Yasmin Nayara, seorang gadis dengan albinisme yang membuatnya selalu menjadi sorotan negatif—dari orang-orang yang takut dan menghindar, hingga keluarga pamannya yang memperlakukannya begitu buruk. Bahkan, Yaya dijadikan pelunas hutang untuk dinikahkan dengan seorang juragan kaya yang memiliki banyak istri.
----------
Tak mampu menanggungnya, Yaya kabur di hari pernikahannya dan merantau ke kota dengan bermodalkan nekat.
Namun takdir punya jalan lain. Di hari pertamanya di kota, Yaya hampir diperkosa oleh seorang pria dalam pengaruh obat, yang ternyata adalah Baskara Narendra yang sedang dijebak rekan bisnisnya.
Baskara yang kalap menarik Yaya ke dalam mobilnya untuk melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Namun aksi Baskara itu dipergoki Warga dan dipaksa menikah secara mendadak.
----------
Apa yang akan terjadi pada hubungan tak terduga ini di tengah perbedaan latar belakang dan masa lalu yang menyakitkan? Apa lagi Baskara terkenal dingin dan pemarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenMardhiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta
Setelah menyelesaikan membersihkan meja makan, Yaya mulai menjelajahi setiap sudut apartemen dengan hati-hati, mencatat setiap barang dan tempatnya agar tidak membuat kesalahan. Dia membersihkan lantai dengan kain lap yang lembut, menyapu setiap sudut yang sulit terjangkau, dan menyusun kembali benda-benda yang sedikit berantakan dengan sangat rapi.
Saat membersihkan rak buku di ruang tamu, sebuah foto keluarga lama terjatuh dari celah buku. Yaya membungkuk untuk mengambilnya, matanya terpaku pada wajah-wajah yang tertangkap dalam foto, Baskara yang terlihat lebih muda bersama seorang gadis yang kira-kira seumuran Yaya.
"Siapa ini ya?" gumamnya sambil mengusap permukaan foto dengan hati-hati.
"Dia adik Saya," suara Baskara tiba-tiba terdengar di belakangnya, membuat Yaya terkejut hingga hampir menjatuhkan foto. "Jangan menyentuh barang-barang saya sembarangan."
Yaya segera menyerahkan foto dengan tangan gemetar. "Maaf, Pak. Saya tidak sengaja membuatnya jatuh."
Baskara mengambil foto dan menyimpannya kembali ke rak dengan hati-hati. "Itu adik saya yang sudah tiada dua tahun lalu dan semua pakaian di lemari kamarmu adalah miliknya." ucapnya dengan nada yang lebih lembut dari biasanya, sebelum segera kembali ke tatapan dinginnya. "Sekarang fokus pada pekerjaanmu saja."
Setelah Baskara masuk kembali ke ruang kerjanya, Yaya melanjutkan tugasnya. Ketika dia sampai di depan lemari yang berisi barang-barang penting Baskara, dia berhenti dan menghela napas. Dia tidak berani membukanya, takut membuat kesalahan yang bisa membuat Baskara marah.
Di dalam ruang kerja, Baskara sedang melihat laporan bisnis di layar komputer, tapi pikirannya terus terganggu oleh wajah Yasmin yang tadi melihat foto itu dengan ekspresi penasaran. Dia juga tidak bisa menghilangkan suara Ilham yang masih bergema di telinganya tentang penyelidikan terhadap Pak Wijaya dan permintaan untuk mencari tahu tentang Yasmin.
"Sekarang bukan waktunya untuk berpikir tentang hal itu," bisiknya pada diri sendiri, mencoba fokus pada angka-angka di layar. Tapi pikirannya justru melayang ke ingatan kejadian di rumah Pak RT ketika dia melihat Yasmin dengan wajah yang berbeda dari perempuan lain yang pernah dia temui secara sadar.
*****>>>{}<<<*****
Sore itu, Yasmin sedang mencoba memasak nasi dan sayuran hijau yang dia temukan di kulkas. Dia masih berusaha memahami cara kerja kompor listrik meski pagi tadi sempat bisa, dan setelah beberapa kali mencoba, akhirnya berhasil menyalakannya lagi. Saat aroma makanan mulai menyebar ke seluruh apartemen, Baskara keluar dari ruang kerjanya dan mendekati dapur.
"Apa yang kamu masak?" tanya dia dengan nada yang tidak terlalu dingin.
"Nasinya sudah matang, Pak, dan saya sedang memasak kangkung dengan bumbu yang saya buat sendiri dari bahan di kulkas, ada ayam goreng kecap juga." jawab Yaya dengan sedikit kecemasan. "Semoga rasanya sesuai dengan selera Bapak."
Baskara terdiam sejenak, merenungkan aroma makanan yang membuatnya teringat masakan Mamanya. "Baiklah, mari kita coba," ucapnya dengan suara yang lebih rendah.
Ketika mereka makan bersama di meja makan, tidak ada satu kata pun yang terucap. Namun kali ini, Baskara tidak duduk di sisi yang jauh dari Yasmin. Dia mencicipi makanan dengan hati-hati, dan meskipun wajahnya tetap tidak menunjukkan ekspresi apa-apa, dia merasa bahwa rasanya cukup enak, bahkan lebih baik dari makanan yang biasanya dibuat oleh pelayan rumah utama.
Setelah makan, Baskara berdiri dan berkata, "Kamu bisa membersihkan mejanya. Besok saya akan memberikan daftar belanjaan yang perlu kamu beli nanti jika saya mengizinkan kamu keluar. Tapi ingat, kamu harus selalu berada di bawah pengawasan orang yang saya kirim nanti."
Yaya mengangguk dengan senyum kecil yang hampir tidak terlihat. "Terima kasih, Pak. Saya akan berusaha melakukan yang terbaik."
Saat Baskara kembali ke ruang kerjanya, dia mengambil telepon dan menghubungi Ilham. "Ilham, segera kirimkan orang kamu untuk mengawasi Yasmin jika dia perlu keluar nanti. Dan selesaikan penyelidikan tentang dia secepat mungkin. Saya perlu tahu semua detailnya sebelum ada yang salah."
Setelah membersihkan dapur dan menyusun segala sesuatu dengan rapi, Yasmin berdiri di depan pintu ruang kerja Baskara dengan hati yang berdebar kencang. Dia mengulurkan tangan untuk mengetuk, tapi beberapa kali menariknya kembali sebelum akhirnya memiliki keberanian untuk mengetuk tiga kali pelan.
"Masuk!" suara Baskara terdengar dari dalam.
Yasmin membuka pintu perlahan dan masuk dengan hati-hati, menundukkan pandangannya. Baskara sedang duduk di belakang meja besar yang penuh dengan tumpukan dokumen dan laptop. Dia mengangkat kepalanya dengan tatapan yang sedikit kesal.
"Ada apa? Jangan bilang kamu sudah merusak sesuatu lagi," ucapnya dengan nada tegas.
"Tidak, Pak. Maaf jika saya mengganggu," jawab Yasmin dengan suara lembut namun jelas. Dia berani sedikit mengangkat pandangan untuk menatap Baskara. "Saya ingin meminta sesuatu pada Bapak."
Baskara menutup laptopnya dan menyandarkan punggungnya ke kursi, menunjukkan bahwa dia bersedia mendengarkan. "Baiklah, bilang saja, mau minta apa?."
"Sejak saya tinggal di sini, saya tidak punya mukenah untuk sholat," ucap Yaya sambil mengusap ujung piyamanya dengan cemas. "Beberapa waktu ini saya hanya bisa menggunakan selimut untuk menutupi aurat saya saat beribadah. Saya ingin meminta Bapak untuk membolehkan saya membeli mukenah. Tidak apa-apa jika saya menggunakan uang mahar yang Bapak berikan saat acara pernikahan di rumah Pak RT. Saya masih menyimpannya dengan aman."