NovelToon NovelToon
Misteri Kematian Bapak

Misteri Kematian Bapak

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Tumbal
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.

​Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.

​Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 - Kendali Gaib

​Malam usai pengumuman pernikahan itu berlalu bagaikan siksaan tanpa henti bagi Galang. Di bawah pendar remang lampu ruang tengah, suara gelak tawa Bayu yang membicarakan rencana masa depan warung terasa seperti jarum-jarum halus yang menusuk gendang telinganya.

Bagi Bayu, Pak Sapta adalah dewa penolong yang turun menyingkap tabir kemiskinan mereka. Namun bagi Galang, setiap senyuman dan usapan tangan Pak Sapta di pundak adik-adiknya adalah perhitungan mundur menuju kembalinya maut.

​Tepat pukul satu dini hari, tatkala seluruh rumah kembali terlelap, Galang melangkah ke teras depan. Angin malam Madiun bertiup kencang, membawa aroma daun jati basah bercampur sisa-sisa wangi asap tembakau mahal milik Pak Sapta yang masih tertinggal di tiang teras.

​Di sana, di atas bale-bale kayu yang menghadap ke jalan raya, Bayu sedang duduk bersedekap. Pria itu menatap lurus ke arah plang nama Warung Nasi Broto yang baru dipasang. Matanya berbinar, dipenuhi impian-impian manis yang ditanamkan oleh calon ayah tiri mereka.

​Galang berjalan mendekat, menyandarkan tubuhnya di tiang teras.

"Belum tidur, Mas?"

​Bayu tidak menoleh. Ia tersenyum tipis, menghembuskan napas panjang yang sarat akan rasa puas.

"Gimana bisa tidur, Lang? Otakku jalan terus. Pak Sapta tadi bilang, kalau warung ini stabil dalam enam bulan, dia mau belikan kita mobil bak terbuka buat angkut bahan masakan. Kita nggak perlu lagi kepanasan naik motor tua Bapak."

​Galang mengatupkan bibirnya rapat-rapar, menatap Bayu dengan campuran rasa kasihan dan frustrasi yang mendalam.

"Mas ... apa Mas Bayu beneran percaya sama Pak Sapta?"

​Bayu menoleh pelan, dahinya berkerut dalam.

"Maksudmu apa, Lang? Kan sudah berkali-kali kubilang, kalau bukan karena Pak Sapta, kita ini sudah jadi pengemis! Kamu lihat Ibu kan? Sejak Pak Sapta datang, Ibu mau keluar kamar, mau makan, warung buka lagi. Apa lagi yang mau kamu ragukan?"

​"Perangai Ibu berubah total, Mas! Ibu nggak pernah bersikap kayak begitu!" tegur Galang dengan suara ditekan serendah mungkin. "Dan Pak Sapta ... memangnya Mas nggak merasa aneh sama asal-usulnya? Kenapa dia tiba-tiba datang membawa uang belasan juta tepat di hari ke-120 setelah Bapak meninggal? Kenapa dia begitu kebelet mau menikahi Ibu dan mengambil alih posisi kepala keluarga?!"

​Bayu menghela napas kasar, memutar tubuhnya menghadap Galang secara penuh. Raut wajahnya berubah keruh oleh kekesalan.

"Kamu itu kenapa sih, Lang?! Selalu saja curiga! Pak Sapta itu teman lama Bapak. Dia kaya, dia tidak punya anak, dan dia cuma mau bantu kita. Apa salahnya kalau dia mau menikahi Ibu? Ibu butuh pendamping, kita butuh figur ayah! Apa lagi?"

​"Tapi ada yang salah sama orang itu, Mas!" bisik Galang penuh penekanan, matanya menatap tajam ke dalam manik mata Bayu. "Setiap kali Pak Sapta dekat sama adik-adik ... baunya bukan cuma bau minyak wangi mahal. Ada bau melati busuk sama tanah kuburan, Mas! Bau yang sama persis kayak waktu jasad Bapak mau dimandikan!"

​"Cukup, Galang!" bentak Bayu seraya berdiri dari bale-bale. "Nggak usah bawa-bawa hal mistis yang nggak masuk akal! Aku capek dengar tuduhan-tuduhan gilamu! Dulu waktu warung tutup, kamu bingung cari makan buat adik-adik. Sekarang ada yang bantu sampai warung kita maju, kamu malah sibuk cari-cari kesalahan!"

​"Aku cuma mau melindungi kalian!" balas Galang, matanya mulai memerah menahan amarah dan ketakutan yang membakar dada. "Mas Bayu itu anak sulung! Mas yang harusnya paling waspada! Kalau sampai ada apa-apa sama Pertiwi, Mia, Rian, atau Gilang ... Mas Bayu mau tanggung jawab?!"

​Bayu menekan dada Galang dengan telunjuknya yang gemetar.

"Aku ini kakak tertua di rumah ini! Aku tahu mana yang baik dan mana yang buruk buat adik-adikku! Kalau kamu nggak suka sama Pak Sapta, atau kamu iri karena sekarang aku yang pegang kendali warung, bilang saja! Nggak usah pakai fitnah orang tua yang sudah berbuat baik sama kita!"

​Kalimat iri itu menghantam Galang bagaikan godam berat. Ia terpaku di tempatnya. Bayu begitu buta oleh kemewahan instan dan rasa haus akan validasi hingga menutup rapat-rapat mata hatinya dari marabahaya yang sedang mengintai.

Bayu tidak tahu—dan tidak boleh tahu—bahwa dirinya sendiri adalah target utama berikutnya dari utang darah yang ditinggalkan almarhum ayah mereka.

​"Mas ...." Suara Galang mendadak melunak, diisi oleh penderitaan yang teramat sangat. "Sumpah demi Allah, aku nggak pernah iri sama Mas Bayu. Aku cuma ... aku cuma merasa ada perikatan yang gelap di balik pernikahan ini. Tolong, Mas ... sekali saja, dengarkan aku. Jangan biarkan Pak Sapta mengatur semuanya sendirian. Jangan lepas pengawasan Mas dari dapur dan adik-adik."

​Bayu menurunkan tangannya. Melihat raut wajah Galang yang begitu kelam dan kesakitan, amarah di dada Bayu sedikit meluruh, berganti dengan rasa heran yang mendalam.

Namun, bias manipulasi Pak Sapta sudah terlanjur meresap terlalu dalam ke dalam pikirannya.

​"Kamu terlalu banyak pikiran, Lang," kata Bayu dengan nada yang lebih pelan, walau tetap kaku. "Mungkin kamu capek karena selama enam bulan ini nanggung beban sendirian. Istirahatlah. Besok warung buka jam enam pagi. Pembeli pasti membludak. Kita butuh tenaga."

​Bayu berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Galang sendirian di teras yang dingin.

​Galang menyandarkan kepalanya di tiang kayu teras, menatap langit malam Madiun yang tanpa bintang. Peringatannya pada Bayu telah gagal total. Kakak tertuanya itu telah sepenuhnya bertekuk lutut di bawah kendali Pak Sapta.

​Dari balik jendela kamar utama yang remang-remang, Galang bisa melihat siluet Bu Retno berdiri mematung di balik tirai kusam. Ibunya tidak tidur. Siluet itu berdiri tegak, menatap lurus ke arah jalan raya—seolah-olah sedang menunggu detik demi detik berlalu menuju hari pernikahan yang akan mengunci takdir.

​Tiba-tiba, dari arah jalan raya yang sepi, terdengar suara desingan halus.

​Sebuah mobil sedan hitam milik Pak Sapta perlahan melintas pelan di depan teras warung tanpa menyalakan lampu utamanya. Mobil itu tidak berhenti, hanya bergulir lambat bagaikan bayangan hantu di tengah kegelapan malam. Saat mobil itu melintas tepat di depan Galang, kaca jendela belakang perlahan merosot turun beberapa sentimeter.

​Di balik kegelapan kaca mobil tersebut, Galang melihat sepasang mata Pak Sapta yang memantulkan pendar merah samar di bawah pendar lampu jalan.

Pria tua itu tidak tersenyum. Ia hanya memberikan sebuah anggukan kepala yang sangat pelan—sebuah gestur dingin yang seolah menegaskan: Semua sesuai rencanaku, dan kamu tidak bisa menghentikannya.

​Kaca mobil kembali naik rapat, dan kendaraan itu menghilang di balik tikungan jalan yang gelap.

​Hawa dingin mendadak menyergap leher Galang, membuat bulu kuduknya berdiri tegak. Bau busuk tanah kuburan menguar tajam di teras warung selama beberapa detik sebelum akhirnya menyatu dengan angin malam.

​Galang mengatupkan rahangnya erat-erat, air mata frustrasi menetes di pipinya.

Pernikahan itu bukan sekadar perayaan persatuan dua manusia. Itu adalah pementasan ikatan ghaib—sebuah sakramen hitam di mana Pak Sapta akan resmi bertindak sebagai algojo, dan kelima saudaranya telah berbaris rapi menunggu giliran untuk dikorbankan demi kekayaan.

1
kinoy
dah ah g MW komen..SKT hati baca y..bnr2 kesetanan si Retno ..abisin aj keturunan kau..nanggung. jgn ada sisa..
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Tersisa Rian dan ....... Gilang !
mereka menunggu giliran meninggal untuk diambil nyawanya oleh penagih pesugihan pakk Broto
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Sekarang kamu tahu bahwa pakk Sapta itu hanyalah fiktif alias jelmaan iblisss sang penagih tumbal garis keturunan.
Terus sekarang kamu tergesa gesa pulang ke Madiun tanpa tahu bagaimana caranya menghentikan pesugihan ini, ya sama aja bohong.
kamu tetap tidak bisa menyelamatkan nyawa Mia.
kamu datang ke Madiun hanya akan melihat nyawa Mia , sedangkan nyawa Rian dan Gilang pun masih menunggu giliran
kinoy
etdah..deg deg an..apa Mia KD tumbal ketiga kah
kinoy
iiiihhhh..tmbh seru baca y..gemes aq
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
eehhh ... authornya ngajak ke Ngawi 😄
aku belum pernah kesana , Thor ....
paling lewaT aja lalu naik kereta mau ke Surabaya
kinoy
ayo Galang slmtkan sisa adikmu..KLO MW JD tumbal si Retno aj
kinoy
nunggu smua anak broto JD tumbal x y..kasian ATH..noh ada ustadz g BS bantuin gt..geram AQ ma si sapta
kinoy
ya ALLAH kasian km Tiwi..JD tumbal..sapa donk yg BS nolongin Galang ni teh
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Jadi korban selanjutnya .... Mia.
setelah itu Rian .... terus Gilang.
5 garis keturunan.
ditambah janin anak sulung dan pakk Broto sendiri menjadi 7.

Benarkah Galang akan menyaksikan kembali kematian 3 tumbal yang tersisa?
apakah Galang benar benar tidak bisa menyelamatkan sisanya??
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
katanya udah kaya , warung banjir dengan pelanggan , lah ko lampu kamarr Pertiwi masih pakai bohlam kuning 5 Watt 🤔
kinoy
otak si Galang krng muter..dah tau BKN SKT medis..BW ke ustad ke..lah ni mlh dibw kermh LG .nunggu mati JD tumbal..si Sapta omongan y krng ajar bgt y..fisik Tiwi kering duit tmbh numpuk ..bnr2 gila
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Jawaban profesional seorang dokter .... ya begini.

Meski dokternya tahu bahwa ini bukan penyakit biasa, seorang dokter tidak akan menyarankan berobat ke kyai .
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Lahhh ... bukannya kamu udah tahu sendiri, Galang ....
kalau penyakit adikmu ini berhubungan dengan hal ghaib .

Jadi kacamata dokter tidak akan mendeteksi adanya penyakit di tubuh Pertiwi
kinoy
ALLAHU RABBI..KK otor tolongin Pertiwi ngapa..si Retno ay yg JD tumbal deh..kasian anak2nya..gemes AQ baca y
kinoy
kasian Pertiwi..si Retno ih bnr2 bikin gedek..Galang kyknya mst berstrategi ngadepin si sapta
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Jarak eksekusi Bayu ke Pertiwi 7 hari.

Dan Galang ... menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika Bayu dan sekarang Pertiwi meninggal karena sudah waktunya ditumbalkan.
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Ohhh .... ternyata potongan kain linen yang dipegang Galang ada semua nama calon tumbalnya ......
kinoy
dasar setan..si Sapta ktnya dtng bt mencegah spy gd tumbal LG eh mlh dia yg ngatur 1 per satu anak broto komit..si b Retno jg sama aj
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Tumbal selanjutnya ..... Pertiwi

dan

Galang sudah mengetahui tumbal garis keturunan ini , dan dia hanya bisa menyaksikan 1 per 1 tumbal diambil nyawanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!