadak menangkap adanya perubahan drastis pada atmosfer koridor lantai lima belas yang biasanya sunyi. Unit apartemen nomor 1501 yang selama berbulan-bulan terkunci rapat dan kosong, kini pintunya terbuka sedikit, memancarkan berkas cahaya lampu hangat dari dalam.

Klek. Pintu nomor 1501 terbuka lebar dari dalam.

Dean melangkah keluar dari ambang pintu dengan gerakan yang sangat tenang dan kaku. Pria itu kini telah mengganti kemejanya dengan kaus polo kasual berwarna abu-abu gelap, penampilannya tampak jauh lebih santai namun tetap memancarkan aura wibawa yang kuat. Di tangan kirinya, ia membawa sebuah mangkuk keramik kecil berisi sup asparagus hangat yang baru saja selesai dibuat oleh koki pribadinya di dalam kamar.

Valerie terpaku di tempatnya berdiri. Sepasang mata elangnya yang sedingin es menatap lekat-lekat sosok mantan kekasihnya dengan kilatan keterkejutan luar biasa yang bercampur dengan rasa tidak suka yang teramat pekat.

"Kenapa kamu ada di sini, Dean?" tanya Valerie, suaranya terdengar sangat kaku, datar, dan tanpa riak ekspresif sedikit pun. Nada bicaranya begitu menusuk, seolah dia sedang berhadapan dengan musuh terbesar dalam hidupnya.

Dean menghentikan langkahnya tepat di tengah koridor, menjaga jarak aman dua meter dari posisi Valerie agar tidak membuat gadis itu merasa terintimidasi oleh kehadirannya. Pria kaku itu menatap wajah pucat Valerie dengan binar mata yang dipenuhi oleh penyesalan mendalam sekaligus ketulusan yang teramat sangat besar.

"Mulai hari ini, saya adalah tetangga baru di depan kamarmu, Valerie," jawab Dean dengan nada suara yang sangat rendah, tenang, namun sarat akan ketetapan mutlak yang tidak bisa didebat oleh siapa pun. "Saya sudah membeli unit apartemen ini. Jadi, kamu akan melihat wajah kaku saya setiap kali kamu membuka atau menutup pintu kamarmu."

Valerie tertawa getir—sebuah tawa kering tanpa emosi yang terdengar sangat menyedihkan di koridor apartemen yang sunyi. "Kamu benar-benar sudah gila, ya? Setelah menuduhku sebagai penjahat korporat setahun lalu dan mengusirku dari kantormu, sekarang kamu pindah ke sini hanya untuk memamerkan kekuasaan materi milikmu? Apakah menurut otak jeniusmu, ini adalah cara yang logis untuk menebus dosa masa lalumu?"

Dean tidak membantah satu patah kata pun dari kalimat sarkasme yang dilemparkan Valerie. Dia menerima setiap kata tajam itu sebagai bentuk karma nyata yang memang layak dia tanggung akibat kepicikannya dulu. Dean melangkah maju satu langkah kecil dengan sangat hati-hati, lalu mengulurkan mangkuk sup hangat ke arah Valerie.

"Saya tahu tindakan saya di masa lalu tidak akan pernah bisa dimaafkan hanya dengan sebuah kata draf maaf, Valerie," ucap Dean kaku, namun matanya memancarkan kesungguhan pekat yang belum pernah Valerie lihat selama dua tahun kebersamaan mereka dulu. "Saya ke sini bukan untuk memaksamu menerima saya kembali hari ini atau besok. Saya ke sini karena logika saya akhirnya menyadari satu hal: membiarkan kamu menghadapi kegelapan duniakamu sendirian setelah semua rasa sakit ini adalah kesalahan terbesar dalam hidup saya. Ini sup asparagus hangat. Makanlah sedikit, wajahmu sangat pucat setelah pulang dari kampus."

Valerie menatap mangkuk sup di tangan Dean, lalu perlahan menaikkan pandangannya menatap lurus ke dalam manik mata elang pria di hadapannya. Tembok tinggi yang dia bangun di dalam hatinya sama sekali tidak goyah oleh aroma makanan hangat tersebut. Hatinya telah terkunci rapat dari dalam untuk lelaki manapun, termasuk untuk robot es di depannya ini.

"Aku tidak butuh sup motormu, Dean. Dan aku tidak butuh kehadiranmu di depan kamarku," bisik Valerie dengan suara sedingin salju, meremas tali tas kuliahnya dengan erat. "Simpan semua inisiatif terlambatmu ini untuk sekretaris barumu atau untuk duniabisnis miliaran rupiahmu itu. Jangan pernah berani-berani mengetuk pintu kamarku."

Valerie menggeser kunci kartu digitalnya pada panel pintu unit nomor 1502 dengan gerakan kaku yang cepat. Begitu pintu terbuka, dia melangkah masuk ke dalam ruang tengah apartemennya tanpa menoleh lagi ke arah Dean sedikit pun. Pintu unit apartemen ditutup dengan suara dentuman keras yang menggema di sepanjang lorong lantai lima belas.

Dean berdiri mematung sendirian di tengah koridor yang sunyi, menatap pintu putih nomor 1502 yang telah tertutup rapat di hadapannya. Dia perlahan menurunkan tangannya yang memegang mangkuk sup hangat, mengembuskan napas panjang melalui hidung untuk menguasai gemuruh sesak di dadanya.

Kekejaman kata-kata Valerie dan penolakan telak barusan sama sekali tidak membuat tekad bulat sang CEO goyah. Sebaliknya, hal itu justru menjadi bukti nyata bagi logikanya bahwa luka batin yang dia tanam di masa lalu memang sedalam itu, dan dia harus bersiap menghadapi penolakan yang jauh lebih ekstrem selama tiga ratus enam puluh lima hari ke depan.

Dean berjalan kembali memasuki unit kamarnya sendiri, meletakkan mangkuk sup di atas meja dapur, lalu berjalan menuju balkon luar. Dari atas balkon lantai lima belas, dia menatap langit malam Jakarta yang mulai gelap berselimut bintang samar.

Perjuangan panjang, melelahkan, dan penuh inisiatif dari seorang Dean kini resmi mengunci koordinat hidupnya tepat di depan duniakah Valerie. Menjadi garda terdepan berarti dia harus siap menerima setiap tatapan dingin, setiap pengabaian, dan setiap dinding es yang Valerie tunjukkan, sampai suatu hari nanti konsistensi tanpa celahnya berhasil membuktikan bahwa cintanya bukan lagi sekadar kewajiban formalitas draf kerja sama, melainkan sebuah ketulusan mutlak yang siap menjaga wanita itu sepanjang sisa hidup mereka bersama.

Dean telah resmi menempati posisi barunya sebagai tetangga depan kamar Valerie, siap memulai penantian setahun penuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!