NovelToon NovelToon
Sistem Kaisar Abadi

Sistem Kaisar Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Sistem / Balas Dendam
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Tiga tahun jadi sampah!

Itulah yang dialami Arya Langit setelah meridiannya hancur. Dari jenius nomor satu Perguruan Langit Biru, dia jatuh jadi pecundang yang bahkan tidak bisa mengangkat pedang.

Di hari pertunangannya, tunangannya sendiri Kezia Adinegara membatalkan pernikahan di depan seluruh tetua demi pria lain dan memberinya 100 Batu Roh sebagai uang hinaan.

Tepat saat tamparan itu mendarat di wajahnya, Sistem Takdir Harem Kaisar Abadi bangkit!

Mata Takdir aktif. Arya bisa melihat masa depan tragis setiap wanita dengan Takdir Kaisar.

Sekar Embun, Bidadari Pedang nomor satu yang dingin seperti es, akan lumpuh total dalam 7 hari dan mati kedinginan di lembah terpencil.

Luna Maheswari, Ratu Iblis yang mempesona, akan menjadi kuali kultivasi dan meledak mati.

Kirana Lestari, Putri Kerajaan yang manja, akan diracun pada malam pernikahannya.

Satu-satunya cara menyelamatkan mereka adalah menjadikan mereka istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Sentuhan Meridian Pertama

Angin di ketinggian Puncak Embun sangat dingin, menusuk tulang.

Pedang raksasa berwarna biru es yang ditunggangi Sekar Embun membelah awan dengan kecepatan yang luar biasa. Kota di bawah terlihat seperti kumpulan semut. Hanya dalam beberapa tarikan napas, mereka sudah meninggalkan Balai Agung yang penuh dengan tatapan iri dan dengki itu jauh di belakang.

Arya Langit masih memegang pergelangan tangan Sekar Embun.

Kulit wanita itu benar benar dingin, tidak seperti suhu manusia normal. Lebih dingin dari es balok yang baru diambil dari dalam gua es. Dinginnya bahkan mulai menjalar ke telapak tangan Arya dan membuat ujung jarinya sedikit kebas.

"Guru," suara Arya sedikit tegang karena dia bisa merasakan aura di dalam tubuh Sekar Embun bergejolak dengan liar seperti naga es yang mengamuk. "Tahan napasmu, jangan lawan energi dingin itu. Biarkan saya coba alirkan."

Sekar Embun tidak menjawab. Wajahnya yang biasanya tenang dan dingin seperti bulan kini sedikit pucat. Bibirnya yang merah muda menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa sakit yang luar biasa. Dia bisa merasakan Tubuh Meridian Embun Beku miliknya yang sudah dia tekan selama bertahun tahun dengan pil dan teknik rahasia, kini mulai lepas kendali lebih cepat dari jadwal.

Biasanya serangan itu datang seminggu sekali. Tapi hari ini, setelah dia menggunakan energi untuk terbang dan menahan amarah melihat muridnya dihina, serangan itu datang lebih awal.

Dia sebenarnya tidak berharap banyak pada pemuda sampah yang baru saja dia selamatkan itu. Dia menawarkan Arya menjadi muridnya karena dia melihat sesuatu yang aneh. Saat Arya meledakkan auranya di balai tadi, dia melihat bayangan seekor naga emas samar di belakang pemuda itu. Sebuah bayangan yang bahkan membuat pedang es miliknya bergetar.

Tapi sekarang, saat tangan hangat Arya memegang pergelangannya, dia merasakan sesuatu yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya.

Hangat.

Sebuah energi hangat yang sangat murni, sangat lembut, namun sangat mendominasi masuk melalui pergelangan tangannya.

"Ini..."

Mata indah Sekar Embun membelalak.

Energi yang masuk itu bukan energi langit dan bumi biasa. Energi itu memiliki warna keemasan samar dan langsung menuju ke pusat kekacauan di dalam meridiannya.

Seni Tangan Dewa Meridian.

Di dalam benak Arya, informasi tentang teknik itu mengalir dengan sendirinya. Dia tidak perlu berpikir, tangannya bergerak secara otomatis. Jari jarinya menekan beberapa titik penting di pergelangan tangan Sekar Embun dengan urutan yang sangat rumit.

Teknik Seribu Aliran Mencair.

Zzztt...

Suara seperti es yang mencair terdengar dari dalam tubuh Sekar Embun.

Energi dingin yang mengamuk dan membekukan meridiannya selama ini, yang bahkan tidak bisa dicairkan oleh api pil tingkat tinggi, kini perlahan lahan mencair dan menjadi jinak di bawah sentuhan jari Arya.

Rasa sakit yang menyiksa Sekar Embun selama bertahun tahun itu perlahan lahan berkurang. Rasa nyaman yang hangat menggantikan rasa sakit yang dingin menusuk itu.

Tanpa sadar, Sekar Embun mengeluarkan suara desahan pelan yang sangat lembut.

"Hhh..."

Suara itu membuat telinga Arya memerah. Dia buru buru fokus kembali.

Mereka akhirnya sampai di Puncak Embun.

Puncak Embun adalah puncak tertinggi di Perguruan Langit Biru. Seluruh puncak diselimuti salju abadi yang tidak pernah mencair. Di tengah salju itu berdiri sebuah pondok bambu sederhana yang sangat bersih dan sebuah kolam air panas kecil yang mengepulkan uap, dikelilingi oleh bunga teratai es yang mekar.

Tempat yang sangat indah, sangat sepi, dan sangat cocok untuk seorang bidadari yang dingin.

Pedang raksasa itu mendarat dengan lembut di halaman pondok.

Sekar Embun hampir terjatuh saat turun dari pedang. Kakinya sedikit lemas. Arya dengan sigap menangkap pinggang rampingnya untuk menahannya agar tidak jatuh.

Untuk pertama kalinya dalam dua puluh dua tahun hidupnya, Bidadari Pedang Embun yang tidak pernah membiarkan pria manapun menyentuhnya dalam jarak tiga langkah, kini berada dalam pelukan seorang pria.

Tubuh Sekar Embun sangat harum, aroma embun pagi bercampur dengan aroma bunga teratai es yang menenangkan. Tubuhnya ramping namun berisi, dan meskipun terbalut gaun putih yang tebal, Arya bisa merasakan betapa lembutnya tubuh itu.

Wajah Sekar Embun yang biasanya sedingin es kini memerah seperti buah apel. Dia buru buru mendorong Arya dengan lembut, tapi tidak dengan marah.

"Lepas... lepaskan aku," suaranya yang biasanya dingin kini sedikit gugup.

Arya juga sadar dan buru buru melepaskannya. "Maaf, Guru. Saya tidak bermaksud..."

Sekar Embun menarik napas dalam dalam untuk menenangkan jantungnya yang berdebar kencang. Dia menatap Arya dengan tatapan yang sama sekali berbeda dari tatapan dinginnya tadi. Ada rasa terkejut, ada rasa ingin tahu, dan ada sedikit rasa harap.

"Kamu... kamu benar benar bisa menyembuhkan Tubuh Meridian Embun Beku milikku?" tanya Sekar Embun, suaranya sedikit bergetar. Ini adalah rahasia terbesarnya yang bahkan Pemimpin Perguruan pun tidak tahu sepenuhnya. Dia selalu berkata dia hanya memiliki Tubuh Es biasa.

Arya mengangguk dengan yakin. Di depan matanya, tulisan sistem di atas kepala Sekar Embun sudah berubah.

[Takdir Tragis: Ditunda sementara. Energi mengamuk berhasil dijinakkan 10%. Membutuhkan 6 sesi penyembuhan lagi untuk sembuh total dan membangkitkan Tubuh Dewi Embun Sejati.]

"Guru, penyakit Guru bukan penyakit. Itu adalah Tubuh Meridian Embun Beku yang legendaris, tubuh yang hanya dimiliki oleh Dewi Embun di zaman kuno. Karena terlalu kuat, meridian Guru tidak mampu menahannya, jadi dia mengamuk dan membekukan meridian Guru sendiri. Kalau dibiarkan, dalam tujuh hari Guru akan lumpuh total," jelas Arya dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.

Sekar Embun tubuhnya bergetar hebat. Rahasia yang dia sembunyikan selama bertahun tahun, pemuda di depannya ini tahu hanya dengan menyentuh pergelangan tangannya sebentar.

"Kamu... bagaimana kamu tahu?"

"Saya punya cara saya sendiri, Guru," Arya tersenyum misterius. "Percayakan pada saya. Beri saya waktu tujuh hari. Dalam tujuh hari, saya tidak hanya akan menyembuhkan Guru, tapi saya akan membuat Guru membangkitkan Tubuh Dewi Embun Sejati yang sebenarnya. Saat itu, bahkan Pemimpin Perguruan pun bukan tandingan Guru."

Sekar Embun menatap pemuda di depannya. Pemuda yang tiga tahun lalu adalah jenius, lalu menjadi sampah yang dihina semua orang, dan hari ini berdiri di depannya dengan mata yang penuh dengan kepercayaan diri dan kehangatan yang aneh.

Entah kenapa, dia percaya.

"Baik," Sekar Embun akhirnya mengangguk. "Apa yang harus aku lakukan?"

"Guru harus masuk ke kolam air panas itu," kata Arya sambil menunjuk kolam yang mengepulkan uap di tengah taman. "Lepaskan jubah luar Guru, sisakan pakaian dalam yang tipis saja. Saya harus menekan beberapa titik meridian di punggung Guru untuk melancarkan aliran yang beku. Prosesnya akan sedikit... tidak nyaman, tapi tolong Guru tahan."

Wajah Sekar Embun kembali memerah. Masuk ke kolam air panas dengan pakaian tipis di depan seorang murid pria? Hal ini belum pernah terjadi seumur hidupnya.

Tapi saat dia merasakan lagi rasa sakit dingin yang mulai menjalar di punggungnya, dia menggertakkan giginya.

"Demi jalan kultivasi," bisiknya pada dirinya sendiri.

Dia berjalan menuju kolam, membelakangi Arya. Dengan jari yang sedikit gemetar, dia perlahan lahan melepaskan jubah putih luarnya.

Jubah itu jatuh ke lantai salju, memperlihatkan punggungnya yang putih mulus seperti batu giok terbaik di dunia, hanya terbalut oleh pakaian dalam sutra tipis berwarna putih yang basah oleh keringat dingin karena menahan sakit.

Pemandangan itu begitu indah hingga membuat Arya menahan napas.

"Jangan... jangan melihat yang tidak perlu," suara Sekar Embun terdengar kecil dan malu malu, sama sekali tidak seperti Bidadari Pedang yang dingin itu.

Arya buru buru mengalihkan pandangannya dan berjalan mendekat. Dia duduk di tepi kolam di belakang Sekar Embun.

"Saya mulai, Guru. Maaf."

Arya mengulurkan kedua tangannya. Ujung jarinya bersinar dengan cahaya keemasan hangat dari Seni Tangan Dewa Meridian. Dia mulai menekan titik demi titik di sepanjang tulang punggung Sekar Embun yang indah itu.

Setiap sentuhan jarinya membuat tubuh Sekar Embun sedikit bergetar. Bukan karena dingin, tapi karena rasa hangat yang luar biasa menjalar dari punggungnya ke seluruh tubuhnya, mencairkan es yang membeku di meridiannya.

Rasa nyaman yang belum pernah dia rasakan selama dua puluh dua tahun hidupnya.

Di dalam kepala Arya, suara sistem terus berbunyi.

[DING! Sentuhan Meridian berhasil! Poin Kepercayaan Sekar Embun +5!]

[DING! Sentuhan Meridian berhasil! Poin Kepercayaan Sekar Embun +5!]

[Selamat! Poin Kepercayaan Sekar Embun mencapai 20%! Hadiah pertama terbuka: Tubuh Meridian Naga Langit tingkat 1 aktif!]

BOOM!

Saat hadiah itu aktif, tubuh Arya tiba tiba meledak dengan cahaya keemasan. Meridiannya yang baru saja pulih kini berevolusi dengan gila gilaan. Sebuah auman naga kuno terdengar samar samar dari dalam tubuhnya.

Kultivasinya yang tadi masih di Alam Meridian tingkat sembilan, dalam sekejap mata naik!

Alam Meridian tingkat sembilan puncak!

Setengah langkah Alam Jiwa Kesatria!

Hanya dengan menyembuhkan Sekar Embun sebentar, kekuatannya naik secepat ini!

Di sisi lain, di bawah Puncak Embun, dua sosok berdiri dengan wajah penuh kebencian sambil menatap ke atas puncak yang diselimuti salju.

Kezia Adinegara dan Rafa Adiputra.

"Sampah itu berani mempermalukan kita di depan semua orang," geram Rafa dengan tinju terkepal. "Aku tidak akan membiarkannya hidup tenang di Puncak Embun. Aku sudah menyuap Tetua Disiplin. Besok saat pemeriksaan bulanan murid baru, aku akan membuatnya cacat permanen di depan semua orang, bahkan Sekar Embun tidak akan bisa melindunginya."

Kezia menatap puncak itu dengan mata yang rumit. Ada cemburu, ada marah, tapi juga ada sedikit penyesalan yang tidak dia mengerti kenapa muncul.

Di dalam kolam air panas di puncak, Arya masih fokus menyembuhkan. Dia tidak tahu bahwa bahaya pertama setelah mendapatkan sistem sudah menunggu di depan matanya besok pagi.

Dan dia juga tidak tahu, bahwa sentuhan tangannya malam ini, telah membuat hati seorang bidadari yang membeku selama dua puluh dua tahun, mulai mencair untuk pertama kalinya.

1
Hadi Hadi
mantap😍😍
fareva: lanjut 🔥🔥🔥
total 1 replies
Hadi Hadi
bantai💪
Hadi Hadi
up up up💪
Hadi Hadi
iwik iwik😍😍
Hadi Hadi
mantap😍😍
Hadi Hadi
semangat💪💪
fareva: makasih bang
total 1 replies
Hadi Hadi
bantai💪
fareva: 🔥🔥🔥🔥🔥🔥
total 1 replies
Hadi Hadi
up up up😍😍
Hadi Hadi
lanjut
fareva: Siap. tolong bantu koreksi kalau ada yang kureng
total 1 replies
Hadi Hadi
bantai💪💪
Hadi Hadi
good💪💪
Hadi Hadi
mantap😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!