NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Tahun 1970 Berbekal Game Pertanian

Terlempar Ke Tahun 1970 Berbekal Game Pertanian

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Kainara Seroja Putri tidak pernah menyangka kematian akan membawanya kembali ke tahun 1972, terbangun dalam tubuh Seroja Ningsih, gadis desa lemah yang baru saja dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.

Dengan bekal sistem game pertanian dan pengetahuan dari masa depan, Seroja harus menghidupkan tanah kapur tandus yang dianggap tidak berguna, mencari jalan untuk bertahan hidup, serta mengembalikan harga diri ibunya yang telah diinjak-injak.

Namun, ketika tanah buangan itu perlahan berubah menjadi sumber kekayaan, Seroja justru menarik perhatian orang-orang yang selama ini menyembunyikan rahasia kelam keluarganya. Sebuah rahasia yang dapat mengubah hidupnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Berkas di Dalam Kotak Seng

"Pukul gemboknya pakai punggung sabit, Mas Danu."

Suara Seroja memecah kesunyian di bawah rimbunnya Hutan Jati. Danu mengangguk. Ia mengangkat sabitnya tinggi, lalu menghantam gembok tembaga yang sudah berkarat dengan sisi tumpulnya. Dentang logam menggema. Setelah dua kali pukulan keras, gembok itu akhirnya patah.

Seroja berjongkok dan membersihkan tanah yang masih menempel di tutup kotak seng dengan ujung jarinya. Ia menarik napas pelan sebelum membuka tutupnya yang berderit.

Bau kertas tua bercampur minyak cengkih langsung menyeruak.

Di dalam kotak tersimpan sebuah buntalan tebal yang dibungkus rapi dengan daun pisang kering dan kertas minyak.

Danu dan Doni ikut mendekat. Dengan hati-hati, Seroja mengangkat buntalan itu lalu membuka lapisan kertas minyaknya agar lembaran di dalamnya tidak rusak.

Matanya langsung tertuju pada deretan angka dan tulisan tangan yang rapi dengan tinta hitam. Lembar paling atas ternyata buku kas keluarga. Isinya mencatat hasil panen dari sawah yang luas, harga gabah setiap hari, hingga pengeluaran untuk membeli bibit.

Siti yang menyusul dari gubuk karena mendengar suara benturan logam langsung tertegun. Ia berlutut di samping Seroja di atas tanah berbatu. Jemarinya yang gemetar menyentuh sudut kertas itu.

"Ini tulisan Kakek Hadi," bisiknya serak. Air mata menetes membasahi punggung tangannya. "Bapak selalu mencatat setiap butir padi yang keluar dari lumbung keluarga. Tidak pernah ada satu karung pun yang luput."

Seroja membalik halaman berikutnya. Matanya menyapu deretan angka dengan cepat. Pengalamannya sebagai mantan manajer membuatnya langsung menangkap kejanggalan dalam pembukuan itu.

Ada aliran dana dalam jumlah besar yang dicatat sebagai biaya proyek Dinas Pertanian Kabupaten. Di bawahnya tertera tanda tangan Hardiman, dibuat dua tahun sebelum Kakek Hadi meninggal.

Ini bukan sekadar buku kas keluarga.

Ini adalah bukti awal bahwa Hardiman telah menggelapkan uang keluarga jauh sebelum merebut tanah warisan dengan surat segel palsu.

Seroja menggenggam buku itu lebih erat. Kakek Hadi pasti sengaja menyembunyikannya di perbatasan hutan karena tahu dirinya sedang menjadi sasaran. Dadanya terasa sesak. Kakeknya telah mempertaruhkan nyawa demi menjaga tanah dan keluarganya. Buku catatan ini adalah warisan terakhir yang ditinggalkannya.

"Heh! Lagi gali harta karun, ya?"

Bentakan kasar itu membuat semua orang menoleh. Dari balik semak yang belum sempat ditebas Danu, Supri melangkah keluar sambil menyingkirkan gulma setinggi pinggang. Pria paruh baya itu mengenakan kemeja safari gelap dengan beberapa kancing dada terbuka. Di belakangnya, Carik desa berjalan mengikuti dengan wajah angkuh. Bau rokok kretek langsung memenuhi udara, mengalahkan aroma tanah lembap di sekitar hutan.

Danu segera berdiri di depan. Tangannya menggenggam gagang sabit erat, sementara tubuhnya menjadi tameng bagi Seroja dan Siti. Doni mundur beberapa langkah sambil memeluk patok kayu di dadanya. Wajahnya pucat.

"Mau apa kau ke sini, Supri?" geram Danu. Rahangnya mengeras menahan amarah.

Supri mengisap rokok kreteknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asap ke arah Danu. Setelah itu, pandangannya beralih ke kotak seng yang masih tergeletak di dekat kaki Seroja.

"Ada laporan dari warga ke balai desa. Katanya penghuni gubuk kapur merusak batas Hutan Jati," ucap Supri santai, tetapi penuh ancaman. "Pas sekali aku melihat kalian menggali tanah desa. Apa pun yang terkubur di pinggir hutan ini adalah milik desa. Serahkan kotak itu sekarang juga, Seroja."

Jantung Siti berdegup kencang. Ia menggenggam bahu Seroja, takut keributan ini berubah menjadi kekerasan.

Pikiran Seroja bekerja cepat. Jika Supri melihat isi buku itu, ia pasti langsung membakarnya. Bukti kejahatan Hardiman akan lenyap.

Ia menarik napas, lalu berjongkok lagi. Dengan gerakan cepat, Seroja melipat tumpukan kertas tua itu menjadi dua dan menyelipkannya ke dalam saku kebayanya. Tubuh Danu yang berdiri di depan menutupi semua gerakannya. Setelah itu, ia mengambil kotak seng yang sudah kosong, berdiri, lalu melangkah melewati Danu.

"Ini kotak yang kau cari?" tanya Seroja sambil mengangkatnya setinggi dada.

"Serahkan padaku, Nduk. Jangan cari masalah yang tidak sanggup kau tanggung bersama ibumu," ancam Supri sambil mengulurkan tangan.

Seroja menatapnya tanpa berkedip. Bukannya menyerahkan kotak itu, ia justru menjatuhkannya ke tanah.

Brak!

Kotak seng itu membentur batu kapur tepat di depan kaki Supri.

"Kalau mau, ambil sendiri," ucap Seroja dingin. "Dan jangan mengarang soal inventaris desa. Tanah di pinggir hutan ini belum pernah ditetapkan sebagai aset desa. Tidak ada keputusan bupati yang menyatakan lahan ini milik desa. Jadi kau dan Pak Carik tidak punya hak mengambil apa pun dari sini."

Pak Carik langsung terdiam. Matanya membesar mendengar penjelasan itu. Ia tidak menyangka gadis desa berusia delapan belas tahun memahami persoalan hukum tanah sebaik itu.

Supri mengerutkan dahi. Ia juga tampak terkejut. Dengan kesal, ia memungut kotak seng itu lalu membukanya kasar.

Wajahnya langsung berubah.

Kotak itu kosong.

Hanya tersisa debu dan serpihan daun kering di dasarnya.

"Mana isinya, bangsat!" bentak Supri. Kotak seng itu dilemparkannya ke arah kaki Danu. "Kalian pasti menyembunyikannya! Pak Carik, geledah mereka sekarang!"

Danu mengangkat sabitnya. Bilah baja itu membelah udara, lalu berhenti hanya sejengkal dari wajah Pak Carik.

Pak Carik menjerit kaget. Ia mundur terburu-buru sampai terjatuh ke tanah.

"Maju satu langkah lagi, lehermu yang kena!" bentak Danu. Dadanya naik turun. Matanya dipenuhi amarah.

Supri pun menghentikan langkahnya. Ia tahu tenaga Danu bukan main-main. Melawan pemuda bersenjata sabit tanpa membawa anak buah hanya akan mencelakakan dirinya sendiri.

Ia menatap Danu dengan rahang mengeras, lalu mengalihkan pandangan ke Seroja yang tetap berdiri tenang.

"Merasa hebat karena pegang sabit?" desis Supri. "Kalian pikir berhak atas tanah ini cuma karena menanam beberapa bibit sayur?"

Seroja membalas tatapannya tanpa gentar.

"Kami berhak hidup dari kerja keras kami sendiri. Dan kami tidak akan pernah menundukkan kepala kepada pencuri yang merampas hak kami."

Wajah Supri memerah menahan amarah. Ia menghentakkan kaki ke tanah kapur, berusaha mengintimidasi. Namun, ia tetap tidak berani mendekat. Harga dirinya sudah telanjur jatuh di depan Pak Carik.

"Dengar baik-baik!" geramnya. Suaranya rendah, tetapi sarat ancaman. "Besok pagi aku datang lagi bersama aparat ketertiban dari kecamatan. Kalian tidak punya surat kepemilikan tanah. Tidak punya izin tinggal. Kalian cuma penyusup di desa ini. Besok gubuk reyot kalian akan kami bongkar sampai rata, lalu kalian akan kami usir dari desa ini tanpa membawa apa-apa!"

Supri berbalik dengan kasar. Ia menendang semak di depannya untuk melampiaskan amarah.

"Ayo, Pak Carik! Besok kita lihat, apa sabit bocah itu masih berani menghadang alat berat dari kecamatan!"

1
watno antonio
yang banyak punya thor
Miaaaoowww😸
tumben kk ceritanya update 1 biasanya banyak😘😘😘, sehat2 y kk authorrrr
vania larasati
lanjut
Fauziah Daud
trusemangattt
Fauziah Daud
hadir thor
INeeTha: Makasih kaka🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!