NovelToon NovelToon
Penghuni Loteng Rumah Lawas

Penghuni Loteng Rumah Lawas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kumpulan Cerita Horror / Rumahhantu
Popularitas:178.2k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”

Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.

Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kematian tragis : 34

“Penggal kepalanya!” titah Sarkam, dan langsung dilaksanakan.

Pria memakai pakaian serba hitam, basah kuyup itu mengambil kotak persegi aluminium dari saku jaket kulit, menarik satu batang cerutu, lalu menyulut ujungnya.

Sarkam duduk di kursi jati bawah tangga, menonton sang keponakan menangkis benda tajam yang menyerangnya.

Sementara Yadi mulai kewalahan. Lelah. Energinya terkuras, lengan terkena sabetan parang. Namun dia terus melawan, melukai siapa saja yang mencoba membunuhnya.

Dua orang lawan tiga belas penjahat tersisa, sungguh bukan angka seimbang.

Sementara senapan angin Arwan kehabisan peluru, dia bertahan dengan sebuah golok.

Darah merembes ke lantai basah bercampur air. Empat preman anak buahnya Sarkam dipastikan tewas, tetapi sisanya masih banyak.

Sudut mata Arwan melirik dua pria mulai menaiki tangga, dia pun menarik salah satunya lalu membacok seseorang yang gerak geriknya dikenalnya.

Slash!

Parang Arwan melukai wajah pelaku, dan si empunya langsung menarik topi ninja.

“Ternyata kau!” amarahnya bertambah berkali-kali lipat, Arwan mengayunkan senjata tajam, melukai lengan salah satu orang kepercayaannya yang sudah dianggap seperti paman sendiri — Geneng.

Dor!

Arggh!

Pria pintar bela diri itu tersungkur, pahanya ditembak sang paman.

Arwan dibiarkan, diberi kesempatan merangkak naik tangga.

“Juragan Arwan!” Yadi berteriak, menggeram. Amarahnya berkobar, dan dirinya mengayunkan golok.

Dor!

Dor!

Dua peluru dari dua senapan bersarang di kening dan satunya menembus mata.

Bugh!

Yadi ambruk, wajahnya mencium lantai yang mulai berlumuran darahnya.

Seseorang menusuk jantung dari arah belakang, dan suaminya Rosna kejang-kejang tak lama kemudian menghembuskan napas terakhir.

Di dalam kamar, tangan Desita yang menggenggam hulu pedang, berkeringat. Dia menangis seraya menggigit bibir.

Dari tempatnya berdiri bisa mendengar suara teriakan mas Yadi suami mbak Rosna.

Kemudian jeritan menahan sakit kakak kandungnya sendiri.

Arum menggendong belakang putrinya dengan kain jarik, dia pun mengambil sebilah parang tersimpan di samping nakas.

Setiap kamar di hunian besar ini dilengkapi senjata tajam. Tinggal jauh dari pemukiman warga, mereka harus siap siaga menghadapi kemungkinan terburuk.

Hahaha ....

“Merangkak lah! Kuberi kesempatan terakhir sebelum kau berkalang tanah, Arwan!” Sarkam membuang puntung cerutu, dia berjalan menginjak darah sang keponakan yang benar-benar merangkak mendekati sebuah pintu kamar.

Desita tidak lagi tahan hanya mendengar, bersembunyi tanpa berbuat apa-apa. Dia keluar dari dalam kamar, menutup rapat pintunya, dan langsung menambah kuat menggigit bibir agar tidak berteriak mengejutkan kakak iparnya.

Sebelah tangan memegang pedang, dirinya berjalan cepat, lalu berjongkok dengan sebelah tangan memeluk kepala kakak semata wayang.

“Kamu harus selamat, apapun yang terjadi bertahanlah, Desita!” bisik suara lemah, kehabisan tenaga dan terlalu banyak darah yang sudah keluar.

Mata bulat remaja itu memerah. Rahangnya mengeras sampai terdengar bunyi gigi beradu.

“Tidak salah jika kakek enggan mewariskan harta kepadamu wahai anak pungut! Kamu tidak tahu diri, serakah, haus darah!” ujarnya penuh kebencian.

Diingatkan akan status yang hanya anak angkat, amarah Sarkam tak tertahankan.

“Kamu bunuh dia, harta ini jatuh ke kaum dhuafa!” ujar Arwan lirih.

Kekayaan yang dikelola oleh Arwan Dana, sebagian milik Desita dari warisan kakek mereka, dan sudah dibuatkan ahli waris berikutnya seandainya terjadi sesuatu dengan gadis remaja tersebut.

Beberapa pria sudah tiba di lantai atas. Mereka menunggu komando sang juragan culas.

Sarkam mengeluarkan belati yang tadi dimasukkan ke dalam saku jaket.

Desita langsung siaga, dia maju dan berdiri dibelakang sang kakak seraya mengayunkan pedang.

Tidak ada keraguan, meski taruhan nyawa, sedikit tak menyurutkan rasa takut gadis cantik tersebut.

Diam-diam pintu kamar dibuka, Arum membungkuk, menarik tangan lemas suaminya.

Disaat seperti ini, dia dan lainnya harus tenang, dan sudah diajarkan bagaimana menghadapi situasi berbahaya.

Trang!

Pedang Desita beradu dengan parang, ia menguasai ilmu bela diri meski tidak sehebat kakaknya.

Ujung pedang menusuk paha salah satu preman, namun kesempatan itu dimanfaatkan oleh rekannya.

Desita kehilangan senjata, dan rambut panjangnya dijambak oleh paman angkat.

Plak!

“Gadis binal! Kamu boleh juga kalau kujadikan salah satu mainanku.” Sarkam menampar pipi gadis yang menatap nyalang.

Cuih!

Air ludah mengenai pipi pria yang bereaksi mendorong Desita.

Badan langsing itu tersungkur, salah satu tungkainya diinjak sepatu berat.

Kaki Desita ditarik, dan dia mendapatkan pelecehan pada area intim yang diremas kuat. Sarkam terpancing, paha putih gadis bermata indah, wajah menawan ini membangkitkan gairah darah muda nya.

“Brengsek!” Ditendangnya dada Sarkam, meski tidak berhasil menjatuhkan lawan, setidaknya dia lolos dari rudapaksa disaksikan banyak mata.

“Angkut dia! Jangan ada yang berani menyentuhnya selain saya!” titahnya sambil mengelap air ludah dipipi.

Tubuh Desita di panggul, kedua tangan diikat tali pinggang dan mulut disumpal.

‘Aku akan membalas mu Sarkam! Nyawa harus dibalas nyawa!’ janjinya terikrar.

Dia tidak melihat akhir hidup saudara kandung dan kakak ipar serta keponakannya, tetapi bisa menebak. Dari belasan preman yang tersisa, ada tujuh orang anak buah Arwan Dana.

Mereka berkhianat, ikut dalam pembunuhan berencana ini.

***

Paha Arwan diikat tali pinggang demi menghentikan pendarahan. Berdirinya tidak lagi tegak.

“Jangan takut, Sayang. Begitu Mas mengecoh mereka, kamu cepat keluar, berlari lah turun!” Ia peluk sayang belahan jiwanya, lalu mengecup sang putri yang terlelap, efek ilmu sirep.

Arwan Dana mempunyai pegangan berupa mantra-mantra gaib, namun dia tidak mendalami ilmu turunan dari sang nenek, sehingga hanya sekadar bisa.

Brak!

Pintu terhempas, dan mereka langsung dikepung. Beberapa orang maju sekaligus.

Golok diayunkan, Arwan agresif menyerang agar istrinya memiliki kesempatan keluar dari dalam kamar.

Kemungkinan lolos sangat kecil, mau lari pun tidak ada tempat aman. Hunian ini sudah dikuasai oleh para penjahat.

Jleb!

Arum menggigit bibir, suara erangan suaminya mengoyak jiwa. Dia tidak menoleh kebelakang meski sangat ingin. Terus berlari menerobos orang yang menyerang suaminya.

Saat tiba di lorong, cepat-cepat Arum mengganti posisi sang putri menjadi gendong depan.

“Jadilah salah satu gundikku, maka kamu ku ampuni, kubiarkan hidup!” Sarkam menunggu di tengah-tengah lorong.

“Dalam mimpimu!” Arum memeluk kuat-kuat putrinya yang tidak sadarkan diri.

Dia menerjang Sarkam yang tidak berniat menghalangi lagi.

Saat baru menuruni dua anak tangga, suara pompa senapan angin terdengar di telinga Arum, dan detik berikutnya — Dorr!

Tidak ada suara teriakan, jeritan kesakitan. Ibu hamil tersebut menggigit bibir hingga berdarah, mendekap permata hatinya.

Arum terguling-guling di tangga, punggung ditembak, dan darah membasahi baju yang dia kenakan.

Saat raga sekarat itu mendarat di lantai bawah, dari sela paha bagian dalam, darah merembes keluar.

Ayu mengerjapkan mata, belum berhasil melihat dunia, dan tidak sempat menangis. Balita berumur 18 bulan tersebut dipisahkan dari sang ibu, rambutnya dijambak sampai badan tergantung, lalu dibawa ke belakang.

Hamima berlari kencang, berusaha menyelamatkan Ayu. Tak ada yang bisa dilakukannya selain menyaksikan kematian tragis satu keluarga.

Pintu dihempas. Raga mungil merintih sakit itu dibuang ke dalam sumur.

Byurrr!

Heuuheuu ....

“Hiks hiks hiks ... mereka sungguh kejam!” Hamima tersadar, terduduk diatas kuburan.

.

.

Bersambung.

1
Mamake Nayla
bls dendam di mulai....yg koit prtma bagyo
Azram
,❤️
myPuspa
kutunggu up mu kk Cublik...sajen sudh kukirim...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Damn Nwtch
setelah ini, habislah kalian semua
Damn Nwtch
Mima kerasukan kah
Siti Mamahe Kaila Izana
celengan kau Bagyo baru juga di srepet telinganya sudah jerit jerit kesakitan. gimana mereka yg kau jagal dgn bangsatnya 🖕🏻🤬
neni nuraeni
aseeekkk aksi bls dendam akhirnya dimulai,,, lnjutt kak
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔✰͜͡v᭄
wah2 akhirnya rahasia terkuak ya Mima ..kamu manusia terpilih yang bisa membalas para arwah keluarga Arum ...ayoo binasakan para pemuja iblis
FiaNasa
jgn langsung dibunuh y pak Yadi keenakan soalnya,,bikin Bagyo menderita dulu hingga dia yg meminta kematiannya sendiri padamu
FiaNasa
dengan begini Mima kan bisa ada pelindung ini..ayo ndoro Arum balaskan dendammu segera
FiaNasa
ayo cepat temukan tengkorak kepala ayu jgn sampai kalian ketangkap si sarkam n Mbah Geneng..bahaya
Aprisya
bagyoooo kejutan demi kejutan telah menanti kamu
Betri Betmawati
hari pembalasan baru mau dimulai bersiap lh kalian manusia durja untuk menerima hukuman dan balasan dari orang yg kalian bunuh
mmh nengmuti
ayo Yadi cincang aja tuh s Bagyo jadikan makanan binatang
Mumtaz Zaky
mampus luh....
Bunda'Nya Reihan Kusnadi
ngeri² sedap 😱
mamaqe
mulai lg ni deg deg an nya ...ditunggu ditungguuuu
Fera Susanti
vote senen nya buat Mima dech bukan buat niya😁
Fera Susanti
serrruuu
Bulan-³ M⃟3💋
duhhh cepetan itu tengkorak ayu ditemukan sebelum sarkam dan Geneng detang, jangan sampai ketahuan dan usaha dokter sia2
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!