Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin di sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Ditambah lagi, orang tuanya meninggalkan utang yang amat besar pada dirinya.
Dengan utang besar itu, ia tak punya pilihan lain selain bekerja sepulang sekolah. Sayangnya, setiap lamaran selalu ditolak karena satu alasan: ia masih pelajar.
Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk hanya bekerja part-time, dan akhirnya sebuah kafe mewah menerimanya sebagai seorang maid.
Tunggu... Maid?! APA APAAN INI?!
Seberapa lama Moiro harus menjalani hidup absurd itu demi melunasi hutangnya? Apakah ia harus terus mengenakan seragam imut untuk bertahan hidup? Dan yang paling menakutkan... Apakah ia akan kehilangan jati dirinya di tengah semuanya?!
Penasaran sama ceritanya? Ikuti terus kisah absurd hasil gabut ini dan silakan nikmati alur kocaknya!
Novelnya ada beberapa kejadian gak logis, jadi maklumi aja, hehe.
(ada beberapa gambar bikinan AI, bukan ceritanya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mujahid Al Fattih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Besok Aku Harus Libur Kerja
Keesokan harinya di sekolah.
"Aku minta maaf!" seru Moiro sambil membungkukkan badannya rendah pada Mika.
"Eh—? Kenapa tiba-tiba..." sentak Mika yang kaget, sampai dirinya menutup mulut.
Sebelumnya, Moiro langsung mendatangi dan mengajak Mika pergi ke tempat yang lebih sepi untuk mengatakan sesuatu. Saat itu, Mika sempat mengira akan ada hal romantis, tapi ternyata tidak.
Yah, ngarep.
Moiro melanjutkan sambil masih membungkuk, "Aku menghilangkan sapu tanganmu. Jadi, maafkan aku!"
"Sapu tangan...?" pikir Mika, perlahan menurunkan tangannya dari bibir, "Oh, yang waktu itu, ya?"
Mika langsung membalas, berusaha tenang. Kedua tangannya diarahkan pada Moiro, "T-Tidak masalah. Lagipula, itu cuma sapu tangan kok, jadi... Tolong angkat kepalamu...!"
Moiro diam. Ia masih membungkukkan badannya.
Mika yang melihatnya masih seperti itu mulai merasa aneh, kemudian lanjut berseru, "Sudahlah. Tolong angkat kepalamu! Aku sudah memaafkanmu, kok...!"
Tiba-tiba terdengar suara orang lain yang ikut nimbrung, "Wah, ini gak bisa sih."
Mika terkejut dan langsung menoleh ke arah orang yang bicara itu.
Sementara Moiro, ia mengangkat wajahnya dan menatap ke arah yang sama.
Mata mereka menemukan sosok yang berbicara itu.
Ternyata dia adalah Ryuji Yamaguchi. Dia masih membawa tas di punggungnya, sambil memegang sebuah kotak minuman yang sedang diminum.
Ketahuan bet, baru datang gak langsung ke kelas.
Mika sontak bertanya, "Yamaguchi? Sejak kapan kamu di sini?"
Tiba-tiba muncul gitu. Beneran setan tu anak.
"Kesampingkan itu dulu. Yang pasti, aku kecewa," balas Ryuji, terdengar serius.
Mika dan Moiro menjadi bingung.
Ryuji mendekat pada Moiro, lalu menunjuknya, "Moiro, kupikir akan ada pernyataan cinta saat melihat kau membungkuk begitu, tapi ternyata cuma hal sepele kayak gini."
Mika di sebelahnya langsung tersentak malu saat mendengar itu. Pemikirannya juga sama saat Moiro mengajak untuk berbicara berdua.
Moiro hanya menatap Ryuji datar, lalu berdiri tegak, "'Sepele' kau bilang?"
"Ya!" sahut Ryuji tegas, tangannya diturunkan, "Kau pikir dengan minta maaf begitu sudah bisa menyelesaikan masalah?"
Dia berpaling ke samping lalu mendesis, "Kalo aku jadi kau, aku gak bakal cuma minta maaf."
Moiro hanya menatapnya datar, lalu berucap, "Lalu, apa yang harus kulakukan?"
Ryuji tersenyum. Dia kembali menghadap pada Moiro sambil tersenyum lebar, "Kau harus melakukan sesuatu untuk membuktikan kalau permintaan maafmu itu tulus."
Moiro diam sejenak, mendalami ucapan Ryuji barusan, "Yang dia katakan ada benarnya. Tumben dia bijak."
"Jadi sekarang bagaimana?" balas Moiro kemudian.
Ryuji mengarahkan telunjuknya pada Moiro, "Aku ada saran. Gimana kalo besok kau nemenin Mika jalan-jalan? Besok kan hari libur, dan kau pasti senggang kan?"
Mika tersentak mendengar itu dan langsung menyahutinya dengan ekspresi malu, "A-Apa maksudmu, Yamaguchi? Kenapa kamu tau besok aku mau jalan-jalan—?"
Ucapan Mika dihentikan oleh Ryuji dengan mengarahkan telunjuk padanya.
Ryuji menjawab cepat, sambil tersenyum tipis dan terlihat keren, "Aku tau besok kau ada rencana pergi ke suatu tempat bersama, tapi teman-temanmu tiba-tiba tak bisa ikut kan?"
Wedeh. Jadi keren gini si bro.
Mika terdiam. Tatapannya kosong, menatap Ryuji yang kembali menyedot minumannya.
"Kamu diam-diam baca pesan di ponselku, ya?!" teriak Mika kemudian, "Kulaporin kamu ke guru konseling!"
Ryuji tersentak kaget, sampai hampir tersedak
"Tunggu, bukan begitu maksudku!" sahut Ryuji panik.
Yeh, jadi kocak.
.........
Singkatnya, Ryuji memberikan penjelasan, dan kemarahan Mika berangsur mulai mereda. Meski begitu, di pipi Ryuji sudah membekas telapak tangan kemerahan yang merekah lebar.
"Jadi gimana, Moiro?" tanya Ryuji pada Moiro, setelah memberikan penjelasan juga padanya.
Di sebelahnya, Mika hanya terlihat tersipu malu karena secara tidak langsung, Ryuji menyuruh mereka melakukan kencan. Kepalanya sedikit menunduk, menutupi wajahnya yabg mulai kebas.
Moiro diam memikirkan sejenak, lalu menjawab mantap dengan wajah datarnya, "Tidak masalah."
Ryuji tersenyum lebar.
Mika di sebelahnya menyahut, kepalannya sontak diangkat, "E-Eh? Kamu yakin, Asahi...?"
Moiro menatap ke arahnya dan menjawab dengan serius, "Tentu. Aku ingin meminta maaf dengan benar sebagai seorang laki-laki."
Lakik bet. Jadi keinget momen pas ngucapin mantra di kafe. Awoakwokawkk.
Mika seketika terdiam, dengan mata yang membulat sempurna. Pipinya terlihat makin merona setelah mendapati jawaban itu.
"Moiro...! Kamu pria banget!" serunya dalam hati, makin terpesona.
Bunyi bel seketika terdengar, pertanda kelas akan segera dimulai.
Ryuji berjalan lebih dulu, meninggalkan mereka berdua, sambil menggigit sedotan minuman yang sudah habis.
Dia sempat menoleh ke belakang, lalu berucap pelan, "Jadi, sudah diputuskan. Kalian berdua akan jalan-jalan besok!"
"Sampai jumpa," lanjut Ryuji sambil melambai cuek lalu beranjak pergi.
Moiro dan Mika terdiam sejenak.
Sesaat setelah Ryuji menghilang dari pandangan, Mika dengan kaku menghadap pada Moiro lalu berucap pelan, "Ka-Kalo kamu gak mau, jangan memaksakan diri. Aku gak memaksamu, kok..."
Moiro menoleh padanya, lalu membalas pelan, "Aku tak keberatan. Lagipula, ini memang salahku. Sudah sewajarnya jika aku bertanggung jawab."
Mika kembali terpesona mendengarnya. Matanya kembali membulat. Pipinya memerah, dan dengan cepat dia langsung berbalik badan lalu berbisik pelan—pada diri sendiri sambil menutup bibirnya rapat dengan kedua tangan, "Ke-Kerennyaaa...!"
Moiro yang hanya mendengar desisan menjadi bingung, namun ia tak ingin mengetahui apa yanh dibicarakan olehnya.
Ia kembali menatap ke depan, lalu berpikir, "Sepertinya aku harus minta izin libur dulu pada bos."
Ia memegang kantongnya, menyentuh ponsel yang ia bawa, "Apa mungkin kukirim pesan aja, ya?"
Moiro memasukkan tangannya ke dalam kantong, dan seketika terdiam sejenak. Wajahnya mendatar, "Oh iya. Aku gak punya kontaknya."
Kau pekerja kayak gimana coba?! Kok bisa gak punya kontak bos begitu?!
Niat itu ia urungkan, ditambah setelah kembali teringat kalau bel sudah berbunyi.
Moiro menatap pada Mika, "Ayo kita pergi ke kelas."
Mika terkejut dan seketika menoleh. Dia mengangguk pelan dengan pipi yang masih memerah samar dan sedikit mengembang.
Mereka berdua pun berjalan kembali menuju kelas bersama.