Di masa perkuliahan, di sela petualangan dan kebersamaan, benih cinta tumbuh tulus di antara Doni dan Kristin. Hati mereka saling tertaut, menyusun janji dan harapan akan masa depan. Namun setelah lulus, takdir masing-masing membawa mereka berdua ke jalan yang berbeda. Cinta yang sempat bersemi indah pun terpaksa terhenti, dan mereka berpisah — membiarkan waktu dan jarak memisahkan raga, meski perasaan itu tak sepenuhnya hilang. Beberapa tahun kemudian, takdir kembali menyatukan mereka. Saat mata mereka saling bertemu, kenangan lama bangkit seketika. Perasaan yang sempat terpendam seakan kembali menyapa, utuh seperti sedia kala. Namun kini keduanya bukan lagi anak muda yang dulu tanpa beban. Banyak hal telah berubah, banyak hal telah mengisi hidup mereka masing-masing. Di hadapan perasaan yang kembali menyapa, satu pertanyaan menggantung di udara: apakah kali ini mereka akan bersatu, atau justru kembali melanjutkan jalan masing-masing dengan kenangan yang tersimpan rapi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERUBAHAN DONI
Dua bulan hampir berlalu begitu saja. Waktu seakan berlari cepat, menyisakan kenangan manis dan penuh semangat di setiap harinya. Kristin semakin bersemangat menjalani setiap sesi pembinaan dari para senior organisasi MAPALA. Setiap penjelasan, setiap arahan, dan setiap latihan yang diberikan selalu ia dengarkan dan lakukan dengan sepenuh hati. Ia tak sabar lagi ingin segera mengikuti ujian akhir yang dikabarkan akan sangat seru dan penuh tantangan. Di samping itu, hubungan Kristin dan Doni pun semakin hari semakin terlihat dekat dan hangat. Tak jarang mereka pulang bersama meninggalkan kampus. Sesekali Doni bahkan membawa Kristin ke tongkrongan tempatnya biasa berkumpul bersama teman-temannya yang berpenampilan seperti berandalan itu. Awalnya Kristin merasa canggung, namun seiring berjalannya waktu, ia menyadari bahwa di balik penampilan mereka yang terlihat kasar, tersimpan hati yang tulus dan penuh persahabatan yang erat.
Hubungan Doni dengan keluarga Kristin pun semakin erat. Mama Kristin sering menyisipkan bekal makanan untuk Doni setiap kali pemuda itu mampir atau mengantar putrinya pulang. Terkadang, Mama Kristin bahkan mengajak Doni makan bersama di meja makan rumah itu seakan Doni adalah bagian dari keluarga mereka sendiri. Di rumah yang hangat itu, Doni seakan menemukan kehangatan yang tak pernah ia rasakan di rumahnya sendiri yang besar dan sepi.
Sementara itu, kesibukan pun melanda seluruh mahasiswa. Kristin dan teman-temannya semakin rajin belajar dan membuka buku di sela-sela kegiatan organisasi, karena ujian semester tinggal menghitung hari. Waktunya tidak lama lagi, sehingga setiap orang berusaha membagi waktu dengan sebaik-baiknya. Sebaliknya, Nisa, Billy, dan para senior lain yang seangkatan dengan mereka kini tampak sangat sibuk mengurus skripsi masing-masing. Wajah mereka tampak lelah namun penuh tekad. Kesibukan itu membuat mereka hampir tidak memiliki waktu luang untuk turun ke sekretariat atau bergabung bersama kegiatan yang lain.
Sore itu, matahari bersinar hangat namun tidak menyengat. Di halaman samping gedung sekretariat MAPALA, terlihat para panitia dan peserta baru sedang berkumpul untuk melakukan latihan panjat tebing di papan latihan yang berdiri kokoh di samping gedung tersebut. Tali-tali berwarna cerah terlihat melilit di papan, menandakan bahwa kegiatan sore itu akan berjalan dengan tertib dan aman.
Kevin berdiri di bagian bawah papan, tangannya memegang erat tali pengaman yang terhubung ke atas. Tugasnya sore itu adalah menahan tali agar jika ada peserta yang kehilangan pijakan dan jatuh, mereka tidak akan langsung jatuh ke tanah, melainkan tertahan dan bergantung aman di papan tersebut. Kevin berdiri tegak dengan kesiapan penuh, matanya tak lepas dari setiap gerakan peserta yang sedang berusaha memanjat. Tak jauh dari sana, Adit sibuk berkeliling memeriksa perlengkapan pengaman yang dipasang di pinggang setiap peserta baru. Ia memastikan setiap pengait terkunci dengan sempurna, setiap tali terpasang kuat, dan tidak ada satu pun yang terpasang dengan longgar. Keselamatan adalah hal yang utama, dan Adit memastikan hal itu berjalan sempurna.
Doni dan Rangga berdiri tidak jauh dari sana, di tempat yang agak teduh. Mereka berdua memperhatikan Kevin dan Adit yang menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab, sambil sesekali mengawasi para peserta baru yang sedang berusaha menaklukkan papan panjat tebing itu. Suasana sore itu terasa damai dan penuh semangat.
Rangga menoleh perlahan ke arah Doni, lalu memulai percakapan dengan nada bercanda namun penuh makna. "Doni..." panggilnya pelan. "Menurutku, kau terlihat berbeda beberapa hari ini. Ada sesuatu yang berubah dari dirimu."
Doni menoleh sedikit, menatap wajah Rangga dengan tatapan yang tenang. "Berbeda bagaimana?" tanyanya singkat. "Aku merasa sama saja seperti biasanya."
Rangga tersenyum tipis, lalu menatap ke arah para peserta yang sedang memanjat sebelum kembali menatap Doni. "Kau sudah mulai membuka diri, Doni. Dulu kau terasa begitu jauh, dingin, dan seakan tak ingin didekati siapa pun. Namun belakangan ini... ada perubahan yang terlihat jelas. Hatimu yang dulu tertutup rapat, perlahan mulai terbuka. Kau terasa lebih hangat, lebih mudah didekati, dan senyumanmu pun terlihat lebih tulus."
Doni berpura-pura bingung mendengar penuturan itu. Ia mengangkat bahu pelan sambil menatap lurus ke arah papan panjat. "Aku tidak mengerti maksudmu. Bicara yang jelas, jangan berputar-putar seperti itu."
Rangga tertawa kecil mendengar jawaban Doni yang berusaha menyembunyikan sesuatu. "Kau tidak perlu menutupinya, Doni. Kami semua sudah tahu. Semua orang menyadari perubahan itu. Kau sedang dekat, bahkan bisa dikatakan sudah menjalin hubungan khusus dengan Kristin, bukan?"
Doni terdiam sejenak. Ia menatap Rangga lekat-lekat, lalu bertanya dengan nada tenang, "Dari mana kalian semua tahu?"
Rangga menunjuk ke arah Doni dengan jari telunjuknya sambil tersenyum lebar. "Dari tingkah lakumu sendiri, Doni. Semua terlihat begitu jelas. Cara kau memandangnya, cara kau memperlakukannya, perhatian kecil yang kau berikan padanya... semuanya terlihat begitu nyata. Kau tidak pandai menyembunyikan perasaanmu, meskipun kau berusaha bersikap biasa saja di depan kami."
Doni menghela napas panjang, namun tak menyangkalnya. Ia hanya diam mendengarkan penuturan temannya itu.
"Jadi jangan membantah lagi," lanjut Rangga dengan nada yang sedikit serius namun tetap bersahabat. "Aku hanya ingin berpesan satu hal padamu. Hilangkan kebiasaan burukmu yang dulu. Jangan biarkan masa lalu atau sifatmu yang keras menyakiti hatinya. Kristin gadis yang baik, tulus, dan polos. Jaga hatinya dengan sepenuh hatimu, sebagaimana ia menjaga perasaannya untukmu."
Doni tetap diam. Ia tidak menjawab dengan kata-kata, namun tatapan matanya yang kemudian beralih ke arah Kristin berbicara lebih banyak daripada apa pun. Matanya menatap lekat-lekat ke arah gadis itu yang kini mendapat giliran untuk berlatih memanjat. Di bawah sana, Adit sedang berdiri di samping Kristin, memastikan perlengkapan pengaman yang terpasang di pinggang gadis itu sudah terpasang dengan baik dan terkunci kuat. Adit memeriksa setiap bagian dengan teliti, sambil sesekali berbicara memberikan arahan agar Kristin merasa aman dan tenang sebelum mulai memanjat.
Doni memperhatikan setiap gerakan itu. Ia melihat Adit yang dengan teliti memastikan keselamatan Kristin, melihat Kristin yang tersenyum malu namun tetap tampak bersemangat mendengarkan arahan Adit. Perlahan, tanpa disadari oleh dirinya sendiri, sudut bibir Doni terangkat membentuk sebuah senyuman yang lembut dan tulus. Senyum itu begitu tipis dan sekejap, namun cukup untuk memperlihatkan betapa dalam perasaannya terhadap gadis itu. Dan walau sekilas itu saja, Rangga yang berdiri di sampingnya tak melewatkan hal itu. Rangga tersenyum dalam hati, seakan semakin yakin bahwa perubahan yang terjadi pada diri Doni memang nyata, dan kehadiran Kristin telah membawa cahaya hangat ke dalam kehidupan pemuda yang dulu tampak sedingin es yang membeku.