Aku terbangun dan menyadari dirinya telah berpindah menjadi Freya, tokoh antagonis yang kejam, sombong, dan ditakdirkan berakhir tragis — dibenci semua orang, diceraikan dengan hina, dan mati muda. Yang lebih menyulitkan: aku memiliki suami, pria tampan namun dingin yang dalam cerita aslinya tak pernah menyayangi Freya dan justru ikut menghancurkannya.
Aku bertekad mengubah takdir. Aku tak ingin berakhir mati. Namun setiap kali aku mencoba bersikap jahat sesuai watak asli Freya demi tidak dicurigai, sang suami justru bersikap sebaliknya.
Orang lain mencela aku? Ia langsung membela dengan tajam.
Aku hanya sedikit terluka? Ia panik seolah nyawaku terancam.
Aku mencoba menjauh? Ia justru menarikku masuk ke dalam pelukannya dan melarang pergi.
"Siapa pun yang berani menyakiti isteriku, harus siap menghadapi aku," ucapnya dengan sorot mata tajam yang tak pernah kulihat dalam cerita aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Bayang Masa Lalu yang Kembali
Sejak malam itu, suasana di rumah berubah pelan namun nyata. Arga tak lagi bersikap sedingin dulu. Ia sering menyempatkan diri sarapan bersamaku, sesekali bertanya hal-hal sederhana, dan tatapan matanya kini menyimpan kelembutan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Namun di balik kehangatan itu, hatiku tak pernah benar-benar tenang. Aku tahu, bahaya terbesar belum datang. Tokoh utama wanita dalam cerita aslinya—Laras—segera akan muncul. Dan di sanalah awal mula kehancuran Freya dimulai.
Pagi itu, tepat saat aku sedang berjalan di taman menikmati udara segar, suara mobil mewah berhenti di halaman depan. Tak lama kemudian, pelayan datang melapor dengan wajah canggung.
"Nyonya... ada Nona Laras datang berkunjung. Dia bilang... dia teman lama Tuan Arga."
Hatiku seketika mencelos. Benar saja. Laras. Wanita yang di cerita aslinya menjadi pusat perhatian semua orang, yang kehadirannya membuat Freya tampak semakin buruk dan tidak berguna.
Aku menarik napas panjang, menguatkan hati. "Biarkan dia masuk. Suruh dia menunggu di ruang tamu."
Sesampainya di ruang tamu, seorang wanita cantik berdiri menyambutku. Wajahnya lembut, senyumnya manis, dan sorot matanya tampak tulus—namun entah mengapa, di balik keramahannya itu, aku menangkap kilat tajam yang tak sempat ia sembunyikan saat menatapku.
"Freya, lama tak bertemu. Kau terlihat... berbeda," ucap Laras sambil tersenyum manis, matanya melirik penuh selidik.
Aku duduk dengan tenang, menatapnya balik tanpa rasa gugup. "Terima kasih. Ada keperluan apa kau datang hari ini?"
Laras menyilangkan tangan di pangkuan, suaranya terdengar lembut namun penuh makna tersirat. "Aku hanya rindu pada rumah ini. Dulu sebelum kau menikah dengan Arga, aku sering sekali ke sini. Kami... tumbuh bersama. Banyak kenangan indah yang tercipta di sini."
Kalimat itu sengaja diucapkan untuk menekan posisiku—seolah aku hanyalah orang asing yang tiba-tiba menduduki tempat yang seharusnya miliknya.
Dalam cerita aslinya, Freya akan langsung meledak marah, mengusir Laras, dan berteriak bahwa dialah Nyonya di rumah ini. Dan tindakan itulah yang justru membuat Arga marah besar saat pulang, lalu membelanya habis-habisan.
Aku tersenyum tipis, tak terpancing emosi sedikit pun. "Begitu rupanya. Kalau begitu, silakan saja jelajahi kembali. Rumah ini memang luas, dan Arga tak pernah melarang siapa pun yang datang berkunjung dengan sopan."
Jawaban itu membuat Laras terdiam sejenak. Matanya membelalak tak percaya, seolah tak menyangka aku tak meledak seperti biasanya.
Di saat yang sama, pintu terbuka. Arga pulang lebih awal. Saat melihat Laras, wajahnya tampak terkejut namun tak sepenuhnya tidak senang. Langkahnya mendekat ke arah Laras lebih dulu, menyapanya dengan hangat—sementara aku hanya berdiri di samping, menyaksikan pemandangan itu dengan dada yang terasa sesak.
"Kau datang tanpa kabar dulu, Laras?" tanya Arga sambil tersenyum tipis. Senyum yang belum pernah kulihat ditujukan padaku.
"Aku rindu saja, Arga. Lagipula aku ingin menyapa Freya juga," jawab Laras sambil melirikku sekilas, lalu kembali menatap Arga dengan tatapan memuja. "Tapi aneh sekali... Freya tak seperti yang kau ceritakan dulu. Dia begitu tenang dan sopan hari ini."
Arga menoleh ke arahku. Tatapannya menyelidiki wajahku lekat-lekat. "Ya... dia memang sudah berubah belakangan ini."
Suaranya terdengar pelan, namun entah mengapa, ada rasa ragu yang samar. Laras menyadari hal itu, dan seketika senyum di bibirnya menyempit menjadi senyum licik yang hampir tak terlihat.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Laras pelan, namun matanya tak lepas dari wajah Arga. "Aku hanya khawatir... dulu Freya begitu cemburuan dan mudah marah. Aku takut kehadiranku justru membuatnya sakit hati. Lagipula... hubungan kita sudah begitu lama, pasti Freya sering salah paham, bukan?"
Itu jebakan. Kalimat yang sengaja diucapkan agar Arga merasa kasihan padanya, sekaligus membuatku terlihat tidak dewasa jika aku menanggapi.
Aku menarik napas dalam-dalam, menelan rasa perih yang tiba-tiba menyeruak di dada. Aku tahu, di cerita aslinya, saat Freya marah besar mendengar kalimat itu, Arga justru membelanya dan berkata: "Lihatlah, begitulah sifat aslimu. Selalu saja tidak tahu malu."
Tapi kali ini, aku tak akan jatuh ke dalam perangkap yang sama.
Aku menatap mereka berdua dengan tenang, lalu berucap dengan suara yang lembut namun tegas.
"Tentu saja aku tidak akan salah paham. Kalian memang sudah lama bersahabat. Selama semua berjalan dengan baik dan tidak ada yang melanggar batas, aku tak memiliki alasan apa pun untuk merasa tersinggung. Arga adalah suamiku, dan aku percaya padanya."
Satu kalimat terakhir itu sengaja kuucapkan sambil menatap mata Arga lekat-lekat.
Arga terpaku. Kata-kata itu seolah menghantam dadanya. Ia menatapku dengan mata terbelalak, seolah baru pertama kali mendengar kalimat "aku percaya padamu" keluar dari mulutku. Selama ini, Freya tak pernah sekalipun mempercayainya, selalu menuduh, selalu mencurigai.
Wajah Laras seketika berubah pucat. Ia tak menyangka justru aku yang tampak tenang dan memberi kepercayaan penuh, membuat posisinya seolah menjadi orang ketiga yang tak diinginkan.
Keheningan panjang menyelimuti ruangan. Hingga akhirnya Arga mengalihkan pandangan dari Laras, lalu menatapku dengan tatapan yang jauh lebih dalam dan penuh pergolakan batin.
"Terima kasih, Freya..." ucapnya pelan, suaranya terdengar berat dan penuh perasaan yang tak sempat kusimpulkan.
Namun di balik keheningan itu, aku menangkap kilatan tajam di mata Laras. Rasa iri dan kebencian yang mulai tumbuh. Aku tahu... pertempuran yang sesungguhnya baru saja dimulai. Laras tak akan membiarkan posisinya tergantikan begitu saja. Dan aku harus bersiap menghadapi segala rencana licik yang akan ia susun untuk menjatuhkanku—sama seperti yang ia lakukan dalam cerita aslinya.
Lanjut lagi ke Bab 5?