Seina dan Sora adalah saudari kembar yang dibuang oleh orang tua kandung mereka. Takdir membawa Seina diadopsi keluarga kaya, sementara Sora tumbuh dalam kemiskinan.
Diliputi iri hati, Sora berusaha merebut kehidupan adiknya. Namun, ambisinya berakhir tragis. Seina pun tewas setelah diracuni oleh kakaknya.
Ketika waktu berputar kembali, Seina memilih menyerahkan semua yang dulu menjadi miliknya.
"Kalau memang itu yang kau inginkan... ambillah semuanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Damar buru-buru duduk kembali. Ia menarik pandangannya dan tak lagi berani melotot ke arah Seina.
Melihat semua anaknya telah duduk dengan rapi, Yohan tersenyum tipis.
"Mulai hari ini, Seina adalah adik perempuan kalian. Ayah harap kalian semua menjaga dan menyayanginya."
Kemudian ia menoleh kepada Seina dan berkata, "Nak, Ayah akan mengenalkan kakak-kakakmu."
Yohan menunjuk satu per satu putranya, kemudian Seina segera menundukkan kepala dengan sopan dan memanggil mereka satu per satu seolah menunjukkan bahwa ia telah hafal dengan nama mereka.
Damar sempat mendengus pelan. Namun begitu menyadari ayahnya sedang menatapnya, ia buru-buru memperbaiki sikap.
"Ya... Adik."
Yohan menghela napas dalam hati. Ia tahu kelima putranya masih membutuhkan waktu untuk benar-benar menerima kehadiran Seina. Namun ia tidak khawatir.
Dulu, saat Arga pertama kali datang ke keluarga mereka, anak-anaknya juga sulit menerimanya. Lambat laun mereka justru menjadi saudara yang saling melindungi.
Ia yakin suatu hari nanti hal yang sama akan terjadi pada Seina. Tatapannya menyapu kelima putranya seolah memberi peringatan agar tidak bertindak macam-macam.
Seketika mereka semua menundukkan kepala.
"Baik, sekarang kita makan."
Meja makan keluarga Pratama cukup besar.
Meja itu dibuat sendiri oleh Yohan dari kayu yang ditebangnya di gunung, lalu dirakit oleh tukang kayu di desa. Kini, meski ditambah satu anggota keluarga lagi, meja itu masih terasa lapang.
Meski semua orang mulai makan, namun Seina belum juga mengangkat sumpit, hal itu bukan karena ia tidak lapar.
Hanya saja... Di kehidupan sebelumnya ia terbiasa menikmati hidangan terbaik di rumah keluarga Hartono dan kini yang tersaji di hadapannya hanyalah bubur sayur liar, roti kukus kasar, dan dua butir telur rebus.
Mira mengupas telur dengan sabar, lalu meletakkannya ke dalam mangkuk Seina.
Yohan pun menambahkan berbagai lauk sederhana hingga mangkuk kecil itu hampir penuh.
"Nak, makanlah yang banyak."
"Besok setelah Ibu pulang bekerja, Ayah akan membeli daging. Kita buat pangsit kesukaanmu."
Melihat Seina masih diam, Mira menyodorkan telur yang telah dikupas, melihat itu tak membuat Seina langsung menerimanya, ia malah menatap telur itu cukup lama.
Ia tahu betul keadaan keluarga Pratama.
Desa tempat mereka tinggal berada tak jauh dari ibu kota. Karena bukan penduduk asli desa, mereka tidak memiliki sebidang sawah pun.
Yohan bekerja sebagai pandai besi. Sementara Mira menjadi pembantu di rumah keluarga kaya. Di sela-sela waktunya, ia juga menerima pekerjaan menyulam untuk menambah penghasilan.
Semua uang itu hampir habis demi membiayai sekolah kelima putra mereka.
Dengan lima anak laki-laki yang sedang berada dalam masa pertumbuhan, pengeluaran makan saja sudah sangat besar.
Biasanya mereka hanya makan sayur liar dan roti kasar.
Daging hanya hadir saat hari raya. Bahkan telur rebus seperti ini pun termasuk makanan yang jarang mereka nikmati.
Hari ini semua makanan terbaik yang ada di rumah diberikan kepadanya.
Mengetahui fakta tersebut membuat mata Seina sedikit memanas.
"Ibu... makanlah."
Mira tertawa kecil.
"Ibu tidak suka telur. Kamu saja yang makan."
Yohan ikut mengangguk.
"Ayah juga tidak suka."
Seina tahu mereka sedang berbohong. Ia lalu menoleh kepada kakak-kakaknya.
"Kakak... silakan makan."
Kelima bersaudara itu saling berpandangan. Sebenarnya mereka sangat ingin mengambil telur itu. Namun tatapan ayah mereka begitu tajam hingga tak seorang pun berani bergerak.
Akhirnya mereka hanya menunduk dan mulai menghabiskan makanan di mangkuk masing-masing.
Seina memandang pemandangan itu dalam diam.
Di kehidupan sebelumnya, Selena Hartono tidak pernah mengizinkannya makan bersama keluarga.
Ia selalu makan sendirian di kamarnya, belum pernah ia merasakan suasana makan bersama seperti ini.
Perlahan rasa hangat memenuhi dadanya. Entah sejak kapan, bubur sayur liar yang semula tampak hambar justru terasa begitu nikmat.
Di sela-sela makan, Raka beberapa kali menyendokkan lauk ke mangkuk Seina dan Arga.
"Terima kasih, Kak," Seina tersenyum tulus dan merasa bahwa ia memang pantas menjadi kakak sulung.
Walaupun belum sepenuhnya menerima dirinya, Raka tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai kakak.
Diam-diam Seina mulai memandang kedua orang tua angkatnya dengan rasa kagum.
'Ayah... Ibu... Benarkah kalian hanya seorang pandai besi dan pembantu?'
Di kehidupan sebelumnya, seluruh putra keluarga Pratama tumbuh menjadi orang-orang luar biasa.
Kini ia mulai mengerti bahwa keberhasilan mereka bukanlah kebetulan melainkan karna didikan mereka.
cerita nya juga seru