Hukum tidak berpihak pada Anggita, jadi aku yang akan jadi hukumnya. Satu misi yang menjadi tujuanku hancurkan Arvin Teriaz. Aku Nabila Azzahra, topengku sekretaris, senjataku kode. Rencana sempurna begitu sempurna sampai Galen Teriaz, dokter yang membenci darahnya sendiri, mengulurkan tangan dalam misiku.
Apakah misi mereka berhasil dalam, menghancurkan seorang Arvin Teriaz ?
Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Gudang Tua Jam 8 Malam
07.30 Safe house, cahaya matahari masuk dari celah jendela. Nabila bangun duluan, lehernya terasa pegal karena tidur di sofa. Dia menoleh melihat Galen masih terlelap, wajahnya lebih tenang. Demamnya turun jadi 37.8°C, perban di lengannya bersih Nabila tersenyum kecil. Dia berbisik doa.
"Tuhan... terima kasih untuk malam ini..." Bisik Nabila
BRAKK
Pintu dibanting, tak lama Pak Anton masuk dengan napasnya ngos-ngosan, wajahnya pucat.
"Nabila, bangunin Tuan Galen. SEKARANG" Ucap Pak Anton membuat darah Nabila langsung dingin.
"Ada apa Pak?" Tanya Nabila suaranya bergetar.
Pak Anton menyodorkan ponselnya dan di layarnya, ada foto Dira adiknya Nabila yang berumur 19 tahun, duduk di kursi kayu dengan tangan diikat ke belakang pake kabel tis, mulut dilakban, mata sembab, dan di belakangnya tembok gudang berkarat.
Caption di bawahnya ‘JAM 8 MALAM GUDANG TUA PELABUHAN, DATANG BERDUA. SENDIRI, TANPA POLISI, TANPA MAIN-MAIN, TELAT 1 MENIT \= PETI."
"DIRA?!" Nabila menjerit, lututnya lemas.
Galen langsung bangun tapi begitu duduk, luka jahitannya ketarik. Dia meringis, keringat dingin keluar.
"Ada apa?" Tanya Galen merasa khawatir
"Arvin" Kata Pak Anton
“Arvin berbuat apa lagi ?” Tanya Galen
"Dia culik Dira, ini sebuah jebakan" Jawab Pak Anton, Galen mengepal dan tulang rahangnya mengeras
"Baj*ngan itu..." Umpat Galen tersulut emosi
Nabila langsung memeluk Galen, karena tubuhnya gemetar hebat
"Galen... itu adikku satu-satunya keluarga yang aku punya... kalau dia kenapa-kenapa..." Ucap Nabila, Galen membalas pelukannya erat dan tangan kanannya mengusap punggung Nabila.
"Denger aku" Bisik Galen di telinga Nabila
"Kita selamatkan dia bareng-bareng seperti janji kita, Tuhan nggak akan tinggal diam." Lanjut Galen Nabila mengangguk di dada Galen, air matanya membasahi kaos Galen.
*****
Galen pincang tapi dia tetap berdiri. Di meja, mereka menyusun strategi, peta gudang tua Pelabuhan dibentangkan. Bangunan tua. 2 lantai dekat laut, ada 3 akses: Pintu depan, pintu belakang, dan ventilasi.
"Arvin pasti pasang penembak jitu di atap" kata Pak Anton
"Dan 5-6 orang di dalam" Tambah Pak Anton
Galen menunjuk titik merah.
"Kita masuk jam 19.55 dan aku yang alihkan perhatian lalu Nabila, kamu fokus ke Dira. Begitu Dira aman, kamu keluar lewat pintu belakang. Pak Anton dan tim masuk jam 20.05" Ujar Galen menjelaskan strategi
"Galen" Panggil Nabila sambil menatapnya dengan matanya yang sudah merah.
"Janji, kamu pulang hidup-hidup. Kita masih punya janji" Tambah Nabila
Mendengar itu Galen tersenyum, dia menarik Nabila ke pelukannya.
"Janji" Jawab Galen, dia mencium kening Nabila lama
"Sekarang kita doa dulu." Lanjut Galen lalu mereka berempat. Galen, Nabila, Pak Anton, 2 anggota. bergandengan tangan.
Galen yang memimpin. Suaranya serak tapi mantap.
"Tuhan Yesus... kami datang kepada-Mu. Malam ini kami takut. Tapi kami percaya Engkau lebih besar dari rasa takut kami. Lindungi Dira. Jaga Nabila. Kuatkan aku. Beri kami hikmat. Kalau memang ini jalan-Mu buat mengakhiri semua... kami siap. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin."
"Amin," Jawab yang lain.
*****
Jam 19.40 di dalam mobil hitam, di luar hujan begitu deras sama seperti malam di hutan. Nabila menggenggam salib kecil di lehernya, itu pemberian ibunya sebelum meninggal.
"Tangan aku dingin," Bisik Nabila
Galen menggenggam tangan Nabila.
"Karena kamu takut, nggak apa-apa aku juga takut" Jawab Galen
"Lalu kenapa kamu tetap maju?" Tanya Nabila
"Karena ada kamu yang harus aku lindungi, dan ada Tuhan yang berjalan di depan kita" Jawab Galen
Jam 19.52, mereka berhenti 200 meter dari gudang. Gudang Tua, lampu kuning redup, ombak memecah di dermaga, dan bau amis dan karat. Di dalam terlihat bayangan 6 orang dan 1 kursi di tengah.Dira. melihat itu Nabila menutup mulutnya.
"Tuhan..." Lirih Nabila
Galen mengecup punggung tangan Nabila.
"Siap?" Tanya Galen, Nabila mengangguk.
"Siap" Jawab Nabila
Jam 19.55 Pintu belakang terbuka pelan, Arvin duduk di kursi rotan sambil erokok. Di sampingnya 6 anak buah, semua bersenjata dan di tengah Dira. Menangis.
"Selamat datang," Kata Arvin, dia menepuk tangan pelan
"Galen,Nabila. Kalian epat waktu. aku suka orang disiplin" Lanjut Arvin, Galen maju tubuhnya di depan Nabila melindungi.
"Lepaskan dia, ini urusan kita" Ujar Galen
Arvin tertawa
"AHAHAHAHA Urusan kita ? Kamu yang hancurkan bisnis 20 tahun aku, Galen. Ini urusan darah." Jawab Arvin
Arvin memberi isyarat kepada salah satu anak buahnya menempelkan pistol ke pelipis Dira, dan itu membuat Dira menjerit tertahan karena lakban.
"Kak Bila... tolong..." Ucap Dira
Nabila maju selangkah.
"JANGAN! Lepaskan dia! Aku yang kamu mau kan?!" Ujar Nabila
"Oh Nabila" Ucap Arvin berdiri
"Aku mau semuanya, harta, kekuasaan, dan kamu berlutut minta maaf" Tambah Arvin
Galen berbisik ke Nabila tanpa menoleh
"3...2...1..."
KRETEK
Atap terbuka.
WUUUUNG
Lampu sorot menyilaukan
"POLISI REPUBLIK INDONESIA! LETAKKAN SENJATA! KALIAN DIKEPUNG!" SWAT masuk dari depan, belakang, dan ventilasi.
Ternyata jam 19.50, Galen diam-diam menekan tombol di jamnya3x dan itu kode untuk "Serbu". Kacau, teriakan, tembakan ke udara. Anak buah Arvin panik.
"SEKARANG!" Teriak Galen lalu dia menarik Nabila, berlari menembus asap.
Lukanya di lengan kiri sakit sekali, tapi dia abaikan. Nabila dengan pisau kecil yang disembunyikan di sepatu, memotong tali Dira.
"Dira! Lari ke pintu belakang! Pak Anton nunggu di sana!" Ucap Nabila
Dira menangis
"Kak Galen..." Ucap Dira
"PERGI!" Bentak Galen
Dira lari dan ditangkap Pak Anton dan ditarik keluar agar man. Tinggal Galen dan Nabila, asap mulai menipis. Arvin muncul dari balik container dan di tangannya pistol. Mengarah lurus ke Nabila.
"KALAU AKU JATUH, KALIAN JUGA!" Teriak Arvin
DOR !
Waktu seperti berhenti, Galen mendorong Nabila dengan seluruh tenaga.
SRET !
Peluru menembus bahu kanan Galen, tembus.
"GALEN!!!" Jeritan Nabila memecah Gudang lalu Galen jatuh berlutut.
Darah menyembur membasahi kemeja putihnya, tapi dia masih tersenyum kepada Nabila.
"Lari... sayang..." Teriak Galen
Nabila berlutut memeluk Galen.
"TIDAK! JANGAN TINGGALKAN AKU! TUHAN YESUS TOLONG!" Teriak Nabila sambil menangis
DUG!
Satu tembakan dari belakang, Arvin jatuh tertembak di betis oleh Pak Anton.
"Medis! Cepat!" Teriak Pak Anton.
Sirene, teriakan, Arvin ditangkap.digelandang. Sebelum masuk mobil dia meludah.
"Ini belum selesai..." Ucap Arvin
Galen yang sudah setengah sadar, berbisik.
"Sudah. di hadapan Tuhan, sudah selesai" Bisik Galen
*****
Jam 20.15 di dalam ambulans, Nabila tangannya tidak pernah lepas dari tangan Galen.
Tekanan darah Galen turun. 80/50.
"Galen... tetap buka mata kamu... lihat aku..." Ucap Nabila menangis.
Galen membuka mata dengan susah payah.
"Nabila..." Panggil Galen
"Iya aku di sini" Jawab Nabila
"Doa... doa Bapa Kami..." Ujar Galen, Nabila mengangguk lalu dia menggenggam tangan Galen erat.
"Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, Datanglah kerajaan-Mu, Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga..." Ucap Nabila berdoa
Galen ikut berbisik lirih.
"Berikanlah kami... makanan kami... yang secukupnya… Sampai "Amin" Bisik Galen memejamkan mata.
"GALEN? GALEN!!" Nabila menjerit membuat petugas medis langsung memasang oksigen dan defibrilator.