NovelToon NovelToon
Bidan Cantik Di Ujung Pelosok

Bidan Cantik Di Ujung Pelosok

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Cinta Istana/Kuno / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~

Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.

~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 35

***

Dua minggu berlalu membawa embun fajar yang kian pekat menyelimuti belantara Hulu Rawa. Pagi itu, udara dingin yang menusuk tulang merayap masuk menembus celah-celah dinding kayu Rumah Adat Utama. Di atas peraduan yang hangat bermotif tenun sakral, Melani perlahan terbangun dari tidurnya. Dahi mulusnya berkerut tipis, sebuah desisan kecil penuh rasa perih lolos dari bibir merah mudanya.

"Ssshh... aduh..." desis Melani lirih, meremas halus rambut hitam tebal suaminya.

Raga Melani terasa begitu pegal, namun rasa nyeri yang paling nyata membakar di area dadanya. Benar saja, semalaman penuh Rangga Wira kembali menuntut haknya sebagai seorang suami. Pria tegap yang biasanya dikenal amat tangguh dan disegani oleh seluruh suku itu mendadak memiliki kebiasaan baru yang amat bermanja sejak kehamilan Melani membesar. Sepanjang malam, Rangga tertidur lelap seraya menyusu pada dada istrinya tanpa jeda sedikit pun, memanjakan bibirnya di sana hingga area sensitif Melani terasa amat tegang, lebam, dan perih.

Saat Melani hendak menggeser tubuhnya pelan-pelan agar tidak mengusik lelap sang suami, gelombang mual yang sudah lama tak menyapa mendadak merayap naik menghantam tenggorokannya.

"Ugh... M-Mas..." bisik Melani memegangi dadanya, kepalanya terasa pusing berputar.

Rangga Wira yang selalu peka dengan setiap helaan napas istrinya seketika membuka mata. Manik mata hitamnya yang semula redup oleh rasa kantuk langsung dipenuhi binar kepanikan mutlak.

"Dinda? Ada apa, Sayang? Mual lagi?" suara bariton Rangga terdengar parau khas bangun tidur, namun tangannya dengan sigap membopong bahu lemas Melani.

Melani mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya yang lemas di dada bidang Rangga. "Iya, Mas... mendadak pusing dan mual sekali... D-dada saya juga nyeri sekali..."

Rangga Wira tertegun sejenak. Pandangannya turun menatap area dada istrinya yang kini memerah dan membengkak akibat ulahnya semalaman. Rasa bersalah yang amat dalam seketika menguasai dada Sang Ketua Adat.

"Ya Tuhan... Maafkan suamimu ini, Dinda," pukas Rangga tulus, raut gahar di wajahnya meleleh menjadi pendar rasa iba dan penyesalan yang begitu lembut. "Saya terlalu bermanja dan tidak bisa menahan diri semalam. Maafkan saya yang sudah membuatmu sakit..."

"Mas Rangga..." bisik Melani tersenyum tipis, meremas jemari kekar suaminya. "Tidak apa-apa, Mas... hanya agak nyeri saja."

Tanpa membuang waktu, Rangga beranjak dari pembaruan. Pria tegap itu melangkah cepat menuju dapur kayu, mengambil baskom berisi air hangat dan selembar kain katun yang amat halus. Rangga kembali ke kamar, duduk di tepi peraduan di samping istrinya.

Dengan sangat telaten, sabar, dan penuh kelembutan mutlak, Rangga Wira memeras kain katun hangat tersebut lalu menempelkannya perlahan di atas area dada Melani yang nyeri untuk meredakan lebamnya.

"Ssshh... hangat, Mas..." desah Melani pelan, meramkan matanya menikmati kehangatan kain katun tersebut.

"Tahan sebentar ya, Dinda... Biar nyerinya berkurang," tutur Rangga sangat lembut, mengusap dahi Melani yang dibasahi peluh dingin.

Namun, dasar naluri pria sejati yang tak pernah puas mengagumi keindahan istrinya, saat tangan kirinya sibuk mengompres sisi dada yang nyeri, jemari kekar tangan kanan Rangga secara naluriah merayap meremas lembut area dada Melani yang satu lagi. Ibu jarinya memijat halus puncak dadanya yang menegang di balik kain tipis.

Deg!

"Aaghh! Mas Rangga... nngghh..." jerit Melani terkejut pelan. Sensasi hangat dari kompresan berpadu dengan remasan lembut jemari kekar suaminya seketika mengirimkan gelombang kenikmatan baru yang begitu memabukkan.

Rangga Wira menyunggingkan senyum amat tampan di bibir tegasnya, menunduk mengecup dahi Melani. "Biar bengkaknya cepat meluruh, Istriku..."

"Nngghh... Mas... nakal sekali..." rintih Melani terengah-engah, memeluk leher tegap suaminya seraya menikmati sentuhan mesra yang perlahan meluruhkan seluruh rasa mual dan pusing di kepalanya.

**

Setelah suasana kamar mereda dan rasa mual Melani meluruh sepenuhnya, pagi yang hangat kembali menyelimuti Rumah Adat Utama. Melani yang sudah kembali segar mengenakan sarung tenun dan kebaya tipisnya, melangkah gesit di dapur kayu yang luas.

Dengan telaten, ia menyeduh cangkir bambu berisi kopi hitam hangat dan menyiapkan piring berisi rebusan singkong manis dan ikan asin bakar kesukaan Rangga.

Rangga Wira yang sudah rapi mengenakan kemeja tenun lapang dan parang adat terselip di pinggangnya melangkah mendekati meja makan. Pria tegap itu melingkarkan lengan kekarnya di pinggang Melani dari belakang, merapatkan dadanya di punggung mulus istrinya, lalu mencium ceruk leher Melani dengan kelembutan yang dalam.

"Terima kasih untuk sarapannya, Istriku," bisik Rangga mesra.

Melani memutar tubuhnya seraya tersenyum paling manis, merapikan kerah baju suaminya. "Sama-sama, Mas... Hari ini Mas mau meninjau ladang buah dan sawit di perbatasan, kan? Jangan lupa makan siang yang sudah saya bungkuskan ya."

Rangga Wira mengangguk mantap, lalu membungkukkan tubuhnya sedikit untuk mengecup lembut perut Melani yang kini makin membusung indah di usia kehamilan empat setengah bulan.

"Ayah berangkat ke ladang dulu ya, Nak... Jaga Ibumu baik-baik," tutur Rangga penuh rasa bangga dan kasih sayang seorang calon ayah.

"Hati-hati di jalan, Mas," pukas Melani mencium punggung tangan kekar suaminya dengan rasa takzim yang mendalam.

**

Siang harinya, matahari memancarkan rona hangat di atas atap seng Pustu Hulu Rawa yang bersih dan kokoh. Setelah beristirahat sejenak, Melani telah kembali beraktivitas dengan semangat yang membuncah. Dengan mengenakan pakaian dinas bidan yang rapi dipadu selendang tenun kebesaran suku di bahunya, sang Ibu Pelindung kembali menjalankan tugas medismu.

Suasana Pustu siang itu riuh oleh kehangatan warga desa. Di ruang periksa utama, Melani dibantu oleh Mbah Salma dan Mak Senah telaten memeriksa kesehatan ibu-ibu hamil dan bayi-bayi di desa.

"Bidan Melani... berat badan si kecil naik banyak bulan ini," pukas Bu Minah gembira seraya menimang bayinya yang gemuk.

Melani menempelkan stetoskopnya di dada sang bayi dengan senyum hangat. "Alhamdulillah, Bu Minah... Napas dan detak jantungnya sangat sehat. ASI-nya terus dilanjutkan ya."

Di sudut ruang inap, Melani juga memeriksa perut Bu Asnah—seorang ibu muda yang sedang hamil tua. Dengan lembut, jemari lentik Melani meraba posisi janin seraya memberikan instruksi steril pada Mak Senah yang mencatat dengan cermat.

"Posisinya sudah sangat bagus, Mak Senah. Nanti saat proses persalinan, pastikan semua kain dan alat bambu sudah direbus steril seperti yang kita pelajari ya," bimbing Melani sabar.

"Siap, Bidan Melani! Kami sudah paham betul prosedur medisnya!" balas Mak Senah tersenyum bangga.

Sementara itu, di teras samping Pustu yang teduh di bawah naungan pohon rindang, riuh tawa anak-anak desa bergema merdu. Di selat-selat tugas medismu, Melani membagikan papan tulis kayu kecil dan kapur warna untuk Bimo, Ratih, dan belasan anak-anak desa lainnya.

"Ibu Pelindung! Lihat! Ratih sudah bisa menulis nama 'Rangga Wira'!" seru Ratih polos seraya memamerkan papan tulis kayunya dengan bangga.

Melani tertawa renyah, berlutut pelan seraya mengusap puncak kepala anak perempuan itu. "Wah, pintar sekali Ratih! Tulisanmu sangat rapi. Bimo bagaimana?"

Bimo menunjukkan papannya seraya tersenyum lebar. "Bimo menulis 'Bidan Pelindung'! Nanti kalau Bimo besar, Bimo mau jadi penjaga Pustu seperti Ki Rangga yang menjaga Bu Bidan!"

Gelak tawa dan tepuk tangan meriah seketika pecah di teras Pustu. Mbah Salma dan warga yang melintas menatap Melani dengan pendar rasa hormat dan kasih sayang yang teramat dalam.

Di tempat inilah—di antara tangisan bayi yang sehat, senyuman ibu-ibu desa, dan tawa polos anak-anak yang belajar—Melani menemukan kedamaian sejati. Ia bukan lagi sekadar bidan kota yang terasing, melainkan telah menjadi jiwa dan Ibu Pelindung sejati yang dicintai oleh seluruh rakyat Suku Hulu Rawa.

***

Bersambung

1
falea sezi
benerr pergi
falea sezi
pergi jauh
dika edsel
noh istrimu sudah mode pasrah dan tertekan...huh..ntar klo terjadi sesuatu sama istrmu pegimana...?? emang anda sudah siap jd duda?? kita mikir yg buruk aja deh..klo diliat dr kondisinya melani yg kian hari kian ngenes ini😌
Heresnanaa_: iyaa, Ki Rangga benar benar yaaa 😌
total 1 replies
Ayusha
Dr. (Doktor)
dr. (dokter)
Ayusha: macama. lanjut kak, semangat 💪
total 2 replies
Kusii Yaati
wes mboh sak karepmu Ki...lama" Melani bisa depresi semua di pendam sendiri.😩
Heresnanaa_: kann, author juga ngerasa kaya gitu 🥹🥹
total 1 replies
falea sezi
klo q jd Melani pergi plg ke rmh ortu 🤣🤣 ngapain di situ punya suami goblok
Ayusha
jadi keinget lahiran pertama /Smile/
Kusii Yaati
up lagi dong Thor, jangan satu bab aja 🥺
Heresnanaa_: stay tune ya beb😚🫶
total 1 replies
Kusii Yaati
yang sabar Melani,Ki Rangga sedang capek dan banyak pikiran jadi nggak bisa ngontrol emosinya 🤧... semoga lekas berbaikan 🥹
Kusii Yaati: up lagi dong Thor...2 bab ya 🤭
total 2 replies
neng ade
tapi jangan yang berat konfliknya,
Heresnanaa_: amannn kok 🤭
total 1 replies
Reni Anggraeni
bagus sekali
Reni Anggraeni
emmm bagus ceritanya
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
bongkarkan yang hati busuk thor
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
habislah tamat riwayat
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
bunga² sedang mekar..
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
bagus di awal bacaannya
sunshine wings
yang sabar ya pak ketua adat.. lumrah ibu hamil bermacam ragam.. ❤️❤️❤️❤️❤️
sunshine wings
hebat kisahnya aku sukaaa..
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
neng ade
Alhamdulillah, Melani hamil ..
🤲
Kusii Yaati
ya ampun pak ketua suku ganas amat ,air tenang menghanyutkan ya, semalam suntuk di gempur sama pak ketua suku 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!