NovelToon NovelToon
Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Syarat Dan Ketentuan Berlaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: Lady Airen

Gwen Aditya cuma butuh kerja keras dan logika buat sukses. Urusan siapa yang naksir? Itu di luar spreadsheet-nya.

Sialnya, atasannya sendiri gak masuk kalkulasi.

Madoc Rhydian Kane—CEO Kane Group yang bikin ruang rapat sunyi—gak pernah nyangka bisa jatuh gara-gara satu manajer operasional yang rapi, blak-blakan, dan sama sekali gak keder dihadapannya.

Madoc jatuh duluan. Jatuh lebih dalam. Sementara Gwen bahkan gak sadar sedang diperhatikan, sampai seluruh kantor tahu lebih dulu.

Di antara laporan kuartalan, kopi yang selalu "kebetulan" ada di meja, dan satu papan catur, mereka belajar bahwa dua orang paling kompeten pun bisa gagap soal cinta.

Bukan sekadar "aku terima kamu", tapi tentang terus memilih satu sama lain—bahkan setelah semua syarat dan ketentuan terpenuhi.

📌 Workplace romance | Slow burn | Oblivious female lead | CEO x Manager

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aditama Group

Berita itu muncul di layar Bloomberg pukul tujuh pagi, dan Elias langsung mencetaknya sebelum Madoc sempat membuka laptopnya sendiri.

ADITAMA GROUP UMUMKAN EKSPANSI BESAR-BESARAN KE RITEL, TARGET TIGA KOTA UTAMA DI LUAR JAWA

Madoc membaca judul itu dua kali sebelum benar-benar mencerna isinya. Victor Aditama—nama yang sudah dia kenal cukup lama di lingkaran bisnis, CEO muda yang agresif, terkenal karena caranya masuk ke pasar baru dengan modal besar dan strategi yang nyaris tanpa ampun terhadap kompetitor lokal yang lebih kecil.

Dan tiga kota yang disebutkan dalam artikel itu bukan kota sembarangan. Dua di antaranya persis tumpang tindih dengan target ekspansi Meridian.

"Ini baru diumumkan semalam," kata Elias, berdiri di depan mejanya. "Sahamnya udah naik tiga persen pagi ini, investor kayaknya excited banget sama rencana ini."

Madoc membaca lebih detail, matanya bergerak cepat menyusuri paragraf demi paragraf. Aditama Group berencana masuk dengan skema investasi yang jauh lebih agresif dari yang biasa dipakai Kane Group—subsidi harga besar-besaran di tahap awal untuk merebut pangsa pasar secepat mungkin, strategi yang bisa sangat merugikan pemain yang sudah lebih dulu masuk seperti Meridian.

"Panggil Reza sama Gwen," katanya, tanpa mengangkat kepala dari layar. "Sekarang."

---

Rapat darurat berlangsung tiga puluh menit kemudian, di ruang kaca lantai lima belas yang biasanya cuma dipakai untuk rapat terjadwal, sekarang mendadak penuh dengan tim inti—Reza, Bas, dua analis finansial, dan Gwen yang datang dengan laptop di tangan, masih mengenakan blazer yang belum sempat dia lepas sejak baru masuk kantor.

"Kalian udah baca beritanya?" tanya Madoc, membuka rapat tanpa basa-basi.

"Udah, Pak," kata Reza. "Ini serius. Kalau mereka masuk dengan skema subsidi kayak gitu, kita bisa kalah harga di dua lokasi Meridian."

"Berapa lama mereka bisa nahan strategi kayak gitu?" tanya Madoc, menoleh ke tim finansial.

Salah satu analis menjawab, "Susah diprediksi, Pak. Tergantung seberapa besar modal cadangan mereka. Kalau mereka serius, bisa bertahan enam bulan sampai setahun sebelum harus naikin harga lagi."

Ruangan hening sesaat, semua orang mencerna kemungkinan terburuk dari skenario itu. Enam bulan hingga setahun cukup lama untuk merusak momentum yang sudah dibangun Meridian sejak awal, cukup lama untuk membuat pelanggan beralih ke harga lebih murah tanpa peduli soal loyalitas merek.

"Gwen," kata Madoc, akhirnya, "menurut lo gimana?"

Semua mata beralih padanya. Gwen, yang sejak tadi diam membaca artikel yang sama di laptopnya, mendongak.

---

"Menurut saya," katanya, langsung ke inti, "mereka gak akan bisa nahan strategi harga rendah selama itu di dua lokasi kita."

"Kenapa?" tanya Madoc.

Gwen memutar laptopnya, menampilkan peta yang sudah dia buka sejak tadi—analisis demografi dua kota yang tumpang tindih dengan rencana Aditama.

"Dua lokasi kita ini punya karakteristik pasar yang beda dari kota-kota besar tempat Aditama biasa main," katanya. "Populasi lebih kecil, daya beli lebih terbatas, dan yang paling penting—infrastruktur logistik ke sana masih terbatas. Aditama bakal butuh biaya distribusi jauh lebih besar buat masuk ke sana dibanding kota-kota yang biasa mereka garap."

"Jadi subsidi harga mereka gak akan cukup?" tanya Reza.

"Bakal cukup buat jangka pendek," kata Gwen, "tapi biaya operasionalnya bakal jauh lebih tinggi dari yang mereka perkirakan. Distribusi lebih mahal, infrastruktur belum siap, dan kalau saya liat pola historis mereka—" dia menggeser slide, menunjukkan data ekspansi Aditama di tahun-tahun sebelumnya, "—mereka biasanya cabut dari pasar yang burn rate-nya terlalu tinggi dalam tiga sampai empat bulan, bukan enam bulan sampai setahun kayak yang diprediksi tadi."

Madoc mendengarkan dengan serius, mencerna setiap kata yang keluar dari mulutnya. "Jadi strategi kita?"

"Bertahan," kata Gwen, tegas. "Jangan ikut perang harga. Kalau kita ikut nurunin harga buat nyaingin subsidi mereka, kita yang bakal kehabisan modal duluan, karena struktur bisnis kita gak dirancang buat itu. Fokus aja ke kualitas layanan sama loyalitas pelanggan yang udah kita bangun. Aditama bakal cabut sendiri begitu mereka sadar burn rate-nya gak sepadan sama hasilnya."

"Kalau mereka gak cabut?" tanya salah satu analis, skeptis.

"Kalau mereka gak cabut dalam empat bulan," kata Gwen, "kita evaluasi ulang. Tapi berdasarkan data historisnya, kemungkinan itu kecil."

---

Rapat berlanjut selama satu jam lebih, membahas detail strategi bertahan yang diusulkan Gwen—penguatan layanan pelanggan, program loyalitas untuk pelanggan lama, penyesuaian kecil di harga tanpa harus ikut perang subsidi besar-besaran.

Madoc mendengarkan sebagian besar, sesekali bertanya untuk klarifikasi, tapi sebagian besar keputusan strategis diserahkan langsung ke analisis Gwen yang terbukti solid dari awal sampai akhir.

Ketika rapat selesai, dan sebagian besar tim sudah keluar ruangan, Madoc menahan Gwen sebentar.

"Bagus analisisnya," katanya, singkat tapi tulus.

"Makasih, Pak. Semoga prediksinya bener."

"Kalau meleset gimana?"

"Kalau meleset," kata Gwen, mengangkat bahu, "kita adaptasi lagi. Gak ada strategi yang seratus persen pasti, tapi setidaknya kita punya dasar yang kuat buat mulai."

Madoc mengangguk, memperhatikan cara dia bicara dengan penuh keyakinan tanpa terdengar arogan—percaya pada analisisnya sendiri, tapi tetap terbuka pada kemungkinan salah.

---

Selama minggu-minggu berikutnya, ancaman Aditama Group jadi topik yang terus muncul di setiap rapat internal, dan pola baru mulai terbentuk tanpa banyak disadari orang lain—setiap kali ada perkembangan baru soal strategi Victor Aditama, Madoc selalu memanggil Gwen langsung ke ruangannya, bukan lewat rapat formal, untuk mendiskusikan analisis lebih lanjut.

"Ada update baru," katanya, suatu sore, waktu Gwen masuk ke ruangannya membawa laptop. "Aditama mulai buka gerai di lokasi kedua kita."

Gwen duduk di kursi seberang mejanya, membuka laptopnya sendiri. "Udah saya cek datanya tadi pagi. Harga mereka dua puluh persen di bawah kita."

"Reaksi kita?"

"Belum perlu reaksi drastis," katanya, menunjukkan grafik penjualan mingguan. "Pelanggan kita masih stabil, cuma turun lima persen dari biasanya. Itu masih dalam batas wajar buat efek awal kompetitor baru masuk."

Mereka mendiskusikan detail lebih lanjut, dan Madoc menemukan dirinya lebih tenang setiap kali sesi seperti ini berlangsung—bukan cuma karena analisisnya selalu tajam, tapi karena ada semacam kepercayaan yang terbentuk di antara mereka, rasa yakin bahwa apa pun ancaman yang datang, mereka bisa menghadapinya bersama tanpa panik berlebihan.

"Kamu selalu setenang ini soal ancaman bisnis?" tanya Madoc, di sela diskusi.

"Enggak selalu," kata Gwen, jujur. "Tapi panik gak akan nyelesain masalah. Yang penting fokus ke data, cari pola, terus cari solusi dari situ."

Madoc menatapnya, memikirkan betapa berbedanya cara Gwen menghadapi tekanan dibanding orang lain di sekitarnya—tidak ada drama, tidak ada kepanikan berlebihan, cuma fokus murni pada solusi yang bisa dicari lewat data dan logika.

---

Elias, yang mengamati pola ini dari luar selama beberapa minggu terakhir, mulai menemukan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya—bukan lagi cuma soal Madoc yang mencari alasan untuk dekat dengan Gwen, tapi soal bagaimana mereka berdua sekarang benar-benar bekerja sebagai tim yang solid, saling melengkapi tanpa perlu banyak kata untuk saling memahami.

"Ancaman Aditama makin serius, Pak?" tanyanya, suatu sore, waktu mengantarkan dokumen ke ruangan Madoc.

"Masih terkendali," kata Madoc, menutup laptopnya. "Gwen udah bikin proyeksi lengkap soal skenario terburuk sama strategi mitigasinya."

"Bapak percaya banget sama analisisnya."

"Karena selalu tepat," kata Madoc, sederhana, tanpa berpikir dua kali sebelum mengatakannya.

Elias mengangguk, tidak berkomentar lebih jauh, tapi memperhatikan nada suara bosnya yang terdengar berbeda dari biasanya—bukan lagi nada canggung yang biasa muncul kalau membicarakan Gwen dalam konteks personal, melainkan nada percaya diri yang tulus, seperti seseorang yang sudah menemukan partner kerja yang benar-benar bisa diandalkan, terlepas dari perasaan lain yang mungkin masih tersembunyi di baliknya.

Ancaman dari Aditama Group belum sepenuhnya reda, dan kemungkinan besar akan jadi tantangan panjang yang harus dihadapi Kane Group dalam beberapa bulan ke depan. Tapi di tengah tekanan itu, sesuatu yang lebih solid mulai terbentuk—kemitraan kerja antara dua orang yang, tanpa banyak disadari salah satunya, sudah mulai saling bergantung satu sama lain dengan cara yang jauh melampaui sekadar hubungan atasan-bawahan biasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!