Seorang wanita pekerja kantoran yang rasional bertransmigrasi ke dalam novel romansa tragis sebagai Geneviève de Montmirail, seorang putri Duke yang ditakdirkan dieksekusi karena cintanya yang gila dan obsesif kepada Duke muda, Lucien de Vaudémont.
Bertekad untuk mematahkan bendera kematiannya (death flag), Geneviève memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari kehidupan Lucien dan lingkungan istana yang beracun. Alih-alih mengejar cinta fana, ia menggunakan kecerdasannya dalam administrasi keuangan untuk memajukan wilayahnya dan membuka bisnis perhiasan yang mendobrak tren kekaisaran.
Namun, sikap dingin Geneviève justru memicu retaknya "Sihir Putih" milik Putri Mahkota Camille, sang protagonis asli novel yang tampak suci namun bermuka dua. Saat Lucien mulai mengalami kilasan ingatan yang menyiksa tentang masa lalu yang tak pernah ia ketahui, Geneviève menemukan sebuah perhiasan rahasia peninggalan tubuh aslinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadnote, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trendsetter Aristokrat
"Tiga ribu koin emas untuk kalung safir itu! Tolong bungkuskan untuk saya sekarang juga, Nona Montmirail!"
Suara melengking seorang Marchioness memecah kerumunan di depan gerobak etalase kayu mahoni tersebut. Wanita bergaun ungu itu mendorong tubuh seorang Baroness muda agar bisa mendekat ke arah kaca kristal.
Geneviève tersenyum dengan sangat profesional, menampilkan pesona seorang pedagang elit. "Maafkan saya, Nyonya Marchioness. Kalung safir biru dengan ukiran ranting perak itu baru saja ditawar empat ribu koin emas oleh Duchess de la Vallière beberapa detik yang lalu."
"Kalau begitu saya tawar lima ribu!" teriak Marchioness itu tanpa ragu, matanya tidak bisa lepas dari kilauan magis di balik kaca.
Suasana di Alun Alun Kemenangan benar benar berubah menjadi medan pertempuran para sosialita. Harga perhiasan Le C'eow melambung tinggi menembus batas tidak masuk akal. Estetika dongeng yang ditawarkan Geneviève sukses mencuci otak kaum aristokrat yang haus akan sesuatu yang baru, eksklusif, dan tidak pasaran.
Di tengah kekacauan yang menguntungkan itu, Lucien de Vaudémont masih berdiri mematung. Pria berpakaian ksatria hitam itu terlihat seperti karang yang diterjang ombak. Para wanita bangsawan yang sibuk menawar barang berkali kali menyenggol bahu lebarnya, namun Lucien tidak bergeming.
Sakit kepala yang sempat menyerang Lucien mulai mereda, meninggalkan debaran jantung yang tidak beraturan. Ia menatap wajah Geneviève yang sedang sibuk mencatat pesanan di buku besarnya. Wanita itu terlihat sangat memukau di bawah cahaya matahari musim gugur. Tidak ada jejak riasan tebal atau air mata palsu. Hanya ada kecerdasan murni dan kemandirian yang sangat tajam.
Lucien mengambil satu langkah maju. Ia menggunakan tubuh besarnya untuk menghalangi seorang wanita bangsawan yang mencoba menerobos masuk.
"Kau sengaja melakukan semua ini untuk menyiksaku, bukan?" gumam Lucien dengan suara bariton yang serak. Matanya menatap lurus ke arah Geneviève.
Geneviève menghentikan goresan penanya. Ia mendongak dan menatap pria tampan di depannya dengan sebelah alis terangkat.
"Menyiksa Anda?" Geneviève tertawa pelan. Tawa itu terdengar renyah dan sangat tulus, sama sekali tidak dibuat buat. "Tuan Duke, Anda terlalu membesar besarkan arti diri Anda. Saya berbisnis murni untuk menyiksa dompet para nyonya bangsawan ini, bukan untuk menyiksa Anda. Jika Anda tidak berniat membeli perhiasan saya, tolong geser tubuh Anda ke kiri. Bahu Anda menghalangi cahaya matahari ke arah etalase saya."
Wajah Lucien sedikit memerah. Selama tiga tahun terakhir, Geneviève selalu memohon agar Lucien menatapnya, bahkan jika itu hanya untuk satu detik. Kini, saat Lucien secara sukarela berdiri di depannya, wanita ini justru menyuruhnya menyingkir karena ia menghalangi cahaya matahari.
"Dari mana kau mendapatkan pola perhiasan ini?" tuntut Lucien, mencoba menutupi rasa salah tingkahnya dengan nada suara yang otoriter. Ia menunjuk ke arah kalung kecubung ungu di dalam etalase. "Kau biasanya menyukai warna merah darah dan gaun yang menyakitkan mata. Selera ini sangat tidak masuk akal bagimu."
Geneviève melirik ke arah kerah kemeja putih Lucien. Di balik kain cravat pria itu, tersembunyi bros pasangannya.
Otak rasional Geneviève sempat menyimpulkan bahwa mereka adalah mantan kekasih saat pertama kali melihat bros itu di istana. Namun, setelah merenungkannya semalaman, Geneviève menepis kesimpulan tersebut jauh jauh. Novel romansa yang ia baca menyatakan dengan sangat gamblang bahwa Geneviève de Montmirail adalah penjahat yang terobsesi. Kebenaran novel adalah hukum mutlak di dunia ini.
Pemilik asli tubuh ini pasti memiliki tingkat kegilaan yang jauh lebih parah dari perkiraannya. Wanita itu pasti diam diam menyewa perajin yang sama untuk meniru bros milik Lucien agar ia merasa memiliki ikatan batin dengan pria ini. Sungguh halusinasi yang menyedihkan. Ingatan di taman rumah kaca itu pasti hanyalah khayalan tingkat tinggi dari otak yang rusak karena cinta bertepuk sebelah tangan.
"Orang berubah, Lucien," jawab Geneviève santai, sengaja memanggil nama depan pria itu tanpa gelar kehormatan. "Sama seperti selera. Jika Anda hanya ingin berdiri di sana dan menginterogasi desain saya, saya pastikan Anda akan dikenakan biaya konsultasi waktu."
Mendengar namanya disebut dengan begitu kasual, dada Lucien kembali berdesir aneh. Ada perasaan familier yang sangat nyaman dari cara Geneviève mengucapkan namanya.
"Aku bisa menyita gerobak ini atas nama keamanan wilayah," ancam Lucien kaku. Pria itu benar benar tidak tahu bagaimana cara berinteraksi dengan versi Geneviève yang ini. Otaknya menyuruhnya membenci wanita ini, tetapi kakinya menolak untuk melangkah pergi.
Geneviève tersenyum mengejek. "Silakan saja. Tapi saya yakin Duchess de la Vallière akan merobek rompi kulit Anda jika Anda berani menyita kalung yang baru saja ia beli seharga lima ribu koin emas. Apakah Anda siap berhadapan dengan kemarahan ibu dari komandan angkatan laut kekaisaran?"
Lucien terdiam. Ia menatap bibir Geneviève yang menyunggingkan senyum kemenangan, lalu beralih menatap mata cokelat wanita itu. Pria itu mendadak merasa sangat bodoh.
Di saat yang bersamaan, keributan kecil terjadi di sisi kiri gerobak.
Gaspard yang sedari tadi berdiri di belakang Lucien tanpa sengaja tersenggol oleh kerumunan pembeli. Sepatu bot besi ksatria bayangan itu bergeser dan nyaris menyentuh tepi karpet merah yang digelar oleh Odette di depan etalase.
Odette yang sedang mencatat pesanan langsung berkacak pinggang. Ia menatap Gaspard dengan mata memicing tajam.
"Tuan Ksatria Kaku, apakah Anda tidak memiliki pekerjaan lain selain berdiri seperti patung batu di depan toko orang?" omel Odette tanpa ampun. "Anda menghabiskan jatah oksigen para pelanggan hamba. Mundur ke belakang tiang lampu sana."
Gaspard berdiri tegak lurus. Wajahnya sama kaku seperti biasanya, namun ia mematuhi perintah pelayan kecil itu tanpa bantahan. Ia melangkah mundur tepat ke arah tiang lampu jalan.
"Saya sudah mundur sesuai instruksi Anda, Nona Odette," lapor Gaspard dengan nada datar yang mekanis. "Namun, saya harus menginformasikan bahwa cara Anda memegang kantong emas pelanggan sangat tidak efisien. Jika Anda memegang talinya dari bagian bawah, kantong itu akan lebih mudah direbut oleh pencopet."
Odette melongo mendengar evaluasi keamanan dari ksatria tersebut. Pelayan itu memutar bola matanya hingga nyaris putih semua.
"Terima kasih atas saran Anda yang sangat tidak diminta," balas Odette sarkas. "Sekarang, tolong gunakan mata elang Anda itu untuk menghitung jumlah batu bata di alun alun ini agar Anda tidak mengganggu hamba bekerja."
"Baik, Nona Odette. Saya akan mulai menghitung dari sudut barat," jawab Gaspard dengan sangat serius. Pria berbaju zirah hitam itu benar benar menoleh ke arah sudut barat dan mulai menghitung batu jalanan dalam hati.
Odette menepuk dahinya sendiri dengan buku catatan. Ksatria terkuat di bawah komando Vaudémont ini benar benar tidak tertolong lagi.
Sementara interaksi komedi itu berlangsung, suasana yang sangat berbeda terjadi di seberang Alun Alun Kemenangan.
Tenda putih milik istana kini benar benar kosong melompong. Para pelayan istana berdiri dengan canggung di belakang meja kayu panjang yang dipenuhi oleh perhiasan emas kuning dan rubi merah. Perhiasan hasil curian desain itu kini terlihat seperti tumpukan sampah rongsokan.
Banyak wanita bangsawan yang dengan sengaja menjatuhkan kalung kalung tersebut ke tanah saat mereka berlari menuju gerobak Le C'eow. Beberapa dari mereka bahkan mengeluh terang terangan tentang kualitas perhiasan istana yang melukai kulit leher mereka.
Di tengah kehancuran itu, Putri Mahkota Camille berdiri kaku. Wajah malaikatnya telah menguap tanpa sisa. Tangan wanita itu meremas ujung gaun sutra putihnya dengan sangat kuat hingga kain mahal itu robek.
Matanya yang biru memancarkan kebencian murni, menatap lurus ke arah Geneviève yang sedang tersenyum melayani pelanggan. Dan yang paling membuat darah Camille mendidih adalah keberadaan Lucien di sana. Ksatria yang ingatannya telah ia kunci dengan Sihir Putih itu justru berdiri di dekat Geneviève, tidak menunjukkan tanda tanda amarah atau niat membunuh seperti yang seharusnya.
Camille telah dipermalukan di depan publik. Niatnya untuk menghancurkan bisnis Geneviève justru berubah menjadi promosi gratis paling sukses dalam sejarah ibu kota. Desain maksimalis yang seharusnya norak ternyata menjadi standar kemewahan baru karena penggunaan bahan perak dan batu biru yang sangat elegan. Estetika dongeng Le C'eow telah menampar wajah kesombongan istana.
"Kumpulkan semua rongsokan ini," desis Camille kepada pelayan utamanya. Suaranya terdengar sangat berbisa. "Kita kembali ke istana sekarang juga. Wanita jalang itu tidak akan bisa tertawa lama."
Tanpa menunggu pengawalnya, Camille berbalik dan masuk ke dalam kereta kuda putihnya. Faksi kerajaan telah kalah telak dalam pertempuran tren mode aristokrat.
Malam harinya, setelah matahari terbenam dan kerumunan pelanggan akhirnya bubar, gerobak etalase berjalan Le C'eow telah ditarik kembali ke halaman belakang kediaman Montmirail yang dijaga ketat.
Di dalam ruang kerja utama, suara gemerincing koin emas menjadi satu satunya melodi yang terdengar.
Odette duduk di lantai karpet, menumpahkan isi lima kantong beludru berukuran besar. Tumpukan koin emas murni menggunung di depan matanya. Pelayan itu tertawa terkikik kikik dengan mata berbinar terang, memeluk beberapa koin seolah itu adalah anak anaknya sendiri.
"Lima puluh ribu koin emas, Nona! Dalam satu hari!" seru Odette dengan suara bergetar karena kebahagiaan yang berlebihan. "Kita menjual habis semua dua belas potong perhiasan pertama, dan kita menerima lima puluh pesanan prabayar untuk bulan depan. Orang orang ini rela membayar enam ribu koin emas hanya untuk satu cincin kecubung ungu. Mereka semua sudah gila!"
Geneviève duduk di kursi kebesarannya, menikmati secangkir teh hitam panas. Ia menatap tumpukan emas itu dengan rasa puas yang mendalam. Kemerdekaan finansialnya akhirnya terjamin.
"Mereka tidak gila, Odette. Mereka hanya haus akan eksistensi," ucap Geneviève tenang. "Di masyarakat kelas atas, memiliki barang yang tidak dimiliki oleh orang lain adalah bentuk kekuasaan. Camille mencoba mendikte mereka dengan membagikan barang yang sama kepada semua orang. Dia merampas keistimewaan kaum bangsawan. Kita mengembalikannya kepada mereka melalui Le C'eow."
"Dan Anda melihat wajah wanita ular itu tadi pagi?" Odette tertawa puas. "Hamba berani bertaruh dia pasti menghancurkan semua cermin di istananya malam ini. Taktik Anda benar benar mematikan, Nona."
Geneviève tersenyum tipis. Pikirannya melayang kembali pada kejadian di alun alun tadi. Ia mengingat bagaimana Lucien berdiri di dekatnya, terlihat canggung namun enggan pergi.
Mengingat bros yang tersembunyi di kerah Lucien membuat Geneviève kembali merenung. Ia harus tetap rasional. Ia tidak boleh termakan oleh khayalan masa lalu dari tubuh yang ia tempati ini. Novel itu sangat jelas, ia adalah antagonis. Pria itu dikendalikan oleh sihir istana, dan tubuh asli Geneviève di masa lalu mungkin melakukan tindakan tindakan gila seperti menyalin perhiasan Lucien secara paksa. Ya, itu adalah penjelasan yang paling logis. Tidak ada romansa tragis di masa lalu mereka. Yang ada hanyalah perebutan kekuasaan, dan Geneviève bertekad untuk memenangkannya.
"Tuan Fabron akan sangat sibuk besok pagi," gumam Geneviève. "Kita harus membeli lebih banyak batu mentah dari kapal kapal pesisir timur. Pastikan keamanan pengiriman kita diperketat. Faksi kerajaan pasti akan mencari cara lain untuk mensabotase bahan baku kita."
"Jangan khawatir, Nona. Hamba akan menyewa tentara bayaran elit untuk mengawal kereta barang kita," jawab Odette sambil sibuk menumpuk koin emas menjadi menara menara kecil. "Dengan uang sebanyak ini, kita bahkan bisa menyewa pasukan naga jika mereka benar benar ada."
Geneviève meletakkan cangkir tehnya. Ia melangkah menuju gerobak kayu mahoni yang diparkir di dalam ruangan khusus di sebelah ruang kerjanya. Etalase itu kosong, semua perhiasannya ludes terjual. Geneviève dan Odette mulai menutup dua panel kayu baja yang menjadi pelindung kaca kristalnya.
Satu per satu, gembok baja silang dikunci dengan bunyi klik yang solid. Keamanan gerobak ini tidak bisa ditembus oleh pencuri jalanan manapun.
"Pekerjaan yang sangat bagus hari ini, Odette. Besok kita akan mulai merekrut penjaga khusus untuk gerobak ini," ucap Geneviève sambil memasukkan kunci gembok ke dalam saku jubah tidurnya.
"Hamba akan memastikan penjaga itu memiliki otak yang lebih fleksibel daripada Tuan Ksatria Kaku milik Duke Vaudémont," sahut Odette dari balik gerobak.
Tiba tiba, di tengah keheningan malam yang menenangkan itu, suara hantaman keras memecah kesunyian.
BAM! BAM! BAM!
Suara gedoran kasar yang sangat brutal terdengar dari arah pintu kayu ek di bagian belakang kediaman Montmirail. Pintu itu adalah akses langsung menuju ruangan penyimpanan gerobak etalase mereka.
Odette seketika menjatuhkan koin emas di tangannya. Pelayan itu langsung merogoh celemeknya, mengeluarkan kunci inggris besinya dalam hitungan detik. Wajahnya yang tadi berseri seri karena uang kini berubah menjadi pucat dan waspada.
BAM! BAM!
Pintu kayu tebal itu berderak ngeri. Seseorang atau sekelompok orang sedang mencoba mendobrak masuk menggunakan tenaga yang tidak wajar. Suara teriakan serak terdengar samar dari luar, diiringi oleh gonggongan anjing liar yang mengerikan.
Geneviève melangkah mundur perlahan. Matanya menyipit tajam menatap pintu kayu yang mulai retak di bagian engselnya. Faksi kerajaan sepertinya sudah membuang topeng kesopanan mereka. Setelah kalah di medan perang mode dan ekonomi, mereka kini beralih menggunakan kekerasan fisik secara langsung di tengah malam.
"Nona, berlindung di belakang gerobak," bisik Odette tegang. Tangannya mencengkeram kunci inggris itu erat erat. "Hamba akan memecahkan kepala orang pertama yang berani melangkah masuk melewati pintu itu."