NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Zombie / Misteri / Horor
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: novelisnewbie

Arga mati di tangan zombie Tier 7 setelah 10 tahun bertahan di kiamat. Namun, dia terbangun kembali ke 30 hari sebelum wabah Necrovirus Sapiens melanda dunia. Di tubuhnya yang masih muda dan lemah, dia membawa pengetahuan 10 tahun: lokasi kejadian penting, resep ramuan awakener, cara membuat senjata tier tinggi, dan nama-nama pengkhianat yang akan menghancurkan umat manusia.

Akankah Arga mampu mewujudkan impiannya? Ataukah Arga akan gagal kembali? Ikuti terus perkembangan ceritanya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novelisnewbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22: Jaring yang Mulai Menutup, Bayangan Omega, dan Sang Pemburu

30 Juni 2026 datang tanpa suara, tetapi di balik langit Indonesia yang masih tampak damai, sebuah perburuan berskala nasional baru saja dimulai. Orang-orang berangkat bekerja, anak-anak menuju sekolah, dan jalan raya kembali dipenuhi kendaraan seperti hari-hari biasa. Tak seorang pun menyadari bahwa di balik wajah normal dunia, dua kekuatan kini sedang saling memburu sebelum kiamat benar-benar membuka tirainya.

Di sebuah ruang konferensi bawah tanah yang tidak tercantum dalam peta mana pun, puluhan layar raksasa menyala serempak menampilkan laporan dari berbagai kota. Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Makassar, Balikpapan, hingga sejumlah cabang lain mengirimkan data operasi yang gagal satu demi satu. Seluruh laporan itu memiliki satu kesamaan yang membuat suhu ruangan terasa semakin dingin yaitu setiap kerugian selalu bermuara pada satu nama sandi yang sama.

Klik.

Seorang pria berambut perak menekan tombol di atas meja, lalu wajah Ghost Collector yang masih berupa siluet digital memenuhi layar utama. Tidak ada foto, tidak ada sidik jari, tidak ada rekaman wajah yang dapat diidentifikasi. Yang tersisa hanyalah rangkaian pola operasi, estimasi kemampuan, serta jejak energi aneh yang selalu menghilang sebelum dapat dianalisis sepenuhnya.

"Dia mengetahui lokasi gudang rahasia, laboratorium, bahkan jalur distribusi yang hanya diketahui personel tingkat tinggi," ucap seorang analis sambil menggeser data demi data di hadapan seluruh peserta rapat. Keningnya dipenuhi keringat meski pendingin ruangan bekerja maksimal. "Kemungkinan kebocoran internal mencapai tujuh puluh tiga persen."

Pria berambut perak menggeleng pelan tanpa mengalihkan pandangan dari peta digital yang dipenuhi garis merah. "Tidak," katanya singkat dengan suara datar yang langsung membungkam seluruh ruangan. "Kalau ini hanya kebocoran internal, dia tidak mungkin selalu datang beberapa langkah lebih cepat daripada kita."

Kesunyian kembali menyelimuti ruang rapat. Para petinggi saling bertukar pandang tanpa seorang pun berani menyela. Perlahan mereka mulai menyadari bahwa musuh yang mereka hadapi bukan sekadar pencuri berbakat, melainkan seseorang yang tampak mampu membaca setiap langkah mereka bahkan sebelum keputusan itu benar-benar dibuat.

Tak lama kemudian, layar utama berganti menampilkan daftar nama seluruh ilmuwan, teknisi, mantan peneliti, hingga personel keamanan yang pernah menangani proyek kristal. Perintah baru segera dikirim ke seluruh cabang agar setiap individu yang memiliki pengetahuan tentang kristal diperiksa ulang, sementara seluruh jalur komunikasi internal diawasi tanpa pengecualian. Bersamaan dengan itu, hadiah bernilai fantastis diumumkan secara rahasia bagi siapa pun yang berhasil menemukan identitas Ghost Collector, hidup ataupun mati.

Bip.

Satu demi satu terminal komunikasi menerima kode prioritas tertinggi. Dalam hitungan menit, jaringan intelijen Organisasi Hitam mulai bergerak seperti laba-laba yang baru menyadari ada mangsa besar merobek sarangnya. Agen-agen tidur di berbagai kota menerima misi baru, sementara sejumlah Awakener elit dipindahkan secara diam-diam tanpa diketahui pemerintah maupun militer.

Sementara itu, ratusan kilometer dari pusat rapat tersebut, Arga tengah melaju meninggalkan Surabaya melalui jalan tol yang mulai lengang. Cahaya matahari pagi memantul di kaca depan mobil, sementara ekspresinya tetap tenang seolah perjalanan itu hanyalah perjalanan bisnis biasa. Tidak ada yang mengetahui bahwa di balik jok belakang tersimpan sebagian hasil rampasan terbesar yang pernah menghantam Organisasi Hitam.

Sesampainya di sebuah rest area yang cukup sepi, Arga mematikan mesin mobil lalu memejamkan mata beberapa saat. Kesadarannya perlahan tenggelam ke dalam Ruang Dimensi yang kini terasa jauh lebih luas dibandingkan saat pertama kali ia menjadi Awakener. Ribuan peti logistik, generator, bahan bakar, obat-obatan, hingga kontainer penelitian tersusun rapi menyerupai sebuah kota bawah tanah yang sunyi.

Ia mulai memeriksa satu per satu hasil rampasan dari operasi Surabaya. Sebagian besar merupakan logistik yang memang sudah ia incar sejak awal, tetapi ada satu benda yang segera menarik perhatian Sensor Dimensinya. Di balik tumpukan peti bertanda material Project Genesis, tersembunyi sebuah brankas kecil berlapis logam gelap yang memancarkan resonansi berbeda dari benda-benda lainnya.

Denting.

Arga mengangkat brankas itu keluar dari Ruang Dimensi lalu meletakkannya di atas meja kayu rest area. Permukaannya dipenuhi pola geometris yang rumit, seolah sengaja dirancang agar mustahil dibuka secara paksa. Ia mengamati setiap sudutnya dengan sabar sebelum menyentuhkan aliran energi Awakener ke celah-celah logam tersebut.

Klik.

Kunci berlapis magnet perlahan terlepas, disusul suara mekanisme internal yang berputar pelan. Tutup brankas terbuka beberapa sentimeter, memperlihatkan setumpuk dokumen kedap air, beberapa chip penyimpanan data, serta sebuah tabung logam tipis yang menyimpan gulungan peta.

Jantung Arga berdegup sedikit lebih cepat ketika membuka dokumen pertama. Isinya bukan laporan eksperimen seperti yang ia duga, melainkan daftar fasilitas penelitian yang tidak pernah muncul dalam hard drive Sektor-9. Nama-nama lokasi itu tersebar di berbagai provinsi dengan sistem pengamanan yang jauh lebih tinggi dibandingkan laboratorium yang telah ia serang selama ini.

Semakin banyak halaman yang ia baca, semakin berat napasnya. Beberapa nama ilmuwan inti Project Genesis tercatat lengkap beserta jalur perpindahan mereka, tetapi satu bagian membuat tangannya berhenti bergerak. Di sudut bawah peta terdapat tulisan sederhana dengan tinta hitam pekat yang cukup membuat seluruh ingatan kehidupannya di masa depan seakan bergetar.

Kompleks Omega.

Nama itu sama sekali asing baginya. Dalam sepuluh tahun bertahan hidup di masa depan, Arga pernah mendengar ratusan markas rahasia, laboratorium bawah tanah, hingga benteng militer yang berubah menjadi sarang monster. Namun Kompleks Omega tidak pernah sekali pun muncul dalam sejarah yang ia ketahui.

"Itu berarti..." gumamnya lirih sambil menatap peta yang terbentang di atas meja. Sorot matanya perlahan berubah semakin tajam. "Semua tempat yang selama ini kuserang... mungkin hanya cabang."

Kesimpulan itu membuat tengkuknya terasa dingin. Selama ini ia mengira telah memukul pusat penelitian Organisasi Hitam, padahal kemungkinan besar ia baru menggores lapisan terluarnya saja. Jika benar masih ada pusat utama yang bahkan tidak tercatat dalam ingatan masa depannya, maka musuh yang sesungguhnya jauh lebih besar daripada seluruh perkiraannya.

Dengan hati-hati Arga menyimpan kembali seluruh dokumen ke dalam brankas. Kali ini tidak ada rasa puas seperti setelah operasi Surabaya. Yang tersisa hanyalah kesadaran bahwa papan catur yang selama ini ia lihat ternyata masih menyimpan banyak petak tersembunyi yang belum pernah disentuh siapa pun.

Menjelang sore, Arga akhirnya kembali ke kawasan perbukitan tempat vila miliknya berdiri. Begitu mobil memasuki gerbang sementara proyek, suara mesin berat langsung memenuhi udara. Debu beterbangan, para pekerja hilir mudik membawa material, sementara kendaraan konstruksi bergerak tanpa henti layaknya koloni semut raksasa yang sedang membangun sarang.

Dug. Dug.

Palu hidrolik menghantam pondasi beton berulang kali hingga gema suaranya menjalar ke seluruh lereng bukit. Beberapa ekskavator masih menggali jalur tambahan menuju bunker bawah tanah, sementara rangka baja mulai menjulang membentuk kerangka benteng yang selama ini hanya ada di dalam bayangan Arga.

Direktur proyek segera menghampirinya dengan helm keselamatan yang telah dipenuhi debu semen. "Pak Arga, pekerjaan jauh lebih cepat dari jadwal," katanya sambil menyerahkan tablet berisi perkembangan proyek. "Tim malam juga sudah ditambah sesuai permintaan Bapak. Kalau cuaca mendukung, struktur utama selesai lebih cepat."

Arga mengangguk pelan sambil memandang bunker yang kini mulai memperlihatkan bentuk akhirnya. Lorong penyimpanan logistik telah selesai di cor, ruang generator hampir rampung, dan pagar baja setinggi beberapa meter mulai mengelilingi seluruh kawasan. Gambaran benteng yang dahulu hanya menjadi harapan di kehidupan sebelumnya perlahan berubah menjadi kenyataan yang dapat disentuh.

Ia melangkah memasuki bunker yang masih dipenuhi aroma semen basah. Ruangan itu memang belum terisi, tetapi ukurannya cukup luas untuk menampung sebagian besar persediaan yang telah ia kumpulkan selama beberapa minggu terakhir. Setelah memastikan tidak ada pekerja di sekitar, Arga membuka Ruang Dimensi secara perlahan.

Wuussh.

Beberapa peti makanan, air minum, obat-obatan, baterai, dan perlengkapan medis muncul berurutan memenuhi sebagian ruangan. Ia sengaja tidak mengeluarkan seluruh persediaannya sekaligus. Sebagian besar tetap disimpan di dalam Ruang Dimensi sebagai cadangan bergerak, sementara bunker hanya diisi secukupnya agar siap digunakan kapan pun keadaan memaksanya.

Melihat peti-peti logistik mulai memenuhi ruangan yang baru selesai dibangun, Arga merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sejak kembali ke masa lalu. Untuk pertama kalinya, ia memiliki tempat yang kelak dapat melindungi orang-orang yang ingin ia selamatkan. Namun pada saat yang sama, ia juga menyadari bahwa benteng sekuat apa pun tidak akan cukup jika Organisasi Hitam tetap berkembang tanpa hambatan.

Menjelang senja, Arga kembali berdiri di halaman vila. Dari ketinggian bukit, lampu-lampu Jakarta mulai menyala satu demi satu, tampak begitu indah hingga sulit dipercaya bahwa kota itu akan berubah menjadi lautan kematian hanya dalam hitungan hari. Ia mengepalkan tangan perlahan sebelum akhirnya berbalik meninggalkan lokasi proyek dengan tekad yang semakin bulat.

Di tempat lain yang jauh lebih sunyi, sebuah fasilitas militer tua di pinggir landasan udara membuka hanggar bawah tanah yang selama bertahun-tahun tersembunyi dari dunia luar. Beberapa petinggi Organisasi Hitam berdiri berjajar menunggu kedatangan seseorang yang bahkan tidak pernah mereka panggil kecuali dalam keadaan paling genting.

Menderu.

Suara mesin pesawat memenuhi langit malam ketika sebuah jet kecil mendarat perlahan di landasan. Tangga logam diturunkan, lalu seorang pria bertubuh tinggi melangkah keluar sambil membawa koper hitam di tangan kirinya. Wajahnya tampak biasa, nyaris tanpa ciri khas, tetapi sorot matanya bergerak perlahan mengamati sekitar seperti seekor pemangsa yang baru memasuki wilayah perburuan.

Pria berambut perak menyambutnya tanpa basa-basi. "Targetnya sulit ditemukan," katanya pendek. "Dia selalu menghilang sebelum tim kami tiba."

Pendatang itu tidak langsung menjawab. Ia hanya mengambil berkas bertuliskan Ghost Collector, membacanya sekilas, lalu menutup map tersebut dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Sorot matanya tetap tenang, tetapi justru ketenangan itulah yang menghadirkan ancaman jauh lebih besar daripada luapan amarah.

"Kalian terlalu sibuk mengejar bayangannya," ucapnya pelan sambil melangkah meninggalkan landasan. Angin malam menerbangkan ujung mantelnya, sementara langkahnya tidak menunjukkan sedikit pun keraguan. Ia berhenti sejenak, mengangkat pandangan ke arah langit Indonesia yang mulai diselimuti awan gelap, lalu melanjutkan dengan nada dingin yang penuh keyakinan.

"Kalau Ghost Collector bersembunyi di mana pun..."

"...aku akan menemukannya."

1
arya_v2
lanjutkan terus ceritanya💪🏻
Rene
kalo dia mau jadi Awakener seharusnya gak terlalu butuh obat"an biasa kan?
Rene
ada cctv🤭
Rene
harusnya dikutil aja dikit dikit🤭 kan punya ruang dimensi
novelisnewbie: sikap macam apa itu, nanti kena pelanggaran kalo ngutil barang umum, tapi kalo ngutil punya villain gpp sih🤣
total 1 replies
Rene
kalo ngomong paling dibilang orang gila🤣
Rene
buat top up🤭
Rene
jelas lah bjir, cuma sebulan, bisa apa🤭 apalagi posisinya kismin
Rene
nah, mending bantai aja mereka dulu, mumpung masih jadi cunguk🤭
Rene
ya gak papa mau nagis lagi juga🤭
Rene
subrek, mungkin aku bakal ngikutin seri ini, soalnya lagi nulis genre kiamat juga🤭 semangat thor
Rene: siap💪
total 2 replies
Rene
mampir dulu🤭
Blueria
mantap, latar Indonesia 💪
novelisnewbie: iyaa karena saya udah muak sama pemerintah jadi saya buat aja genre kiamat biar kalang kabut tuh pemerintahnya wkwk, btw terimakasih banyak semoga betah👍
total 1 replies
adib
bagus..
novelisnewbie: terimakasih banyak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!