[Bukan Novel Terjemahan] [Original Karya Penulis]
Seorang mahasiswa melakukan penelitian di hutan, saat dia merasuk lebih dalam ke jantung hutan, dia menemukan sebuah lubang hitam besar. Karena rasa penasaran dia mendekat ke arahnya. Namun, siapa sangka dia akan terseret ke dalam.
Seorang gadis yang dianggap terkenal lemah berencana bunuh diri saat tau akan menggantikan kakak tirinya untuk dinikahkan dengan pangeran yang terkenal gila di seluruh kekaisaran.
***
Bagaimana jika mahasiswa itu menggantikan sang gadis untuk menikah? Akankah mereka berdua bekerja sama untuk balas dendam karena kemiripan wajah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19 : Obat
Suara tetesan air dari atap paviliun yang bocor terdengar berirama di tengah kesunyian pagi. Di dalam kamar utama, Wang Yiche sudah bangkit dari pembaringannya. Meskipun tubuhnya masih menyisakan sedikit rasa linu akibat sisa racun yang mengendap di pembuluh darah, pikirannya jauh lebih jernih dibanding hari-hari sebelumnya. Efek ramuan penawar modern yang diracik Fang Hua bekerja membersihkan sistem sarafnya secara perlahan.
Pria itu mengenakan jubah hitamnya kembali, membiarkan topeng besi peraknya tergeletak di atas meja. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia berdiri di dekat jendela tanpa merasakan gelombang amarah atau dorongan destruktif yang biasanya menguasai kepalanya saat pagi menjelang.
Pintu kamar berderit pelan, membuka jalan bagi Fang Hua yang melangkah masuk membawa nampan berisi beberapa botol kecil dan ramuan herbal. Di belakangnya, Luo Huanran mengekor dengan membawa mangkuk bubur hangat untuk sarapan.
"Bagaimana rasanya?" tanya Fang Hua tanpa basa-basi, langsung meletakkan nampannya di atas meja kayu. Ia mengambil pergelangan tangan Wang Yiche untuk memeriksa detak nadanya secara medis.
Wang Yiche membiarkan gadis itu memeriksa kondisinya. Ada rasa asing yang menyusup ke dalam dadanya setiap kali tangan halus itu bersentuhan langsung dengan kulitnya.
"Kepalaku terasa ringan," jawab Wang Yiche dengan suara baritonnya yang berat. "Kabut hitam yang biasanya selalu menghalangi pikiranku setiap kali bangun pagi... sekarang sudah tidak ada."
"Itu wajar," kata Fang Hua sambil melepaskan pergelangan tangan sang pangeran. "Racun cold-fire yang mengalir di tubuhmu dirancang untuk menyerang bagian hipotalamus dan sistem saraf pusat, memicu emosi ekstrem dan halusinasi amuk. Selama ini kau dijebak agar terus-menerus hidup dalam kondisi psikosis buatan. Tapi racun itu tidak akan bisa bekerja lagi jika kita rutin membersihkan darahmu."
Luo Huanran yang meletakkan mangkuk di atas meja menghela napas lega. "Puji Tuhan... kalau begitu kita tidak perlu takut lagi jika pangeran tiba-tiba mengamuk seperti semalam."
Wang Yiche melirik sekilas ke arah Luo Huanran, lalu kembali menatap Fang Hua dengan sorot mata menyelidik. "Utusan istana pusat tewas di tanganku. Mayatnya sudah dibersihkan oleh pengawal, tapi berita kematiannya pasti sudah sampai di telinga Permaisuri dan Jenderal Luo. Pasukan hukuman kekaisaran atau pembunuh bayaran akan segera dikirim ke sini dalam hitungan hari."
Fang Hua menyunggingkan senyuman tipis penuh percaya diri. Ia melipat kedua tangannya di dada, matanya memancarkan binar perhitungan yang tajam.
"Bagus," balas Fang Hua ringan. "Kita justru sedang menunggu kedatangan mereka."
Wang Yiche menyipitkan mata. "Apa maksudmu? Istana barat ini hanya memiliki segelintir pengawal setia yang jumlahnya tidak sebanding dengan pasukan kekaisaran. Jika mereka mengepung tempat ini secara total, kita akan terjebak tanpa jalan keluar."
"Siapa bilang kita akan bertahan dengan cara bertahan?" Fang Hua melangkah mendekati meja, membentangkan selembar peta kuno wilayah istana barat yang sempat ia temukan di kamar perpustakaan tua. Ia mengeluarkan sebuah arang kecil dari tasnya, lalu mulai mencoret-coret titik-titik strategi di atas kertas tersebut. "Selama ini, musuh mengira tempat ini adalah kuburan terisolasi tempat di mana mereka bisa membuang dan membunuhmu tanpa saksi. Mereka tidak tahu seluk-beluk jalur bawah tanah atau titik lemah arsitektur benteng ini sebaik yang bisa kita manfaatkan."
Wang Yiche terpaku menatap gerakan tangan Fang Hua yang begitu lincah dan terarah. Setiap garis yang digambar di atas kertas itu menunjukkan pemetaan taktis tingkat tinggi, sesuatu yang biasanya hanya dikuasai oleh jenderal perang berpengalaman puluhan tahun, bukan seorang gadis bangsawan muda yang baru saja menginjakkan kaki di istana.
"Kau... dari mana kau belajar strategi militer seperti ini?" tanya Wang Yiche penuh selidik.
Fang Hua menghentikan gerakannya sejenak. Ia mendongakkan kepala, menatap tepat ke dalam manik mata sang pangeran. "Dari duniaku. Di sana, bertahan hidup bukan sekadar mengandalkan pedang, tapi menggunakan logika, sains, dan membaca kelemahan musuh sebelum mereka sempat melangkah."
Wang Yiche tertegun. Ada rasa kagum yang diam-diam tumbuh di balik dada bidang pria itu. Alih-alih merasa terancam memiliki seorang wanita yang terlalu cerdas di sisinya, ia justru merasa menemukan separuh jiwanya yang selama ini hilang.
"Baiklah," ucap Wang Yiche akhirnya, suaranya terdengar tegas dan penuh wibawa. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh tekad. "Jika kau ingin bermain catur dengan faksi istana pusat, maka aku akan menjadi bidak terdepanmu. Katakan apa yang harus kita lakukan sekarang."
Fang Hua menunjuk titik merah di atas peta kuno tersebut. "Langkah pertama, kita sambut tamu-tamu 'istimewa' yang dikirim oleh Permaisuri dengan kejutan kecil yang tidak akan pernah mereka lupakan."
Di luar jendela, awan mendung mulai berarak menutupi langit ibu kota. Badai besar yang bersiap menerjang Dinasti Tang.
***
Happy Reading 🥰
Mohon dukungan untuk Like, Komen, dan Ikuti Penulis yah, terimakasih ❤️