Milly, seorang pelayan hotel yang polos dan akan berubah menjadi mimpi buruk. Saat membersihkan Penthouse mewah milik Arkananta Mahendra presdir muda yang terkenal kejam, perfeksionis, dan tak tersentuh ia justru menemukan sang Presdir tergeletak tak berdaya akibat racun, tepat di bawah ranjangnya.
Sialnya, Milly memegang gelas beracun itu tepat saat pengawal masuk. Dituduh sebagai pembunuh bayaran, Milly disekap oleh Arkan yang selamat dari masa kritis. Namun, alih-alih menyerahkannya ke polisi, Arkan yang paranoid terhadap musuh bisnisnya justru memanfaatkan kecerobohan Milly.
"Kau punya dua pilihan, Gadis Ceroboh. Membusuk di penjara atas tuduhan pembunuhan, atau menjadi istri kontrakku untuk memancing musuhku keluar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7
Milly menatap uluran tangan kekar Arkan dengan ragu. Di luar jendela mobil, puluhan pasang mata mulai dari staf berpenampilan necis hingga kilatan lensa kamera wartawan yang nekat menerobos sudah menanti dengan rasa penasaran yang memuncak.
"Tuan, tangan saya mendadak tremor. Bagaimana kalau saya tidak sengaja menjatuhkan harga diri Anda di depan karyawan?" bisik Milly cemas, merapikan letak kacamata bulatnya untuk yang kesekian kali.
"Kalau begitu, pastikan kau menggenggam ku dengan benar agar tidak terjatuh, Gadis Ceroboh," balas Arkan datar. Tanpa menunggu persetujuan Milly, jemari kokoh pria itu bergerak maju, langsung menautkan jemarinya di sela-sela jari Milly mengunci telapak tangan gadis itu dalam genggaman yang erat dan hangat.
Cklek.
Bara membukakan pintu mobil dari luar. Begitu sepatu pantofel mengilap milik Arkan menyentuh lantai lobi, gemuruh suara bisik-bisik dan jepretan kamera langsung menyambut mereka.
Arkan melangkah keluar dengan tenang, lalu dengan perlahan namun pasti, ia menarik Milly agar ikut turun di sampingnya. Jubah hitam yang menyelimuti gaun kasual Milly bergoyang mengikuti langkah kakinya yang agak kaku. Genggaman tangan Arkan di jemarinya terasa sangat kontras tegas dan protektif, seolah-olah ia sedang memamerkan barang paling berharga miliknya kepada dunia.
"Lihat itu... Jadi dia wanita yang diumumkan Presdir beberapa hari yang lalu?"
"Kelihatannya sangat biasa saja, kenapa mengenakan kacamata sebesar itu?"
"Tapi Presdir menggandengnya erat sekali! Aku belum pernah melihat Tuan Arkan menyentuh wanita mana pun seposesif itu!"
Bisikan-bisikan dari para staf wanita Mahendra Group merembes masuk ke indra pendengaran Milly. Ia menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang mulai memanas di balik bahu lebar Arkan yang berjalan setengah langkah di depannya.
Tiba-tiba, dari arah kerumunan penonton di lobi, seorang wanita dengan pakaian kerja yang sangat modis dan berkelas melangkah maju, memotong jalur jalan mereka menuju lift privat. Wajah cantik wanita itu tampak tegang, menahan amarah dan kecemburuan yang kentara.
"Arkan! Apa maksud dari semua sandiwara murah ini?!" tuntut wanita itu dengan suara bergetar. "Kau membatalkan janji makan malam kita minggu lalu hanya untuk mengumumkan pernikahan mendadak dengan... dengan gadis panti asuhan berpenampilan berantakan ini?!"
Langkah Arkan seketika terhenti. Aura di sekitar sang Presdir langsung merosot drastis hingga ke titik beku. Genggaman tangannya pada jemari Milly mengencang secara refleks, menyalurkan ketegangan yang pekat.
Milly mengintip dari balik punggung Arkan. Siapa lagi wanita cantik ini? Mengapa mansion dan kantor pria ini penuh dengan orang-orang yang gemar marah-marah?
"Nona Davina Wijaya," suara bariton Arkan menggema, sangat dingin hingga mampu membuat seisi lobi mendadak hening seketika. "Aku tidak perlu mengingatkanmu bahwa hubungan kita tidak lebih dari sekadar mitra bisnis antara Mahendra Group dan Keluarga Wijaya. Kau tidak memiliki hak sedikit pun untuk mempertanyakan kehidupan pribadiku."
Davina menunjuk Milly dengan jari gemetar. "Tetapi dia tidak selevel denganmu, Arkan! Dia hanya akan menjadi beban dan merusak reputasimu!"
Arkan memajukan langkahnya sedikit, mengikis jarak dengan Davina sambil tetap mendekap tangan Milly di sisinya. Mata elangnya berkilat berbahaya. "Dia adalah calon istriku, Nona Wijaya. Berarti, posisinya berada tepat di sampingku, jauh di atas siapa pun di perusahaan ini termasuk dirimu. Jika kau atau keluargamu berani mengusiknya, aku tidak akan segan membatalkan seluruh kontrak investasi kita di Eropa Barat."
Milly tertegun mendengarnya. Ekspansi pasar Eropa Barat? Bukankah itu dokumen yang tadi pagi kutumpahi susu? Jadi, wanita di depan ini adalah bagian dari musuh yang dimaksud Arkan?
Davina memucat, melangkah mundur dengan wajah terhina sebelum akhirnya berbalik dan berjalan cepat meninggalkan lobi dengan menghentakkan kakinya.
Arkan kembali melanjutkan langkahnya menuju lift privat, menarik Milly masuk ke dalam kabin besi yang sunyi. Begitu pintu lift tertutup rapat, menyisakan mereka berdua, Arkan langsung melepaskan genggaman tangannya. Ia berbalik membelakangi Milly, merapikan lengan kemejanya yang sedikit bergeser.
Milly mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ditahannya. "T-Tuan Arkan... terima kasih karena sudah membela saya lagi. Tetapi... apakah tidak apa-apa mengancam mitra bisnis demi sandiwara ini?"
Arkan melirik Milly dari sudut matanya, wajahnya kembali datar tanpa ekspresi, seolah pembelaan hebat di lobi tadi tidak pernah terjadi. "Jangan salah paham, Milly. Aku hanya mempertegas posisimu sebagai umpan. Semakin tinggi nilaimu di mataku, semakin cepat musuh utama dari Keluarga Wijaya akan bergerak memburu kita."
Pria itu menjeda kalimatnya, memperhatikan beberapa helai rambut Milly yang berantakan karena angin lobi. "Dan karena kau membuatku harus meladeni drama Nona Wijaya selama tiga menit penuh di depan umum... aku menambahkan enam bulan lagi ke masa kontrakmu."
Milly melongo, matanya membulat sempurna di balik kacamatanya. "Hah?! Enam bulan lagi?! Tuan, yang membuat drama itu mitra bisnis Anda, kenapa masa kurungan saya yang terus bertambah?!"
"Sepuluh tahun enam bulan," ucap Arkan kejam saat pintu lift berdenting terbuka, menampilkan lantai eksekutif kantor Presdir yang mewah. "Selamat datang di tempat kerjamu yang baru, Calon Istri."
Lantai eksekutif Mahendra Group tampak begitu sunyi, sangat kontras dengan hiruk-pikuk lobi di bawah tadi. Lantai ini dilapisi karpet tebal bernuansa abu-abu gelap yang meredam setiap langkah kaki, dengan dinding kaca besar yang langsung memperlihatkan pemandangan pencakar langit kota dari ketinggian.
Arkan melangkah keluar dari lift tanpa menoleh lagi ke belakang, memaksa Milly setengah berlari kecil untuk menyeimbangkan langkah kakinya yang masih kaku akibat sisa syok menghadapi Davina Wijaya.
"Tuan Arkan, tunggu! Kantor Anda ini luas sekali, bagaimana kalau saya tersesat?" protes Milly, memeluk tas selempangnya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang luar biasa rapi dan minimalis tipikal sarang seorang psikopat perfeksionis.
Arkan berhenti tepat di depan sebuah meja kayu mahoni besar yang terletak hanya berjarak dua meter dari pintu masuk ruang kerja utamanya. Di atas meja itu, sebuah laptop tipis terbaru, telepon kabel, dan sebuah mesin penghancur kertas mini sudah tertata dengan presisi milimeter yang gila.
"Ini meja kerjamu," ucap Arkan pendek, berbalik dan menatap Milly dengan kedua tangan yang disusupkan ke dalam saku celana bahan mewahnya.
Milly melongo, menunjuk dirinya sendiri. "Meja kerja saya? Tuan, saya ini pelayan kontrak berwujud istri sandiwara, bukan sekretaris korporat! Memangnya apa yang harus saya lakukan di sini?"
"Tugasmu sederhana. Duduk di sana, pastikan kau terlihat oleh siapa pun yang masuk ke ruanganku, dan yang paling penting..." Arkan memajukan tubuhnya sedikit, membuat Milly refleks mundur setengah langkah. "...jangan menyentuh tombol apa pun, jangan meminum apa pun yang bukan diberikan oleh Bara, dan jangan mengacaukan dokumenku lagi."
"Jadi saya cuma jadi pajangan? Seperti patung selamat datang di lobi?" cicit Milly jengkel, merengut sambil membetulkan letak kacamata bulatnya.
"Kau adalah tameng yang sedang kupamerkan, Milly. Dan tameng yang bagus tidak banyak memprotes," balas Arkan dingin sebelum melangkah menuju meja kerjanya sendiri yang berukuran dua kali lebih besar di ujung ruangan.
Tiga jam berlalu dengan keheningan yang menyiksa. Milly hanya bisa duduk tegak di kursinya, berpura-pura sibuk membaca artikel acak di laptop yang sudah disediakan, sementara Arkan tenggelam dalam tumpukan berkas dan panggilan telepon internasional yang menggunakan bahasa asing yang tidak Milly pahami sama sekali.
Krieeet...
Pintu ruang kerja terbuka pelan. Bukan Bara yang masuk, melainkan seorang petugas kebersihan yang membawa sebuah nampan berisi secangkir teh chamomile hangat beraroma menenangkan.
"Nona Milly, ini teh hangat untuk menemani kerja Anda," ucap petugas itu dengan senyum ramah yang tampak tulus.
Perut Milly yang sejak tadi tegang mendadak terasa hangat melihat perhatian itu. "Ah, terima kasih banyak ya..."
"Bara, amankan petugas itu."
Suara bariton Arkan yang memotong tiba-tiba terdengar bergaung kencang dari ujung ruangan. Belum sempat Milly menyentuh cangkir teh tersebut, Bara sudah melesat masuk dari pintu samping, mencengkeram pergelangan tangan sang petugas kebersihan dengan gerakan mengunci yang sangat cepat hingga nampan kayu itu jatuh menghantam lantai.
Prang!
Cangkir teh pecah berkeping-keping, menumpahkan cairan bening yang mendesis pelan saat menyentuh permukaan karpet abu-abu. Karpet tebal itu seketika melepaskan asap tipis berbau kimia yang menyengat tanda bahwa cairan di dalamnya bukanlah teh biasa, melainkan zat asam korosif yang mematikan.
Milly memekik panik, melompat mundur dari kursinya hingga punggungnya menabrak dinding. Wajahnya seketika pucat pasi, seluruh tubuhnya gemetar hebat melihat bagaimana karpet mansiun itu meleleh perlahan.
"T-Tuan... tehnya..." bisik Milly dengan suara tercekat di tenggorokan.
Arkan sudah berdiri di samping Milly entah sejak kapan. Lengan kekarnya langsung menarik tubuh Milly yang lemas ke dalam dekapan protektifnya, menyembunyikan wajah gadis itu di dada bidangnya untuk kedua kali hari ini. Mata elang sang Presdir menatap tajam ke arah petugas kebersihan yang kini sudah ditiarapakan oleh Bara ke lantai.
"Keluarga Wijaya benar-benar tidak sabaran," desis Arkan dengan suara yang begitu dingin hingga mampu membekukan udara di sekitar mereka. Cengkeramannya di bahu Milly mengencang, menyalurkan kemarahan masif yang siap meledak. "Bawa dia ke ruang bawah tanah kantor. Aku akan turun setelah memastikan asetku aman."
"Baik, Tuan," jawab Bara tegas, segera menyeret mata-mata itu keluar dari ruangan melalui pintu rahasia di balik rak buku.
Setelah ruangan kembali sunyi, Arkan menurunkan pandangannya, menatap Milly yang masih menyembunyikan wajahnya di balik kemeja putihnya sambil terisak pelan karena syok yang teramat sangat. Kelembutan yang asing kembali merayapi hati sang Presdir kejam saat melihat bahu kecil gadis ceroboh itu bergetar.
"Aku sudah bilang, tetap berada di dekatku," bisik Arkan rendah di dekat telinga Milly, tangannya bergerak mengusap punggung gadis itu dengan ritme yang lambat dan menenangkan. "Di duniaku, segelas teh pun bisa menjadi tiket menuju kematianmu."
Milly mendongak dengan mata yang berkaca-kaca, menatap rahang tegas Arkan yang mengeras. "T-Tuan Arkan... kalau begitu, kenapa Anda tidak melepas saya saja? Hidup dengan Anda terlalu berbahaya..."
Arkan menatap lekat-lekat sepasang manik mata bulat di balik kacamata tebal itu. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum tipis yang kali ini tidak terasa kejam, melainkan sarat akan kepemilikan yang mutlak.
"Kau sudah menandatangani kontraknya, Millyanita. Dan setelah apa yang terjadi hari ini... aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dari sisiku. Bahkan jika waktu sepuluh tahun itu harus kuhabiskan untuk menjagamu dari maut."