Pada tahun 2032, Perang Dunia Ketiga hanya membutuhkan sebelas hari untuk membuat negara-negara kehilangan arti. Rudal nuklir menghantam ibu kota, pangkalan militer, kawasan industri, dan pelabuhan. Listrik padam, komunikasi terputus, persediaan pangan berhenti bergerak, sementara pemerintahan yang masih tersisa tidak lagi mampu menjangkau rakyatnya. Jutaan orang meninggalkan kota-kota yang terbakar dan berkumpul di tempat yang masih memiliki air, tanah bersih, serta bahan bakar. Dari kekacauan itu lahir faksi-faksi baru yang dipimpin sisa tentara, pemilik bunker, pemuka agama, dan siapa pun yang mempunyai cukup senjata untuk memaksakan aturan. Ketika mereka mulai memperebutkan sisa dunia, debu radioaktif terus menebal di atmosfer, matahari memucat, dan suhu turun dari minggu ke minggu. Musim dingin belum tiba, tetapi melalui radio-radio darurat yang masih menyala, satu nama mulai terdengar dari wilayah ke wilayah. The Red Winter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dari Bawah Tanah
Aiden mengikuti anak-anak lain mengitari sudut gedung Empire. Paha yang baru dihantam pedang kayu terasa nyeri setiap kali kakinya menapak, tetapi rasa ingin tahu membuatnya terus berlari sambil menggenggam ketapel agar benda itu tidak terlepas.
Kerumunan telah memenuhi halaman sempit di belakang gedung. Warga berdiri berdesakan di depan bangunan rendah yang menjadi pintu masuk menuju ruang bawah tanah Empire, tempat lorong-lorong perawatan dan ruang generator berada.
Bangunan itu hanya setinggi satu lantai dengan dinding beton yang menghitam oleh usia. Pintu logamnya terbuka lebar, memperlihatkan tangga yang menurun ke dalam cahaya kekuningan dan berakhir pada kegelapan di bawah tanah.
Aiden mengenali tempat itu terlalu baik. Beberapa bulan lalu, ia mengikuti Marcus melewati pintu yang sama dan pulang seorang diri untuk mencari pertolongan, sementara darah ayahnya masih menempel pada gigi induk Dire Mole.
Empat penjaga membentuk barisan pembatas di depan pintu masuk. Mereka berdiri dengan bahu saling berdekatan dan kedua lengan direntangkan, menahan warga yang terus mencoba mencari celah untuk melihat ke dalam.
Semua penjaga itu masih muda, berambut pendek, dan bertubuh kekar akibat latihan. Keringat membasahi kerah seragam mereka, sedangkan senapan tergantung di dada serta beberapa lembar kain tebal melilit tangan sebagai perlindungan.
Anak-anak yang berlari dari lapangan segera menyelinap melalui sela-sela tubuh orang dewasa. Aiden menunduk, memiringkan bahu, lalu memaksa dirinya maju di antara punggung yang basah dan lengan yang saling berhimpitan.
Bau keringat bercampur debu memenuhi hidungnya. Dari pintu bangunan, udara lembap membawa aroma logam, minyak mesin, bahan kimia, dan sesuatu yang busuk meskipun sumbernya belum terlihat.
Seseorang menyikut bagian rusuk Aiden yang masih sakit akibat latihan. Ia meringis, tetapi terus bergerak sampai tiba di belakang barisan penjaga dan memperoleh tempat untuk melihat di antara dua bahu.
Eddie meneriaki anak-anak dari belakang kerumunan. Suaranya tenggelam di antara percakapan warga, derit pintu, dan perintah para penjaga yang meminta semua orang mundur.
Sejak Marcus terluka, Dmitri berkali-kali mengirim kelompok bersenjata ke bawah tanah. Mereka menyusuri lorong, memeriksa lubang yang digali Dire Mole, memasang perangkap, dan kembali membawa jejak kaki atau potongan bulu tanpa pernah menemukan alpha yang dicari.
Pencarian itu telah berlangsung berbulan-bulan. Semakin lama makhluk tersebut tidak terlihat, semakin sering warga membicarakan kemungkinan bahwa ia telah menggali jalan lain menuju gudang makanan, tempat tinggal, atau saluran air Empire.
Aiden sendiri selalu memikirkan ruang generator. Setiap kali Marcus berangkat bekerja, bayangan sesosok binatang sebesar induk Dire Mole muncul dari salah satu cabang lorong dan menunggu dalam kegelapan yang tidak dapat dijangkau senter.
Hari ini para penjaga akhirnya mengatakan bahwa mereka memperoleh hasil. Namun, tidak seorang pun yang berdiri di halaman tampak mengetahui apa saja yang harus dikorbankan untuk membawanya naik.
Bunyi langkah muncul dari tangga. Percakapan warga perlahan mengecil ketika dua orang penjaga berjalan mundur dari pintu sambil mengangkat ujung depan sebuah tandu.
Dua penjaga lain menyusul di belakang. Seragam mereka dipenuhi debu kelabu dan noda hitam, sedangkan kain yang menutupi tubuh di atas tandu telah berubah merah pada bagian dada serta perut.
Yang mereka bawa bukan alpha Dire Mole. Bentuk di bawah kain itu mempunyai bahu, kaki, dan satu tangan manusia yang tergantung lemas pada sisi tandu.
Jemarinya menyeret sesaat di atas tanah sebelum salah seorang pengangkut mengangkatnya kembali. Kulit pada tangan tersebut pucat, kukunya pecah, dan cincin logam masih melingkari jari manisnya.
Tangisan seorang wanita pecah dari tengah kerumunan. Suara itu melengking begitu tajam hingga orang-orang di sekitarnya langsung memberi jalan.
Perempuan tersebut menerjang barisan penjaga sambil membawa seorang anak laki-laki yang belum mencapai pinggang Aiden. Rambutnya terlepas dari ikatan, wajahnya basah oleh air mata, dan kedua tangannya gemetar ketika berusaha meraih tandu.
Salah seorang penjaga menahannya pada bahu. Perempuan itu meronta, memanggil nama yang tidak dikenali Aiden, kemudian jatuh berlutut ketika tandu terus dibawa melewatinya.
Anak laki-laki yang bersamanya tidak ikut menangis. Ia berdiri kaku di dekat ibunya dan memandang tangan bercincin yang bergoyang di sisi tandu dengan wajah kosong.
Aiden tidak mengetahui siapa mereka. Namun, cara perempuan tersebut meraih tubuh yang ditutup kain dan cara anak itu mencoba mengikuti tanpa mengerti membuat Aiden menduga mereka adalah istri serta putra penjaga yang tewas.
Rasa sesak muncul di bagian bawah tenggorokannya. Aiden teringat dirinya sendiri berdiri di balik kaca klinik, memperhatikan Marcus terbaring pucat dan mencoba memahami bagaimana hidupnya akan berjalan jika dada ayahnya berhenti naik.
Anak kecil itu akhirnya menarik pakaian ibunya. Perempuan tersebut memeluknya dengan satu lengan, tetapi wajahnya masih menghadap tandu sampai tubuh di atasnya hilang di balik kerumunan menuju klinik.
Tidak ada yang bersorak lagi mengenai penemuan alpha. Bisik-bisik warga berhenti dan halaman hanya dipenuhi isakan perempuan tersebut serta bunyi sepatu para penjaga yang kembali menuju pintu.
Aiden hampir berbalik ketika jeritan terdengar dari dalam bangunan. Jeritan itu bukan suara takut, melainkan suara panjang dan serak dari seseorang yang tubuhnya sedang menahan rasa sakit terlalu besar.
Tandu kedua muncul dari tangga. Seorang penjaga muda terikat di atasnya agar tidak jatuh saat tubuhnya terus menggeliat, sementara dua pria di masing-masing sisi berusaha menjaga tandu tetap seimbang.
Kemeja penjaga yang terluka telah dipotong sampai bahu. Sisi tubuhnya dibalut kain tebal, tetapi darah masih merembes melewati lapisannya dan menetes dari bawah tandu ke tanah.
Salah satu lengannya terlihat lebih buruk. Kulit dari siku sampai pergelangan robek pada beberapa tempat, dan cairan gelap mengilap di antara darah merah yang mengalir menuju ujung jari.
Penjaga itu menjerit kembali. Punggungnya melengkung sampai tali pada dada tertarik kencang, sedangkan tumitnya menghantam kayu tandu berulang kali.
Seorang perempuan tua menerobos kerumunan dari sisi kiri. Tubuhnya kecil dan jalannya tidak cepat, tetapi ia menghantam lengan orang-orang yang menghalangi dengan tenaga yang muncul dari kepanikan.
“Dia anakku! Biarkan aku mendekat, dia anakku!”
Perempuan itu hampir mencapai tandu sebelum salah seorang penjaga berdiri di depannya. Pria muda tersebut menahan kedua bahunya dan memaksanya tetap berada lebih dari satu langkah dari darah yang menetes.
“Mundur, Nyonya. Darah Dire Mole masuk ke lukanya.”
“Aku ibunya. Lepaskan aku!”
Penjaga tersebut tidak bergeser. Ia berteriak kepada warga lain agar memberi jalan, kemudian membantu mendorong kerumunan ketika tandu dibawa menuju klinik.
Perempuan tua itu mencoba mengikuti. Kedua kakinya tersandung ujung gaunnya sendiri dan ia hampir jatuh sebelum beberapa tangan menangkap lengan serta punggungnya.
Tangisnya berubah menjadi suara berat yang putus-putus. Ia terus memanggil putranya, sementara penjaga di atas tandu tidak lagi mampu menjawab dan hanya mengerang dengan kepala terkulai ke samping.
Aiden merasakan ketapelnya menjadi licin di dalam genggaman. Ia mengusap telapak pada celana tanpa mengalihkan pandangan dari bercak darah yang tertinggal di tanah.
Darah Dire Mole telah masuk ke luka Marcus dengan cara yang sama. Dokter Ivana dapat membuat rasa sakitnya berkurang dan menyelamatkan nyawanya, tetapi tidak mampu mengeluarkan apa yang telah bercampur di dalam tubuhnya.
Aiden tidak tahu apakah penjaga muda itu akan mengalami perubahan seperti ayahnya. Ia juga tidak tahu apakah jumlah darah yang masuk lebih banyak, atau apakah jeritannya berarti tubuhnya akan rusak lebih cepat.
Bisik-bisik mulai menyebar di antara warga. Beberapa orang mundur dari tetesan darah, sedangkan yang lain menutupi hidung dan mulut menggunakan kain meskipun Ivana pernah mengatakan bahaya tidak menyebar melalui udara.
Seorang penjaga datang membawa seember pasir dan menumpahkannya di atas noda tersebut. Orang lain menandai daerah di sekitarnya menggunakan potongan kayu agar tidak ada warga yang menginjaknya.
Aiden mencari Eddie di belakang kerumunan, tetapi hanya melihat kepala orang-orang dewasa. Ia mulai menyadari seluruh anak dari lapangan telah berhenti bergerak dan kini berdiri diam, tidak lagi saling mendorong untuk mencapai bagian depan.
Kemudian bunyi gesekan terdengar dari dalam pintu. Suaranya berat dan kasar, seperti peti penuh besi yang diseret melewati lantai beton.
Satu orang memberi aba-aba dari bawah. Beberapa pria menjawab bersamaan, disusul tarikan panjang dan bunyi sesuatu menghantam anak tangga.
Tali tebal muncul lebih dahulu dari pintu. Seratnya kotor oleh lumpur dan darah yang telah menghitam, sedangkan ujungnya ditarik oleh enam penjaga yang berjalan mundur dengan kedua tangan mencengkeram kuat.
Otot pada lengan serta leher mereka menegang. Sepatu bot mereka bergeser di tanah, meninggalkan alur panjang ketika beban di belakang tali tersangkut pada ambang pintu.
Dua orang lain berjongkok dan menarik simpul dari samping. Setelah satu hentakan bersama, kepala alpha Dire Mole akhirnya muncul dari kegelapan.
Warga di barisan depan mundur serentak. Beberapa orang terpekik meskipun makhluk tersebut telah mati dan tali-tali melilit leher, kaki, serta tubuhnya.
Ukurannya membuat Aiden sulit mempercayai bahwa binatang itu pernah bergerak melalui lorong Empire. Dalam posisi terbaring pun, bagian tertinggi tubuhnya hampir mencapai dada Aiden.
Kepalanya lebih besar daripada dada orang dewasa. Dua gigi depan sepanjang jari Aiden menyembul dari mulut yang terbuka, berwarna kekuningan pada pangkal dan gelap oleh darah pada ujungnya.
Bulu kasar hanya menutupi beberapa bagian punggung serta tengkuk. Bagian kulit yang terbuka dipenuhi benjolan, luka lama, dan urat kehijauan yang masih tampak samar di bawah permukaan.
Salah satu matanya telah hancur. Mata yang lain terbuka lebar dan berwarna merah keruh, menatap tanpa kehidupan ke arah warga ketika para penjaga menyeret tubuhnya menuju halaman.
Kaki depannya hampir setebal lengan Marcus sebelum tubuh ayahnya mulai menyusut. Cakar pada ujungnya panjang, melengkung, dan dipenuhi serpihan kain serta sesuatu yang tampak seperti kulit kering.
Bau busuk menyapu kerumunan setelah seluruh tubuhnya keluar. Aiden menahan napas, tetapi aroma daging lama, darah, tanah lembap, dan bahan kimia tetap melekat pada belakang lidahnya.
Ada banyak luka pada tubuh alpha tersebut. Lubang-lubang peluru merusak sisi kepala dan dada, sedangkan perutnya terbelah oleh sesuatu yang meninggalkan sobekan panjang di antara lipatan kulit.
Beberapa penjaga yang menariknya juga terluka. Perban membungkus lengan atau kepala mereka, tetapi semuanya masih berdiri dan tidak membiarkan tali mengendur sampai bangkai itu berada jauh dari pintu.
Kesunyian bertahan beberapa saat. Aiden dapat mendengar napas orang-orang di sekitarnya serta dengung mesin dari dalam gedung, seolah seluruh Empire sedang memastikan makhluk itu benar-benar tidak akan bangkit.
Kemudian seseorang mengangkat tangan dan bersorak. Suara lain menyusul, lalu halaman meledak oleh teriakan lega dari warga yang selama berbulan-bulan hidup di atas sarang Dire Mole.
Para penjaga yang mengangkut bangkai saling menepuk bahu. Beberapa tersenyum kelelahan, sedangkan yang lain hanya duduk di tanah dan membiarkan kepala tertunduk di antara kedua lutut.
Aiden tidak langsung ikut bersorak. Bayangan tandu pertama dan jeritan dari tandu kedua masih terlalu dekat, tetapi melihat alpha terikat dan tidak bergerak membuat tekanan yang selalu muncul setiap kali Marcus pergi ke ruang generator mulai mengendur.
“Lihat ukurannya.”
Josh tiba-tiba muncul di sisi Aiden. Wajahnya masih merah akibat latihan dan rambut gandumnya menempel pada dahi, sementara pedang kayu sudah tidak berada di tangannya.
“Aku tidak percaya makhluk sebesar itu hidup di bawah kaki kita.”
Seorang penjaga muda yang berdiri di depan mereka menoleh. Rambutnya dipotong pendek, tubuhnya berotot, dan senapannya tergantung di atas seragam yang dipenuhi debu.
“Tunggu sampai kalian melihat makhluk yang hidup jauh di Wasteland.”
Josh hanya mendengus pelan dan kembali memandangi bangkai. Ia tampaknya tidak tertarik mendengar cerita yang tidak dapat dibuktikan pada saat itu.
Para penjaga mulai melarang warga mendekati alpha karena darah pada tubuhnya belum dibersihkan. Aiden dan Josh tetap berdiri di belakang pembatas, memiringkan kepala untuk melihat telapak kaki belakang makhluk tersebut yang lebih panjang daripada lengan Aiden.
“Aku dengar ayahmu membunuh induknya.”
Aiden menoleh. Josh tidak lagi memandang bangkai dan kini menunggunya menjawab dengan rasa ingin tahu terbuka pada wajah.
“Dad membunuh empat ekor. Tiga Dire Mole biasa dan induknya.”
“Seorang diri?”
Aiden mengangguk. Ingatan mengenai Marcus yang menjerit ketika gigi induk itu menembus lengannya menghapus sebagian kebanggaan yang sempat muncul, tetapi ia tidak menceritakan bagian tersebut.
“Keren.”
“Dia memang keren.”
Senyum tipis muncul di wajah Aiden. Untuk sesaat ia dapat membayangkan Marcus sebelum digigit, berdiri tegak dengan bahu lebar dan lengan yang mampu mengangkatnya tanpa kesulitan.
Josh menggeser berat tubuh dari satu kaki ke kaki lain. Ia mengusap hidung, melirik Aiden dua kali, lalu menendang kerikil kecil yang berada di antara mereka.
“Aiden, bukan?”
“Kau sudah memanggil namaku sejak latihan.”
Josh tampak sedikit kesal karena kalimat yang telah disiapkannya tidak berjalan mulus. Ia menggaruk belakang kepala dan kembali melihat alpha sebelum akhirnya berbicara.
“Kalau begitu, kau mau menjadi temanku?”
Aiden mengerutkan dahi. Permintaan itu terasa aneh karena Josh mengatakannya seperti sedang mengajak bertukar barang di pasar.
“Aku sudah punya Robin.”
“Teman tidak hanya boleh satu.”
Josh merapatkan kedua tangan di depan dada. Wajahnya berubah memelas dengan cara yang terlalu berlebihan hingga Aiden hampir tertawa.
“Ayolah. Aku bahkan membiarkanmu mengalahkanku tadi.”
“Kau tidak membiarkanku.”
“Bagian itu tidak penting.”
Aiden menahan senyum beberapa saat, lalu mengangguk. Josh langsung menepuk bahunya tepat pada bagian yang baru terkena pedang kayu.
Aiden meringis dan menepis tangan tersebut. Josh tidak melihatnya karena sudah menunjuk ke arah beberapa lantai bawah Empire dengan wajah bersemangat.
“Bagus. Aku akan menunjukkan tempat-tempat yang belum pernah kaulihat. Ada tangga servis di belakang dapur dan ruang kosong tempat kita bisa melihat seluruh halaman tanpa diketahui siapa pun.”
“Orang tuamu akan menghukummu kalau kau melakukan hal-hal aneh.”
Semangat pada wajah Josh mereda. Tangannya turun dan senyum tipis yang tersisa terlihat berbeda daripada sebelumnya.
“Orang tua?”
Ia menggesek ujung sepatunya pada tanah. Debu menumpuk di atas jari kaki sebelum Josh melanjutkan dengan suara lebih rendah.
“Aku sudah tidak punya orang tua.”
Aiden tidak segera menemukan jawaban. Ia memandang Josh, kemudian tanpa sengaja melihat perempuan yang masih memeluk anak kecilnya tidak jauh dari tempat tandu pertama lewat.
“Maaf.”
Josh mengangkat satu bahu. Ia kembali menatap alpha, tetapi rahangnya bergerak seperti sedang mengunyah bagian dalam pipinya.
“Tidak apa-apa. Sudah lama.”
Mereka berdiri tanpa bicara selama beberapa saat. Sorakan warga mulai mengecil, digantikan perintah para penjaga yang meminta semua orang memberi ruang untuk membersihkan halaman.
Josh menarik napas melalui hidung dan wajahnya perlahan kembali seperti semula. Ia mencondongkan tubuh kepada Aiden, lalu menunjuk perut alpha yang besar menggunakan dagu.
“Menurutmu dagingnya bisa dimakan?”
Aiden memandangi kulit berbenjol, darah hitam, dan urat hijau pada bangkai tersebut. Rasa mual segera muncul hanya karena membayangkan sepotong dagingnya berada di dalam mangkuk.
“Tentu. Setelah itu tubuhmu akan menyala dalam gelap dan seluruh rambutmu rontok karena radiasi.”
Josh tertawa keras. Bunyi itu membuat beberapa warga menoleh, tetapi ia tidak peduli dan terus tertawa sambil memegangi perutnya.