Amara pernah memiliki keluarga yang ia cintai. Namun setelah bertahun-tahun mendukung suaminya dari nol, ia justru dikhianati.
Sebagai ibu tunggal dengan tiga anak, Amara berusaha bangkit dari luka dan kehancuran. Takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pria mafia yang memberinya sebuah kerajaan.
Kini, di mata dunia, Amara hanyalah seorang ibu sederhana yang bekerja sebagai careworker.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik sosok pendiam itu, tersembunyi seorang penguasa dunia bawah tanah.
Amara membangun kerajaan demi ketiga anaknya. Ia ingin mereka memiliki masa depan, tetapi tidak pernah ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang bergantung pada kekayaan.
Karena seorang ibu akan melakukan apa pun untuk melindungi anak-anaknya.
Bahkan jika ia harus menjadi seorang mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princess Catalunya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengumuman Pernikahan
Pagi hari itu, tidak ada yang menyangka bahwa sebuah keputusan sederhana yang diumumkan, akan membuat begitu banyak orang bereaksi dan menghentikan pekerjaannya.
Bukan karena terjadi sesuatu yang buruk. Tidak ada perusahaan yang bangkrut. Tidak ada perang dan tidak ada skandal besar.
Hanya sebuah keputusan pribadi dari dua orang yang selama bertahun-tahun memilih menyimpan kehidupan mereka jauh dari sorotan.
Namun ketika keputusan itu akhirnya diumumkan, dunia seperti menemukan alasan baru untuk membicarakan mereka.
Semuanya bermula dari sebuah pernyataan resmi. Singkat tanpa kalimat berlebihan dan penjelasan panjang. Hanya beberapa baris yang cukup untuk membuat berbagai media segera bergerak.
Leon Volkov dan Amara Pradipta akan menikah.
Dalam hitungan menit, berita itu mulai menyebar. Awalnya hanya muncul di beberapa jaringan bisnis. Kemudian masuk ke media internasional. Lalu berbagai platform mulai membicarakannya.
Nama Leon Volkov bukan nama yang asing bagi dunia bisnis. Nama Amara Pradipta pun selama beberapa tahun terakhir mulai semakin dikenal di kalangan tertentu. Namun tidak banyak orang yang mengetahui bahwa hubungan keduanya sudah berlangsung jauh lebih lama daripada yang mereka kira.
Bagi sebagian orang, kabar tersebut merupakan berita pernikahan biasa. Tetapi bagi kalangan tertentu, berita itu memiliki arti yang berbeda.
Karena Leon dan Amara bukan sekadar dua orang yang akan menikah. Mereka memiliki jaringan bisnis yang luas, dan perusahaan yang bekerja sama dengan mereka tersebar di berbagai negara.
Hubungan profesional mereka terhubung dengan banyak kelompok ekonomi besar. Karena itu, pengumuman tersebut segera menimbulkan berbagai spekulasi.
Beberapa analis mulai membicarakan kemungkinan perubahan hubungan bisnis. Sebagian investor mulai memperhatikan saham perusahaan yang memiliki keterkaitan dengan jaringan mereka.
Bahkan beberapa orang yang tidak pernah peduli dengan kehidupan pribadi keduanya mulai bertanya-tanya. Apa yang akan terjadi setelah mereka menikah? Apakah perusahaan mereka akan digabungkan? Apakah akan ada kerja sama baru? Apakah struktur kepemilikan akan berubah? Apakah pernikahan tersebut akan membawa pengaruh terhadap berbagai jaringan bisnis yang selama ini berjalan secara terpisah?
Tidak ada yang tahu. Karena Leon dan Amara tidak memberikan penjelasan apa pun. Dan justru karena itulah dunia semakin banyak berbicara.
Di sebuah ruang rapat yang dipenuhi layar monitor, beberapa eksekutif menatap grafik yang bergerak di depan mereka.
“Naik.”
“Berapa?”
“Terus bergerak.”
Seorang pria berdiri dan mendekati layar.
“Karena pengumuman pernikahan?”
“Sepertinya.”
Ia mengerutkan kening.
“Pernikahan saja bisa membuat pasar bergerak seperti ini?”
Salah satu rekannya tertawa kecil.
“Bukan pernikahannya.”
“Lalu?”
“Orang-orang percaya pernikahan itu akan membawa stabilitas.”
Pria tersebut terdiam. Ia kembali menatap grafik. Memang aneh. Tidak ada kontrak baru, tidak ada akuisisi, atau tidak ada pengumuman investasi. Namun pasar tetap bergerak. Kadang dunia bisnis memang seperti itu. Orang-orang tidak hanya membeli angka. Namun mereka juga membeli harapan.
Dan bagi sebagian investor, hubungan dua orang seperti Leon dan Amara dianggap sebagai tanda bahwa sesuatu yang besar mungkin sedang menunggu di depan.
Di sisi lain dunia, reaksi yang muncul jauh berbeda. Beberapa orang tidak terlalu peduli pada saham. Mereka justru memperhatikan nama.
Leon Volkov.
Amara Pradipta.
Dua nama yang selama ini berdiri di dunia masing-masing.
Ketika kabar itu sampai kepada mereka, beberapa pertemuan yang awalnya membahas urusan lain berubah menjadi pembicaraan tentang pernikahan tersebut.
“Sudah resmi?”
“Sudah.”
“Benar-benar menikah?”
“Benar.”
Seseorang meletakkan gelasnya di atas meja.
“Kalau begitu, kita harus memperhatikan langkah mereka setelah ini.”
Tidak ada yang tertawa. Karena mereka tahu bahwa keputusan pribadi orang-orang seperti Leon dan Amara terkadang bisa memiliki dampak jauh lebih besar daripada yang terlihat.
Namun, Leon dan Amara sendiri tidak sedang memikirkan semua itu. Orang yang dibicarakan malah tidak peduli soal pasar saham.
Di rumah, suasananya justru jauh lebih sederhana. Amara sedang duduk di meja makan sambil membaca beberapa dokumen. Di depannya terdapat secangkir kopi yang mulai dingin.
Leon duduk tidak jauh darinya sambil memegang tablet.
“Sudah keluar,” katanya.
Amara tidak langsung mengangkat kepala.
“Yang mana?”
“Pengumuman.”
Amara berhenti membaca.
Kemudian menatap Leon.
“Sudah?”
Leon mengangguk.
Amara mengambil tabletnya. Beberapa detik kemudian, ia melihat pernyataan resmi tersebut. Tidak ada perubahan pada wajahnya. Ia hanya membaca sampai selesai.
Kemudian meletakkan tablet.
“Sudah.”
Leon tersenyum kecil.
“Sudah?”
“Ya.”
“Kau tidak gugup?”
Amara mengangkat alis.
“Haruskah?”
Leon tertawa pelan.
“Aku tidak tahu.”
Amara kembali mengambil kopinya.
“Leon.”
“Ya?”
“Kita hanya menikah.”
Leon terdiam beberapa detik.
Kemudian ia mengangguk.
“Benar.”
Amara tersenyum.
“Jangan membuatnya lebih rumit daripada yang sebenarnya.”
Leon tertawa.
“Dunia sudah membuatnya rumit.”
“Biarkan dunia, kita jangan.”
Kalimat itu sederhana. Namun Leon tahu persis apa maksudnya. Mereka tidak menikah untuk dunia. Mereka tidak menikah untuk membuat perusahaan semakin kuat. Mereka tidak menikah untuk membuat orang lain takut.
Mereka menikah karena setelah bertahun-tahun berjalan bersama, akhirnya mereka ingin berhenti menyebut hubungan mereka hanya sebagai sesuatu yang belum memiliki nama.
Anak-anak Amara tentu saja tidak sesantai ibunya. Nayla menjadi orang pertama yang datang membawa tablet.
“Ibu!”
Amara menoleh.
“Apa?”
“Sudah resmi!”
Amara tersenyum.
“Aku tahu.”
Nayla duduk di sampingnya.
“Media sudah ramai.”
“Biarkan.”
“Banyak yang bilang pernikahan kalian akan menjadi pernikahan paling besar tahun ini.”
Amara menghela napas.
“Aku tidak mau pernikahan paling besar.”
Nayla tertawa.
“Ibu mau apa?”
“Pernikahan yang nyaman.”
Leon yang mendengar dari belakang langsung berkata,
“Dan aman.”
Nayla menoleh.
“Keamanan sudah disiapkan?”
“Sudah.”
Kael yang berdiri di dekat pintu mengangguk.
“Saya juga sudah memeriksa beberapa hal.”
Nayla menghela napas.
“Kenapa pernikahan kalian lebih mirip operasi keamanan?”
Gilberth tiba-tiba muncul dari belakang.
“Karena Om Leon bukan manusia normal.”
Leon menatapnya.
“Gilberth.”
“Apa?”
“Diam.”
Gilberth tertawa.
Raka yang baru datang hanya menggeleng.
“Kalian bahkan belum menikah, tapi rumah ini sudah ribut.”
Arsen datang beberapa menit kemudian. Ia melihat layar tablet yang menampilkan berita tentang ibunya.
“Sudah diumumkan?”
Nayla mengangguk.
“Sudah.”
Arsen tersenyum. Ia tidak berkata banyak. Namun dari tatapannya, Amara tahu anak laki-lakinya bahagia.
Beberapa hari kemudian, undangan resmi mulai disiapkan. Daftar tamu diperiksa berulang kali. Mulai dari keluarga, teman dekat dan rekan bisnis.
Juga orang-orang yang selama bertahun-tahun pernah berjalan bersama mereka. Dan tentu saja, beberapa undangan juga diberikan melalui jalur perusahaan. Bukan karena semua karyawan harus hadir. Tetapi karena Amara tidak ingin pernikahannya menjadi sesuatu yang membuat lingkungan kerja terasa asing.
Bagi karyawan, pengumuman itu sederhana. Mereka hanya mengetahui bahwa pemimpin perusahaan mereka akan menikah. Namun bagi sebagian karyawan lama, kabar tersebut terasa cukup mengejutkan.
Mereka mengenal Amara sebagai perempuan yang sangat menjaga kehidupan pribadinya. Ia jarang membicarakan hubungan pribadi. Tidak pernah menggunakan kehidupan pribadinya untuk mendapatkan perhatian.
Karena itu, ketika nama Leon muncul di samping namanya, banyak yang hanya bisa tersenyum. Beberapa mengucapkan selamat. Beberapa bercanda. Beberapa bahkan mulai bertanya-tanya kapan tepatnya mereka berdua mulai dekat. Tidak ada yang benar-benar mendapatkan jawaban.
Di salah satu bagian gedung perusahaan, sebuah layar besar menampilkan pengumuman resmi. Para karyawan yang melewati lorong berhenti sebentar untuk membaca. Nama itu terpampang jelas.
Amara Pradipta.
Di bawahnya terdapat nama seorang pria.
Leon Volkov.
Beberapa orang tersenyum. Beberapa lainnya langsung mengambil ponsel. Ada yang mengirim ucapan selamat kepada rekan kerja. Ada pula yang hanya berdiri beberapa detik sebelum kembali melanjutkan pekerjaan.
Tidak ada yang menyadari bahwa di antara mereka, ada seseorang yang membaca pengumuman itu jauh lebih lama daripada yang lain.
Seseorang yang mengenal nama Amara bukan hanya sebagai atasannya. Seseorang yang mengetahui perempuan itu dari kehidupan yang jauh lebih lama.
Namun kisah itu belum kita ceritakan hari ini.
Sementara itu, di rumah Amara, persiapan terus berjalan.
Gaun mulai dipilih, persiapan lokasi dikonfirmasi. Keamanan diperketat.
Tamu-tamu mulai menerima undangan. Dan media terus membuat berbagai berita.
Ada yang menyebut mereka pasangan paling berpengaruh. Ada yang menyebut mereka sebagai dua kekuatan besar yang akhirnya bersatu. Ada pula yang memberi mereka julukan yang mulai tersebar luas di berbagai media.
Raja dan Ratu.
Amara membaca salah satu artikel tersebut lalu tertawa kecil.
“Raja dan Ratu?”
Leon melirik layar.
“Apa masalahnya?”
“Aku tidak suka.”
“Kenapa?”
“Aku bukan ratu.”
Leon tersenyum.
“Bagi mereka, mungkin.”
“Bagi mereka.”
“Bagiku, kau tetap Amara.”
Amara menatapnya.
Untuk sesaat, tidak ada suara.
Kemudian perempuan itu tersenyum kecil.
“Dan bagiku, kau tetap Leon.”
Tidak ada gelar dan kekuasaan. Juga tidak ada nama keluarga.
Hanya dua nama.
Leon dan Amara.
Mungkin memang hanya itu yang mereka butuhkan.
Malam semakin larut. Rumah yang biasanya ramai mulai perlahan tenang. Anak-anak satu per satu masuk ke kamar. Para staf menyelesaikan pekerjaan. Kael memastikan keamanan. Leon masih berada di ruang kerja ketika Amara datang menghampirinya.
“Kau belum tidur?”
“Belum.”
“Kenapa?”
Leon menatap layar komputernya.
“Banyak pekerjaan.”
Amara berdiri di sampingnya.
“Besok?”
Leon menggeleng.
“Besok aku akan berhenti memikirkan pekerjaan.”
Amara tersenyum.
“Bagus.”
Leon menatapnya.
“Kau siap?”
Amara terdiam sebentar.
Kemudian mengangguk.
“Ya.”
“Tidak takut?”
“Tidak.”
“Tidak berubah pikiran?”
Amara menatap pria itu cukup lama.
“Leon.”
“Ya?”
“Aku sudah terlalu lama hidup dengan banyak pertimbangan.”
Ia tersenyum tipis.
“Kali ini aku hanya ingin melakukan sesuatu karena aku menginginkannya.”
Leon bangkit dari kursinya. Kemudian berdiri di hadapan Amara. Ia tidak mengatakan apa-apa. Hanya menggenggam tangan perempuan itu. Amara membalasnya.
Di luar sana, dunia masih sibuk membicarakan mereka. Para investor masih menghitung kemungkinan. Para media masih mencari cerita.
Orang-orang masih mencoba menebak apa yang akan terjadi setelah dua nama besar itu bersatu. Tetapi tidak satu pun dari mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu rumah itu.
Dua orang ini hanya sedang mempersiapkan hari penting dalam hidup mereka.
Besok, mereka akan menikah.
Dan untuk dunia, mungkin itu adalah peristiwa besar. Bagi para investor, mungkin itu adalah peluang. Bagi kalangan elite, mungkin itu adalah penyatuan dua kekuatan.
Bagi dunia yang selama ini hidup dalam bayangan, mungkin itu adalah sesuatu yang harus diperhitungkan.
Namun bagi Amara dan Leon, besok hanyalah hari ketika mereka akhirnya mengucapkan janji yang sebenarnya sudah mereka jalani selama bertahun-tahun.
Mereka saling memandang dalam diam. Dan setelah perjalanan yang begitu panjang, akhirnya Amara tidak ingin menunda kebahagiaannya.
Besok, mereka akan menikah.