NovelToon NovelToon
Istri Gemuk Yang Selalu Di Remehkan

Istri Gemuk Yang Selalu Di Remehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

Sejak tubuhnya menggemuk, Laila tak pernah lagi dihargai oleh suaminya. Ia terus dihina karena penampilannya, padahal sang suami sendiri hanya mampu memberi nafkah seadanya. Demi membeli satu botol skincare impiannya, Laila diam-diam menyisihkan sisa uang belanja setiap hari. Namun, ketika sebuah kesempatan mengubah hidupnya, pria yang dulu merendahkannya justru mulai menyesal. Akankah Laila memaafkan, atau memilih meninggalkan semua luka yang pernah ia terima?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10_Gadis dari masa lalu

Adrian masih berdiri di depan jendela. Tatapannya menerobos hamparan taman yang mulai diterpa cahaya senja. Wajahnya tetap tenang, tetapi pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan yang belum menemukan jawaban.

"Apakah dia teman masa kecilku dulu?" bisiknya lirih. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran, sementara rahangnya mengeras perlahan.

Beberapa detik kemudian, Adrian mengambil ponselnya dari atas meja.

Ia membuka daftar kontak, lalu menekan salah satu nama. Nama itu hanya tertulis satu kata.

Leonard.

Tak sampai tiga kali dering, panggilan itu diangkat.

"Selamat sore, Tuan." sapa Leonard hormat. Wajahnya tampak serius, sementara suaranya terdengar jelas dari seberang telepon.

"Aku butuh bantuanmu." ucap Adrian tenang. Wajahnya kembali dingin.

"Perintah apa, Tuan?" tanya Leonard sigap. Jemarinya sudah bersiap mencatat.

"Cari tahu semua tentang seorang wanita bernama Rani yang sekarang tinggal sementara di rumahku." ujar Adrian datar. Tatapannya masih mengarah keluar jendela.

Leonard sedikit terdiam.

"Identitas lengkapnya, Tuan?" tanyanya hati-hati.

"Aku belum tahu." jawab Adrian singkat. Wajahnya tetap tanpa ekspresi.

"Hanya namanya saja?" Leonard terdengar sedikit bingung.

"Aku ingin tahu siapa keluarganya, dari mana asalnya, bagaimana kehidupannya, sampai kenapa dia bisa berada di jalan dalam keadaan seperti itu." ucap Adrian tenang. Sorot matanya berubah tajam.

"Baik, Tuan. Saya akan mulai malam ini juga." jawab Leonard mantap. Wajahnya dipenuhi kesungguhan.

Adrian kembali terdiam beberapa saat.

"Lalu..." ucapnya pelan. Alisnya sedikit berkerut.

"Iya, Tuan?" sahut Leonard.

"Kalau memungkinkan... cari tahu juga di desa mana dia dibesarkan." ujar Adrian lirih. Nada suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya.

Leonard langsung menangkap sesuatu yang berbeda.

"Apakah wanita itu penting bagi Tuan?" tanyanya hati-hati.

Adrian memejamkan mata sejenak.

"Aku juga belum tahu." jawabnya jujur. Wajahnya dipenuhi kebingungan. "Tapi... dia mengingatkanku pada seseorang."

"Saya mengerti." balas Leonard hormat.

"Jangan sampai dia tahu kau sedang menyelidikinya." tambah Adrian tegas. Rahangnya mengeras.

"Baik, Tuan. Saya akan bekerja diam-diam."

Panggilan pun berakhir.

Klik.

Adrian meletakkan ponselnya di atas meja.

Ia kembali menatap foto lama yang tersimpan di dalam laci meja kerjanya. Foto itu sudah mulai kusam.

Terlihat seorang anak laki-laki kurus berdiri di samping seorang gadis kecil yang tersenyum ceria.

Sayangnya, sebagian wajah gadis itu sudah pudar dimakan usia.

Adrian mengusap pelan permukaan foto itu.

"Kalau benar itu kamu..." gumamnya lirih. Wajahnya dipenuhi harapan yang sudah lama terkubur.

Sementara itu...

Di kamar tamu.

Rani perlahan membuka matanya. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan dibandingkan kemarin. Ia duduk di tepi ranjang sambil menggerakkan kedua tangannya.

"Syukurlah... badanku sudah tidak terlalu lemas." gumamnya pelan. Wajahnya dipenuhi rasa syukur.

Tak lama kemudian terdengar suara ketukan di pintu.

Tok... tok...

"Masuk." ucap Rani lembut. Senyumnya tipis.

Pintu terbuka perlahan.

Bibi Sari masuk sambil membawa semangkuk bubur hangat.

"Alhamdulillah, wajah Ibu sudah jauh lebih segar." ucap Bibi Sari ramah. Senyumnya mengembang.

"Terima kasih banyak, Bi." balas Rani sopan. Wajahnya dipenuhi rasa sungkan.

"Kalau sudah selesai makan, Ibu istirahat saja. Dokter bilang jangan terlalu banyak bergerak dulu." ujar Bibi Sari lembut.

Rani mengangguk pelan.

"Baik, Bi." jawab Rani dengan senyum hangat di wajahnya.

Setelah menghabiskan buburnya, Rani berjalan keluar kamar.

Ia melihat beberapa pembantu sedang membersihkan ruang tengah yang sangat luas. Seorang pelayan tampak kesulitan mengangkat vas bunga besar.

Rani segera menghampiri.

"Bi, biar saya bantu." ucapnya ramah. Wajahnya dipenuhi ketulusan.

Bibi Sari langsung terkejut.

"Eh, jangan, Bu!" serunya panik. Matanya membelalak.

"Tidak apa-apa. Saya sudah jauh lebih sehat." jawab Rani sambil tersenyum.

Tanpa menunggu jawaban, Rani membantu mengangkat vas itu ke atas meja.

"Terima kasih banyak." ucap salah seorang pelayan. Wajahnya dipenuhi rasa lega.

Rani hanya tersenyum.

"Justru saya yang harus berterima kasih. Saya sudah merepotkan kalian semua." sahut Rani merasa tak enak hati.

Para pembantu saling berpandangan.

"Jarang ada tamu yang serendah hati seperti Ibu." bisik salah seorang pelayan. Wajahnya terlihat kagum.

Rani mendengar ucapan itu. Ia hanya tersenyum kecil.

"Bagi saya, semua pekerjaan itu sama mulianya." ucapnya lembut. Wajahnya dipenuhi ketulusan. "Selama dikerjakan dengan jujur."

Ucapan sederhana itu membuat para pembantu terdiam. Mereka mulai menyukai wanita sederhana tersebut.

Tak lama kemudian, Rani mengambil kain lap yang berada di atas meja.

"Bu, jangan..." ujar seorang pelayan gugup.

"Tidak apa-apa." balas Rani sambil mulai mengelap meja. Senyumnya tetap hangat.

Beberapa pembantu akhirnya ikut membersihkan ruangan bersama Rani.

Suasana yang biasanya sunyi kini dipenuhi tawa kecil.

Bibi Sari memperhatikan semuanya dari kejauhan.

"Wanita ini memang berbeda..." gumamnya pelan. Wajahnya dipenuhi kekaguman.

Di lantai dua...

Adrian baru saja keluar dari ruang kerjanya.

Langkahnya terhenti ketika mendengar suara tawa dari bawah. Ia jarang mendengar suasana rumah semeriah itu.

Perlahan ia berjalan menuju balkon dan melihat ke ruang tengah.

Dari atas, ia melihat Rani sedang membantu para pembantu menyusun bunga di atas meja, sambil sesekali tertawa kecil bersama mereka.

Padahal, ia adalah tamu. Bukan pelayan.

Adrian mengamatinya tanpa bersuara.

"Hari ini bunganya jadi lebih cantik ya, Bi." ucap Rani ceria. Wajahnya dipenuhi senyum tulus.

"Iya, Bu. Karena disusun oleh orang yang hatinya juga cantik." balas Bibi Sari sambil tertawa kecil.

Rani langsung tersipu malu.

"Ah, Bibi bisa saja." jawab Rani dengan pipi merah merona.

Melihat pemandangan itu, sudut bibir Adrian tanpa sadar terangkat membentuk senyum tipis.

Senyum yang sangat jarang muncul di wajah pria dingin itu. Namun, beberapa detik kemudian wajahnya kembali serius.

Di dalam hatinya muncul tekad yang semakin kuat.

"Aku harus memastikan semuanya." batin Adrian

Tanpa diketahui siapa pun, penyelidikan tentang masa lalu Rani telah dimulai.

Dan di tempat lain, Leonard sudah menerima laporan pertama.

Sebuah nama desa mulai muncul di layar laptopnya. Desa yang sama... tempat Adrian menghabiskan masa kecilnya.

1
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
sunaryati jarum
Rani.anak.orang kaya yang disingkirkan atau ada orang yang suka pada Adrian
sunaryati jarum
Kamu tidak tertarik wanita karena mengharapkan Rania,Nak Adrian
sunaryati jarum
Balas budi atau ada Rasa Nak Adrian
sunaryati jarum
Tekad yang bagus Rani
sunaryati jarum
Yang menolong ternyata teman.kecilmu
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu...
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Feni sang penulis novel
wow Saya suka dengan ceritanya Saya suka dengan alur bagian hemat harga tertawa sinis sudut bibirnya berangkat mengejek semangat terus ya kak bikin karyanya Saya suka banget dengan alur ceritanya semuanya Saya suka oh iya kak bolehkah saya mempromokan kenapa baru saya novel saya ada 3 sih tapi kalau kakak suka semuanya tolong berikan komentar dan bintang 5-nya ya kak semangat terus terima kasih
Fransiska aghata
oke kak, makasih udah mampir😁
Ayu Ara12
next dong kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!