Sebuah novel fantasi mitologi Nusantara (Batak). Berikut salah satu petikannya:
"Sebelum matahari mengenal pagi, langit telah lebih dahulu mengenal doa. Di Banua Ginjang, doa tidak diucapkan melalui bibir, melainkan tumbuh menjadi bunga-bunga cahaya yang bermekaran di antara akar bintang. Setiap kelopaknya membawa harapan, dan setiap harapan akan jatuh ke dunia bawah sebagai embun kehidupan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5. Sekolah Semesta (Bagian I)
...Para Penjaga Lima Unsur (Lima Pinarhalak)...
..."Alam tidak pernah memilih murid yang paling pandai. Alam memilih mereka yang paling rendah hati untuk mendengarkan."...
^^^—Petuah Banua Ginjang^^^
Keesokan harinya, Banua Ginjang diselimuti cahaya yang berbeda. Tidak keemasan. Tidak pula kebiruan. Langit memancarkan warna putih lembut, seolah seluruh awan sedang mengenakan pakaian terbaiknya.
Hariara Bolon menggugurkan embun lebih banyak daripada biasanya. Embun itu tidak jatuh ke tanah. Mereka melayang di udara, membentuk ribuan bulatan kecil yang berkilau seperti mutiara.
Parbaringin berdiri di bawah pohon agung itu sambil memandang langit. "Hari ini..." gumamnya, "...semesta mulai mengajar."
Sejak peristiwa di Telaga Sipaet, para tetua Banua Ginjang menyadari bahwa Deak Parujar bukan lagi sekadar anak yang diberkati. Ia adalah anak yang mulai dipanggil oleh alam. Dan panggilan seperti itu tidak boleh diabaikan.
Maka pada pagi itu, Mulajadi Nabolon memanggil seluruh Penjaga Alam ke Balai Hasurungan.
Balai Hasurungan adalah sebuah balairung terbuka yang berdiri di antara akar-akar Hariara Bolon. Bangunannya tidak dibuat dari batu. Tidak pula dari kayu. Tiang-tiangnya terbentuk dari cahaya yang memadat, sementara atapnya adalah sulur-sulur Hariara yang tumbuh melengkung membentuk kubah alami. Di sanalah, sejak awal penciptaan, setiap keputusan besar mengenai keseimbangan tiga banua dibicarakan.
Deak Parujar datang bersama Jonggi yang bertengger manis di bahunya. Ia menatap sekeliling dengan mata penuh rasa ingin tahu. Belum pernah ia melihat begitu banyak penghuni Banua Ginjang berkumpul di satu tempat.
Mulajadi Nabolon berdiri. Suara beliau tenang, namun mampu menjangkau setiap sudut balairung ketika ia berkata: "Anakku. Hari ini engkau tidak akan belajar membaca. Engkau tidak akan belajar berhitung. Karena sejatinya, semesta ini tidak ditulis dengan huruf. Semesta dibaca dengan hati."
Deak mengangguk perlahan, "Ayah... Apakah semua anak seperti saya, belajar seperti ini?"
Mulajadi tersenyum dan menjawab: "Semua anak belajar. Tetapi tidak semua anak belajar langsung kepada alam."
Mulajadi Nabolon lalu mengangkat tangannya dan dari lima penjuru balairung, lima sosok perlahan melangkah mendekat. Mereka bukan dewa. Bukan pula para raja.
Mereka adalah lima Pinarhalak, yaitu para Penjaga Lima Unsur yang sejak awal zaman dipercaya untuk memimpin penjagaan terhadap keseimbangan Banua Ginjang.
Yang pertama melangkah adalah seorang perempuan tua berjubah biru kehijauan. Rambutnya panjang bagai aliran sungai. Setiap langkahnya meninggalkan tetesan air yang berubah menjadi bunga.
"Aku Nai Aek, Penjaga Air." ujarnya sambil membungkuk kepada Deak, lalu ketika ia memandang lembut ke arah Deak, ia kembali berkata: "Banyak orang mengira air itu lembut. Padahal air mampu mengikis gunung. Lembut bukan berarti lemah."
Deak mengingat kata-kata itu.
Sosok kedua bertubuh tinggi besar. Kulitnya menyerupai batu granit. Setiap kali ia melangkah, tanah memancarkan cahaya keemasan.
"Aku Ompu Batu. Penjaga Tanah." Suara beliau berat laksana gema gunung. Setelah menundukkan kepalanya sejenak, beliau kembali berkata: "Tanah tidak pernah mengejar siapa pun. Tetapi semua kehidupan akhirnya datang kepadanya. Belajarlah menjadi seperti tanah. Menopang tanpa meminta pujian."
Yang ketiga datang bersama embusan angin yang harum. Sosoknya hampir tidak terlihat. Tubuhnya seperti kabut yang terus berubah bentuk. Kadang menyerupai seorang pemuda gagah. Terkadang seorang nenek yang agak membungkuk. Dan kadang juga hanya berupa desir cahaya.
"Aku Raja Angin. Aku tidak tinggal di satu tempat. Aku mengunjungi semua tempat. Karena itulah aku mengetahui... bahwa tidak ada makhluk yang benar-benar hidup sendirian." ujarnya perlahan.
Jonggi berkicau pelan. Seolah mengenali sahabat lamanya.
Sosok keempat adalah perempuan muda yang seluruh rambutnya berupa nyala api berwarna keemasan. Namun anehnya, panas tidak keluar dari tubuhnya. Yang terasa justru kehangatan.
Ia tersenyum kepada Deak dan berkata: "Aku Nai Api. Banyak yang takut kepada api. Padahal api hanya melakukan apa yang ada di dalam hati orang yang menggunakannya. Di tangan orang bijaksana... Api memberi kehidupan. Di tangan orang serakah... Api membawa kehancuran."
Terakhir, seluruh balairung mendadak menjadi sangat terang, namun bukan karena sinar matahari. Melainkan karena seorang lelaki tua berjubah putih yang melangkah perlahan mendekat ke arah Deak.
Janggutnya memantulkan cahaya. Matanya bening seperti langit pagi. Tidak ada seorang pun mampu menatapnya terlalu lama.
"Aku..." katanya lembut, "...Penjaga Cahaya. Namaku Ompu Sinar."
Ia tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya tersenyum. Namun senyum itu membuat seluruh Balai Hasurungan dipenuhi rasa damai.
Mulajadi Nabolon memandang putrinya dan berujar: "Inilah guru-gurumu mulai sekarang. Bukan untuk satu hari. Bukan pula untuk satu musim. Melainkan sampai engkau memahami... bahwa kehidupan tidak pernah berdiri di atas satu unsur saja."
Sesaat Balai Hasurungan terdiam, menyimak penjelasan sang Ayah Agung: "Air membutuhkan tanah. Tanah membutuhkan cahaya. Cahaya membutuhkan angin. Angin menjaga api. Api menghangatkan kehidupan. Dan kehidupan..."
Beliau kembali berhenti sejenak, lalu melanjutkan: "...akan kehilangan keseimbangan bila satu saja di antaranya dilupakan."
Parbaringin dan para mahluk yang hadir di Balai Hasurungan sejenak menutup mata mereka. Kalimat itu bukan hanya pelajaran bagi Deak. Itu adalah hukum pertama Banua Ginjang.
Kelak, manusia akan memahaminya dengan bahasa mereka sendiri. Bahwa hidup harus menjaga keseimbangan antara sesama manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Pelajaran pertama telah dimulai tanpa kitab. Tanpa pena. Tanpa papan tulis.
...****************...
Nai Aek mengajak Deak menuju sebuah mata air yang mengalir dari akar Hariara Bolon.
"Masukkan tanganmu." perintahnya.
Deak melakukannya. Air itu terasa hangat. Sangat hangat.
"Pejamkan matamu." ujar Nai Aek lagi.
Deak memejamkan matanya. Sesaat kemudian, ia mendengar sesuatu. Bukan suara air. Melainkan ribuan suara kecil yang mengalir bersama arus.
"Apakah..." bisik Deak bertanya: "...air sedang bernyanyi?"
Nai Aek tersenyum dan menjawab: "Bukan. Itu adalah kenangan. Air tidak pernah melupakan apa pun."
Deak membuka mata dan kembali bertanya: "Kalau begitu... Apakah air mengingat semua makhluk?"
"Ya." jawab sang nenek cepat dan menambahkan: "Bahkan sebelum makhluk itu ada."
Jawaban itu membuat Deak memandangi aliran air dengan rasa hormat yang baru. Ia mulai memahami bahwa setiap tetes yang mengalir membawa cerita dari zaman yang tidak pernah ia lihat.
Dan jauh di bawah akar Hariara Bolon, di tempat yang tak mampu dijangkau cahaya Banua Ginjang, setetes air yang sama terus mengalir menuju samudra purba.
Membawa pesan yang bahkan belum disadari oleh para penghuni langit. Pesan itu sedang bergerak, menuju makhluk yang tertidur di dasar Banua Toru.
...****************...
Horas! 🌿
Mauliate godang.. 🤎
📖 Bersambung ke Bab 5. Sekolah Semesta, Bagian II: Bahasa Air dan Nyanyian Batu.
😏/CoolGuy//Casual//Shhh/
/Grin//Tongue//Facepalm//Joyful/