NovelToon NovelToon
Penyihir: Di Mulai Dari Korban Pinjol

Penyihir: Di Mulai Dari Korban Pinjol

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Fantasi
Popularitas:853
Nilai: 5
Nama Author: Arya Walker

[ Fantasi Barat+ Misteri+ Sistem+ Ksatria+ Penyihir+ Abad Pertengahan ]

Agus yang terlibat pinjol akhirnya mati karena kecelakaan, jiwanya terseret ke dalam dunia lain dan menjadi Simon Blake di dunia pedang dan sihir, Simon bangkit dari budak bandit hingga menjadi penyihir terkuat, dengan sistem kemahirannya ia akan mencapai puncak!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Walker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gadis Yang Baik

Setelah jasad anggota sekte itu diseret ke semak-semak dan ditimbun dengan salju tipis, Kapten Jon menyarungkan pedangnya dengan bunyi dentingan logam yang bersih.

Ia menoleh ke arah timnya, wajahnya tampak lelah di bawah cahaya senja perbatasan yang mulai memudar.

"Kita tidak bisa terus berada di alam terbuka seperti ini," kata Kapten Jon dengan hati yang berat.

"Ayo kita cari desa terdekat untuk beristirahat.

esok kita akan menyusun rencana lagi untuk mencari tahu di mana sisa-sisa Sekte Widow ini bersembunyi."

Tomi menghela napas panjang, menatap jubah birunya yang kini ternoda bercak darah merah pekat yang mulai mengering dan menghitam.

Kapten benar. Sial, pakaianku sekarang penuh dengan darah. Baunya benar-benar menusuk hidung."

Kruyuuukk...

Suara nyaring tiba-tiba terdengar berasal dari perut Gogo.

Ia menggosok perutnya yang buncit dengan wajah memelas.

Aku juga sudah lapar sekali. Bertarung di udara dingin seperti ini benar-benar menghabiskan tenaga."

Jack tertawa kecil, meskipun wajahnya masih menyisakan ketegangan dari pertempuran tadi.

"Gogo, sebaiknya kau mulai belajar untuk menahan makan. Berat badanmu terus meningkat, kawan. Jika terus begini, kuda perangmu akan menyerah sebelum musuh datang."

"Mana bisa!" balas Gogo dengan sewot

Aku tidak bisa hidup tanpa makan. Otot juga butuh bahan bakar, Jack!"

"Hahaha "

Di sisi lain, Shade berjongkok di samping jasad yang baru saja mereka "bereskan".

Tangannya yang cekatan merogoh kantong tersembunyi pada jubah hitam anggota sekte tersebu.

Tiba-tiba, jemarinya menarik keluar sebuah benda kecil berbentuk kepingan logam kusam.

"Aku menemukan sesuatu," ucap Shade dengan singkat.

Simon, yang sejak tadi hanya berdiri diam dengan tangan bersilang, mendekat.

Matanya menatap tajam ke arah benda di tangan Shade.

"Apa itu?" tanyanya dengan suara yang datar.

Shade menyerahkan benda itu kepada Kapten Jon.

Kapten memeriksa kepingan logam yang diukir dengan pola jaring laba-laba yang rumit, lambang khas Sekte Widow.

"Nampaknya ini sebuah token identitas dalam Sekte Widow," kata Kapten Jon sembari mengernyitkan dahi.

"Kualitas ukirannya menunjukkan bahwa pemiliknya bukan sekadar anggota rendahan."

"Sebaiknya kita bawa saja. Mungkin ini bisa menjadi petunjuk berharga bagi kita," saran Shade.

Simon mengangguk pelan, menyembunyikan kilatan ketertarikan di balik tatapan matanya.

"Baiklah. Mari bergerak sebelum hari benar-benar gelap."

Rombongan kecil itu segera menaiki kuda masing-masing. Simon menepuk leher Zen, kuda hitam-putihnya, sebelum memacunya pelan mengikuti Kapten Jon menembus kabut salju.

Derap kaki kuda rombongan Kapten Jon membelah kesunyian perbatasan utara yang mulai ditutupi salju tipis.

Dari kejauhan, dinding kayu sebuah desa kecil mulai terlihat di antara pepohonan pinus yang gundul.

Di atas pos penjaga yang reyot, seorang pemuda desa menyipitkan matanya menembus kabut senja.

Tangannya yang kasar mencengkeram tombak kayu dengan gemetar.

"Apa itu? Pedagang? Bukan... kilatan logam itu... mereka membawa pedang dan baju zirah prajurit!" Pikirnya dengan jantung berdegup kencang.

"Jangan-jangan ini adalah bandit!?" Ia tidak berani mengambil risiko.

"Aku harus segera menemukan kepala desa!"

Pemuda itu melompat turun dari posnya, berlari melintasi jalanan tanah menuju sebuah rumah batu yang sedikit lebih besar dari bangunan lainnya.

......

Tok! Tok! Tok!

"Kepala desa! Kepala desa!" teriak penjaga itu sembari menggedor pintu dengan panik.

Pintu kayu itu terbuka perlahan, menampakkan seorang pria tua dengan wajah keriput yang tampak mengantuk. "Ada apa? Aku sedang tidur tadi..." gumamnya dengan risih.

"Kepala desa, ada rombongan yang datang! Mereka memakai baju besi dan pedang, mereka datang ke arah sini!" lapor penjaga itu dengan napas terengah-engah.

Mendengar kata 'baju besi' dan 'pedang', rasa ngantuk pria tua itu hilang seketika. Sebagai pemimpin desa di wilayah perbatasan, ia tahu bahwa hanya pasukan resmi atau tentara bayaran elit yang memiliki perlengkapan seperti itu.

"Memakai baju besi dan pedang?" Kepala desa itu berpikir sejenak sebelum matanya membelalak sadar.

"Ayo tunggu apa lagi, antar aku bertemu mereka!" perintahnya dengan tegas.

.........

Ketika mereka berdua sampai di pagar desa, penduduk desa lainnya sudah berkerumun, menatap dengan campuran rasa takut dan takjub ke arah rombongan Simon.

Kapten Jon, tanpa turun dari kudanya, menarik kendali hingga kudanya meringkik pelan.

Di sampingnya, Simon yang menunggangi Zen, kuda hitam-putihnya, tetap diam dengan wajah acuh, namun matanya memindai sekeliling dengan rasa penasaran.

"Di antara kalian, siapa pemimpin desa ini?!" teriak Kapten Jon dengan suara yang keras.

"Minggir!" seru kepala desa sembari menerobos di antara kerumunan penduduk desa.

"Itu aku tuan, sayalah kepala desa di sini," balasnya sambil membungkuk rendah.

Kapten Jon menatap pria tua itu dari atas pelananya.

"Hmm, aku adalah ksatria di bawah Baron Brent dan di belakangku juga seorang calon ksatria," ucap Jon sembari memberi isyarat ke arah mereka.

"Senang bisa menyambut ksatria Baron," jawab kepala desa dengan nada gemetar.

"Kalau boleh tahu, ada apa tuan ksatria datang ke desa terpencil ini?"

"Kami membutuhkan tempat beristirahat, dan kebetulan kami menemukan desamu," jawab Kapten Jon.

Simon melirik ke arah Tomi yang pakaian birunya masih ternoda bercak darah dari pertempuran sebelumnya.

"Jadi begitu. Kami akan menjamu para ksatria dengan baik," ucap kepala desa dengan hormat.

Ia kemudian menoleh ke arah penduduk desa yang masih tertegun melihat keperkasaan rombongan tersebut, terutama sosok Simon yang terlihat sangat tampan.

"Apa yang kamu lihat! Cepat siapkan kamar terbaik untuk para ksatria terhormat ini!" bentak kepala desa.

"Ba-baik kepala desa!" Balas penduduk desa sembari berlarian menyiapkan perbekalan.

Kepala desa kembali menatap Kapten Jon dengan senyum.

"Para ksatria terhormat, mohon tunggu sebentar ya, kami sedang menyiapkan kamar. Sambil menunggu kamarnya jadi, mari saya pandu keliling desa ini, Tuan."

"Baiklah, pimpin jalan," jawab Kapten Jon dengan tenang sembari memacu pelan kudanya masuk ke dalam desa.

Setelah selesai berkeliling, kepala desa membawa rombongan menuju sebuah bangunan kayu panjang yang terletak di sisi belakang desa.

"Ini adalah kandang terbaik yang kami miliki, Tuan-tuan Ksatria. Meskipun sederhana, tempat ini cukup hangat untuk melindungi kuda-kuda hebat kalian dari hawa dingin di perbatasan yang menusuk ini," ucap kepala desa sembari membungkuk rendah ke arah Kapten Jon.

Simon menuntun Zen masuk ke dalam salah satu bilik jerami.

Ia menepuk leher kuda hitam-putih itu dengan lembut, merasakan napas hangat hewan tersebut di telapak tangannya.

"Beristirahatlah dengan baik, Zen. Jangan lupa makan yang banyak agar staminamu pulih," bisik Simon.

Zen meringkik pelan, menggosokkan kepalanya ke bahu Simon seolah memahami instruksi tuannya.

Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya bersama seorang gadis muda berambut pirang berjalan terburu-buru menghampiri mereka.

"Kepala desa, kamar untuk para ksatria terhormat sudah siap," lapor wanita itu sembari mengatur napas.

Kepala desa mengangguk puas lalu menoleh ke arah Kapten Jon.

"Kamar Anda sudah siap, mari saya antar menuju kediaman untuk beristirahat," ajaknya sembari memimpin jalan.

Gadis muda itu menatap Simon dengan malu-malu 🫣 , Simon tau tapi dia tidak terlalu menghuraukannya.

Saat rombongan kavaleri itu melangkah menyusuri lorong desa yang remang-remang, Simon mendapati langkahnya terhenti secara mendadak.

Seorang gadis muda itu yang menatapnya sebelumnya muncul dari balik dinding kayu, wajahnya tampak sangat gelisah.

Dengan tangan gemetar, ia menyodorkan sebuah sapu kain kecil hasil jahitan tangannya yang rapi ke arah Simon.

"Untukku?" Kata Simon dengan binggung.

Begitu Simon menerima kain tersebut, gadis itu langsung berbalik dan berlari pergi secepat kilat dengan wajah yang memerah padam hingga ke telinga.

Simon menatap kain di genggamannya dengan dahi yang berkerut.

'Apa ini? Kenapa dia memberikan kain padaku? Apakah ini semacam kode rahasia atau jebakan musuh?' pikir Simon dengan curiga.

Ia memeriksa tekstur kain hasil jahitan yang di berikan gadis pirang itu.

'Jahitannya sangat teliti...'

Mungkin ini hanya sapu tangan untuk menyeka darah setelah bertempur. Benar-benar gadis yang baik.

Tomi yang berjalan di sampingnya tiba-tiba merangkul bahu Simon sembari tertawa kecil, merusak ketenangan Simon.

"Nampaknya kawan kita satu ini telah menarik perhatian gadis tercantik di desa ini, ya?" goda Tomi sembari menyenggol lengan baju zirah Simon.

Jack ikut mendekat, ekspresi wajahnya dipenuhi rasa iri yang tak bisa disembunyikan.

"Sialan, Simon! Bagaimana caranya kau bisa mendapatkan perhatian begitu mudah? Beritahu aku tipsnya, Bro!" seru Jack dengan nada yang mendesak.

"Aku sama sekali tidak tahu apa yang kau bicarakan, Jack," jawab Simon dengan pasrah, suaranya tetap tenang tanpa riak emosi sedikit pun.

Gogo yang sedang mengunyah sisa apelnya ikut menimpali sembari terbahak-bahak.

"Ayolah kawan, akui saja. Dengan rambut hitam dan wajah tampanmu itu, gadis mana yang tidak akan jatuh hati? Bahkan di tengah udara dingin seperti ini, kau masih bisa membuat wajah orang lain memerah," canda Gogo.

Simon hanya menggelengkan kepala, mengabaikan ocehan teman-temannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!