"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."
Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.
Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?
Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Kesepakatan Tanpa Cinta
Selama tiga hari terakhir, Nadira tidak benar-benar tidur dengan tenang.
Setiap kali memejamkan mata, pikirannya selalu kembali pada dua hal yang sama. Surat peringatan dari bank yang tersimpan rapi di dalam laci meja kerja dan tawaran Arga yang terdengar begitu mustahil untuk diterima.
Ia sudah mencoba mencari jalan lain. Menghubungi beberapa kenalan lama, mencari informasi mengenai pinjaman usaha, bahkan menghitung ulang seluruh aset yang masih bisa dijual. Namun, hasilnya tetap sama. Tidak ada yang cukup untuk menutup tunggakan bank sekaligus mempertahankan Toko Buku Senja.
Sore itu, setelah pelanggan terakhir meninggalkan toko, Nadira kembali duduk di balik meja kasir. Buku keuangan terbuka di hadapannya, dipenuhi coretan angka yang semakin lama semakin membuat kepalanya berdenyut. Ia menatap foto ayahnya yang berdiri di sudut meja.
"Ayah..." gumamnya lirih. "Kalau Ayah ada, Ayah bakal nyuruh aku gimana?"
Tentu saja tidak ada jawaban. Yang terdengar hanya suara jarum jam dan kipas angin tua yang berputar pelan di langit-langit toko.
Nadira mengembuskan napas panjang. Setelah beberapa saat memandangi layar ponselnya, ia akhirnya membuka daftar panggilan. Jemarinya menggantung beberapa detik di atas layar sebelum akhirnya menekan tombol panggil.
Telepon baru berdering dua kali ketika suara Arga terdengar dari seberang.
"Halo?"
"Halo... Ga."
"Ada apa?"
Nadira sempat menelan ludah. Keputusan ini terasa jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan. "Aku... udah mikirin tawaran kamu."
Suasana di seberang mendadak hening. "Lalu?" tanya Arga pelan.
"Aku mau ketemu."
"Oke." Jawaban Arga terdengar singkat, seolah ia memang sudah menunggu telepon itu sejak lama.
"Besok jam dua siang. Grand Meridian Hotel. Aku pesan meeting room. Kalau setelah kita ngobrol kamu berubah pikiran, nggak apa-apa. Aku nggak akan maksa."
Kalimat itu justru membuat dada Nadira terasa sedikit lebih ringan.
Keesokan harinya, Nadira tiba lima belas menit lebih awal.
Hotel Grand Meridian berdiri megah di tengah kawasan bisnis Jakarta. Deretan mobil mewah keluar masuk area lobi, sementara petugas hotel menyambut setiap tamu dengan senyum profesional.
Nadira menunduk sekilas memperhatikan penampilannya. Ia memilih mengenakan kemeja putih yang dipadukan dengan blazer krem favoritnya. Blazer itu sudah cukup lama dimiliki. Warnanya memang masih terlihat bagus, tetapi bagian ujung lengannya mulai sedikit memudar. Tas kulit cokelat yang menggantung di bahunya pun mulai mengelupas di beberapa sisi.
"Selamat siang, Mbak,” sapaan resepsionis membuyarkan lamunannya.
"Bapak Arga sudah menunggu di lantai delapan belas."
"Terima kasih.”
Pintu lift terbuka pelan. Selama perjalanan menuju lantai yang dituju, Nadira memandangi bayangannya sendiri di dinding cermin. Wajahnya terlihat sedikit lebih pucat dibanding biasanya. Entah karena kurang tidur atau terlalu banyak berpikir.
Begitu pintu lift terbuka, Arga sudah berdiri tidak jauh dari sana.
Laki-laki itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Penampilannya rapi seperti biasa, tetapi wajahnya juga memperlihatkan tanda-tanda kelelahan.
"Datangnya cepat," ujar Arga sambil tersenyum tipis.
"Aku nggak enak kalau bikin orang nunggu."
"Kamu memang nggak pernah berubah."
Nadira terkekeh pelan. "Itu pujian atau sindiran?"
"Dua-duanya."
Mereka berjalan berdampingan menuju ruang pertemuan di ujung koridor.
Ruangan itu jauh lebih sederhana daripada yang dibayangkan Nadira. Sebuah meja kayu oval berada di tengah ruangan dengan dua kursi yang saling berhadapan. Di sisi kanan terdapat jendela besar yang menghadap deretan gedung pencakar langit, sementara aroma kopi yang baru diseduh memenuhi seluruh ruangan.
Seorang pelayan masuk beberapa saat kemudian, meletakkan dua cangkir kopi dan air mineral sebelum kembali menutup pintu.
Nadira mengusap pelan bibir cangkirnya tanpa berniat meminum kopi tersebut. Sementara Arga membiarkan perempuan itu mengumpulkan keberanian lebih dulu.
"Aku sudah baca lagi draft yang kamu kirim."
Arga mengangguk pelan. "Gimana menurutmu?"
Nadira tidak langsung menjawab. Ia mengeluarkan sebuah map bening dari dalam tasnya, lalu meletakkannya di atas meja.
"Aku juga bawa sesuatu."
Arga mengernyit penasaran.
Nadira tersenyum tipis. "Semalam aku nggak langsung tidur. Aku baca lagi semua isi kontrak yang kamu kirim. Berkali-kali." Jeda sejenak, " Aku sadar nggak ada keputusan yang benar-benar sempurna. Selalu ada risiko di setiap pilihan."
Ia mengangkat pandangannya. "Kalau aku menolak, mungkin aku kehilangan toko yang sudah Ayah bangun puluhan tahun. Sementara kalau aku menerima..." Kalimat itu menggantung. "...hidupku akan berubah."
Arga mengangguk pelan, memahami sepenuhnya pergulatan yang sedang dialami Nadira. "Aku nggak akan mendesak kamu."
Suasana kembali hening. Beberapa detik berlalu sebelum Nadira akhirnya berkata dengan mantap,
"Aku bersedia."
Arga yang sejak tadi tampak tenang akhirnya mengembuskan napas lega. Meski ekspresinya tidak banyak berubah, beban yang beberapa minggu terakhir memenuhi pikirannya terasa sedikit berkurang.
"Terima kasih."
"Tapi..." Satu kata itu membuat Arga kembali menatap Nadira.
"Aku punya beberapa syarat."
"Bilang saja."
Nadira membuka map bening yang dibawanya. Beberapa lembar kertas tampak penuh dengan catatan kecil yang ia tulis sendiri menggunakan pulpen berwarna biru.
"Aku memang menerima tawaran ini karena keadaan memaksaku. Aku juga nggak akan menyangkal kalau bantuanmu bisa menyelamatkan toko peninggalan Ayah." Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan. "Tapi aku nggak mau kehilangan diriku sendiri dalam prosesnya."
Arga mendengarkan tanpa menyela.
"Bagiku, pernikahan bukan sekadar status yang bisa dipakai lalu dilepas sesuka hati. Jadi kalau kita benar-benar memutuskan menikah, aku ingin kita sama-sama menghormati ikatan itu."
Tatapan mereka bertemu.
"Aku nggak menuntut kamu mencintaiku. Aku juga nggak berharap kita langsung menjadi pasangan yang sempurna."
Nadira tersenyum tipis, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan.
"Aku cuma nggak ingin menjadi perempuan yang hanya disebut istri ketika dibutuhkan di depan orang lain, lalu diperlakukan seperti orang asing saat pintu rumah ditutup."
Untuk beberapa saat, Arga tidak memberikan jawaban. Ia hanya memandangi perempuan di hadapannya yang ternyata telah memikirkan semuanya jauh lebih dalam daripada yang ia bayangkan.
Tanpa disadarinya, pembicaraan siang itu tidak lagi hanya membahas sebuah kontrak.
Melainkan dua orang asing yang sedang berusaha menentukan batas antara sebuah kesepakatan dan makna sesungguhnya dari sebuah pernikahan.
Arga tidak segera memberikan tanggapan. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil memandangi Nadira yang duduk di hadapannya. Sejak awal ia sudah menduga perempuan itu akan mengajukan beberapa syarat, tetapi bukan seperti ini. Ia mengira Nadira akan meminta nominal uang yang lebih besar atau jaminan untuk Toko Buku Senja. Nyatanya, yang dipersoalkan justru sesuatu yang tidak pernah terpikir olehnya.
"Aku paham maksudmu," ucap Arga akhirnya. "Tapi kontrak ini dari awal memang dibuat sesederhana mungkin. Tujuannya hanya untuk memenuhi syarat wasiat."
"Itu yang membuatku berpikir selama tiga hari terakhir," balas Nadira pelan. "Kalau kita hanya berpura-pura, sampai kapan kita harus berpura-pura?"
Arga mengernyit.
"Keluargamu pasti mengenalku sebagai istrimu. Ibuku juga akan menganggapmu sebagai suamiku. Kita mungkin akan tinggal di rumah yang sama, menghadiri acara keluarga yang sama, bahkan dikenal orang sebagai pasangan. Kalau semuanya hanya sandiwara, bukankah kita akan terus hidup di dalam kebohongan?"
Nada bicaranya tenang, tetapi setiap kalimat yang keluar terdengar mantap. Arga bisa melihat bahwa perempuan itu benar-benar telah mempertimbangkan segala kemungkinan.
"Aku tidak meminta hal yang muluk," lanjut Nadira. "Aku hanya ingin kalau kita jadi menikah, kita saling menghormati sebagaimana pasangan pada umumnya. Tidak saling mengabaikan, tidak saling mempermalukan, dan tidak menjadikan pernikahan ini sekadar formalitas."
Beberapa saat Arga memilih diam. Jemarinya mengetuk pelan permukaan meja sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang.
"Kamu benar."
Jawaban itu membuat Nadira sedikit terkejut.
"Aku terlalu fokus menyelesaikan masalahku sendiri sampai lupa kalau keputusan ini juga akan mengubah hidupmu."
Arga menarik map hitam ke hadapannya, lalu membuka halaman demi halaman draft perjanjian yang telah disiapkan tim legal perusahaan. Sesekali ia membaca catatan kecil yang dibuat Nadira di bagian pinggir kertas.
"Kamu teliti juga."
Nadira tersenyum tipis. "Aku cuma ingin memastikan nggak ada yang terlewat."
Arga mengambil pulpen dari saku jasnya. "Baik. Kita revisi."
"Revisi?"
"Iya. Aku nggak mau kamu menandatangani sesuatu yang masih membuatmu ragu."
Untuk pertama kalinya sejak memasuki ruangan itu, ketegangan di wajah Nadira sedikit berkurang.
Satu per satu mereka mendiskusikan isi perjanjian tersebut. Arga mencoret beberapa pasal yang dianggap terlalu kaku, kemudian menambahkan poin-poin baru berdasarkan masukan Nadira. Sesekali keduanya berbeda pendapat, tetapi tidak pernah sampai meninggikan suara.
Setelah hampir satu jam, Arga memutar lembar terakhir dan mendorong dokumen itu ke arah Nadira.
"Coba baca sekali lagi."
Nadira mengangguk. Matanya menyusuri setiap kalimat dengan saksama.
KESEPAKATAN PERNIKAHAN
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Pihak Pertama
Arga Wijaya
Pihak Kedua
Nadira Pramesti
Kedua belah pihak sepakat melangsungkan pernikahan secara sah sesuai ketentuan hukum yang berlaku dengan beberapa kesepakatan sebagai berikut.
Pasal 1
Pihak Kedua menjalankan pernikahan sesuai dengan keinginan maksud dari Pihak Pertama.
Pasal 2
Pihak Pertama berkewajiban melunasi seluruh kewajiban finansial Toko Buku Senja kepada pihak bank sesuai nominal yang telah disepakati serta memberikan kebebasan kepada Pihak Kedua untuk tetap mengelola Toko Buku Senja tanpa campur tangan dalam operasional sehari-hari.
Pasal 3
Selama pernikahan berlangsung, kedua belah pihak berkewajiban menjaga nama baik masing-masing, baik di lingkungan keluarga maupun pekerjaan.
Pasal 4
Setiap keputusan yang berkaitan dengan kehidupan rumah tangga diselesaikan melalui komunikasi dan kesepakatan bersama.
Pasal 5
Kedua belah pihak bersepakat menjalani pernikahan dengan saling menghormati hak, kewajiban, ruang pribadi, serta martabat masing-masing.
Pasal 6
Apabila di kemudian hari perjanjian ini berakhir, penyelesaiannya dilakukan secara baik-baik tanpa merugikan salah satu pihak.
Di bawah dokumen itu terdapat lampiran lain berjudul Hak dan Kewajiban Suami dan Istri.
Nadira membacanya perlahan.
Hak Nadira
Tetap menjalankan usaha dan pekerjaannya.
Mendapat dukungan serta perlindungan dari suami.
Menyampaikan pendapat dalam setiap keputusan rumah tangga.
Kewajiban Nadira
Menjaga nama baik keluarga.
Menghormati suami.
Menjalin komunikasi yang jujur dan terbuka.
Hak Arga
Mendapat penghormatan sebagai suami.
Didampingi dalam acara keluarga maupun perusahaan apabila diperlukan.
Kewajiban Arga
Memberikan nafkah sesuai kebutuhan rumah tangga.
Melindungi istri.
Menghormati pilihan serta pekerjaan istri.
Menyelesaikan persoalan melalui musyawarah.
Nadira menutup lembar terakhir sambil mengembuskan napas lega. "Menurutku sudah cukup."
"Yakin?"
Ia mengangguk pelan.
"Yakin."
Arga memutar dokumen itu ke arah tengah meja. Sebuah pulpen diletakkan di sampingnya.
"Kalau begitu..." Kalimatnya menggantung.
Nadira memandangi garis kosong yang disediakan untuk tanda tangan. Tangan kanannya perlahan meraih pulpen, tetapi berhenti sesaat sebelum ujungnya menyentuh kertas.
Sekali lagi ia teringat ayahnya. Teringat toko kecil yang menjadi saksi masa kecilnya. Teringat ibunya yang beberapa malam terakhir diam-diam menangis karena memikirkan utang bank. Kalau bukan demi mereka, mungkin ia tidak akan pernah berada di ruangan ini.
Dengan satu tarikan napas panjang, Nadira akhirnya membubuhkan tanda tangannya.
Arga memperhatikan tanpa berkata apa-apa. Setelah Nadira selesai, ia mengambil pulpen yang sama lalu menandatangani bagian miliknya.
Suara gesekan tinta di atas kertas yang menjadi saksi lahirnya sebuah kesepakatan yang akan mengubah hidup keduanya.
Arga menutup map itu perlahan sebelum menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Mulai hari ini, tim legal akan mengurus semua kebutuhan administrasi. Setelah itu kita tentukan tanggal pernikahan."
Nadira mengangguk. Entah mengapa, setelah semuanya resmi disepakati, justru muncul perasaan kosong yang sulit dijelaskan. Ia tidak tahu apakah keputusan yang baru saja diambil merupakan awal dari kebahagiaan atau justru awal dari penyesalan.