Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal, benar-benar awal
Aku duduk di baris ke empat dekat jendela. Di sampingku seorang laki-laki muda yang sepertinya berusia jauh diatasku sibuk dengan gadget nya bermain game. Aku sama sekali tidak berniat untuk menegurnya, biarlah dia dengan kesibukan nya dan aku pun tengah sibuk menahan rasa mual ini. Sepanjang perjalanan kuputuskan untuk memejamkan mata dengan terus menyesap permen jahe yang kubeli tadi. Ada sedikit rasa sesal, kenapa tidak kubeli lebih banyak permen jahe nya?!
Meski ber-AC bis ini terasa cukup sesak. Aku masih setia memejamkan mata meski di awal-awal aku masih merasakan dan mendengar sekelilingku tapi akhirnya aku pun bisa tertidur juga.
Sebuah guncangan cukup keras akhirnya membuatku terjaga kembali. Kuperhatikan jam di pergelangan tangan kananku sudah menunjukkan pukul 5 sore.
Alhamdulillah, aku berhasil tidur cukup lama juga hampir empat jam.
“Terakhir! Cirebon! Cirebon!” Teriakan kondektur bus membuatku membuka mata sempurna. Meski aku belum memahami keadaan namun aku sudah cukup bisa untuk berdiri dan mengikuti arus para penumpang yang antre keluar dari bis ini.
“Jang! Kuningan?!” Aku masih belum sepenuhnya sadar saat seseorang tiba-tiba menarik carier ku. Terpaksa aku mengikuti langkah lebar orang itu yang langsung memasukkan carier ku kedalam bagasi sebuah kendaraan umum lainnya.
“Bang, kemana?” Dengan suara yang masih serak aku bertanya pada orang yang membawa carier ku tadi.
“Langsung berangkat jang.” Ucapnya dengan suara sedikit keras dan mendorongku masuk kedalam kendaraan tersebut. Akhirnya aku hanya bisa duduk pasrah didalam kendaraan yang penuh penumpang ini.
Baru saja kendaraan ini melaju, aku langsung menggigil kedinginan. Kepalaku juga mulai pusing karena bau keringat dan asap rokok yang bercampur disini. Aku berusaha memejamkan mata untuk sedikit mengurangi penderitaan ini. Hampir tiga puluh menit berlalu saat seorang perempuan berjilbab meminta turun, akupun mengikutinya karena perutku mulai terasa mual.
"Saya juga bang, turun disini." Ucapku sebelum kendaraan semi bis ini melaju kembali. Kuberikan uang lima puluh ribuan, dan kondektur itu memberikan kembalian cukup banyak. Entah berapa, aku langsung memasukkan ke dalam kantong weistbag ku.
“Maaf kak, ini dimana?” Tanyaku pada perempuan yang turun bersamaku tadi. Dari penampilannya aku yakin perempuan ini seorang mahasiswa.
“Memangnya Aa mau kemana?”
“Ke... Belum tahu kak.”
“Lho, kok belum tahu?! Disini masih termasuk kota Kuningan, tepatnya ada di Jalaksana.”
“Kuningan?! Bukan Kuningan Jakarta kan?”
“Bukan, ini Jawa Barat A, bukan Jakarta. Memangnya tujuan Aa kemana?”
“Ada tempat kost dekat sini nggak ya kak?”
“Oh, jadi Aa mau cari tempat kost? Ayo ikut saya, kita duduk dulu diseberang sekalian saya memastikan kamar kost yang kosong nya.” Akupun mengikutinya menyeberang jalan dan langsung duduk di halte yg tepat berada di depan bangunan sebuah masjid besar.
"Sebentar saya telepon pemilik kost nya dulu ya A." Lagi, perempuan di sampingku bersuara, aku hanya merespon dengan anggukan kecil ku. Entah kenapa mual dan pusing yang kurasakan tidak kunjung hilang.
"Muhun kang ... Lalaki ... Henteu nyaho ... Kumaha?! Aya nteu?! ... Asiik ... Sabaraha persen ku abdi?! ... Siaaap ..." Perempuan yang tadi sempat menjauh untuk telepon tiba-tiba mendekat kembali. Entah bahasa apa yang diucapkan nya. Aku hanya bisa terduduk menahan semua gejolak ini.
"Ada A, satu kamar kosong. Tapi agak jauh, kita naik ojek aja. Sebenernya nggak sampai satu kilo si. Cuma ya karena jalan nya nanjak, kalau jalan kaki lumayan juga." Ucapnya kemudian kearahku setelah menutup telepon nya.
"Terimakasih kak. Saya ambil kost-an itu aja. Oh iya kak, Maaf, di masjid belakang toiletnya di sebelah mana ya kak? Saya mau ke toilet dulu."
"Yang sebelah kanan kalau laki-laki. Jangan naik tangga itu ya. Lewat samping tangga belok kanan."
Aku mengangguk mengerti dan menitipkan carrier ku padanya. Aku yakin dia perempuan baik-baik tidak mungkin tega membawa pergi carrier ku.
Langkahku segera kupercepat saat dorongan dalam perutku mulai merangsek berulah kembali. Menemukan pintu toilet aku benar-benar lega. Ku keluarkan segala yang menggangguku dari tadi, mataku sampai berair. Kubasuh dan kubersihkan muka ku dengan air keran yang ternyata sangat dingin, mengingatkan ku akan air dari daerah puncak yang sangat dingin namun menyejukkan.
Hampir lima menit di dalam toilet aku akhirnya keluar setelah memastikan semuanya baik-baik saja dan kembali bersih. Kuhampiri perempuan berjilbab yang masih duduk di halte dengan pandangan matanya fokus menatap ponsel yg dipegangnya.
"Kak, maaf lama." Kuambil alih carrier yang teronggok disampingnya.
"Udah?! Ayo ke sebelah sana." Aku mengikutinya menuju persimpangan jalan yang cukup lebar di samping masjid. Kulihat di bahu kanan jalan nya banyak motor terparkir dengan bapak-bapak ojek yang menawarkan jasa nya pada beberapa orang yang lewat. Sementara di pelataran masjid bahu kiri jalan, suasana sangat ramai oleh gerobak-gerobak penjual yang sebagian besar pengunjungnya pun sangat ramai.
"Kak, saya traktir beli makan malam ya. Hitung-hitung buat tanda terimakasih dari saya." Aku berusaha mensejajari langkah nya yang ada di depanku.
"Eh,,, bener mau traktir? Asyiiik. Hayuk atuh." Langkah nya terhenti dan terlihat gurat kegembiraan di wajah nya.
"Tapi bungkus aja ya kak, kurang nyaman ramai begitu tempatnya kalau makan di tempat." Aku kembali memberinya syarat sebelum langkah ringannya sampai di deretan gerobak itu.
Sekitar lima belas menit akhirnya satu porsi nasi goreng seafood miliknya dan bubur ayam milikku telah siap dibawa. Tidak lupa kubeli juga air hangat jahe merah madu dan dirinya membeli es Boba coklat. Kami membawanya masing-masing dengan kantong yang berbeda. Dan setelahnya kami pun menaiki ojek masing-masing dengan mengikuti rute dan arah dari perempuan tersebut.
"Ka manis kang. Gang hadapan bakso Widodo. Asup ka gang nya" Entah ke mana arah yang perempuan itu maksudkan, aku sama sekali belum bisa mencerna setiap ucapan nya yang memakai bahasa daerah sini.
Perempuan itu, entah siapa namanya. Aku sama sekali belum terfikir untuk berkenalan, padahal selama proses menunggu pesanan tadi kami sudah banyak bertukar cerita. Dari semua cerita nya tadi dapat aku simpulkan bahwa desa yang kutempati sekarang ada dibawah kaki gunung ciremai. Tepatnya di desa manis kecamatan Jalaksana dan kota Kuningan. Aku merasa baru mendengar nama-nama tersebut. Padahal aku hafal hampir semua tempat-tempat wilayah Indonesia yang muncul di buku sejarah saat ku sekolah. Tapi entahlah, untuk nama Kuningan Jawa Barat sedikit asing di telingaku. Biarlah nanti pun aku akan menjadi bagian dari penghuni nya. Dan pasti akan kutelusuri tiap sudut dari kota kecil ini. Aku yakin, aku telah bertekad akan tinggal disini entah untuk berapa lama.
Inilah awal kehidupanku yang sebenarnya. Di tempat asing yang baru kutahu namanya, baru kutahu suasana awal malamnya, baru kukenal satu penghuninya yang bahkan namanya pun belum ku tahu.
Ya, inilah awal kehidupanku yang sebenarnya. Awal kehidupan seorang Adit yang akan meninggalkan semua masa lalu nya. Masih menjadi Adit namun dengan awal kisah yang berbeda.
semangatt juga kak 💪