NovelToon NovelToon
Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Dokter Dewa: Sistem Check-in Rumah Sakit

Status: tamat
Genre:Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:100.8k
Nilai: 5
Nama Author: Novi

"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18: Jalan Kemandirian

Rina tidak langsung mengirim detail.

Setelah pesan tentang Amelia, layar ponsel Rangga hanya menampilkan tanda mengetik yang muncul, hilang, lalu muncul lagi. Seolah di seberang sana, seorang ibu sedang memilih kata yang tidak akan membuatnya terdengar terlalu putus asa.

Rangga mengetik balasan singkat.

Kirim alamat dan semua hasil pemeriksaan yang ada. Besok saya datang.

Pesan itu terkirim.

Beberapa detik kemudian, balasan Rina masuk.

Terima kasih, Rangga. Maaf merepotkan.

Rangga menatap kata maaf itu lebih lama daripada seharusnya.

Orang yang paling membutuhkan pertolongan sering menjadi orang pertama yang meminta maaf karena masih hidup dan merepotkan.

Ia baru saja hendak berdiri ketika pintu UGD terbuka keras.

"Dokter! Pasien nyeri perut hebat!"

Malam belum selesai.

Seorang pria paruh baya dibawa masuk dengan tubuh melengkung, wajah pucat, keringat dingin membasahi pelipis. Keluarganya berlari di belakang tandu sambil membawa map kusut berisi hasil pemeriksaan lama.

"Sudah didiagnosis kanker usus, Dok," kata perawat cepat. "Belum operasi. Malam ini nyeri mendadak, muntah, perut kaku."

Rangga memeriksa cepat.

Abdomen tegang.

Tanda peritonitis.

Tekanan darah mulai turun.

Kemungkinan perforasi atau obstruksi yang sudah pecah.

Kasus ini masih berada dalam kemampuannya, namun waktunya sempit. Keterlambatan operasi dapat menyebarkan infeksi dan mendorong pasien ke syok sepsis.

Saat Rangga menatap hasil CT lama, dunia di kepalanya kembali menjadi dingin.

Namun kali ini, sistem tidak langsung memberi satu pilihan.

Di dalam kesadarannya, sebuah panel baru terbuka.

[Terdeteksi kasus bedah onkologi darurat.]

[Pilih mode check-in:]

[A. Check-in Normal — bantuan real-time, level teknik: Kelas Internasional.]

[B. Check-in Mandiri — tanpa bantuan real-time, terhitung progres "Jalur Kemandirian". Setiap 5 tahap, hadiah misterius akan dibuka.]

Rangga terdiam.

Teknik yang terbuka hanya berada pada tingkat Kelas Internasional, satu tingkat di bawah Kelas Dunia.

Selama ini, setiap kali sistem memberi teknik, standar yang masuk ke kepalanya selalu seperti puncak tertinggi: Kelas Dunia. Sekarang sistem menurunkan tangga di depannya, lalu menunjukkan jalan lain yang lebih gelap.

Check-in Mandiri.

Tanpa bantuan real-time.

Jalan yang berarti ia masuk ruang operasi dengan semua risiko manusia biasa, hanya membawa ilmu yang sudah melekat di tubuhnya.

Di luar pikirannya, pasien mengerang.

"Dok... sakit..."

Rangga kembali ke dunia nyata.

Ini bukan waktunya bermain berani.

Besok ia harus melihat Amelia. Malam ini pasien di depannya membutuhkan keputusan cepat. Ego seorang dokter tidak punya tempat di ruang itu.

Dalam hati, ia memilih.

Check-in Normal.

[Check-in Normal dipilih.]

[Hadiah teknik: Teknik Bedah Onkologi Darurat Kelas Internasional.]

Pengetahuan masuk, lebih ringkas daripada sebelumnya, tetapi tetap tajam: langkah pembukaan, kontrol kontaminasi, reseksi terbatas, pembersihan rongga perut, keputusan membuat stoma sementara, batas aman saat jaringan kanker merusak usus.

Rangga menarik napas.

"Siapkan operasi darurat. Risiko perforasi usus dan sepsis. Hubungi keluarga untuk persetujuan."

Pak Bambang datang kurang dari lima menit kemudian.

"Kasus apa?"

"Kanker usus dengan abdomen akut. Perlu operasi sekarang."

Pak Bambang membaca cepat.

"Kamu ambil?"

"Saya ambil."

"Kamu punya besok untuk Rina?"

Rangga menatapnya.

Pak Bambang ternyata sudah tahu. Di rumah sakit ini, kabar penting bergerak lebih cepat daripada rekam medis.

"Besok tetap saya pergi."

"Maka malam ini jangan mati gaya."

Kalimat itu terdengar seperti candaan, tetapi mata Pak Bambang serius.

Operasi dimulai sebelum tengah malam.

Begitu rongga perut dibuka, bau infeksi langsung keluar. Bagian usus yang terkena tumor tampak rapuh, sebagian bocor, cairan kontaminasi menyebar. Kondisinya buruk, tetapi belum terlambat sepenuhnya.

Rangga bergerak cepat.

"Suction. Irigasi hangat. Klem atraumatik."

Teknik Kelas Internasional cukup untuk menuntunnya.

Tetapi berbeda dari dulu, ia bisa merasakan jarak kecil antara bantuan sistem dan keputusan tangannya sendiri. Dulu pengetahuan sistem seperti arus sungai yang membawa gerakannya. Sekarang seperti peta yang baik, tetapi tetap menuntut ia memilih jalur.

Ia tidak membencinya.

Justru ada sesuatu yang terbangun di dadanya.

Kewaspadaan.

Kesadaran bahwa ilmu yang dipinjam, kalau terus dipakai dengan benar, perlahan menjadi miliknya.

Operasi berlangsung dua jam lebih.

Bagian usus yang rusak diangkat. Rongga perut dibersihkan. Stoma sementara dibuat agar pasien punya waktu melewati infeksi dan menyusun rencana onkologi lanjutan.

Saat jahitan terakhir selesai, monitor tetap stabil.

Pak Bambang melepas napas panjang.

"Cukup bersih."

"Untuk operasi darurat, cukup."

"Kamu terdengar tidak puas."

"Karena kasusnya belum selesai. Kankernya masih perlu terapi lanjutan."

"Tapi malam ini dia hidup."

Rangga mengangguk.

Malam ini dia hidup.

Kadang kemenangan dokter memang hanya sebesar itu.

Ketika ia keluar dari ruang operasi, sistem kembali berbunyi.

[Check-in Normal selesai.]

[Evaluasi: stabilisasi darurat berhasil.]

[Catatan: Setelah pembukaan Jalan Kemandirian, level bantuan Check-in Normal disesuaikan menjadi Kelas Internasional.]

Rangga berhenti di lorong kosong.

Panel lain terbuka.

[Analisis riwayat tindakan selesai.]

[Terdeteksi operasi mandiri sebelumnya: reseksi jaringan otak nekrotik.]

[Kriteria Jalan Kemandirian terpenuhi.]

[Jalur Kemandirian tahap 1 — SELESAI.]

[Hadiah: Rp 200.000.000.]

[Dana telah ditransfer melalui Yayasan Dana Abadi Cakrawala.]

Rangga berdiri diam.

Babak pertama itu telah dimulai ketika sistem diam di ruang operasi otak dan ia tetap berkata, Saya lanjut.

Jadi sistem melihatnya.

Sistem hanya menilai tindakannya saat itu.

Rangga merasakan tengkuknya dingin.

Selama ini ia mengira sistem hanyalah alat.

Ternyata alat itu juga menguji.

[Jalur Kemandirian: 1/5.]

[Setiap 5 tahap akan membuka hadiah misterius.]

[Check-in Mandiri tersedia untuk kasus tertentu.]

Rp 200 juta masuk ke rekeningnya, tetapi angka itu tidak membuat dadanya bergerak.

Yang bergerak justru satu pertanyaan.

Hadiah apa yang menunggu setelah lima tahap?

Dan lebih penting lagi: seberapa jauh ia bisa berjalan tanpa tangan sistem memegangnya?

Di ruang istirahat, menjelang subuh, Rangga berbaring dengan mata terbuka.

Lampu kecil di langit-langit berwarna kuning pucat. Di luar, langkah perawat mulai jarang. Rumah sakit akhirnya mendapat beberapa menit yang hampir tenang.

Di kepalanya, panel sistem masih menyala.

Jalur Kemandirian: 1/5.

Rangga mengangkat ponsel.

Rina sudah mengirim alamat, foto hasil lab, ringkasan diagnosis, dan satu foto kecil Amelia.

Gadis kecil itu memakai kaus merah muda, kepala tertutup topi rajut, pipinya pucat, tetapi ia tersenyum ke kamera seperti tidak ingin membuat ibunya sedih.

Rangga menatap foto itu lama.

Besok, ia akan pergi menemui Amelia.

Ia menyimpan seluruh hasil pemeriksaan ke folder terenkripsi, lalu meminta Rina tidak memberi obat baru sebelum ia datang dan membawa daftar lengkap obat Amelia. Satu keputusan ceroboh dapat menutup peluang kecil yang masih dimiliki anak itu. Setelah pesan terkirim, Rangga mematikan layar dan menutup mata.

Dalam gelap, pertanyaan tentang Jalan Kemandirian belum hilang.

Lima tahap.

Apa yang akan terbuka setelah itu?

1
Hasan Basri
rangga sudah menunjukkan kemampuannya, tetap rendah hati, sukses rangga.
Hasan Basri
kagum untuk rangga, maju terus
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
berani pak Bambang ngerjain bosnya 😂😂😂
Setiawan
yoga biasa manggil abang rangga🤭🤭
Thewie
knp dokter Alya menghilang digantikan dokter Laras thor. padahal dokter Alya dr awal baik ke dokter rangga
Wega Luna
kehidupan seorang dokter yg tak pernah dilihat oleh mata netizen,dokter bukan tuhan ,💪
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
gile dari awal baca dibikin tegang terus euy 😂😂😂
Lesmana
waahhh smua yg sakit leukimia nanti jd gak perlu transplatasi sum2 tulang belakang lg👏👏👏
Setiawan
30 milyar gak ada apa2nya dibanding hadiah dr sistem tiap rangga ngobatin pasien cuyyy😄😄😄 malah lbh bermanfaat , tdk ada tekanan moral.. dr sistem dpt hadiah besar plus ilmu hebat😄😄
akang Solo
dengan ada pasien, bisa cair minimal 150 jt😄😄
Ita Xiaomi
🤣🤣🤣
Ita Xiaomi
Keren👍👍👍
Ita Xiaomi
👍👍👍
Ita Xiaomi
Rangga tdk pergi ke rumah sakit mewah. Dia membangun rumah sakit tempat awal dia datang 👍👍👍.
Ita Xiaomi
Iseng😁
Ita Xiaomi
Kode tuh 😁
Adinda Rahmadinah
keren
JJ opa
cerita yang bagus dan pastas menjadi top one👍👍
irena
luar biasa karyamu thor.. saya suka...
Ria Gazali Dapson
,ngeri juga yaa, d rs d dunia kesehatan, ternyata kumpulan orang² jahat, dunia penuh tipu muslihat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!