NovelToon NovelToon
Kehangatan Di Ujung Senja

Kehangatan Di Ujung Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:138k
Nilai: 5
Nama Author: santi.santi

Bagi Senja Kala, pernikahan ini adalah jembatan menuju kebebasan. Bagi Alfa, pernikahan ini adalah keterpaksaan saat kekasihnya, Dila, berjuang melawan maut.

​Terjebak dalam sangkar baru, Senja memilih mencintai dalam diam dan merawat Dila tanpa dendam. Namun ketika pengorbanan terbesarnya diberikan secara rahasia dan Senja memilih menghilang, Alfa baru menyadari fakta yang menghancurkannya, wanita yang ia abaikan adalah rumah yang selama ini ia cari.

Akankah Alfa bisa menemukan Senja?

Apa Senja bersedia memaafkan dan memberi kesempatan Alfa jika mereka bertemu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan

Malam pertemuan itu diselenggarakan di private room sebuah restoran bintang lima berarsitektur klasik modern di kawasan Jakarta Selatan.

Ruangan itu bernuansa kayu mahoni gelap dengan pencahayaan hangat yang lembut, menciptakan kesan eksklusif dan privat. Di tengah ruangan, meja makan panjang dari kayu jati utuh telah tertata rapi dengan kelengkapan fine dining berlapis perak.

​Senja Kala Anjasmara duduk anggun di sisi kiri meja. Malam ini, ia mengenakan gaun malam bermodel a-line berwarna marun pekat yang membalut tubuh semampainya dengan sangat pas.

Rambutnya ditata setengah terangkat, menyisakan beberapa helai halus yang membingkai wajah cantiknya dengan sempurna. Di sampingnya, Prasetya Anjasmara duduk tegap, sementara sang Mama melengkapi kehadiran keluarga Anjasmara dengan keanggunan yang tampak kaku.

​Pintu ganda berukir indah itu terbuka pelan, diiringi langkah kaki yang mantap. Keluarga Argantara melangkah masuk.

​Paling depan berjalan Gilang Argantara, kepala keluarga sekaligus pendiri Argantara Group, berdampingan dengan istrinya, Devita Argantara, yang tampak hangat namun tetap memancarkan aura sosialita kelas atas.

Di belakang mereka, mengikuti sang putra bungsu, Ares Argantara, yang berusia sekitar dua puluh dua tahun dengan tatapan sedikit acuh santai khas anak muda.

​Lalu, di barisan paling belakang, melangkah sang putra mahkota.

​Alfa Argantara....

​Pria berusia dua puluh delapan tahun itu tampil sangat tampan dan berkelas dengan setelan jas abu-abu gelap buatan penjahit ternama Italia. Kemeja putihnya terancing rapi tanpa dasi, memberikan kesan modern sekaligus tegas. Bahunya lebar, posturnya tinggi tegap, dan garis rahangnya terpahat begitu sempurna.

​Mata Senja bertemu secara tidak sengaja dengan pandangan Alfa selama beberapa detik. Jantung Senja berdesir halus.

Sejujurnya, ini bukan kali pertama Senja melihat Alfa. Sebagai sesama penerus bisnis dan figur publik di kalangan elite, beberapa kali mereka pernah berada di acara penghargaan bisnis, seminar investasi global, hingga pesta amal yang sama.

Namun, selama ini mereka tidak pernah menyapa secara langsung. Mereka hanya saling melempar tatapan dari kejauhan, terpisah oleh kerumunan pebisnis dan kilatan kamera media.

​Pertukaran salam di antara kedua keluarga besar itu berlangsung formal namun hangat. Prasetya Anjasmara berdiri, berjabat tangan erat dengan Gilang Argantara, diselingi tawa renyah yang terasa sangat diperhitungkan.

​"Selamat malam, Pak Prasetya. Senang sekali akhirnya kita bisa duduk di satu meja yang sama" Sapa Gilang Argantara dengan suara berat yang berwibawa.

​"Selamat malam, Pak Gilang, Bu Devita. Sebuah kehormatan bagi kami" Balas Prasetya Anjasmara penuh artikulasi. Pandangan Prasetya kemudian beralih pada Alfa yang berdiri di samping ayahnya.

"Dan ini pastinya Alfa. Luar biasa, persis seperti yang sering saya dengar di berita-berita bisnis."

​"Terima kasih atas pujiannya, Om Prasetya" Jawab Alfa ramah.

Suaranya terdengar berat, hangat, dan tenang. Pria itu menyalami Prasetya, lalu membungkuk hormat pada ibu Senja, sebelum akhirnya tatapannya berlabuh sepenuhnya pada Senja.

​Alfa mengulurkan tangannya pada Senja, memberikan senyuman tipis yang sangat tulus, senyuman yang sama sekali tidak menunjukkan paksaan atau dinginnya seorang pria yang dijodohkan.

​"Selamat malam, Senja" Tutur Alfa lembut.

​Senja menyambut uluran tangan itu. Tangan Alfa terasa hangat dan kokoh menggenggam jemarinya secara santun.

"Selamat malam, Mas Alfa" Sahut Senja dengan nada suara yang terkontrol rapat, menyembunyikan getar kecil di balik kesempurnaannya.

​Ares, adik Alfa, hanya menyapa singkat sebelum duduk di paling ujung meja, sibuk memperhatikan arloji mewahnya tanpa terlalu banyak bicara.

​Makan malam pun dimulai. Hidangan demi hidangan berkelas internasional disajikan berurutan. Perbincangan di meja makan didominasi oleh pergerakan saham, proyek infrastruktur baru, serta ekspansi pasar internasional antara Prasetya dan Gilang.

Senja paham betul alasan di balik kemudahan Papanya menyetujui perjodohan ini. Ini bukan sekadar tentang pernikahan anak, ini adalah aliansi raksasa. Keluarga Anjasmara membutuhkan kekuatan finansial dan jaringan internasional Argantara Group untuk menguasai proyek megah di tahun depan. Senja tahu, dirinya hanyalah kepingan catur utama yang ditumbalkan demi mahkota kekuasaan Papanya.

​Di tengah pembicaraan hangat orang tua mereka, Alfa tiba-tiba memiringkan sedikit tubuhnya ke arah Senja yang duduk di sampingnya. Pria itu mengambil segelas air putih, lalu menatap Senja dari samping.

​"Presentasi bisnismu di hotel kemarin lusa sangat mengagumkan, Senja" Bisik Alfa pelan, memastikan suaranya tidak memotong obrolan para orang tua.

"Aku sempat melihat cuplikan analisis pasarmu. Sangat tajam."

​Senja sedikit terkejut karena Alfa memperhatikan pekerjaannya. Ia tersenyum santun.

"Terima kasih, Mas Alfa. Itu hanya analisis standar untuk ekspansi."

​Alfa terkekeh pelan, tawa pendek yang sangat menyenangkan untuk didengar.

"Standar katamu? Jarang sekali ada direksi yang bisa membaca pergerakan inflasi sepresisi itu" Puji Alfa. Dia menatap mata Senja lebih dalam, nada bicaranya berubah menjadi serius namun tetap lembut.

"Terima kasih untuk pujiannya" Senja menujukkan senyum tipisnya yang sopan. Senyum yang sering ia tunjukkan di depan banyak orang.

​Pertemuan malam itu mengalir dengan sangat lancar. Puncak acara terjadi ketika Gilang Argantara meletakkan cangkir kopinya dan menatap Prasetya Anjasmara dengan wajah serius.

​"Mengenai tanggal pernikahan" Ujar Gilang,

"Devita dan saya menyarankan agar resepsi dan pemberkatan diadakan satu bulan dari sekarang."

​Senja sedikit menahan napasnya ketika mendengar keputusan tentang jalan hidupnya itu.

"Satu bulan?"

Untuk ukuran pernikahan dua dinasti konglomerat yang biasanya membutuhkan waktu persiapan minimal setengah tahun hingga satu tahun demi menyewa gedung raksasa, mengundang ribuan tamu VIP, dan membuat gaun khusus dari desainer internasional, satu bulan adalah waktu yang sangat singkat. Hampir mustahil.

​Namun, Prasetya Anjasmara langsung tersenyum lebar dan mengangguk tanpa ragu.

"Satu bulan adalah waktu yang sangat sempurna, Pak Gilang! Semakin cepat, semakin baik untuk hubungan kedua keluarga kita."

​Devita Argantara menimpali dengan anggukan antusias.

"Tenang saja, wedding organizer terbaik kita sudah disiapkan. Mulai besok, Senja dan Alfa tinggal fokus pada fitting gaun, memilih konsep, dan hal-hal detail lainnya."

​Keputusan telah diketok. Tidak ada ruang untuk sanggahan. Satu bulan lagi, kehidupan Senja akan berubah sepenuhnya.

Senja membayangkan betapa padatnya hari-harinya ke depan, terhimpit di antara pekerjaannya sebagai dewan direksi dan rentetan persiapan pernikahan yang melelahkan.

​Makan malam resmi itu akhirnya selesai menjelang pukul sepuluh malam. Kedua keluarga berdiri di depan pintu keluar restoran privat untuk berpisah.

​Prasetya dan Rahma melangkah lebih dulu menuju mobil limosin mereka yang sudah menunggu di lobi utama. Senja berjalan beberapa langkah di belakang mereka. Sebelum masuk ke dalam mobil, Senja menyempatkan diri untuk berbalik dan mengangguk santun pada keluarga Argantara yang masih berdiri di dekat area kedatangan.

​Alfa berdiri paling depan. Saat matanya beradu kembali dengan mata Senja, pria tampan itu mengulas sebuah senyuman hangat, senyuman yang sangat tulus, mengusir malam yang dingin. Pria itu menganggukkan kepalanya pelan pada Senja, seolah mengirimkan pesan bahwa segalanya akan baik-baik saja.

​Senja terpaku sejenak di pintu mobil. Ia sedikit terkejut. Senyuman itu seolah membentangkan ketenangan yang belum pernah Senja rasakan sebelumnya dari seorang pria. Alfa benar-benar tampak menerima pernikahan ini dengan tangan terbuka. Tidak ada wajah dingin, tidak ada sikap acuh tak acuh.

​Pintu mobil limosin tertutup rapat, memisahkan Senja dari pandangan Alfa. Mobil hitam itu perlahan melaju membelah jalanan kota Jakarta yang gemerlap.

​Di dalam mobil yang hening, Senja menyandarkan punggungnya ke jok kulit yang empuk. Ia menatap keluar jendela, memperhatikan bayangan lampu-lampu jalanan yang berseliweran. Di sampingnya, kedua orang tuanya sudah sibuk berdiskusi mengenai lonjakan harga saham yang diprediksi akan terjadi esok pagi setelah rumor pernikahan ini berembus ke publik.

​Senja tidak mendengarkan mereka. Jemarinya mengusap pelan bekas genggaman tangan Alfa di pangkuannya.

"​Mungkinkah dia benar-benar bisa menerimaku?" Batin Senja lirih.

Sebuah pertanyaan yang mengalun lembut di tengah kegelapan jiwanya.

"Apakah Alfa pria yang dikirimkan takdir untuk membawaku keluar dari penderitaan ini? Apa ini petunjuk dari Tuhan agar aku semakin yakin dengan pernikahan ini?"

​Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan kesepian, Senja membiarkan bibirnya mengukir senyuman tipis yang murni dari dasar hatinya.

Sebuah harapan kecil telah lahir di malam itu, harapan bahwa pernikahan ini bukan sekadar sangkar baru, melainkan pintu menuju rumah hangat yang selalu ia impikan.

1
Fitra Sari
lnjut donk KK berapa hari ini ko ga up lageee🙏giliran udah ktmu go di gantung ..buat donk romantis senja sama Alfa 🙏🙏♥️
mb peppy
ko hari ini gak up ya
Agnezz
aku masih berpikir kenapa Senja mau mengorbankan diri dengan mendonorkan ginjalnya? 🤔🤔 demi Alfa lelaki yg dicintai atau merasa hopeless, merasa impiannya sudah hilang? 🤔🤔 Pengorbanan Senja akhirnya Alfa ikut2an berkorban, menyerahkan segala harta dan tahta, hidup sederhana dan sulit tujuannya adalah menemukan Senja.
Agnezz: berarti karena cinta Senja pada Alfa. kapan up lagi kak Shanti?
total 3 replies
Umfaiq
pa kabar Thor...ditunggu up nya
☆ 𝑺𝒐𝑳𝒆𝑫𝒂𝑫 ☆³ ⚫
blom up thor
Nadja 🎀
coba senja kerja bikin kue di toko, terus Alfa bikin lukis bareng atau bantu bikin kue roti dll bersama... nanti byk pembeli di sana semangat ya!
mery harwati
Penasaran dengan Arganthara orang tuanya Alfa & Ares, semoga sudah mati Arganthara & Prasetya 🤣
Devi Novita
zaman sekarang sudah jarang kisah cinta dan rasa cinta yg begitu dalam pada pasangannya lah kalau wanita2 sekarang bilang makan tu cinta emang cinta bisa beli skincare bisa beli perhiasan bisa buat perut kenyang😅 tp rasa cinta si Alfamart cocok dgn aku yg bersyukur dgn kata susah senang dijalani bersama doa dan ikhtiar GK akan mengkhianati hasil intinya selalu bersyukur maka segala sesuatunya dipermudah oleh Allah SWT, cemungut ya bang Alfa buat menjalani bahtera rumah tangga yg sesungguhnya doa ku bersamamu 🤭😁
Devi Novita
2 hari GK ketemu suami aja aku rindu banget GK tenang gelisah 🫣😂 lah ini 1 THN ya rindu sampai karatan lah 😁
nayla tsaqif
Udahan thorr,, bawangnya,,! Waktunya bahagia,, kerja jd pelukis aja alfa senja,, buka galeri 😩
Silvia
selamat berjuang Alfa dan senja semangat💪💪
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
sesak nafas aq
Fitra Sari
lanjut KK
Hanima
🥹🥹🥹🥹😭
Hanima
gerammm eikeee tau 🤭
Hanima
ke 2 nya bodxx..pakai bangetssss
Sastri Dalila
🥺🥺🥺🙄🙄
Sastri Dalila
🥺🥺🥺👍
Sastri Dalila
🥺🥺🥺
Umfaiq
badai telah berlalu... mudahkan segala urusan nya thorrr...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!