NovelToon NovelToon
Belenggu Cinta Sang CEO

Belenggu Cinta Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Gastor Gaming

Anindya (22 tahun) terpaksa menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Vane (28 tahun), CEO kejam dari Vane Group, demi membayar biaya pengobatan adiknya. Adrian hanya memanfaatkan pernikahan ini untuk membalas dendam pada keluarga Anindya yang ia tuduh memfitnah keluarganya di masa lalu.

Adrian bersikap dingin, arogan, dan menetapkan batasan ketat: tidak boleh ada rasa cinta. Namun, saat rahasia masa lalu yang sebenarnya perlahan terkuak dan musuh bisnis Adrian mulai menargetkan Anindya, Adrian sadar bahwa wanita yang ia benci telah menjadi pelindung jiwa dan takdir hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gastor Gaming, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Malam Pengantin Bernilai Miliaran

Lampu kristal megah di penthouse lantai 45 memancarkan cahaya redup.

Suasana hening, hanya terisi oleh suara detak jarum jam dinding dan derap langkah sepatu kulit yang berat.

Duduklah, suara Adrian bernada dingin, mengalihkan pandangan dari jendela besar yang menampilkan gemerlap kota.

Anindya meremas gaun pengantin mewahnya yang terasa mencekik.

Apakah saya boleh melepas sepatu ini terlebih dahulu, Tuan?

Terserah padamu. Tapi pastikan kau mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari mulutku malam ini, jawab Adrian tanpa menoleh sedikit pun.

Anindya melepaskan high heels-nya perlahan, membiarkan kakinya menyentuh lantai marmer yang dingin. Saya mendengarkan.

Kau tahu betul alasanmu berdiri di ruangan ini sekarang, bukan? tanya Adrian, berbalik dan menatap langsung ke mata Anindya.

​Ya. Karena uang tiga miliar rupiah yang Anda transfer ke rekening rumah sakit adik saya tadi siang, jawab Anindya lugas, menatap balik tanpa ragu.

Bagus kalau kau sadar diri. Tiga miliar untuk sebuah nama belakang. Untuk status sebagai Nyonya Vane selama tepat tiga ratus enam puluh lima hari, sahut Adrian sembari melangkah menuju meja kerjanya.

​Anindya menarik napas panjang.

Anindya menarik napas panjang. Tiga ratus enam puluh lima hari. Setelah itu, kita bercerai dan tidak saling mengenal lagi. Begitu, Tuan Adrian?

Tepat sekali. Tapi sebelum itu terjadi, ada aturan yang harus kau taati. Ambil berkas di atas meja itu, perintah Adrian dingin.

Anindya mendekati meja kerja dari kayu mahoni gelap tersebut. Tangannya mengambil map hitam tebal. Perjanjian Kerahasiaan dan Pernikahan Kontrak?

Baca lembar ketiga, paragraf kedua. Baca dengan nyaring agar kau mengingatnya, seru Adrian seraya menuangkan whisky ke dalam gelas kristal.

Anindya membuka halaman yang dimaksud dan membacanya perlahan.

Pihak kedua tidak berhak atas aset, saham, atau kekayaan pihak pertama dalam bentuk apa pun setelah masa kontrak berakhir.

Lanjutkan ke poin berikutnya, potong Adrian cepat.

​Pihak kedua dilarang keras mencampuri urusan pribadi, bisnis, maupun hubungan asmara pihak pertama. Pihak kedua wajib menjaga citra keluarga Vane di depan publik dan media, lanjut Anindya.

Suaranya sedikit bergetar, namun ia berusaha tetap tenang.

Adrian menyesap minumannya. Dan poin yang paling penting di lembar terakhir. Kau sudah membacanya?

Poin tentang batasan fisik? tanya Anindya.

​Ya. Di rumah ini, kau hanya status. Jangan pernah menyentuh barang-barangku, jangan memasuki kamar utamaku, dan yang paling penting... jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu atau jatuh cinta padamu.

Kau mengerti? tegas Adrian, menatap Anindya dengan mata pekatnya yang tanpa emosi.

Saya mengerti, Tuan Adrian. Saya di sini bukan untuk mencari cinta. Saya di sini untuk menyelamatkan nyawa adik saya, balas Anindya tegas.

Jawaban yang sangat realistis. Aku suka wanita yang tahu posisinya, ujar Adrian dengan senyum sinis.

Lalu di mana kamar saya? Saya rasa acara resepsi konyol tadi siang sudah cukup menguras tenaga saya, tanya Anindya, mengalihkan pembicaraan.

Adrian menunjuk ke arah koridor gelap di sebelah kanan. Kamar tidurmu di ujung lorong sebelah kiri. Kamar tamu sekunder.

Bukan di kamar utama bersamamu? tanya Anindya memastikan.

Kau pikir aku mau berbagi ranjang dengan wanita yang baru kukenal satu minggu? Jangan mimpi, Anindya.

Kita hanya suami istri di atas kertas dan di depan kamera media," jawab Adrian pedas.

Anindya mengepalkan tangannya di balik lipatan gaun. Baiklah. Itu justru membuat saya lebih bernapas lega.

Satu hal lagi, sela Adrian saat Anindya hendak berbalik meninggalkan ruangan.

Anindya menghentikan langkahnya. Apa lagi, Tuan?

Besok pagi jam tujuh tepat, kau harus sudah siap. Kita ada sesi wawancara eksklusif dengan media nasional, kata Adrian.

Wawancara? Mengenai apa?

Mengenai betapa indahnya kisah cinta kita hingga akhirnya kita memutuskan untuk menikah secara mendadak. Kau harus berakting seolah-olah kau sangat mencintaiku sejak pandangan pertama,

jelas Adrian santai.

Anindya terkekeh pelan, sebuah kekehan hambar.

Berpura-pura mencintai pria dingin dan arogan seperti Anda? Tampaknya itu akan menjadi tugas terberat saya tahun ini.

Kau dibayar tiga miliar untuk akting itu, Anindya. Jadi pastikan performamu sempurna, ancam Adrian pelan namun penuh penekanan.

Saya akan melakukan bagian saya. Anda tidak perlu khawatir, sahut Anindya.

Bagus. Sekarang pergilah ke kamarmu. Jangan ganggu aku lagi malam ini, usir Adrian seraya kembali menatap layar laptopnya.

Anindya membalikkan badan dan melangkah menyusuri lorong dingin penthouse tersebut. Setiap langkahnya terasa begitu berat.

Ketika ia sampai di depan pintu kamar ujung, langkahnya terhenti oleh suara denting ponsel di dalam tas genggamnya.

​Ia merogoh tasnya dan mengangkat panggilan tanpa melihat nama pemanggil. Halo?

Anindya! Kau di mana sekarang?! suara di ujung telepon terdengar panik dan terengah-engah. Itu suara Fikri, sahabat dekatnya.

Aku di rumah... maksudku, di penthouse Adrian, Fik. Ada apa? Kenapa suaramu seperti itu? tanya Anindya cemas.

Nindy, listen to me! Kau harus keluar dari tempat itu sekarang juga! Jangan sentuh apa pun dan jangan percaya pada Adrian Vane! teriak Fikri dari balik telepon.

Jantung Anindya berdegup kencang. Fikri, bicara yang jelas! Ada apa sebenarnya? Aku sudah menandatangani kontraknya. Pelunasan rumah sakit Rian sudah selesai!

Uang itu... uang tiga miliar itu bukan uang pinjaman atau bayaran pernikahan kontrak biasa, Nindy! Fikri berbisik lirih, suaranya bergetar hebat.

Maksudmu apa? Bicara yang jelas, Fikri! desak Anindya, merapat ke dinding lorong yang dingin.

​Aku baru saja meretas berkas rahasia milik pengacara keluarga Vane. Pernikahan ini bukan untuk menyelamatkan nama baiknya dari media, Nindy!

Lalu untuk apa?! suara Anindya meninggi, berusaha menahan kepanikan yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.

Pria itu... Adrian Vane membutuhkanmu karena sebuah syarat dalam klausa eksperimen medis dan asuransi jiwa kuno keluarganya! Siapa pun wanita yang menikah dengannya dan menandatangani dokumen lembar ketiga...Fikri menghentikan kalimatnya, terdengar suara helaan napas berat dan ketakutan yang amat sangat.

Fikri! Katakan padaku! Lembar ketiga kenapa?! jerit Anindya pelan.

Dokumen yang kau tandatangani tadi... itu bukan cuma perjanjian kerahasiaan, Nindy. Itu adalah surat persetujuan pengalihan seluruh hak hidup dan organ tubuhnya jika terjadi sesuatu padanya!

Anindya membeku di tempat. Udara di sekitarnya mendadak terasa hilang. Tangannya gemetar hebat hingga ponselnya hampir terlepas dari genggaman.

Nindy? Kau masih di sana?! Keluar dari sana sekarang sebelum pintu penthouse itu dikunci otomatis! teriak Fikri di telepon.

Anindya perlahan menoleh ke belakang, ke arah lorong utama tempat ia datang tadi. Di sana, berdiri Adrian Vane yang sedang menyandarkan tubuhnya di dinding, memegang sebuah remot kontrol kecil di tangannya dengan senyuman dingin yang sangat mengerikan.

Brak! Bzzzt!

Suara besi tebal beradu terdengar bergema di seluruh penthouse. Seluruh pintu keluar dan jendela kaca otomatis tertutup rapat oleh lapisan baja tebal. Sistem keamanan terkunci total.

Siapa yang memberitahumu soal lembar ketiga, Istriku? bisik Adrian pelan, melangkah mendekati Anindya dalam kegelapan lorong.

1
Om Udik
lanjut🙏
Om Udik
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!