NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Putri Raja Dan Anak Penempa Pedang

Cinta Terlarang Putri Raja Dan Anak Penempa Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cintapertama / Fantasi
Popularitas:726
Nilai: 5
Nama Author: Ayyasy Asy-Syaif

Di sebuah kerajaan yang megah dan disegani, hiduplah Celestia, putri bungsu Raja David. Sebagai anak ketiga sekaligus putri terakhir dari tiga bersaudara, Celestia selalu hidup dalam kemewahan dan aturan kerajaan yang ketat. Berbeda dengan kedua kakaknya yang telah terbiasa dengan kehidupan istana, Celestia diam-diam mendambakan kehidupan bebas tanpa harus selalu memikirkan statusnya sebagai seorang putri.

Di sisi lain kerajaan, hiduplah seorang pemuda yatim piatu bernama Zass. Sejak kecil ia hidup seorang diri dan bekerja sebagai anak penempa pedang. Walaupun berasal dari kalangan rakyat biasa dan hidup sederhana, Zass memiliki keahlian luar biasa dalam menempa pedang. Ia tidak memiliki keluarga ataupun gelar bangsawan, tetapi ia memiliki tekad untuk menjadi seorang penempa pedang terbaik.

Takdir memperte

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan yang Tak Terduga

Beberapa hari setelah keberhasilan misi pertama Zass bersama party-nya, suasana diplomatik di Kerajaan Molten mendadak berubah sibuk. Rombongan megah dari Kerajaan Imperial tiba di perbatasan. Kereta-kereta kuda berlapis emas dengan panji-panji kebesaran melaju perlahan menyusuri jalanan utama menuju istana Kerajaan Molten.

Raja David memimpin sendiri rombongan tersebut dalam rangka kunjungan kenegaraan dan perundingan kerja sama wilayah. Kedatangan mereka disambut dengan baik dan hangat oleh Raja Molten beserta para pejabat tinggi kerajaan. Karpet merah dibentangkan, dan musik penyambutan terdengar menggema di sepanjang koridor istana.

Di antara rombongan megah itu, sosok Putri Celestia turut hadir. Di usianya yang makin dewasa, keanggunan dan kecantikannya makin memikat, meski rona kedukaan dan tatapan matanya yang redup tak pernah benar-benar hilang. Celestia merasa jenuh dengan formalitas perundingan para penguasa di dalam balairung. Dengan izin khusus dan pengawasan melonggar dari ayahnya—mengingat Kerajaan Molten adalah wilayah yang terkenal aman dan ramah—Celestia memutuskan untuk berjalan-jalan menyusuri jalanan kota.

Kerajaan Molten boleh saja tergolong miskin secara ekonomi, namun kehangatan rakyatnya begitu terasa. Saat Celestia melangkah melewati pemukiman dan area publik, masyarakat lokal menyambutnya dengan senyuman tulus. Anak-anak kecil berlarian menyapanya, dan para lansia membalas lambaian tangannya dengan doa-doa kebaikan. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun terkungkung di kamarnya yang dingin, Celestia merasakan sedikit kehangatan menyusup ke dalam dadanya.

Setelah cukup jauh berjalan, rasa lapar mulai menyapa. Langkah kakinya membawanya menuju area pasar rakyat yang cukup ramai. Di sana, berjejer tenda-tenda pedagang yang menjajakan makanan lokal beraroma menggugah selera. Celestia berhenti di salah satu tenda makanan, lalu merogoh kantong bajunya dan mengeluarkan sebuah dompet kain sutra berhias benang emas yang tampak sangat mewah.

Namun, dalam hitungan detik saat ia menarik beberapa koin untuk membayar, sesosok pria berpenampilan liar melesat dari balik kerumunan.

Srettt!

Dengan gerakan yang sangat cepat dan terlatih, pria itu merampas dompet emas dari genggaman Celestia, menyambar seluruh koinnya, lalu melesat berlari menembus kerumunan pasar.

"Tolong! Pencuri! Dompetku!" teriak Celestia panik.

Celestia mencoba menyingsingkan gaunnya dan berlari mengejar, namun langkah kakinya tidak sebanding dengan kecepatan sang pencuri yang sudah lihai memanfaatkan celah-celah lorong pasar. Pencuri itu tertawa sinis seraya menoleh ke belakang, yakin bahwa ia telah berhasil meloloskan diri membawa harta karun dari seorang bangsawan kaya.

Namun, kemenangannya hanya bertahan beberapa detik.

Zreet! Bzzzt!

Udara di sekitar lorong pasar mendadak menjadi sangat dingin dan bertekanan tinggi. Sebuah kilatan petir berwarna ungu pekat menyambar dengan kecepatan yang tak masuk akal dari atas atap bangunan! Kilatan itu merangsek tepat ke arah tangan sang pencuri yang menggenggam dompet emas.

Brakkk!

Belum sempat sang pencuri menyadari apa yang terjadi, sebuah tendangan melayang yang sangat bertenaga mendarat telak di dadanya. Tubuh pencuri itu terlempar ke udara dan terhempas keras beberapa meter ke belakang, menghantam tumpukan kotak kayu hingga hancur berkeping-keping. Pria itu terkulai pingsan tak berdaya.

Dompet emas yang sempat melayang di udara ditangkap dengan sangat tenang oleh sang penolong. Dengan gerakan jemari yang sangat cekatan dan santai, koin-koin yang sempat tercecer dimasukkan kembali ke dalam dompet tersebut secara rapi.

Celestia yang baru saja tiba di ujung lorong dengan napas terengah-engah berhenti mendadak. Matanya membelalak menatap sosok berdiri di hadapannya.

Sosok itu berbalik perlahan, melangkah mendekati Celestia seraya menyodorkan dompet emas tersebut.

"Ini milikmu," ucap sebuah suara dengan nada datar dan dingin.

Celestia menerima dompet emasnya dengan jemari yang gemetar. Namun, pandangannya sama sekali tidak tertuju pada dompet tersebut. Matanya terkunci rapat pada penampilan pria muda berpostur tegap di hadapannya.

Pria itu mengenakan jubah luar berbahan karung goni tebal—pakaian yang sangat usang dan kasar, persis seperti jubah goni yang dulu pernah diselimutkan kepadanya saat mereka berteduh di dalam gua. Namun, yang paling membuat dada Celestia bergemuruh hebat adalah wajah dan mata pria tersebut.

Garis wajah yang tegas, rahang yang mengeras, serta struktur muka yang terukir sempurna. Tetapi... tatapan mata yang dulu selalu memancarkan kehangatan, keceriaan, dan kepolosan seorang anak penempa pedang kini telah berganti total menjadi tatapan yang amat dingin, tajam, dan sedalam samudra tanpa tepi.

"Z... Zass?" bisik Celestia dengan suara yang hampir tak terdengar, air mata seketika merebak menutupi pandangannya.

Jantung Celestia serasa berhenti berdetak. Selama bertahun-tahun ia mengurung diri dalam kesunyian, meratapi kepergian sang pemuda, dan memeluk belati kayu setiap malam... kini sosok itu berdiri tepat di hadapannya.

Zass menatap Celestia. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, gelombang emosi yang sangat dahsyat meledak tanpa ampun. Kerinduan, kepedihan, serta cinta yang tak pernah padam kembali berkecamuk hebat saat melihat mata jernih sang putri yang amat ia rindukan.

Zass sangat mengenali Celestia. Namun, pemuda 17 tahun itu mengepalkan tangannya di balik jubah goninya, memaksa dirinya untuk tetap berdiri tegak dengan ekspresi dingin tanpa cela.

"Celestia! Kau di mana, Anakku?!"

Suara berat yang menggelegar dari kejauhan memecah hening di antara mereka. Derap langkah kaki belasan ksatria berzirah lengkap terdengar mendekati area pasar. Itu adalah suara Raja David yang panik mencari putrinya.

Zass melirik ke arah datangnya suara tersebut. Bayangan kenangan pahit saat ia dihina, dihujat, dan dilempar keluar dari gerbang istana bagaikan sampah kembali membakar ingatannya. Waktunya belum tiba. Ia belum menjadi sosok yang sanggup berdiri sejajar di hadapan sang raja tanpa ada ancaman yang bisa memisahkan mereka lagi.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Zass berbalik badan.

"Tunggu! Zass, jangan pergi!" jerit Celestia hysterical, mencoba menggapai lengan jubah goni Zass.

Srettt!

Zass tidak menoleh. Dengan satu pijakan kaki yang memicu percikan Petir Ungu tipis, tubuh pemuda itu melesat cepat seperti bayangan, melompati atap-atap bangunan pasar dan menghilang di balik kerumunan kota dalam sekejap mata.

"Zass!" tangis Celestia pecah saat tangannya hanya menyambar udara kosong.

Tak lama kemudian, Raja David bersama belasan ksatria istana tiba di lorong tersebut dengan raut wajah panik. Sang raja langsung berlari menghampiri putrinya yang terduduk di tanah seraya menangis tersedu-sedu.

"Celestia! Ada apa, Anakku?! Apa yang terjadi?!" tanya Raja David cemas, memegangi bahu putrinya seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling lorong yang berantakan dan melihat seorang pencuri yang pingsan. "Apakah orang ini melukaimu? Siapa yang melakukan ini?!"

Celestia memeluk dompet emasnya erat-erat di dada, menggelengkan kepalanya seraya terus meneteskan air mata. Ia tidak menjawab pertanyaan ayahnya. Matanya terus menatap ke arah atap bangunan tempat Zass melesat pergi.

Di dalam hatinya, rasa duka yang selama bertahun-tahun menyiksanya kini berganti menjadi sebuah kepastian yang membakar. Zass masih hidup. Pemuda itu ada di kerajaan ini, tumbuh menjadi sosok yang sangat kuat, dan masih mengenakan jubah karung goni kenangan mereka.

Kau masih mengingatku, Zass... batin Celestia di antara isak tangisnya. Aku tahu itu kau. Dan aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi.

1
Guzzie
next
Guzzie
lanjut
Guzzie
💪💪💪
Guzzie
keren
Ayyasying
TIDAKKKKK CELESTIAAA!!!
Ayyasying
lah! tiba-tiba berubah pikiran nih orang?
Ayyasying
ga ekspet ternyata temen bapaknya
Ayyasying
bau bau adventure nih
Ayyasying
celestia mimpin perang? terkejut aku wak
Ayyasying
kapan romance nya bg
Ayyasying
akhirnya ketemu arwah bapaknya
Ayyasying
segala di puyengin Ama labirin
Ayyasying
🔥🔥🔥🔥
Ayyasying
update terus bang. resep bet ceritanya
Ayyasying
rasain lu David! malu malu sonoh
Ayyasying
apakah zass bakalan sama celestia lagi?
Ayyasying
si bro pake nama samaran euy
Ayyasying
woy lah! hampir aja itu!
Ayyasying
semangat zass!!!🔥🔥🔥
Ayyasying
zass kuat kuat ya😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!