Menjadi mahasiswa Arsitektur semester tiga dan aktif dalam kegiatan himpunan sudah cukup menguras energi Gea. Kehadiran Jay yang manis terasa seperti tempat peristirahatan di tengah penatnya kegiatan. Pertama kali menjalin kasih, Gea fikir akan berjalan mulus, penuh rasa menggelitik, dan menyenangkan. Namun, kisah romansanya tidak berjalan mulus seperti yang dia bayangkan.
Kecemburuan dan kekangan dari Jay terasa semakin menyesakkan. Kuliah di jurusan yang di dominasi oleh pria, Gea tidak bisa bebas berinteraksi dengan pria, bahkan dengan sahabat dan sepupunya sendiri. Membuat keretakan dan hubungan mereka pun harus kandas.
Saat Gea tidak berpikir untuk menjalin hubungan baru, atau membuka hatinya untuk orang baru, dia dipertemukan dengan seseorang yang menawarkan kenyamanan yang berbeda. Seseorang yang hadir tanpa menuntut.
Bisakah Gea melepaskan luka masa lalunya dan menyambut dengan utuh seseorang yang datang di waktu yang dia tak sangka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEKAN OLAHRAGA - Part 2
Di tengah-tengah kesibukan yang padat sebagai panitia orientasi himpunan, Gea
menikmati pekan olahraga yang bagai embusan angin sore yang menyegarkan. Kegiatan ini
menjadi hiburan menyenangkan di tengah-tengah tumpukan tugas kuliah yang menyiksa.
Jurusan Arsitektur sendiri mencetak prestasi gemilang dengan berhasil masuk babak
seperempat final untuk semua cabang olahraga. Dikategori perempuan ada lomba voli dan lomba lari estafet, sedangkan untuk kategori pria ada lomba lari estafet, basket dan futsal.
Sore Senin ini, pertandingan basket babak perempat final dimulai. Sisi lapangan basket
indoor sudah dipenuhi penonton, baik dari jurusan Arsitektur maupun Hubungan Internasional yang sedang berlari di lapangan memperebutkan bola berwarna jingga.
Seruan dukungan untuk para pemain bergaung kencang memenuhi langit-langit gedung. Begitu juga dengan Gea, Nindy, Karin, dan Risa yang terus menyuarakan dukungan mereka untuk kelima pemain dari Arsitektur. Duel sengit antara Malik dari Arsi dan Lyon dari HI sangat terasa di lapangan. Dua sahabat lama dari SMA itu saling kejar-kejaran skor dan *show off their skill*.
Setelah melewati empat kuarter yang menguras fisik, pertandingan akhirnya dimenangi oleh tim Arsi dengan skor yang tak begitu jauh, 89-87, berkat tembakan dua angka di detik-detik terakhir oleh Malik.
“*Good game, dude*,” kata Malik berjabat tangan dengan Lyon, sahabat sekaligus lawan mainnya sore itu.
“Udah lama kita gak main seintens ini,” sahut Lyon mengatur napasnya. Malik pun terkekeh dan mengangguk setuju.
“Lo ikut UKM basket sih, Yon. Anak-anak sering banget kayaknya minta lo ikutan,” kata Malik
setelah mereka melangkah ke pinggir lapangan sembari menyeka keringat dengan handuk.
“Duh, sibuk,” jawab Lyon asal lalu tertawa.
“Anjir, alesan lo,” Malik ikut tertawa.
Begitu mereka sampai luar lapangan indoor basket itu, suara riuh rendah penonton langsung
menyambut Malik dan para pemain Arsi lainnya. Teman-teman sejurusan berbondong-bondng
memberikan selamat karena mereka resmi mengamankan tiket untuk bermain di babak final besok lusa.
Gea ikut menerobos kerumunan dan menghampiri Lyon. “Lo keren banget tadi mainnya!” puji Gea tulus pada pria tinggi itu.
“Thank you, anak kecil,” Lyon mengusak rambut Gea hingga berantakan.
Adegan akrab itu tentu saja tidak luput dari pandangan Jay yang sejak tadi berdiri di dekat sana. Detik itu juga, senyum yang sempat terbit di wajah Jay memudar total.
“Tangannya biasa aja dong, bro,” celetuk Jay dengan nada dingin.
Lyon tersentak sesaat, namun dengan cepat menguasai keadaan.
“Ets, santai-santai,” sahut Lyon sambil mengangkat kedua tangannya defensive. Pria itu kemudian beralih menatap Gea lagi. “Lo bawa motor gak hari ini?” tanya Lyon ke Gea.
“Bawa. Kenapa?”
“Nebeng, sih. Mobil gue lagi masuk bengkel.”
“Hayo. Tapi lo yang bawa ya,” putus Gea mudah.
“Iyalah, pake segala di omongin.”
“Jangan protes kalo kaki lo mentok,” ledek Gea lagi, mengingat kaki Lyon yang panjang untuk
motor Beat miliknya.
“Iya, astaga,” Lyon tertawa lebar.
Sementara keduanya asyik beradu argument, Jay memalingkan pandangan ke sembarang arah
dengan rahang mengeras dan berkata, “kayaknya ada ojol deh. Biar gak usah dikit-dikit nebeng
cewek orang,” sindir Jay dengan volume suara yang sengaja dikeraskan.
Kalimat tajam itu didengar oleh Lyon. Alih-alih terpancing emosi, Lyon justru hanya melemparkan senyum tipis ke arah Jay. Dalam hati dia berkata “anjir, ini orang kenapa deh? Sensi amat.”
“Heh, kenapa lo?” tanya Karin menyenggol lengan Lyon yang masih berdiri mematung,
sementara yang lain sudah mulai beranjak meninggalkan lokasi, “yuk, cabut.”
“Si Jay jealous sama gue deh, Rin,” bisik Lyon, jalan berdampingan dengan Karin menuju tempat parkir.
“Hah? Demi? Kok bisa? Ooh… gegara lo minta nebeng ya?” tebak Karin langsung tertawa.
“Emang dia gak tau gue sama Gea itu sepupuan? Terlebih rumah gua sama Gea itu tetanggaan?”
Lyon menggeleng-gelengkan kepalanya heran.
“Wah, kalo yang itu gue gak tau deh Jay udah dikasih tau apa belom,” jawab Karin santai.
“Bisa-bisa jadi pumi nih gue kayaknya,” gurau Lyon lagi sambil sambil tertawa lepas. Pumi adalah singkatan untuk public enemy.
Karin tertawa makin kencang dan berkata, “abis itu nama lo bakal naik di base kampus dengan
judul: Lyon jadi orang ketiga!” sahut Karin, membayangkan drama fiktif yang mungkin akan
diketik warna netizen X.
“Lo liat gak tadi mukanya? Udah sepet banget kayak anduk basah,” katanya asal, kembali membuat Karin tertawa.
Menariknya, kedekatan Lyon sore itu dengan Karin, membuat dunia maya ramai memperdebatkan kecocokan Lyon dengan Karin. Foto kebersamaan mereka kembali diunggah di akun base kampus. Di kolom komentar, netizen mendadak terbelah menjadi dua kubu: kubu yang mendukung Lyon dengan Karin dan kubu yang bersikeras kalau Lyon jauh lebih cocok bersanding dengan Gea.
...****************...
Keesokan harinya, Gea sudah ada di kelas. Ia duduk semeja dengan Malik, fokus mendiskusikan tugas kelompok mereka sebelum dosen masuk. Kelas yang awalnya sepi pun mulai ramai oleh mahasiswa lain.
Tak lama, Jay datang bersama Putri.Langkah kaki Jay mendadak melambat begitu matanya
menangkap pemandangan itu. Putri yang menyadari perubahan ekspresi itu sengaja menyenggol lengan Jay dengan sikunya, menggoda raut wajah sang sahabat yang langsung mendung seketika.
“Ge!” sapa Putri duduk di meja tepat samping meja Gea dan Malik.
“Hey, Put,” sapa Gea dengan nada riangnya.
“Ngerjain apa?” tanya Putri.
“PPT buat presentasi entar. Lo udah kelar?”
“Oh, udah-udah. Oh iya ya, kalian sekelompok ya.”
Sembari menyahut, Putri diam-diam melirik Jay. Rahang pria gempal itu tampak mengeras
sedari mereka menginjakkan kaki di kelas tadi.
“Tumben kamu belom kelar, Ya?” tanya Jay. Ia berusaha mati-matian menata nada suaranya agar terdengar setenang mungkin, namun Putri yang berada di dekatnya masih bisa menangkap aksen dingin yang terselip dari kalimat tanya itu.
“Gue yang telat ngasih bagian gue,” potong Malik tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.
“Ini udah tinggal digabungin aja kok materi-materinya,” tambah Gea meluruskan agar tidak terjadi salah paham.
“Kamu sekelompok sama siapa aja?” tanya Jay lagi. Kali ini dia langsung duduk di kursi depan
meja Gea.
“Aku, Malik, Nin, Ave, sama Biru. Kenapa, Ay? Tugas kelompok kamu udah kelar?”
“Udah,” sahut Jay pendek. Matanya tak lepas menatap bahu Malik dan Gea yang hampir
bersentuhan.
Menurut standar Jay yang sedang cemburu, posisi duduk mereka duduk terlalu dekat. Belum hilang rasa kesalnya melihat kedekatan Gea dengan Lyon kemarin, sekarang sudah
ditambah dengan Malik.
“Nah, beres! Lo entar yang presentasi ya, Mal,” ucap Gea lega setelah mengecek sekali lagi berkas presentasi kelompok mereka.
“Sip. Gue kantin dulu lah bentar, butuh asupan kopi. Lo mau nitip gak, Ge?” tawar Malik sembari merapikan barangnya.
“Gak deh, thank you, Mal.”
Malik melangkah meninggalkan kelas. Kini tinggal Jay masih duduk di bangkunya, menatap sang kekasih lekat-lekat dengan pandangan yang sulit diartikan.
“Kenapa sih, Ay?” tanya Gea lembut, menurunkan layar laptopnya agar bisa menatap Jay
sepenuhnya.
“Hm?” Jay memaksakan sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya, “gak apa-apa, Ya. Oh iya, nanti
aku tanding futsal oh.”
Gea terkekeh, “iya, Ay… kamu udah ingetin aku loh dari kemaren. Aku pasti dateng nonton, oke?”
Jay tersenyum mendengar jawaban itu, namun tatapan matanya masih mengunci Gea dengan
intensitas yang sama. Pintu batinnya berteriak ingin menanyakan soal Lyon dan desas-desus di
base kemarin, tapi ego dan rasa takutnya menahan semua kata itu di tenggorokan.
“Kamu…ada yang mau di omongin ke aku?” tanya Gea hati-hati. Kepekaan perempuan tidak bisa dibohongi, ia mendapati sorot mata Jay hari ini sangat berbeda dari biasanya.Jay menggelengkan kepalanya pelan. “Atau kamu ada yang mau diceritain ke aku?” pancing Gea lagi, mencoba memberikan ruang bagi
kekasihnya.
“Gak ada, Ya. Kenapa emangnya?” jay balik bertanya, berlagak bingung.
“Kamu natap aku gitu banget. Aku kira ada masalah atau kamu mau cerita apa gitu.”
Jay terkekeh pelan. Menepis semua kecamuk emosi di kepalanya, ia mengulurkan tangan untuk menggenggam jemari tangan Gea di atas meja, lalu berkata, “gak kok, gak ada apa-apa.
Cuma…lagi kangen aja sama pacar aku.”
Detik itu juga, pertahanan Gea runtuh. Pipi Gea memerah seketika di susul senyum manis yang
merekah lebar.
“Gombalnya bisaan banget,” sahut Gea salah tingkah, melupakan keganjilan sikap Jay beberapa menit yang lalu.
Jay ikut tersenyum melihat wajah merona Gea. Namun dibalik senyuman itu, ada rasa sesak yang kembali mengendap di dasar hatinya.
...****************...