Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JANGAN PERCAYA SIAPA PUN
Raka membaca pesan itu sekali lagi.
“Kalau kalian ingin Irma tetap hidup, berhenti mencari Bram.”
Tangannya mengepal.
Alya berdiri di sampingnya.
“Jangan balas.”
Raka menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena dia ingin kita panik.”
Reza mengangguk.
“Dan kalau dia benar-benar membawa tante Irma, berarti dia tahu kita sudah terlalu dekat.”
Raka memasukkan ponselnya ke saku.
“Kita punya waktu berapa?”
“Tidak tahu,” jawab Alya.
“Berarti kita anggap waktunya sedikit.”
Tidak ada rapat.
Tidak ada perdebatan panjang.
Mereka langsung membagi tugas.
Raka menghubungi polisi dan pengacara.
Reza memeriksa semua tempat yang pernah digunakan keluarganya.
Alya memeriksa jejak transaksi perusahaan yang terhubung dengan penculikan Irma.
Mereka tidak mencari puluhan kemungkinan.
Mereka hanya mencari satu lokasi.
Tempat terakhir Irma berada.
PUKUL 09.15
Alya menemukan transaksi hotel yang sebelumnya mereka abaikan.
Pembayaran kamar Irma dilakukan menggunakan kartu perusahaan lama milik keluarga Santoso.
Namun transaksi tersebut tidak dilakukan oleh Bram.
Nama pengguna:
Dimas Wibowo.
Alya langsung menelepon Raka.
“Ketemu.”
“Apa?”
“Pembayaran hotel dilakukan Dimas menggunakan rekening perusahaan lama keluarga Santoso.”
Raka langsung memahami.
“Berarti Dimas tahu tempatnya.”
“Ya.”
“Reza?”
“Sedang mencarinya.”
Tidak sampai sepuluh menit, Reza menelepon.
“Saya tahu.”
Raka mengangkat.
“Di mana?”
“Gudang lama keluarga saya.”
Alya langsung berdiri.
“Lokasinya?”
Reza menyebut alamat.
Raka mengambil kunci mobil.
“Kita berangkat.”
GUDANG LAMA
Bangunan itu berada jauh dari pusat kota.
Sudah bertahun-tahun tidak digunakan.
Pintu depannya terkunci.
Reza membuka pintu samping dengan kunci lama.
Mereka masuk.
Tidak ada siapa-siapa.
Alya berjalan perlahan.
“Di sini ada bekas orang tinggal.”
Ada botol air.
Kursi.
Selimut.
Dan sebuah meja kecil.
Raka menemukan sesuatu di atasnya.
Foto Irma.
Foto itu baru.
“Dia pernah di sini.”
Reza membuka pintu ruangan belakang.
Kosong.
Namun ada bekas tali di sebuah kursi.
Raka menatapnya.
“Dia dipindahkan.”
Alya menunjuk lantai.
Ada bekas roda mobil.
Mereka mengikuti jejak itu sampai pintu belakang.
Namun jejaknya berhenti.
Reza mengumpat pelan.
“Kita terlambat.”
Alya tidak menyerah.
“Tidak.”
Dia menunjuk sebuah benda kecil di tanah.
Sebuah kartu memori.
Raka mengambilnya.
Mereka memasukkannya ke laptop.
Satu video muncul.
Durasi: 02:17.
Video memperlihatkan Irma duduk di kursi.
Wajahnya terlihat lelah, tetapi sadar.
Kemudian Dimas masuk.
Raka langsung mendekati layar.
Dimas berkata dalam video,
“Bu Irma, saya tidak ingin menyakiti Anda.”
Irma menjawab,
“Lalu kenapa kamu membawa saya?”
“Karena saya membutuhkan Raka.”
“Untuk apa?”
Dimas tersenyum.
“Untuk menyerahkan sesuatu.”
Video berhenti.
Alya menatap Raka.
“Dia ingin apa?”
Raka berpikir.
Kemudian wajahnya berubah.
“Buku catatan ayah saya.”
Alya terdiam.
“Buku yang berisi semua transaksi?”
Raka mengangguk.
“Dan surat asli ayah saya.”
Reza menatap mereka.
“Berarti dia belum membunuh tante Irma.”
“Belum,” jawab Raka.
“Karena dia masih membutuhkan sesuatu.”
Alya langsung berdiri.
“Kalau begitu kita jangan memberinya apa yang dia mau.”
Raka menatapnya.
“Apa maksudmu?”
“Kita beri dia sesuatu yang lain.”
RANCANGAN ALYA
Mereka kembali ke kantor.
Alya membuat salinan dokumen yang diminta Dimas.
Namun bukan dokumen asli.
Salinan tersebut diberi penanda digital tersembunyi.
Jika dibuka, lokasi perangkat akan terlacak.
Raka menatap laptop.
“Kamu yakin ini bisa berhasil?”
“Kalau Dimas masih menggunakan perangkat yang sama.”
“Kalau tidak?”
“Berarti kita cari cara lain.”
Reza menatap Alya.
“Kamu tenang sekali.”
Alya tersenyum.
“Panik tidak membantu.”
Raka menatapnya dengan bangga.
Dulu Alya adalah perempuan yang mudah takut ketika menghadapi masalah besar.
Sekarang dia justru menjadi orang yang membuat orang lain tenang.
PESAN BALIK
Pukul 17.00.
Ponsel Raka berbunyi.
Besok pukul 10.00. Datang sendiri. Bawa buku dan surat asli.
Lokasi dikirim.
Sebuah gudang kosong di pinggir kota.
Raka langsung berkata,
“Saya pergi.”
Alya menggeleng.
“Kita pergi.”
“Dia meminta saya sendiri.”
“Dan kita tidak akan memberinya kesempatan untuk menjebakmu.”
Reza mengangguk.
“Saya ikut.”
Raka menatapnya.
“Kalau dia melihatmu?”
“Justru bagus.”
“Kenapa?”
“Kalau dia memang menggunakan keluargaku, saya punya alasan untuk berada di sana.”
Raka akhirnya mengangguk.
“Baik.”
Alya menatap keduanya.
“Kita bertiga masuk.”
“Tim lain menunggu di luar.”
Tidak ada perdebatan.
Mereka sudah punya rencana.
PUKUL 10.00 — HARI BERIKUTNYA
Gudang itu sunyi.
Raka berjalan paling depan.
Alya beberapa langkah di belakang.
Reza menunggu di sisi lain.
Mereka masuk.
Dimas berdiri di tengah ruangan.
Di sampingnya—
Irma.
Tangannya tidak terikat.
Namun ada seseorang yang menjaga dari belakang.
Dimas menatap Raka.
“Kamu datang.”
Raka menunjukkan tas.
“Lepaskan ibu saya.”
“Dokumennya.”
“Lepaskan dia dulu.”
Dimas tertawa.
“Kamu masih suka membuat aturan.”
Raka berjalan maju.
“Karena saya tahu kamu tidak akan membunuhnya.”
Dimas berhenti tersenyum.
“Kenapa?”
“Karena kalau Irma mati, kamu tidak punya alat untuk memaksa saya.”
Dimas menatap Raka cukup lama.
Kemudian berkata,
“Kamu berubah.”
Raka menjawab,
“Karena saya tidak lagi percaya pada ketakutan.”
Dimas meminta tas.
Raka menyerahkannya.
Dimas membuka.
Dokumen terlihat.
Namun sebelum dia sempat memeriksa lebih jauh—
Reza muncul.
Dimas langsung mundur.
“Reza.”
“Dimas.”
“Seharusnya kamu tidak datang.”
Reza menatapnya.
“Seharusnya kamu tidak menyentuh keluarga saya.”
Dimas tertawa.
“Sekarang kamu menganggap mereka keluarga?”
Reza diam.
Raka berkata,
“Cukup.”
Dimas menatap Raka.
“Berikan dokumen asli.”
“Tidak.”
Wajah Dimas berubah.
“Saya bisa membunuh ibu kamu.”
Irma langsung berkata,
“Raka, jangan berikan!”
Dimas menarik senjata.
Suasana berubah dalam satu detik.
Alya menahan napas.
Raka mengangkat kedua tangannya.
“Tenang.”
Dimas menunjuknya.
“Buku aslinya.”
Raka menatapnya.
“Kamu tidak akan mendapatkan apa pun.”
Dimas mulai panik.
“Apa maksudmu?”
Raka tersenyum tipis.
“Karena sejak kamu mengirim pesan pertama, polisi sudah tahu lokasi ini.”
Dimas membeku.
“Kamu bohong.”
“Coba lihat ponselmu.”
Dimas mengambil ponselnya.
Tidak ada sinyal.
Namun beberapa detik kemudian terdengar suara kendaraan dari luar.
Dimas menoleh.
Sirene.
Wajahnya pucat.
“Tidak…”
Dia berusaha menarik Irma.
Reza bergerak lebih cepat.
Dia menarik Irma menjauh.
Dimas berbalik dan mencoba melarikan diri.
Raka mengejarnya.
Namun Dimas berhasil keluar melalui pintu belakang.
Reza hendak mengejar.
Raka menghentikannya.
“Biarkan polisi.”
Beberapa menit kemudian—
Dimas tertangkap.
Tidak ada pengejaran panjang.
Tidak ada misteri baru.
Permainan Dimas berakhir hari itu.
SETELAH SEMUANYA SELESAI
Irma duduk di dalam mobil.
Alya memberikan air minum.
“Ibu baik-baik saja?”
Irma mengangguk.
“Sekarang iya.”
Raka berdiri di samping mobil.
“Ibu…”
Irma menatap anaknya.
“Maaf.”
Raka diam.
“Saya membuatmu hidup dalam kebohongan terlalu lama.”
Raka menggeleng.
“Ibu melakukan apa yang Ibu pikir benar.”
“Tidak seharusnya.”
Raka menggenggam tangan ibunya.
“Yang penting sekarang sudah selesai.”
Irma menangis.
Untuk pertama kalinya dalam dua puluh lima tahun, beban itu terasa sedikit lebih ringan.
REZA
Reza berdiri agak jauh.
Raka menghampirinya.
“Kita harus bicara.”
Reza mengangguk.
“Ayahmu…”
Raka berhenti.
“Bram masih hidup?”
Reza menggeleng.
“Tidak.”
Raka terdiam.
“Orang di rekaman itu?”
“Bram memang pernah berada di sana.”
“Tapi dia sudah meninggal sebelum semua ini terjadi.”
Raka mengangguk.
“Jadi siapa yang kita lihat?”
Reza menatapnya.
“Dimas.”
Raka mengerutkan kening.
“Maksudmu?”
“Dia menggunakan identitas Bram untuk beberapa transaksi.”
Semuanya akhirnya jelas.
Tidak ada orang misterius yang bangkit dari masa lalu.
Tidak ada dalang baru.
Hanya Dimas yang selama bertahun-tahun menggunakan identitas, perusahaan, dan jaringan keluarga Santoso untuk menutupi kejahatannya.
Raka menghela napas.
“Jadi selesai.”
Reza mengangguk.
“Ya.”
Untuk pertama kalinya, mereka berjabat tangan.
Bukan sebagai musuh.
Bukan sebagai pesaing.
Tetapi sebagai dua orang yang akhirnya mengetahui kebenaran tentang keluarga mereka.
DUA BULAN KEMUDIAN
Kasus Dimas masuk proses hukum.
Aset perusahaan yang digunakan untuk penggelapan dibekukan.
Mahendra Group melakukan restrukturisasi.
Perusahaan Alya tetap berjalan dan semakin berkembang.
Masalah keluarga akhirnya selesai.
Dan yang paling penting—
Irma kembali ke rumahnya.
Tidak ada lagi ancaman.
Tidak ada lagi orang yang mengawasi.
Tidak ada lagi telepon misterius di tengah malam.
Alya akhirnya bisa bernapas lega.
Namun Raka belum selesai.
Suatu malam dia mengajak Alya ke rumah yang mereka bangun bersama.
Lampu taman menyala.
Meja makan sudah disiapkan.
Alya melihat sekeliling.
“Kenapa?”
Raka tersenyum.
“Duduk.”
Alya duduk.
Raka mengambil sebuah kotak.
Kali ini Alya langsung tahu.
“Raka…”
“Tenang.”
Dia membuka kotak.
Sebuah cincin.
Tidak mewah.
Sederhana.
Tetapi indah.
Raka berdiri di hadapannya.
“Dulu saya pikir cinta adalah sesuatu yang akan mengganggu hidup saya.”
Alya tersenyum.
“Kemudian?”
“Kamu datang.”
Alya tertawa kecil.
“Dan hidupmu jadi kacau.”
“Benar.”
Raka berlutut.
Alya langsung menutup mulut.
“Tapi setelah semua yang kita lalui…”
Raka menatap matanya.
“Saya tidak ingin hidup yang tenang tanpa kamu.”
Air mata Alya jatuh.
“Jadi…”
Raka mengangkat cincin itu.
“Jadilah keluarga saya.”
Alya tersenyum sambil menangis.
“Ini lamaran?”
“Iya.”
“Bukan sekadar janji?”
“Bukan.”
“Serius?”
“Sangat.”
Alya tertawa.
“Kalau begitu…”
Dia mengulurkan tangannya.
“Iya.”
Raka memasangkan cincin itu.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada orang lain.
Hanya mereka berdua.
Dan untuk pertama kalinya, tidak ada satu pun hal yang menghalangi.
Alya menyandarkan kepalanya di bahu Raka.
“Lucu.”
“Apa?”
“Dulu saya datang ke perusahaanmu hanya untuk mencari pekerjaan.”
Raka tersenyum.
“Dan akhirnya?”
Alya melihat cincin di jarinya.
“Menemukan rumah.”
Raka mencium keningnya.
“Bukan rumah.”
Alya menatapnya.
“Lalu?”
Raka tersenyum.
“Orangnya.”
Alya tertawa.
Dan untuk pertama kalinya sejak kisah mereka dimulai, tidak ada ancaman di balik kebahagiaan itu.
Tidak ada rahasia baru.
Tidak ada tokoh baru.
Tidak ada musuh baru.
Konflik besar mereka telah selesai.
Tetapi perjalanan mereka sebagai pasangan baru saja dimulai.
Karena setelah cinta yang penuh pertengkaran, rahasia, jarak, dan perjuangan—
tantangan berikutnya bukan lagi bagaimana mereka bisa bersama.
Melainkan:
bagaimana dua orang yang terbiasa berjuang sendirian belajar membangun kehidupan bersama.