"Wanita yang dulu kau buang seperti sampah, kini menjadi Ratu yang tak sanggup kau beli!"
Demi Fandi, Maya rela melepas statusnya sebagai supermodel ternama dan menjadi ibu rumah tangga biasa. Namun, pengorbanannya dibalas penghinaan. Begitu penampilannya tak lagi segar, Fandi menceraikannya demi wanita lain dan mengusirnya tanpa membawa apa pun.
Fandi mengira hidup Maya sudah hancur. Namun, ia salah besar.
Di balik kehancurannya, Maya bangkit merintis kembali kerajaannya. Ketika Maya berdiri di puncak kejayaan sebagai wanita paling berpengaruh, Fandi merangkak dalam penyesalan yang tak bertepi.
Sayangnya... Ratu yang dulu disia-siakannya kini melayang terlalu tinggi untuk kembali.
bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: DSKKR
Aku putuskan untuk pergi dari rumah ini. Tak lupa aku mengambil secarik kertas dari map yang sengaja aku siapkan dari awal suamiku berubah. Tak lupa aku tanda tangani kolom itu. Lalu Ku langsung ambil Koper besar ku dan segera ku kemasi semua pakaian dan barang-barang yang akan aku bawa pergi dari sini. Matahari baru saja terbit, memancarkan sinar tipis di selah-selah jendela dapur. Suasana rumah masih sepi, cuma ada suara desis dispenser air dan langkah kakiku yang mengayun pelan.
"Hoaamm... Pegal sekali.." Ucapku sendiri meregangkan pinggang ku ke kanan dan ke kiri.
Aku benar-benar tidak tidur semalaman. Waktuku habis buat mengemas pakaian anak-anak ke dalam dua koper sedang, memasukkan dokumen-dokumen penting milikku dan ketiga anakku ke dalam tas ransel, serta menatap ruang demi ruang di rumah ini untuk terakhir kalinya.
Tiba-tiba ku dengar suara langkah sepatu berdecit di lantai marmer ruang tamu. Fandi pulang.
Ku lihat dia melangkah masuk dengan raut wajah sangat lelah, kemejanya sudah lecek di bagian lengan, dan ada aroma kopi bercampur asap rokok yang menyengat dari bajunya. Begitu melihatku berdiri di samping meja makan dengan pakaian rapi, celana jins longgar dan kaus polos hitam, dahi Fandi langsung berkerut.
"Kamu mau kemana?" tanyanya dingin, melepas jam tangan dan meletakkannya asal di atas meja. "Dih.. Gak usah masang muka begitu. Aku capek banget, mau mandi terus tidur. Kamu engga usah drama apapun. Cape denger nya." Ucap nya.
"Aku udah packing dan siapin semua barang-barangku dan anak-anak, Mas," kataku pelan, suaraku datar tanpa emosi.
Fandi menghentikan gerakannya yang hendak melepas jas. Matanya menatap ke sudut ruang tamu, tempat dua koper besar dan tiga tas kecil anak-anak sudah berjejer rapi.
Dia tertawa pendek, tawa meremehkan yang amat sangat kukenal.
"Kamu mau main drama drama kabur dari rumah sekarang?" Fandi melipat dadanya, menatapku dari atas ke bawah. "May, sadar diri. Kamu mau bawa anak tiga ke mana? Rumah ibumu? Rumah tua yang bocor itu? Bawa uang dari mana kamu buat ngasih makan mereka?"
"Itu urusanku, bukan urusanmu lagi." Ucapku datar.
"Urusanmu?" Fandi melangkah mendekat, memangkas jarak di antara kami. Suaranya penuh tekanan. "Semua yang kamu pakai, makanan yang kamu makan, susu anak-anak, semuanya dari uangku! Tanpa aku, kamu itu gak bisa apa-apa, May!" Ucapnya lagi dengan congkak.
Aku menatap mata Fandi lurus-lurus. Dulu, tatapan ini selalu berhasil bikin aku menciut dan merasa bersalah. Tapi hari ini, tatapan itu terasa begitu kosong.
"Dulu kamu juga bukan siapa-siapa tanpa aku, Mas," balasku tenang. "Kamu lupa? Siapa yang nemenin kamu ketuk pintu studio satu per satu? Siapa yang rela fotonya dipajang gratisan cuma biar nama kamu dikenal? Aku yang bikin kamu punya nama 'Fandi sang Fotografer'."
Wajah Fandi mendadak menegang. Ada rasa tersinggung yang sangat besar memancar dari matanya.
"Eh denger ya may. Jangan kebiasaan merasa paling berjasa!" bentak Fandi, suaranya meninggi. "Kemampuanku yang bikin aku sukses! Bukan kamu! Kamu tuh cuma modal tampang pas muda, dan sekarang tampang itu udah gak ada sisanya! Sadar diri! Ngaca!" Ucapnya membentak.
Aku tidak membalas makiannya. Aku hanya merogoh tas tanganku, mengeluarkan selembar kertas putih yang sudah ku tanda tangani sejak subuh tadi, lalu meletakkannya tepat di sebelah jam tangan mahal Fandi.
Fandi melirik kertas itu. 'Surat Pernyataan Kesepakatan Perceraian dan Hak Asuh Anak'
Mata Fandi membelalak sejenak, sebelum akhirnya kembali menatapku dengan senyum sinis. "Ckck.. Kamu serius mau cerai? Kamu pikir aku bakal tahan-tahan kamu? Jangan harap may! Kamu ngaca dulu yang lama haha baru minta cerai. Seharusnya yang minta cerai itu aku tau enggak!"
Aku tersenyum sinis "Aku gak minta kamu tahan aku, Mas," kataku seraya menyampirkan ransel ke bahu. "Aku cuma mau ambil hakku atas anak-anak. Kamu bisa bebas sama Siska, sama estetikamu, sama kehidupan barumu itu. Bebas.." Ucapku lagi.
"Bagus kalau gitu!" Fandi meraih pena di meja dan langsung menandatangani kertas itu tanpa ragu sedikit pun. Gerakannya kasar, hampir merobek kertasnya. "Jangan pernah nyesel ya, May! Begitu kamu keluar dari pintu itu, aku gak akan ngasih kamu satu rupiah pun!"
"Aku gak butuh uangmu. Lagipula tidak ada satu rupiah sekarang. Gaya sekali" Ucapku menanggapi dengan datar.
Aku berbalik, melangkah menuju kamar anak-anak untuk membangunkan mereka. Di belakangku, Fandi berteriak keras.
"Kita lihat berapa hari kamu bisa bertahan di luar sana sebelum ngemis-ngemis minta balik ke aku!"
Setelah percakapan itu, aku segera memindahkan anak kembar ku kedalam stoler lalu aku menggandeng anak sulung ku dan kami pun berjalan meninggalkan rumah itu.
Bersambung..