Bertahun-tahun Sarah disiksa suaminya hingga trauma berat dan akhirnya memilih untuk pergi. Adik kembarnya, Sera, datang untuk membalas dendam. Mengetahui suami kakaknya licik dan telah merampas seluruh harta kakaknya, Sera berjanji akan mengambil kembali semua hak milik kakaknya—meski harus merangkak naik ke atas ranjang Sean, paman dari suami kakaknya yang berkuasa.
Berhasilkah rencana Sera? Bisakah ia mengambil kembali segala hak milik kakaknya? Atau penyamarannya akan terbongkar, menjatuhkannya ke dalam bahaya yang jauh lebih mengerikan di tangan keluarga yang kejam dan penuh kelicikan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hello Ketty., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Katakan saja,"
"Boleh enggak, Paman... Kalau Bu Martha jangan dipecat?"
Wajah Sean seketika berubah, tampak tak menyangka mendengar permintaan itu.
"Soalnya Bu Martha itu sudah sangat lama bekerja di rumah itu, Paman. Kalau Paman sampai memecatnya—apalagi gara-gara aku—aku jadi merasa tidak enak sekali. Paman marah pada mereka kan bermula karena aku, kan? Jadi... Kalau boleh, Paman jangan pecat mereka ya?" ucap Sera dengan nada memelas.
Sean menatap lekat tepat ke dalam mata Sera, membuat gadis itu seketika menunduk dan mengalihkan pandangannya.
Berhenti menatapku seperti itu... Tatapan Tuan Sean benar-benar membuat jantungku bergetar tak keruan, batin Sera sembari berusaha menenangkan perasaannya.
"Mereka sudah berbuat jahat padamu, Sarah. Tapi kau masih saja peduli pada mereka?" tanya Sean pada Sera.
Sera mengangguk pelan. "Tentu saja, Paman. Mereka hanya khilaf. Setelah Paman marahi mereka, aku yakin mereka tidak akan berani lagi berbuat macam-macam. Kasihan lho kalau Paman memecat mereka... Nanti aku lagi yang jadi penyebabnya, dan bisa-bisa mereka malah membenciku."
Sean tampak berpikir sejenak sembari menimbang-nimbang.
Ia kemudian bergerak mengambil dompetnya, lalu mengeluarkan sebuah kartu ATM dan mendorongnya ke hadapan Sera.
"Kau sudah tinggal dan bekerja di sana selama lima tahun, tapi mereka tidak pernah sekalipun memberimu upah. Ini, ambillah. Jumlahnya mungkin tidak seberapa, di dalamnya ada sekitar beberapa miliar, kau gunakan ini untuk kebutuhanmu."
"Apa?! Beberapa miliar?!" Mata Sera seketika berbinar, dan ia segera mengambil kartu itu tak percaya.
Sudut bibir Sean terangkat tipis melihat tingkah gadis itu yang tampak begitu girang menerima pemberiannya. Lagi-lagi dia terlihat sangat berbeda dengan Sarah yang dia kenal.
"Ini benar-benar untukku, Paman? Aku boleh memakainya sepuas hati?"
"Tentu saja. Gunakan sepuasmu. Itu hasil dari kerja kerasmu selama ini," jawab Sean tenang.
"Paman memang yang paling terbaik!" Sera mengacungkan jempol dengan kedua tangannya.
Aku tidak menyangka kalau ternyata apa yang dirumorkan tentang dia itu sangat jauh berbeda. Dia tidak sedingin yang orang katakan. Selama aku berada di kediaman keluarga Vergantara, aku belum pernah melihat sedikit pun kekejaman yang dia tunjukkan padaku.
Dia justru sangat baik, lembut, dan begitu perhatian. Dia bahkan memberiku uang serta mempercayai setiap kata yang kuucapkan. Dia tidak seburuk yang kubayangkan selama ini... Seandainya saja dia bukan pria gay, aku pasti sudah jatuh hati padanya, batin Sera.
Ia diam-diam melirik Sean. Wajah tampan pria itu sungguh membuatnya hampir kehilangan kendali. Aku bisa gila kalau harus terus berada di dekatnya seperti ini, batin Sera dalam hati.
_____
Di kediaman Adiguna, pria tua itu pun mengambil ponselnya dan segera menghubungi Nenek Susi.
Jauh di desa, Nenek Susi tampak mengangkat telepon itu.
"Halo, Kak Susi, bagaimana kabarmu?" tanya Adiguna pada Nenek Susi.
"Aku baik-baik saja, Adiguna. Kau sekarang ada di mana?"
"Di mana lagi kalau bukan di kota. Oh ya, Bagaimana dengan perjodohan yang sudah kita sepakati itu? Sean sekarang sudah berusia 32 tahun. Pasti cucumu itu juga sudah berusia dua puluh enam atau dua puluh tujuh tahun, bukan?"
"Kalau aku tidak salah ingat, cucuku baru mau masuk 26 tahun."
"Lalu bagaimana dengan rencana kita? Aku ingin Sean segera menikah, tapi aku tidak tahu harus bagaimana caranya. Masalahnya Sean itu selalu punya banyak alasan."
"Bagaimana kalau kita menyusun sebuah rencana agar anak-anak ini mau bersatu? Bukan hanya putramu saja yang banyak alasan, cucuku pun sama persis seperti putramu. Dia juga sering menolak dengan alasan tidak masuk akal."
"Rencana apa?"
"Begini saja..."
Mereka pun berbincang panjang lebar menyusun strategi. Nenek Susi akhirnya mengajukan satu rencana khusus untuk mempersatukan keduanya, dan rencana itu langsung disetujui oleh Adiguna.
__
Sera sedang dalam perjalanan pulang setelah bertemu dengan kakaknya, tiba-tiba ponselnya berdering menampilkan nomor yang tidak dikenal. Ia pun segera mengangkatnya.
"Halo, siapa?"
"Halo... Apa ini dengan Neng Sera?"
"Iya, saya sendiri," jawab Sera.
"Neng Sera, saya ini tetangganya Nenek Susi."
"Oh... Buk Sumi ya?" tanya Sera, teringat nama tetangga dekat rumah neneknya.
"Iya, Neng. Begini Neng... Nenekmu sedang sakit keras, sekarang sudah dibawa ke rumah sakit. Tadi beliau tiba-tiba jatuh pingsan, jadi kami langsung membawanya ke sana."
Wajah Sera berubah pucat mendengar kabar itu. "Apa?!"
"Kami mohon, kalau Neng ada waktu, tolong segera pulang ke desa dulu ya. Kasihan Nenekmu, Neng."
"Baiklah, saya akan segera ke sana. Tapi tunggu sebentar ya, mungkin akan memakan waktu cukup lama... Jarak dari kota ke desa kan sangat jauh," ucap Sera dengan suara serak mulai menitikkan air mata.
"Tidak apa-apa Neng, hati-hati di jalan ya."
"Iya, Buk."
Sera segera menutup panggilan itu dengan wajah penuh kecemasan.
Di tempat lain, Sean juga tiba-tiba menerima telepon dari ayahnya.
"Ya, Ayah?"
"Sean... Kau masih ingat tidak, tentang apa yang pernah kita bahas beberapa hari yang lalu tentang perjodohan kalian itu?"
Sean menghela napas panjang mendengar ucapan ayahnya. "Ya, tentu saja Ayah, Sean ingat."
"Baru saja tetangga Nenek Susi menelepon... Katanya Nenek Susi sedang sekarat. Satu-satunya permintaan terakhirnya adalah ingin melihat cucunya menikah denganmu. Ayolah Sean... Kalau kau tidak kasihan pada Nenek Susi, setidaknya kasihan pada Ayah. Tolong pertimbangkan permintaan ini sekali lagi, Son."
Sean memijat pelipisnya. "Ayah, beberapa hari ini aku benar-benar sangat sibuk."
"Sean... Kalau kau masih menolak keinginan Ayah, jujur saja Ayah tidak mau makan, dan Ayah juga tidak mau berobat ke rumah sakit lagi. Ingat Sean... Perjodohan ini juga atas permintaan mendiang Ibumu sebelum ibumu wafat.
Ibu sudah berpesan agar kau menikah dengan Sera. Tolong pertimbangkan sekali lagi. Kalau kau setuju, kita akan segera berangkat ke desa. Kalian akan melangsungkan pernikahan dulu di sana sesuai keinginan Nenek Susi. Untuk pesta besarnya nanti terserah kalian mau di mana."
Sean sebenarnya ingin menolak, namun permohonan ayahnya yang tegas seperti tidak menerima penolakan, membuatnya tak berdaya. Akhirnya ia hanya bisa mengalah.
"Baiklah... Aku setuju."
"Terima kasih, Sean!" ucap Adiguna lega, menyadari rencananya dengan Nenek Susi berjalan sempurna.