NovelToon NovelToon
Penjaga Hati Nona Shanum

Penjaga Hati Nona Shanum

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: julian rifai

Aran, seorang pembunuh bayaran yang hidup di balik bayang-bayang, diselamatkan setelah sebuah misi gagal hampir merenggut nyawanya. Takdir membawanya ke Pondok Pesantren Al-Ikhlas, tempat ia bertemu Shanum, seorang wanita kaya yang dingin, tenang, dan sulit didekati.

Ketika ancaman mulai mengincar Shanum, Aran menerima tugas untuk menjaganya. Namun, semakin dekat ia dengan wanita itu, semakin sulit baginya membedakan antara tugas dan perasaan.

Di balik senyum Shanum tersembunyi dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan kekuasaan. Sementara di belakang Aran masih menunggu masa lalu kelam yang belum selesai.

Ketika seorang pembunuh ditugaskan menjaga hati seorang wanita, mampukah ia melindunginya tanpa kehilangan hatinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bercak di Lengan Hitam

Deru mesin SUV mewah Al-Maktoum Group membelah lengangnya jalanan protokol Jakarta pasca-tengah malam. Lampu-lampu jalan memantulkan pendar jingga di atas kaca mobil yang basah oleh embun tipis. Di dalam kabin belakang yang hangat, Shanum melepaskan blazer resminya, menyisakan kemeja krem dan hijab pasmina satin yang masih terpasang rapi.

Shanum menghembuskan napas panjang yang lega. Senyum puas melintas di bibirnya saat mengingat bagaimana pesta kemenangan tadi berjalan tanpa cela. Namun, keheningan di dalam mobil mendadak terasa aneh.

Aran yang duduk di jok depan samping pengemudi tampak terlalu tenang. Pria itu menyandar tegap, tetapi Shanum yang kini mulai mengenali setiap detail kebiasaan pengawalnya menangkap sesuatu yang tidak beres. Bahu kiri Aran sedikit terangkat, dan napasnya terdengar agak tertahan setiap kali roda mobil melewati laju gelombang jalan.

"Aran," panggil Shanum lembut dari balik jok belakang. "Air mineral di tempatmu masih ada?"

"Masih, Mbak Shanum," sahut Aran cepat. Pria itu memutar tubuhnya ke belakang, mengulurkan satu botol air mineral dingin kepada Shanum.

Namun, saat jemari Shanum meraih botol tersebut, secara tidak sengaja bagian luar lengan bajunya menyapu kain jas hitam di lengan bawah kiri Aran.

Terasa basah. Dan hangat.

Shanum mengerutkan dahi. Di bawah lampu kabin mobil yang remang, ia melihat telapak tangannya. Noda cairan merah pekat melekat di kulitnya yang putih.

Mata Shanum terbelalak seketika. "Aran... ini apa?!"

Aran melirik lengannya sendiri, lalu dengan cepat menarik tangannya kembali ke samping tubuhnya. Raut wajahnya tetap tenang, seolah noda darah itu hanyalah tumpahan kopi biasa.

"Hanya regangan luka kecil dari operasi kemarin, Mbak. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," sahut Aran datar, mencoba menyembunyikan kenyataan bahwa jahitan lukanya terbuka akibat melumpuhkan penyusup di toilet tadi.

"Regangan luka kecil tidak akan membikin kemeja hitammu sebasah ini!" sembur Shanum. Kepanikan yang campur aduk dengan kejengkelan mendadak membuncah di dadanya. Tembok gengsi CEO yang biasa tampil dingin meluruh sepenuhnya saat itu juga.

Shanum menepuk bahu pengemudi dengan cepat. "Pak Darmo, berhenti di bahu jalan sekarang! Nyalakan lampu hazard!"

"Baik, Bu!"

Mobil SUV itu menepi dengan halus di bawah naungan pohon peneduh jalan yang sepi. Belum sempat mobil berhenti sempurna, Shanum sudah bergeser ke jok tengah dan membuka kotak P3K darurat berukuran besar dari kompartemen bawah.

"Pindah ke belakang. Sekarang," perintah Shanum dengan nada yang tidak menerima bantahan.

Aran menghela napas pasrah. Memahami bahwa bantahan taktis tidak akan mempan pada Shanum yang sedang panik, pria bertubuh tegap itu melepas sabuk pengamannya dan berpindah ke seat tengah, duduk tepat di samping Shanum.

"Lepas jasmu," tegas Shanum seraya membuka botol antiseptik dan kain kassa.

Aran menurut. Dengan perlahan, ia menanggalkan jas hitamnya. Begitu kemeja dalam berwarna abu-abu gelap itu tersingkap, Shanum menahan napas. Kain di bagian lengan bawah kiri Aran sudah sepenuhnya ternoda darah pekat yang merembes dari jahitan robek sepanjang lima sentimeter.

Dengan jemari yang sedikit gemetar, Shanum meraih gunting medis, memotong lipatan kain kemeja Aran hingga ke batas siku. Kulit lengan Aran yang kokoh kini terpampang jelas—dipenuhi garis-garis bekas luka lama dari masa lalunya yang kelam, bercampur dengan luka jahitan baru yang memerah dan terbuka.

"Aww..." gumam Shanum pelan saat membasahi kain kassa dengan alkohol. Bukan Aran yang meringis, melainkan Shanum sendiri yang merasa linu melihat luka itu.

"Mbak Shanum, biar saya sendiri yang—"

"Diam, Aran!" potong Shanum kaku namun suaranya bergetar. "Tanganmu satu lagi harus menahan perban di dada. Biar saya yang obati."

Shanum mulai membersihkan sisa darah di sekitar luka Aran dengan sangat hati-hati. Jemari wanita muda yang biasanya hanya berkutat dengan pena mahal dan dokumen triliunan rupiah itu kini merawat luka fisik pengawalnya. Setiap kali kain kassa menyentuh daging yang terbuka, Aran tidak mengeluh sama sekali. Pria itu hanya menatap Shanum dari jarak dekat.

Di dalam kabin mobil yang sempit dan hening, jarak di antara mereka terasa menguap. Aran bisa mencium aroma lembut parfum mawar yang terpancar dari pasmina Shanum. Ia bisa melihat betapa tulusnya raut wajah pimpinannya itu—seorang wanita yang kini mengobati lukanya bukan sebagai atasan kepada bawahan, melainkan sebagai seorang sahabat sejati yang sangat takut kehilangan.

"Kamu ini selalu saja seperti ini..." bisik Shanum pelan, matanya mulai berkaca-kaca saat membebatkan perban elastis melingkari lengan Aran. "Tadi di pesta kamu terlihat biasa saja. Kamu senyum, kamu menyapa Ning Layla... tapi ternyata kamu menahan sakit separah ini. Kenapa kamu tidak pernah bilang?"

Aran menatap perban rapi di lengannya, lalu beralih menatap mata Shanum yang jernih. Senyum tipis yang amat tulus terukir di bibirnya.

"Tugas saya adalah memastikan tidak ada satu pun hal buruk yang mengganggu senyum kemenangan Anda malam ini, Mbak Shanum," tutur Aran, suaranya kini begitu hangat dan rendah. "Rasa sakit ini tidak ada artinya dibanding melihat Al-Maktoum Group berdiri tegak."

Shanum meremas perban di tangan Aran pelan, lalu menghembuskan napas panjang, mencoba mengusir kecanggungan emosional yang mendadak menyeruak tebal di udara kabin.

Untuk memecah keheningan yang serasa menahan napas itu, Shanum menyandarkan punggungnya ke jok, merapikan kembali posisi pasminanya yang sedikit miring, lalu melirik Aran dengan sudut mata jahil.

"Sudah selesai. Tapi sebagai hukumannya karena kamu menyembunyikan luka ini..." Shanum berdeham pelan, memutar otak mencari jalan keluar dari suasana sentimentil tadi. "...minggu depan kita akan menuruti permintaan Ning Layla."

Aran mengedipkan matanya, sedikit heran. "Ke Pesantren Al-Ikhlas?"

"Iya," sahut Shanum seraya mengulas senyum tipis, gengsi kecilnya kembali terpasang rapi meski matanya memancarkan kehangatan. "Ning Layla bilang ada kejutan untuk kita. Lagipula, berada di dekatmu yang terus-menerus terluka seperti ini membuat tensi darah saya naik. Saya butuh ketenangan udara pesantren untuk memulihkan diri... dan memastikan kamu tidak nekat bertarung lagi sebelum lukamu benar-benar kering. Disana kamu juga bisa beristirahat dan tidak lagi bermain-main dengan nyawamu."

Aran terkekeh pelan—sebuah tawa renyah yang lepas dari tenggorokannya. "Siap, Mbak Shanum. Perintah dilaksanakan."

Shanum menepuk pelan bahu kanan Aran yang tidak terluka. "Pak Darmo, jalan lagi. Kita pulang."

Mobil SUV itu kembali melaju membelah malam Jakarta. Di dalam kabin yang kini diliputi rasa lega, dua jiwa yang semula saling asing itu kini duduk bersisian bukan lagi sebagai pimpinan dan pelindung yang berjarak, melainkan dua sahabat yang saling melengkapi dan siap melangkah bersama menghadapi apa pun kejutan yang menunggu mereka di pesantren minggu depan.

1
Alia Chans
keren😉/Smile/
saling support sabi kali thor🤭
Alnilam Mintaka: bisa banget bang .. makasih udah mampir yakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!