NovelToon NovelToon
Calon Suamiku Adalah Dosenku

Calon Suamiku Adalah Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Seorang mahasiswa sebentar lagi akan lulus, ternyata dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan teman lama mereka. Sang anak sama sekali tidak setuju dengan perjodohan tersebut dan diam-diam berniat untuk membatalkannya.

Suatu hari, keduanya berpapasan di Universitas XXX. Sang pemuda ternyata adalah seorang dosen sekaligus pengasuh pondok pesantren yang ia dirikan sendiri. Sang siswi sama sekali belum mengetahui bahwa dosen tersebut adalah calon suami yang dipilihkan orang tuanya. Di kampus, ia justru merasa sangat muak dan benci kepada dosennya itu karena merasa tugas-tugas yang diberikan terlalu banyak dan menumpuk tanpa henti. Tanpa ia sadari, di balik rasa kesalnya itu, tersembunyi ikatan yang telah dirancang sejak lama oleh kedua belah pihak keluarga.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32. Pesat singkat pertama dari arga

Malam itu, suasana kamarku hening dan tenang. Setelah hari yang penuh ketegangan karena gosip yang hampir membongkar rahasia kami, hatiku masih terasa berdebar tak menentu. Aku berbaring di atas kasur, menatap langit-langit kamar sambil memikirkan kejadian siang tadi — bagaimana Arga dengan tenang dan tegas melindungiku di hadapan dekan, bagaimana ia berbisik pelan agar aku tak khawatir, dan bagaimana ia tetap melangkah pergi seakan tak ada hal yang berat di pundaknya. Aku tak tahu harus berbuat apa, takut menghubunginya dulu karena takut dicurigai, dan takut mengganggunya di waktu istirahatnya.

Ponsel yang tergeletak di samping bantal tiba-tiba bergetar pelan. Hati yang tadinya gelisah seketika berpacu lebih cepat. Aku meraihnya perlahan, dan saat melihat nama pengirimnya, napasku tertahan sejenak — Arga.

Itu adalah pesan singkat pertamanya yang dikirimkan ke ponselku. Sebelumnya kami memang saling bertukar nomor telepon, namun sejak awal kami berjanji untuk tidak menghubungi satu sama lain secara pribadi kecuali dalam keadaan darurat, demi menjaga keamanan dan kerahasiaan hubungan kami. Jadi pesan ini... adalah hal yang benar-benar tak kubayangkan akan datang malam ini.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku membukanya perlahan. Isinya begitu singkat, sederhana, namun setiap kata seakan meresap langsung ke dalam hatiku, menghapus seluruh kegelisahan yang kurasakan seharian:

"Lisna, jangan terlalu banyak memikirkan gosip hari ini. Semuanya sudah teratasi dengan baik. Tak ada yang perlu kau khawatirkan. Tetaplah tidur nyenyak dan jaga kesehatanmu. Besok tetaplah seperti biasa — tenang, ceria, dan menjadi dirimu yang paling aku kenal. Semangat ya. — Arga."

Hanya beberapa baris saja. Tak ada kata-kata yang berlebihan, tak ada ungkapan romantis yang panjang lebar. Namun pesan singkat itu justru terasa begitu hangat, begitu menenangkan, dan begitu bermakna bagiku. Di tengah kekhawatiranku yang memuncak, ia justru memikirkan ketenanganku. Di tengah kesibukannya menjelaskan hal-hal di kampus, ia sempat menyempatkan waktu untuk mengirim pesan agar aku tak gelisah. Dan di tengah segala ketidakpastian, ia meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Aku membaca pesan itu berulang kali, setiap kali membacanya, hatiku terasa semakin damai dan penuh. Ternyata di balik sikap tegas dan pendiamnya, ia selalu memikirkan aku — bahkan di saat aku tak bersamanya. Ia tahu aku pasti cemas, ia tahu aku pasti tak tenang, dan itulah alasan ia mengirim pesan itu. Bukan karena ingin menunjukkan perasaannya, melainkan karena ia tak ingin aku tidur dengan perasaan yang berat.

Jari-jariku bergerak perlahan di atas layar ponsel, menyusun kata-kata balasan yang tulus dari lubuk hatiku yang paling dalam:

"Terima kasih, Kak. Terima kasih sudah mengirim pesan ini. Tadi aku memang sangat cemas dan takut. Tapi setelah membacanya, hatiku jadi tenang kembali. Terima kasih sudah melindungiku dan selalu memikirkan ketenanganku. Aku janji besok akan tetap tenang dan seperti biasa. Kakak juga harus istirahat yang cukup ya. Jangan terlalu lelah. Selamat tidur, Kak. — Lisna."

Tak lama setelah pesan itu kukirim, ponselku kembali bergetar. Satu balasan singkat darinya muncul di layar:

"Terima kasih juga sudah mengerti. Tidurlah sekarang. Jangan membalas lagi ya. Istirahatlah. — A."

Hanya itu saja. Namun inisial huruf terakhir itu — A — terasa begitu dekat dan begitu sayang. Seakan ia sedang berbisik pelan di samping telingaku, menyuruhku beristirahat dengan tenang. Aku tersenyum sendiri di dalam kegelapan kamar, menyimpan pesan itu di dalam folder khusus di ponselku, seakan menyimpan harta paling berharga yang pernah kuterima.

Malam itu, pesan singkat pertamanya bukan sekadar rangkaian kata-kata. Ia adalah jembatan hati kami di malam yang sepi. Ia adalah bukti bahwa meskipun kami tak bisa bertemu, berbicara, atau berjalan berdampingan di siang hari, di malam hari, dalam kesunyian dan kerahasiaan, ia selalu ada untukku. Bahwa ia tak pernah lupa padaku, tak pernah membiarkanku merasa sendirian, dan selalu berusaha menjagaku walau hanya melalui beberapa baris pesan sederhana.

Saat mataku perlahan terpejam, pesan itu masih terbayang di ingatanku. Dan aku tahu, mulai malam ini, ada satu hal lagi yang akan selalu kusimpan dan kusayangi — pesan singkat pertama darinya, yang mengajarkanku bahwa cinta tak selalu harus diucapkan dengan lantang. Kadang ia cukup dikirimkan dalam beberapa baris di tengah malam, hanya untuk mengatakan: Jangan khawatir. Aku di sini. Dan aku selalu memikirkanmu.

bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!