NovelToon NovelToon
Jalan Dewa Kehampaan

Jalan Dewa Kehampaan

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:17k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Benua Timur, kekuatan mutlak adalah hukum tertinggi, dan mereka yang tidak bisa berkultivasi hanyalah debu yang pantas diinjak-injak. Lin Tian, Tuan Muda dari Klan Lin, harus menanggung kehinaan selama bertahun-tahun karena cacat bawaan pada meridiannya. Takdirnya mencapai titik terkelam ketika ia dikhianati, disergap oleh pembunuh bayaran suruhan sepupunya, dan dilemparkan ke dasar Jurang Hukuman yang mematikan.
​Namun, jurang itu bukanlah akhir, melainkan awal yang baru.
​Di ambang kematian, darah dan tekad Lin Tian yang pantang menyerah membangkitkan sebuah artefak kosmis yang bersemayam dalam dirinya—Mutiara Kehampaan. Tubuh fananya dihancurkan dan ditempa ulang, meridiannya disucikan, dan ia mewarisi Teknik Kultivasi Kehampaan Sembilan Langit, sebuah kekuatan tabu yang ditakuti oleh alam semesta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Konvergensi Langit

​Di dalam Puing Dunia Surgawi, badai energi spiritual yang mengamuk perlahan mereda. Pilar cahaya raksasa yang menembus langit cermin perlahan menyusut, lalu lenyap ditarik kembali ke dalam tubuh pemuda yang duduk bersila di tengah Paviliun Pedang.

​Lin Tian perlahan membuka matanya.

​Tidak ada ledakan aura atau fluktuasi Qi yang liar. Sebaliknya, saat ia membuka mata, segala bentuk suara, cahaya, dan aliran udara di dalam paviliun itu seolah berhenti, tersedot ke dalam ketenangan absolut yang memancar dari tubuhnya.

​Di dalam Dantiannya, Inti Kehampaan kini telah memadat dengan sempurna menjadi sebuah bola hitam pekat seukuran bola mata, dihiasi oleh titik-titik cahaya perak layaknya galaksi mini. Ini adalah tahap Inti Emas Puncak (Penyempurnaan Besar).

​Namun, kapasitas Qi dan kemurniannya setidaknya seratus kali lipat lebih mengerikan daripada kultivator Inti Emas Puncak mana pun dalam sejarah Benua Timur. Kulitnya kini tampak seputih pualam namun memancarkan kekokohan yang tidak bisa digores oleh pedang dewa sekalipun.

​Lin Tian berdiri. Ia mengulurkan tangannya, dan Bilah Kehampaan Pemakan Bintang melayang masuk ke genggamannya. Pedang raksasa hitam-perak itu berdenyut hangat, seolah memiliki detak jantung yang selaras dengan tuannya.

​"Pilar cahaya tadi pasti terlihat dari ujung ke ujung benua," gumam Lin Tian, menyarungkan pedang barunya ke punggung. Senyum tipis yang mematikan terbentuk di bibirnya. "Anjing-anjing tua pemburu harta pasti sudah berkerumun di depan pintu rumahku. Akan sangat tidak sopan jika aku membiarkan mereka menunggu terlalu lama."

​Tanpa menoleh lagi ke puing-puing surgawi itu, Lin Tian melesat ke arah pusaran dimensi tempat ia pertama kali masuk.

​Dunia Fana - Langit Ngarai Pemutus Jiwa

​Pemandangan di Ngarai Pemutus Jiwa saat ini tidak bisa digambarkan dengan kata lain selain kiamat kecil.

​Lautan kabut beracun yang selama ribuan tahun menyelimuti dasar ngarai telah sirna sepenuhnya, tertiup habis oleh tekanan aura gabungan dari ribuan kultivator tingkat tinggi.

​Langit malam yang gelap kini diterangi benderang oleh puluhan kapal spiritual raksasa yang melayang di udara.

​Di sebelah timur, armada kapal perang berbenderang bendera naga emas milik Kekaisaran Bela Diri berbaris rapi.

Di sebelah selatan, belasan kereta perang yang ditarik oleh burung bangau raksasa membawa para Tetua dari Sekte Awan Ungu dan tiga sekte lurus lainnya.

Dan di sebelah barat, langit tertutup oleh awan merah darah. Puluhan tengkorak melayang raksasa yang diukir menjadi benteng udara membawa ribuan pasukan iblis dari Aliran Darah Hitam.

​Ini adalah momen langka dalam sejarah di mana faksi Lurus, faksi Sesat, dan Kekaisaran berkumpul di satu titik tanpa langsung saling membantai. Fokus mereka hanya satu: Gerbang Batu berukir wajah iblis di dasar ngarai, tempat pilar cahaya surgawi itu berasal.

​Di atas dek kapal utama Sekte Awan Ungu, Master Sekte berdiri dengan tangan di punggung, matanya menyipit waspada menatap benteng tengkorak milik Aliran Darah Hitam.

​"Patriark Darah Hitam... iblis tua itu benar-benar keluar dari sarangnya," bisik Master Sekte Awan Ungu dengan wajah muram. Ia memancarkan aura tahap Jiwa Nascent Awal, namun ia tahu bahwa monster tua di seberang sana berada di tahap Jiwa Nascent Akhir.

​Dari atas benteng tengkorak darah, tawa serak yang menggetarkan jiwa menggema ke seluruh ngarai.

​"Hahahaha! Master Sekte Awan Ungu, Kaisar Bela Diri! Kalian semua datang untuk mengantarkan nyawa demi harta surgawi ini?!" Patriark Darah Hitam memproyeksikan suaranya. "Dengarkan aku baik-baik! Warisan dewa yang ada di balik gerbang itu adalah milik Aliran Darah Hitam! Siapa pun yang berani maju selangkah, akan kujadikan lautan darah!"

​"Jangan sombong, Iblis Tua!" balas seorang Jenderal lapis baja emas dari pihak Kekaisaran. "Harta surgawi adalah milik yang ditakdirkan oleh Langit!"

​Saat ketiga pihak bersiap untuk melepaskan serangan pembuka yang akan meratakan pegunungan tersebut, tiba-tiba, pusaran hitam di tengah gerbang batu raksasa di dasar ngarai bergetar hebat.

​WUNGGG... WUNGGG...

​Riak dimensi menyebar. Aura purba dan ketiadaan absolut merembes keluar dari pusaran itu, seketika membungkam perdebatan di langit.

​Semua orang menahan napas. Master Sekte, Jenderal Kekaisaran, Patriark Darah Hitam, dan ratusan ahli Jiwa Nascent serta Inti Emas serempak mengunci aura mereka ke arah gerbang tersebut. Mereka mempersiapkan jaring spiritual pemburu dewa, perisai, dan pedang terbang terkuat mereka.

​Mereka mengira sebuah artefak dewa, naga surgawi, atau buku kitab emas akan melayang keluar dari gerbang itu.

​Langkah kaki terdengar dari dalam kegelapan pusaran.

​Tap... Tap... Tap...

​Langkah itu pelan, ritmis, dan sangat santai.

​Lalu, sebuah sosok melangkah keluar dari pusaran dimensi, berdiri di atas batu karang di dasar ngarai yang disinari oleh ribuan lampu kapal spiritual dari atas.

​Bukan artefak. Bukan naga. Bukan dewa kuno.

​Hanya seorang pemuda berusia sembilan belas tahun. Mengenakan jubah hitam yang berkibar tertiup angin ngarai, dengan sebilah pedang raksasa berwarna hitam-perak tersandang di punggungnya. Sepasang matanya segelap langit tanpa bintang, menatap dengan tenang ke arah puluhan ribu kultivator elit yang mengepungnya dari udara.

​Keheningan yang mencekik menyelimuti Ngarai Pemutus Jiwa selama tiga tarikan napas penuh.

​Lalu, mata Master Sekte Awan Ungu membelalak hingga nyaris robek dari rongganya. Jari-jarinya yang menunjuk ke bawah bergetar hebat.

​"L-LIN TIAN?!" teriakan Master Sekte itu memecah keheningan layaknya guntur di siang bolong. "Itu Lin Tian! Bocah iblis pembelot sekte!"

​Mendengar nama itu, seluruh pasukan dari semua faksi gempar.

"Apa?! Buronan Nomor Satu itu?!"

"Bagaimana dia bisa keluar dari gerbang surgawi itu?! Jangan bilang... cahaya surgawi tadi... pilar pencerahan dewa itu... disebabkan olehnya?!"

​Di atas benteng tengkorak, mata hitam Patriark Darah Hitam menyala dengan keserakahan yang membakar. Ia memandang tubuh Lin Tian dari atas ke bawah seolah melihat harta karun paling berharga di alam semesta.

​"Fisik yang melanggar hukum alam! Aura tahap Inti Emas Puncak namun memiliki kepadatan setara Jiwa Nascent?!" Patriark itu menjilat bibirnya. "Sempurna! Sangat sempurna! Tubuh itu adalah milikku!"

​Di samping Patriark, Tetua Lu (pengkhianat dari Sekte Awan Ungu yang lengannya dipatahkan Lin Tian), yang kini memiliki lengan baru terbuat dari sihir darah, melangkah maju. Kebencian membutakan akal sehatnya. Ia tidak menyadari perubahan kualitatif pada aura Lin Tian.

​"Patriark! Biarkan hamba yang turun dan mematahkan kaki dan tangannya untuk Anda! Hamba akan membalaskan dendam cucu hamba dan Xue Kuangren sekaligus!" raung Tetua Lu.

​Tanpa menunggu izin, Tetua Lu melesat turun dari benteng tengkorak seperti meteor merah darah. Kultivasinya telah ditingkatkan secara paksa oleh sihir aliran sesat menjadi Setengah Langkah Jiwa Nascent (Half-step Nascent Soul).

​"MATI KAU, BASTARD KECIL!"

​Tetua Lu melepaskan ribuan pilar darah beracun dari tangannya, membentuk sangkar mematikan yang menukik lurus ke arah Lin Tian. Serangan ini sepuluh kali lebih kuat daripada saat ia menyerang Lin Tian di alun-alun sekte tempo hari. Tekanannya membuat batu-batu karang di dasar ngarai hancur menjadi debu sebelum serangan itu tiba.

​Ribuan kultivator di langit menahan napas, menunggu melihat bagaimana sang buronan jenius menangkis serangan tersebut. Master Sekte Awan Ungu bahkan menyiapkan pedang terbangnya untuk merebut sisa-sisa Cincin Penyimpanan Lin Tian jika pemuda itu hancur.

​Namun, di dasar ngarai, Lin Tian bahkan tidak mengubah postur berdirinya.

​Ia mendongak menatap Tetua Lu yang meluncur turun ke arahnya. Wajah Lin Tian tidak memancarkan ketakutan, amarah, atau antusiasme. Ia hanya menatap pria tua itu layaknya manusia menatap nyamuk yang terbang ke arah api.

​Tangan kanan Lin Tian perlahan bergerak ke belakang punggungnya. Jarinya mencengkeram gagang Bilah Kehampaan Pemakan Bintang.

​Ia tidak menarik pedang itu sepenuhnya. Ia hanya menariknya keluar dari sarung punggungnya sejauh satu inci.

​SRIING!

​Hanya suara gesekan kecil. Tidak ada tebasan cahaya pedang raksasa. Tidak ada ledakan Qi yang menggelegar.

​Namun, tepat di saat pedang itu ditarik satu inci, sebuah kilatan Guntur Kepunahan berwarna hitam keemasan melesat dari bilah pedang. Kilat itu setipis rambut, bergerak tanpa suara, dan membelah ruang secara absolut.

​Zzztt.

​Kilat hitam keemasan itu menyentuh sangkar pilar darah raksasa milik Tetua Lu. Dalam sekejap mata, seluruh sihir darah yang mengerikan itu... terhapus. Bukan hancur berkeping-keping, melainkan benar-benar hilang dari eksistensi, seolah dihapus dari kanvas realita.

​Tetua Lu mematung di udara. Wajahnya yang dipenuhi kebencian seketika membeku.

​Kilat hitam keemasan itu menembus dadanya.

​"Eh...?" Tetua Lu menunduk menatap dadanya. Tidak ada luka berdarah. Hanya saja, tubuhnya mulai berubah menjadi debu abu-abu dari arah dada, menyebar dengan kecepatan gila ke leher, wajah, lengan, dan kakinya.

​Bahkan sebelum ia sempat mengeluarkan satu jeritan pun, tubuh ahli Setengah Langkah Jiwa Nascent itu musnah tertiup angin ngarai. Tidak menyisakan tulang, tidak menyisakan darah, tidak menyisakan sedikit pun jejak jiwa untuk bereinkarnasi.

​Kematian yang paling mutlak.

​Ngarai Pemutus Jiwa yang sebelumnya dipenuhi hiruk pikuk puluhan ribu orang mendadak hening. Hening yang begitu pekat hingga suara jatuhnya sehelai daun pun terdengar seperti guntur.

​Keringat dingin membasahi punggung Master Sekte Awan Ungu. Mata Patriark Darah Hitam membelalak tak percaya. Para Jenderal Kekaisaran menelan ludah yang terasa seperti kerikil.

​Seorang ahli Setengah Langkah Jiwa Nascent baru saja dihapus dari dunia ini... hanya dengan menarik pedang sejauh satu inci?!

​Di dasar ngarai, Lin Tian menekan gagang pedangnya, mengembalikan pedang itu ke tempatnya secara sempurna. Bunyi ketukan pelan dari gagang pedang yang menyentuh punggungnya bergema di benak setiap kultivator di sana.

​Lin Tian mengedarkan pandangannya ke arah puluhan kapal dan benteng tulang yang mengepung langit di atasnya. Senyumnya melebar, menampilkan deretan gigi putih yang membuat para penguasa benua itu merinding.

​"Aku benar-benar tersentuh," suara Lin Tian tidak berteriak, namun Qi Kehampaan-nya mengantarkan setiap suku kata menembus pikiran semua orang di sana, jelas dan tak terelakkan.

​"Semua sekte besar, kekaisaran, dan aliran sesat... repot-repot berkumpul di satu tempat hanya untuk mengantarkan Batu Roh, sumber daya, dan Inti Jiwa kalian ke hadapanku secara langsung."

​Lin Tian merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.

​"Benua Timur... sungguh tempat yang sangat ramah. Kalau begitu, aku akan dengan senang hati menerima persembahan kalian semua malam ini."

1
Sang M
stop cerita. dancokkk
Sang M
tahi dancokkkkk
budiman
satu mawar 🌹
Raju
isi otak si mc... seperti penjahat beneran....🤣🤣🤣
Raju
habislah para pencari budak...
Raju
lin tian... adalah hantu yg sebenar benarnya...
Raju
badai akan segra tiba !!
Raju
kuat kuat kuaaaat....
perjlalnan aang mc tuk menuju kuat
Raju
waduh... bakal jadi bubur ni si mc kena petir dewa...🤣🤣
Raju
koid dah tuan muda arogan ..
Raju
master sekte kultivasinyabaja yg tinggi. tpi serakah. sama kea tetua lu... g tau benar dan salah.
sama sama sinting...!!
Raju
luar biasa...
inti emas awal melawan inti emas ahir....
Raju
dari bumi awal meroket ke inti emas pertama....
mantaaaab
Raju
joooooozzzz
Raju
kurang habis lin tian..
Raju
horeeeee.... naik tingkat lgi....
Raju
dua jenius beradu nasib....
Raju
perampok yg drampok..,
Raju
bente lgi lu cangkong jadi almarhum ..
Raju
bakal jadi murid inti no one ni...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!