Keiko Hartono punya rahasia.
Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.
Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.
Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.
Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.
Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.
Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.
"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."
Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7 - Kembang Api di Kegelapan
Kelas belajar malam di SMA Bina Bangsa sebenarnya tidak wajib.
Pak Arif menyebutnya program pendampingan. Murid yang ingin mengejar materi boleh tinggal sampai pukul tujuh malam, mengerjakan soal di kelas dengan guru piket bergantian. Untuk sebagian murid, itu alasan agar bisa pulang lebih malam bersama teman. Untuk Keiko, itu kesempatan merasa seperti murid biasa.
Murid biasa punya tugas.
Murid biasa mengeluh karena soal terlalu banyak.
Murid biasa takut nilai turun, bukan takut tubuhnya menyerah sebelum sempat lulus.
Karena itu, ketika Bu Tuti bertanya tiga kali apakah dia yakin ingin ikut kelas belajar malam, Keiko menjawab tiga kali juga.
"Iya, Bu. Aku cuma belajar."
Bu Tuti tidak terlihat percaya. Namun pada akhirnya beliau hanya memasukkan botol air hangat, obat, dan biskuit tawar ke dalam tas Keiko.
"Kalau pusing, langsung telepon."
"Iya."
"Kalau perut sakit..."
"Telepon Bu Tuti."
"Kalau hujan..."
"Tunggu dijemput."
Bu Tuti menatapnya curiga. "Jangan jawab sebelum Bu Tuti selesai bicara."
Keiko tersenyum kecil. "Iya."
Malam itu, hujan tidak turun.
Langit Bandung justru bersih setelah sore yang lembap. Dari jendela kelas, cahaya lampu lapangan terlihat kuning dan tenang. Kelas XI-IPA 4 tinggal setengah penghuni. Beberapa murid dari kelas lain juga bergabung, tetapi suasananya jauh lebih pelan daripada siang hari.
Keiko duduk di bangku belakang seperti biasa.
Kelvin duduk di sebelahnya, meski semua orang tahu dia bukan tipe murid yang secara sukarela tinggal untuk belajar malam. Dia datang terlambat lima menit, melempar tas ke kursi, lalu membuka buku dengan wajah datar.
Fajar yang duduk di depan langsung menoleh. "Anjir, Kel. Lu ikut belajar malam? Dunia mau kiamat?"
Kelvin mengangkat mata. "Mau gue bantu bikin kiamat lebih cepat?"
Fajar langsung menghadap depan. "Nggak jadi. Semangat belajar, Bang."
Keiko menunduk, pura-pura fokus pada soal, tetapi sudut bibirnya hampir bergerak.
Kelvin melihatnya.
"Lucu?"
"Sedikit."
"Humor kamu rendah."
"Mungkin."
Fajar menoleh lagi. "Keiko, jangan ketawa pelan-pelan gitu dong. Gue jadi merasa dihina elegan."
Putri yang duduk di sebelah Fajar memukul lengannya dengan buku. "Udah, kerjain soal."
Suasana kelas menjadi hangat oleh hal-hal kecil semacam itu. Bunyi pulpen, lembar kertas dibalik, kursi berderit, sesekali keluhan pelan dari murid yang salah menghitung. Keiko menyukai suara itu. Biasa. Hidup. Tidak ada bunyi monitor rumah sakit, tidak ada langkah dokter di koridor, tidak ada orang dewasa berbisik di depan pintu kamarnya.
Setengah jam pertama berjalan tenang.
Pak Arif sempat masuk memeriksa, lalu keluar lagi karena dipanggil guru piket di ruang sebelah. Beliau hanya berpesan, "Kerjakan soal. Jangan ribut. Saya kembali sepuluh menit lagi."
Sepuluh menit itu menjadi lima belas.
Lalu dua puluh.
Di menit kedua puluh satu, lampu kelas padam.
Gelap turun sekaligus.
Tidak perlahan. Tidak memberi peringatan. Lampu neon di atas kepala mati, kipas angin berhenti, proyektor kecil di depan kelas ikut padam. Ruangan yang tadi penuh cahaya berubah menjadi kotak hitam dengan suara napas murid-murid yang terkejut.
"Woy!"
"Mati lampu?"
"HP gue mana?"
Beberapa murid tertawa gugup. Seseorang menyalakan flashlight ponsel, tetapi baterainya langsung diprotes teman sebelah karena terlalu silau. Dari koridor terdengar suara kelas lain ikut ribut.
Keiko tidak bergerak.
Tangannya masih memegang pulpen. Ujung pulpen menekan kertas terlalu kuat sampai hampir merobek permukaan. Gelap itu tidak seharusnya menakutkan. Dia bukan anak kecil. Di rumah pun dia sering tidur dengan lampu meja kecil, bukan karena takut, hanya karena memudahkan Bu Tuti masuk memeriksa.
Namun gelap mendadak selalu punya cara sendiri untuk membawa ingatan.
Ruang pemeriksaan yang lampunya dimatikan sebentar karena alat dipindah.
Koridor rumah sakit setelah tengah malam.
Mata Papa dan Mama yang tidak berani menatapnya ketika dokter mengatakan kata `stadium akhir`.
Keiko menarik napas pelan.
Udara kelas terasa lebih sempit.
Di sebelahnya, Kelvin berhenti membalik pulpen.
"Takut?"
Suaranya rendah, hampir tenggelam di antara keributan kelas.
Keiko langsung menggeleng, meski dia tahu Kelvin mungkin tidak melihat jelas. "Nggak."
Kelvin diam.
Lalu dia berkata, "Bohong."
Keiko menoleh ke arah suaranya.
Dalam gelap, wajah Kelvin hanya berupa garis samar. Cahaya ponsel dari depan sesekali menyapu matanya, membuatnya terlihat lebih gelap dari biasa.
"Aku tidak takut gelap," kata Keiko.
"Aku nggak nanya takut gelap."
Kalimat itu membuat Keiko kehilangan jawaban.
Di depan, Fajar sedang mengaduk-aduk tasnya dengan panik. "Sumpah, gue bawa senter kecil kemarin. Eh, bukan senter. Ini apaan?"
Putri memekik pelan. "Fajar, itu kembang api kawat!"
"Buat adik gue, tahu. Dia minta dibeliin di warung depan."
"Ngapain dibawa ke kelas?"
"Lupa keluarin dari tas!"
Beberapa murid langsung ribut ingin melihat. Dalam gelap, plastik kecil berisi beberapa batang kembang api kawat berpindah tangan, lalu hampir jatuh. Kelvin mengulurkan tangan dan menangkapnya sebelum menyentuh lantai.
"Pinjam satu," katanya.
Fajar terdiam. "Buat apa?"
"Bikin terang."
"Di kelas, Kel?"
Kelvin sudah berdiri. Dia berjalan ke jendela yang terbuka, memastikan tidak ada tirai atau kertas di dekatnya. Udara malam masuk membawa bau rumput basah dan debu. Lalu dia mengeluarkan korek dari saku.
Keiko tidak tahu kenapa Kelvin membawa korek.
Mungkin untuk hal-hal yang tidak ingin dia tanyakan.
"Jangan dekat-dekat," kata Kelvin pada murid-murid yang mulai penasaran. "Kalau rambut Fajar kebakar, gue nggak tanggung jawab."
"Kok gue terus?"
Kelvin tidak menjawab.
Dia menggesek korek.
Api kecil menyala di ujung jarinya, kuning dan rapuh. Dalam ruangan gelap, api sekecil itu langsung menarik semua mata. Kelvin mendekatkan ujung kembang api kawat ke nyala korek.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu cahaya pecah.
Bunga api kecil menyembur dari ujung kawat, putih keemasan, berderak halus seperti hujan mini. Ruangan yang tadi gelap tidak langsung menjadi terang, tetapi wajah-wajah di sekitarnya muncul dalam garis cahaya yang bergerak. Mata Fajar membulat. Putri menutup mulut. Seseorang berbisik, "Cantik banget."
Kelvin kembali ke mejanya.
Dia tidak duduk. Dia berdiri di samping Keiko, memegang kembang api itu cukup jauh agar percikannya tidak mengenai siapa pun, tetapi cukup dekat agar cahayanya jatuh di atas buku Keiko.
"Lihat sini," katanya.
Keiko menatap bunga api itu.
Cahaya kecil itu hidup di tengah gelap, seolah tidak peduli bahwa seluruh kelas baru saja kehilangan listrik. Ia menyala dengan caranya sendiri, pendek, rapuh, tetapi sangat terang. Percikannya memantul di mata Kelvin, di ujung pulpen Keiko, di halaman soal yang belum selesai.
"Kalau takut," kata Kelvin pelan, "lihat yang terang."
Keiko tidak menjawab.
Tenggorokannya terasa tersumbat.
Kata-kata itu seharusnya sederhana. Mungkin bagi Kelvin, itu hanya cara praktis menenangkan orang yang takut. Tapi bagi Keiko, yang sejak setahun lalu hidup dengan angka-angka sisa waktu, kegelapan bukan hanya ruangan tanpa lampu. Kegelapan adalah hasil pemeriksaan yang dilipat rapi. Obat yang harus diminum setiap malam. Orangtua yang pulang hanya untuk bertengkar tentang siapa yang salah.
Dan sekarang, di tengah semua itu, ada seseorang berdiri di sebelahnya, memegang cahaya kecil tanpa bertanya terlalu banyak.
Kembang api itu mulai memendek.
Percikannya semakin dekat ke jari Kelvin.
Keiko tersentak. "Kelvin, sudah. Nanti kena tanganmu."
"Sebentar."
"Kelvin."
Kali ini suaranya lebih tegas.
Kelvin menoleh.
Mungkin karena dia memanggil namanya dengan cemas. Mungkin karena untuk pertama kalinya, Keiko tidak hanya menjawab `iya` atau `nggak apa-apa`. Kelvin akhirnya menjatuhkan ujung kembang api ke gelas plastik berisi air minum di meja Fajar.
Asap tipis naik.
Kelas langsung protes.
"Woy, itu air gue!"
"Minum asap aja, Jar."
"Kampret!"
Tawa pecah di ruangan gelap. Bahkan beberapa murid dari kelas sebelah mengintip dari koridor. Lalu, seolah malu sudah kalah dramatis dari satu batang kembang api, listrik menyala kembali.
Lampu neon berkedip dua kali.
Ruangan kembali terang.
Semua orang mengerjap.
Pak Arif masuk tepat pada saat itu, melihat gelas berasap di meja Fajar, plastik kembang api di tangan Kelvin, dan seluruh kelas yang tiba-tiba sangat sibuk pura-pura belajar.
"Saya pergi dua puluh menit," kata Pak Arif pelan, "dan kalian membuka pasar malam?"
Fajar langsung menunjuk Kelvin. "Pak, saya korban."
Kelvin menunjuk gelas Fajar. "Buktinya ada di meja dia."
Kelas tertawa lagi.
Pak Arif memijat pangkal hidung, tetapi Keiko melihat sudut mulut beliau hampir tersenyum. "Tidak ada lagi benda berapi di kelas. Paham?"
"Paham, Pak," jawab kelas.
Kelvin duduk kembali.
Keiko masih menatap halaman soalnya. Di sudut kertas, ada setitik abu kecil yang tertinggal dari kembang api. Sangat kecil. Jika ditiup, mungkin hilang.
Namun Keiko tidak meniupnya.
Dia menutupinya dengan telapak tangan, seolah abu itu benda berharga.
Kelvin melirik. "Masih takut?"
Keiko menggeleng.
Kali ini dia tidak berbohong.
Jantungnya masih berdetak cepat, tetapi bukan lagi karena gelap. Di bawah telapak tangannya, abu kecil itu terasa hampir tidak ada, namun Keiko tetap menahannya di tempat. Seolah jika dia mengangkat tangan terlalu cepat, cahaya barusan benar-benar akan hilang dan kelas ini kembali menjadi ruang pemeriksaan yang dingin.
Kelvin tidak mendesaknya menjawab. Dia hanya menarik bukunya sendiri, menyobek sudut halaman kosong, lalu menggeser kertas itu ke bawah tangan Keiko agar abu kecil itu tidak mengotori catatannya.
Gerakannya sederhana.
Tapi justru karena sederhana, mata Keiko terasa panas.
Rasanya seperti ada yang membuka pintu kecil di dadanya, pintu yang selama ini terkunci rapat.