Delapan tahun merajut kasih, hubungan Zacheriyya Tengiz dan Evander Vale-Knight hancur lebur dalam satu malam akibat pengkhianatan yang tak termaafkan.
Alih-alih menyesal, Evander justru menyebut tindakan kejamnya sebagai pembalasan ego yang setimpal atas kesalahan masa lalu.
Terluka dan murka, Zacheriyya pergi dengan sumpah tidak akan pernah memaafkan pria itu sampai ia mati.
Dua tahun berlalu dalam pelarian, takdir dengan kejam mempertemukan mereka kembali.
Rasa cinta yang dulu membara kini telah sepenuhnya bermutasi menjadi kebencian yang dingin dan mematikan. Pertemuan tak terduga ini seketika menyulut kembali sumbu dendam lama dan perang ego yang sengit di antara keduanya.
Mereka kini berdiri berseberangan sebagai dua mantan kekasih yang saling membenci setengah mati, siap saling menjatuhkan lewat tatapan tajam dan kata-kata berbisa.
Di tengah pusaran benci dan luka lama yang kembali menganga, siapakah yang akan hancur terlebih dahulu dalam permainan rasa yang berbahaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#15
Atmosfer di dalam kamar VIP itu mendadak menjadi begitu pekat, seolah oksigen telah dihisap habis oleh badai kebenaran yang baru saja meledak.
Zacheriyya Tengiz mematung di atas ranjang perawatannya. Sepasang matanya yang hazel menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong, namun di dalam kepalanya, jutaan memori kelam dan kenyataan baru yang menjijikkan saling berbenturan hingga menciptakan sakit kepala yang luar biasa.
Fakta bahwa Gabriella Margareth—wanita yang menghancurkan hubungannya dengan Evander dua tahun lalu—adalah mantan ibu tirinya sendiri, benar-benar meremukkan sisa-sisa kewarasan yang ia miliki. Dunia ini terasa begitu sempit, begitu kejam, dan dipenuhi oleh konspirasi takdir yang melankolis.
Melihat Cherry yang mendadak diam membeku bagai patung lilin tanpa riak emosi di wajahnya, kepanikan yang teramat sangat seketika menguasai Evander Vale-Knight. Pria itu mengabaikan keberadaan Theodore yang masih napasnya memburu penuh amarah, ia juga tidak lagi memedulikan Gabriella yang mematung di atas kursi rodanya.
Langkah kaki Evander bergerak cepat, merangsek mendekati sisi ranjang Cherry. Ia berlutut di sana, mencoba meraih kedua tangan Cherry yang terasa sedingin es.
"Cherry... Zacheriyya, lihat aku, kumohon..." panggil Evander dengan suara yang teramat parau, bergetar hebat oleh rasa takut yang luar biasa akan kehilangan wanita itu untuk selamanya.
"Gabriella ada di sini, sayang. Dia ada di sini untuk mendengarnya langsung. Demi Tuhan... demi sisa napas dan hidupku, bersumpah di hadapan-Mu, aku tidak pernah tidur dengannya malam itu! Aku tidak pernah menyentuh seujung kuku pun dari wanita ini!"
Evander mencengkeram jemari Cherry, menempelkannya pada pipinya yang basah oleh air mata penyesalan. "Percaya padaku, Cherry. Malam itu aku hanya dikuasai oleh kegilaan dan ego yang hancur karena cemburu. Aku menyewanya... aku sengaja membayarnya hanya untuk bertingkah seolah-olah kami memiliki hubungan, hanya untuk membuatmu cemburu dan terluka karena egoku yang berengsek. Tapi tidak ada yang terjadi di antara kami! Kamar hotel itu adalah sandiwara terkutuk yang kusut! Demi Tuhan, percaya padaku..."
Mendengar rentetan kalimat keputusasaan yang keluar dari mulut pria yang dulu sangat dipujanya, Cherry perlahan mengalihkan pandangannya. Ia menatap Evander dengan mata hazel-nya yang dingin, tidak ada lagi binar cinta, tidak ada lagi amarah yang meledak-ledak. Yang tersisa hanyalah kekosongan yang teramat ketus dan melelahkan.
Cherry menarik tangannya dengan sentakan pelan namun tegas dari genggaman Evander. Ia membuang muka, mendengus sinis dengan nada suara yang teramat datar.
"Aku tidak peduli, Evander," jawab Cherry ketus, setiap suku katanya terasa seperti bilah es yang menusuk langsung ke jantung pria di hadapannya. "Aku sama sekali tidak peduli dengan semua dongeng atau kebenaran malam hotel itu sekarang. Mau kau menidurinya sampai seribu kali, atau mau kau hanya menjadikannya patung di atas ranjangmu, itu bukan lagi urusanku. Kita sudah usai dua tahun yang lalu. Kisah lama dan basi apa yang sedang kau bahas sekarang, hm? Semuanya sudah terlambat."
Evander terdiam seketika. Tubuhnya membeku dalam posisi berlutut.
Jawaban ketus dan dingin dari Cherry terasa lebih menyakitkan daripada hantaman fisik saat mobil balapnya menabrak dinding pembatas sirkuit.
Pria itu mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan, sebuah gerakan mekanis yang lahir dari rasa frustrasi dan penolakan batin yang mendalam. Ia sedikit menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga rasa anyir darah samar terasa di lidahnya, menahan bendungan air mata yang siap runtuh lagi.
Evander menatap lurus ke dalam manik mata wanita yang teramat dicintainya itu. Ingatan pria itu mendadak ditarik pada memori delapan tahun lalu di atas bukit kelulusannya—tentang janjinya sendiri yang mengatakan bahwa jika mereka berpisah, ia tidak akan pernah bisa mencintai Cherry dengan cara yang sama, dan menyarankan agar Cherry tidak menerimanya lagi.
Sebuah pemikiran mendadak melintasi benak Evander, membuat dadanya berdenyut linu.
"Kau... kau bertingkah seperti ini karena kata-kataku di masa lalu, bukan?" bisik Evander dengan suara yang pecah, menatap Cherry dengan tatapan yang sarat akan kerapuhan jiwa. "Kau takut... kau takut aku tidak lagi bisa mencintaimu seperti cara aku mencintaimu di masa lalu, Cherry? Itu kenapa kau bertingkah sekaku ini sekarang? Itu alasanmu tidak mau mempercayai sumpahku, dan berusaha acuh atas semua perhatian yang kuberikan sejak kemarin?!"
Evander meremas kain seprai di dekat paha Cherry, mendongak dengan wajah yang hancur. "Demi Tuhan, sayang... dengarkan aku. Aku salah. Kata-kataku delapan tahun lalu adalah kebodohan remaja yang tidak tahu apa-apa tentang hidup. Cintaku padamu tidak berkurang sedikit pun. Justru selama dua tahun perpisahan kita, saat aku mengira kau mengkhianatiku, cintaku justru tumbuh berkali-kali lipat hingga membuatku gila! Aku mencintaimu lebih dari nyawaku sendiri sekarang, Zacheriyya!"
Di dekat pintu, Gabriella yang sejak tadi menyaksikan bagaimana Evander merendahkan seluruh harga dirinya di depan Cherry, mendadak dirayapi oleh rasa tidak aman dan kecemburuan yang membakar dadanya. Dengan wajah yang memerah padam, ia menunjuk perutnya yang membuncit ke arah Evander, lalu berteriak dengan nada tajam yang memotong kalimat pria itu.
"Tapi aku sedang hamil anakmu, Evander!!!" jerit Gabriella histeris, mencoba mengembalikan fokus pria Knight itu pada dirinya. "Kau tidak bisa membuangku begitu saja! Anak di dalam kandungan ini adalah darah dagingmu!"
"SHUT UP, BRENGSEK!" Evander mendadak berdiri, memutar tubuhnya dan berteriak dengan suara mengguntur yang membuat seisi ruangan bergetar. Sepasang matanya memancarkan kilat membunuh yang begitu pekat ke arah Gabriella. "Kalo saja kau bukan kakak kandung dari kakak iparku... kalo saja darahmu tidak terikat dengan keluarga kakakku, aku bersumpah aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri hari ini juga atas semua kebohongan dan kekacauan yang kau buat! Keluar dari sini sebelum aku kehilangan kendali manusiaku!"
Gabriella gemetar hebat mendengar ancaman murni dari Evander, namun egonya yang terluka membuatnya tetap bertahan di atas kursi rodanya. "Kau akan menyesal melakukan hal sekejam ini padaku, Evander Vale-Knight! Kau akan menyesal!"
"Aku akan jauh lebih menyesal seumur hidupku jika tidak mengusirmu dan membersihkan nama sialanmu dari hidupku sekarang juga! Keluar!" balas Evander dengan bentakan yang tak kalah kasar.
Suasana ruangan menjadi semakin kacau oleh adu mulut dan ketegangan yang meranggas. Theodore yang berdiri di dekat sana pun tampak bersiap melayangkan makian berikutnya pada mantan istri mudanya itu.
Rasa muak dan lelah yang luar biasa mendadak mencapai puncaknya di dalam dada Zacheriyya Tengiz. Jiwanya yang terluka tidak sanggup lagi menampung drama menjijikkan yang dipentaskan di kamar perawatannya.
"Kalian semua... keluar!" ucap Zacheriyya dengan nada suara yang meninggi, memotong semua keributan dengan ketegasan yang mutlak dari seorang agen EOD yang sedang berada di batas kesabarannya.
Deg.
Evander menoleh dengan cepat, wajahnya menegang. Begitu pula dengan Theodore yang langsung mematung di tempatnya berdiri.
"Tapi, Cherry... Ayah baru saja datang untuk membelamu, nak—" Theodore mencoba memprotes dengan nada suara yang melunak, menatap putrinya yang selama ini terabaikan oleh intrik rumah tangganya yang kelam.
"Ayah juga keluar," potong Zacheriyya tanpa belas kasihan, matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar, menolak memberikan ruang bagi siapa pun untuk memberikan pembelaan palsu malam ini. "Aku ingin sendiri. Keluar sekarang juga dari kamarku. Semuanya tanpa terkecuali."
Keheningan yang dingin dan mutlak kembali jatuh menaungi ruangan itu, menyisakan tiga orang dewasa yang terpaku dalam penyesalan masing-masing di hadapan satu jiwa yang telah meranggas hancur.
omg evander aku padamu😘😘
gemes deh ama merka berdua