NovelToon NovelToon
Ponsel Dewa Si Reno

Ponsel Dewa Si Reno

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Komedi / Romansa
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Berbekal ponsel hitam tanpa merek dengan AI yang sangat sarkastis, Reno mendadak menjadi peretas paling dicari oleh komplotan mafia teknologi. Di tengah pelarian yang menegangkan, Reno tidak hanya harus menghindari peluru, tetapi juga harus menahan malu karena asisten digital di ponselnya yang justru sering menjebaknya dalam situasi paling absurd

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Lampu Hijau Cinta

Angka sepuluh berukuran besar mendominasi antarmuka layar ponsel hitam tersebut, menghitung mundur secara otomatis tanpa memberikan jeda toleransi sedikit pun bagi kelangsungan hidup Reno.

Otaknya mendadak buntu total, gagal menemukan korelasi logis antara meretas fasilitas umum jalan raya dengan ancaman hukuman fisik pada area paling vital di tubuhnya.

{Ini pasti gila, mesin laknat ini benar-benar berniat menghancurkan sisa-sisa harga diriku sebelum aku sempat memperbaiki rekor percintaanku yang mengenaskan!}

Angka di layar terus menyusut cepat menjadi delapan, membuat lutut pemuda kurus itu saling beradu saking hebatnya getaran panik yang kini melanda sistem saraf motoriknya.

Jari telunjuk tangan kanannya mengambang kaku di atas permukaan kaca, ragu-ragu untuk menekan sebuah kotak eksekusi virtual yang baru saja muncul tanpa perintah.

Peringatan mekanis dari Siri-usly kembali menggema, menembus langsung ke dalam sistem pendengarannya dengan nada ancaman yang dirancang khusus untuk mengintimidasi mental target.

Reno memejamkan mata rapat-rapat, mengumpulkan seluruh sisa keberanian rapuhnya untuk sekadar menjatuhkan beban ujung jarinya ke atas layar sentuh yang terasa sangat dingin tersebut.

Ujung jarinya menekan ikon eksekusi itu secara sembarangan tepat saat angka hitung mundur di layar menyentuh titik kritis pada hitungan ketiga.

Detik berikutnya, bunyi derit panjang dari rem ban mobil yang bergesekan paksa dengan aspal terdengar saling bersahutan secara mengerikan dari arah persimpangan jalan raya.

Reno membuka kelopak matanya dengan sangat perlahan, mengintip ngeri ke arah tiang rambu penunjuk arah yang berdiri menjulang di tengah perempatan jalan besar tersebut.

Fasilitas pengatur jalan itu baru saja mengalami malfungsi sistem yang sangat fatal, menampilkan tanda jalan untuk terus melaju secara serentak dari empat arah yang saling bersilang.

Puluhan kendaraan dari berbagai sisi persimpangan melaju bersamaan menuju satu titik tengah, menyangka bahwa mereka semua memiliki hak jalan yang sah pada detik yang sama.

Klakson dari berbagai jenis kendaraan mulai berbunyi bersahut-sahutan, menciptakan gelombang polusi suara yang luar biasa memekakkan telinga para pejalan kaki di trotoar.

Reno mengusap dadanya sendiri menggunakan telapak tangan kiri yang masih bergetar, merasa sangat lega karena masa depan kelaki-lakiannya masih berhasil diselamatkan hari ini.

{Aku baru saja membuat seluruh pusat kota lumpuh total hanya demi menghindari setruman lokal dari sebuah telepon genggam tak bermerek.}

Perempatan itu benar-benar mengunci pergerakan lalu lintas secara sempurna, tidak ada satu pun kendaraan yang memiliki ruang gerak bebas walau hanya untuk bergeser beberapa sentimeter saja.

Reno berdiri mematung kaku di tepi trotoar, memandangi hasil karya sabotase digital dadakannya dengan mulut sedikit terbuka karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Suara Siri-usly kembali menyela isi kepala Reno, memecah keheningan batinnya dengan nada mekanis yang terdengar sangat merendahkan kapasitas intelektual manusia.

"Tutup corong suaramu, aku bisa dijebloskan ke penjara dengan keamanan maksimum kalau sampai ada petugas hukum yang tahu aku biang keladi di balik semua ini!"

Reno berbisik sangat pelan dan panik ke arah bawah, mendekatkan wajahnya ke layar ponsel sambil sesekali melirik curiga ke sekeliling trotoar yang mulai dipenuhi pejalan kaki.

Penjelasan bernada tinggi hati tersebut sedikit berhasil meredakan ketegangan otot di bahu Reno, meskipun rasa bersalah karena memicu kemacetan gila ini masih tersisa jelas di hatinya.

||||

Pandangan Reno menyapu bosan deretan mobil yang terjebak di jalur paling kanan, lalu terhenti secara mendadak pada satu titik spesifik yang sangat menarik minatnya.

Sebuah mobil sport keluaran Eropa dengan cat merah mencolok tampak terjepit tak berdaya di antara dua mobil minibus angkutan barang.

Reno sangat mengenali spesifikasi eksterior mobil sport tersebut, karena kendaraan mewah itu selalu terparkir dengan posisi memakan dua lahan parkir sekaligus di halaman depan Universitas Megantara.

Itu adalah kendaraan kebanggaan mutlak milik Dika, musuh bebuyutan alaminya sekaligus saingan terberatnya dalam memperebutkan satu-satunya bunga pujaan yang paling populer di kampus mereka.

Dika adalah definisi berjalan dari sebuah ketidakadilan nasib, seorang pemuda berwajah sangat tampan dengan saldo rekening tak terbatas yang tidak pernah memusingkan tunggakan uang kos bulanan.

Seorang gadis melangkahkan kaki jenjangnya keluar dari dalam kabin berlapis kulit mewah tersebut melalui pintu hidrolik yang baru saja terbuka ke arah atas.

Reno mematung seketika, jantungnya yang baru saja berdetak pada kecepatan normal kini kembali memompa darah dengan ritme yang melompat jauh melampaui batas kewajaran medis.

Gadis berpenampilan rapi itu adalah Luna, mahasiswi berprestasi tingkat akhir yang selama ini diam-diam selalu berhasil memonopoli seluruh ruang imajinasi di dalam kepala Reno.

Luna mengenakan kemeja putih berlengan panjang yang dipadukan secara pas dengan celana kulot berwarna krem, menampilkan kesan keanggunan alami yang sangat memikat mata siapa pun.

{Bidadari kebanggaan kampus kita sedang turun ke jalanan kotor ini, pantas saja lapisan aspal yang keras ini tidak langsung retak saat menahan beban kesempurnaan langkahnya.}

Reno menelan ludah kasarnya berkali-kali, seketika melupakan statusnya sebagai pria jomblo mengenaskan yang baru saja ditolak mentah-mentah untuk kesembilan puluh sembilan kalinya.

Gadis idaman jutaan umat itu berdiri tegak di samping pintu mobilnya, melipat kedua tangan di depan perut sambil menatap pasrah ke arah antrean kendaraan yang mengular panjang.

"Ini bisa memakan waktu berjam-jam lamanya, aku harus segera menyerahkan draf tugas akhir ini ke meja dosen pembimbing sebelum gedung fakultas utama dikunci rapat."

Suara Luna yang terdengar melengking pelan menembus keriuhan suara mesin jalanan, membawa nada kekesalan yang sangat mudah ditangkap oleh telinga siapa saja.

Seorang pemuda berpenampilan necis dengan gaya rambut yang disisir sangat rapi memunculkan kepalanya dari balik setir kemudi mobil sport merah tersebut.

"Masuklah dulu ke dalam kabin, debu jalanan ini pasti akan segera bersih begitu ada petugas lalu lintas yang datang menertibkan kekacauan ini."

Dika membalas ucapan Luna dengan nada membujuk yang sok manis, tangannya yang berhiaskan jam tangan logam edisi terbatas memukul bantalan setirnya dengan sedikit rasa frustrasi.

"Aku bisa berjalan kaki saja dari titik ini sampai ke halte depan untuk mencari ojek pangkalan terdekat, jaraknya juga tidak akan memakan waktu terlalu lama kok."

Luna membalikkan badannya dengan cepat, berniat untuk melangkah menyusuri celah-celah aspal sempit di antara mobil-mobil yang saling berdempetan tersebut.

"Jangan keras kepala begitu, sangat berbahaya bagi seorang wanita berjalan kaki di tengah jalan raya yang sedang kacau balau begini."

Dika terus berusaha menahan niat Luna agar tetap berada di dekat pintu mobilnya, menunjukkan sebuah sikap posesif tersembunyi yang sangat memuakkan bagi Reno dari kejauhan.

Reno yang sedari tadi terus mengamati interaksi sepihak tersebut dari atas batas trotoar mulai merasakan letupan rasa cemburu yang menggerogoti logika waras di kepalanya.

{Bisa-bisanya pria sombong tak berotak itu mencoba mengatur hidup Luna layaknya sebuah barang koleksi pajangan yang harus selalu dikurung di dalam mobil mewahnya.}

Tangannya yang sedari tadi terus memegang erat sisi bodi ponsel misterius itu tanpa sadar mulai memberikan tekanan ekstra, menyalurkan emosi negatifnya yang tidak bisa dilampiaskan.

||||

Reno sama sekali tidak menyadari bahwa antarmuka layar sentuh di dalam genggamannya belum kembali ke mode siaga sejak proses sabotase tiang rambu jalan tadi selesai.

Modul pemindai kamera belakang ponsel itu masih dalam status aktif memantau, dan kini posisinya secara tidak sengaja terarah lurus ke moncong mobil sport merah milik Dika.

Kotak penanda target berwarna kuning di layar ponselnya kembali berkedip merespons jarak, menangkap bentuk gril depan kendaraan mewah itu dengan kalkulasi yang sangat akurat.

Suara notifikasi bernada datar dari Siri-usly sama sekali tidak terdengar oleh Reno yang saat ini sedang sibuk mengagumi siluet tubuh Luna dari jarak pandang yang cukup jauh.

Fokus utama kedua matanya benar-benar tersita habis oleh gerakan bibir Luna yang sedang berdebat sengit untuk mempertahankan pendapatnya di tengah jalan raya tersebut.

Ujung jari telunjuk Reno yang menempel di layar tergelincir masuk memberikan tekanan yang tidak disengaja, mendarat tepat di atas deretan kode eksekusi yang langsung mengirimkan sinyal perintah akhir.

Reno tersentak kaget ke dunia nyata saat bodi ponsel di tangannya tiba-tiba bergetar singkat, menyadarkannya dari lamunan panjang yang tidak berguna tentang mahasiswi di seberang sana.

Ia menunduk bingung menatap layarnya yang kini menampilkan gambar sketsa kasar kerangka mobil sport, lengkap dengan sebuah grafik volume audio yang tertahan di posisi batas maksimal.

Nada musik bernuansa sangat ceria namun luar biasa mengganggu tiba-tiba meledak keluar dari dalam kap depan mobil sport merah milik Dika tanpa peringatan awal.

Lagu elektronik anak-anak tentang keluarga ikan hiu mengalun sangat keras, menenggelamkan seluruh keriuhan jalan raya dengan lirik cerianya yang terus berulang tanpa ampun.

Bunyi klakson yang sudah diretas sepenuhnya oleh sistem operasi ponsel Reno itu memutar nada tersebut secara konstan tanpa memberikan jeda teknis sama sekali.

Luna langsung melompat mundur selangkah dengan raut wajah kebingungan, terkejut bukan main mendengar mobil mewah di sampingnya tiba-tiba menyanyikan lagu balita pengantar tidur dengan sangat nyaring.

Seluruh pengendara lain yang tadinya sibuk mengeluhkan nasib kemacetan mereka kini serentak menoleh ke arah mobil Dika, mencari sumber suara konyol yang sangat merusak suasana tegang itu.

Dika yang terkurung di balik kemudi terlihat memukul-mukul bantalan setirnya dengan panik tingkat dewa, mencoba setengah mati untuk mematikan konser tunggal klaksonnya yang sangat menjatuhkan wibawanya.

Wajah pemuda pewaris harta kekayaan itu memerah padam hingga ke telinga, menyadari sepenuhnya bahwa ia kini menjadi pusat perhatian dan bahan tertawaan gratis bagi ratusan orang di persimpangan.

Reno mematung membeku di atas trotoar dengan mulut terkunci rapat, menatap jari telunjuknya sendiri seolah anggota tubuhnya itu baru saja melakukan sebuah tindak pidana yang sangat serius.

Ia menatap layar ponsel pintarnya sekali lagi dengan mata membelalak, berharap dalam hati bahwa sistem konyol ini tidak memiliki tombol rahasia untuk meledakkan bodi mobil musuhnya di tengah jalan.

1
M Amir
kurang greget aghhh
Khusus Game: gigit...kurang gereget mah.
total 1 replies
Aisyah Suyuti
good
Dragonovic#
let's gooooo
semoga happy ending thor jangan bad ending im already tired for bad ending
Khusus Game: siappp. Abang first komen, LANGSUNG SAJA, ACC.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!