~
Nayanika Sadira Pangestu, gadis kaya raya yang cantik, nakal, dan bar-bar, akhirnya kena batunya. Karena saking seringnya bikin pusing, ia "dibuang" orang tuanya ke sebuah pesantren pedalaman untuk bertobat.
~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 7
***
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Suara bariton yang berat, jernih, dan berwibawa itu bergema melalui pengeras suara masjid, memutus keheningan setelah zikir bersama usai salat zuhur. Detik itu juga, atmosfer di area jemaah perempuan atau saf putri mendadak berubah seratus delapan puluh derajat.
"Eh, Gus Zayyan mau ngisi kajian siang ini!" bisik Sarah dengan mata berbinar-binar, wajahnya seketika berseri-seri penuh semangat. Ia langsung menggeser duduknya maju ke depan. "Ayo, Mbak Nay, Al, maju! Biar dapet saf paling depan dekat kelambu pembatas!"
"Iya, ayo Mbak Nay. Kalau telat maju, nanti kita cuma kebagian saf belakang, enggak kedengaran jelas suara penjelasan kitabnya," tambah Aliyah yang sudah siap dengan buku catatan kecil dan pulpen di tangannya. Wajahnya tak kalah antusias dengan santriwati lainnya yang kini mulai bergerak maju, saling berdesakan dengan tertib demi berdekatan dengan kelambu hijau pembatas antara jemaah putra dan putri.
Naya, yang masih sibuk memegangi ujung gamis hitamnya yang kedodoran, mendecak sebal. "Hah? Apaan sih? Malas banget! Duduk di pojokan sini aja kenapa, sih? Gerah tahu enggak!"
"Enggak bisa, Mbak Nay! Ayo!" Tanpa menunggu persetujuan, Sarah langsung menarik lengan gamis Naya dengan kuat, memaksa gadis Jakarta itu ikut merangkak maju di atas hamparan karpet hijau masjid.
Mau tidak mau, Naya berakhir duduk di saf kedua, tepat di depan kelambu hijau tipis yang membatasi mereka dengan area santri putra. Di sekelilingnya, ratusan santriwati duduk bersila dengan takzim, memegang kitab kuning atau buku catatan dengan wajah yang memancarkan kekaguman murni. Pandangan mereka tertuju pada siluet tegap Gus Zayyan yang kini duduk di balik kelambu, terlihat samar namun tetap memancarkan pesona seorang pemimpin muda yang berkarisma.
Naya memutar bola matanya malas. Ia memandangi buku catatan kosong yang tadi dipaksakan Sarah ke tangannya. "Gila, ini orang di mana-mana ada ya. Jadi CEO iya, jadi ustaz juga iya. Kurang kerjaan banget," gerutu Naya lirih, sangat kontras dengan desas-desus kagum para santriwati di sekitarnya.
Gus Zayyan mendeham sejenak sebelum memulai membaca kitab di hadapannya. "Bismillahirrohmanirrohim. Siang ini kita akan melanjutkan kajian kitab Akhlaq lil Banat, membahas tentang adab seorang anak, khususnya bagaimana menjaga sikap, lisan, dan kewajiban menaati aturan yang telah ditetapkan, baik oleh orang tua maupun lembaga tempat kita menuntut ilmu..."
Mendengar kata 'kewajiban menaati aturan', Naya kembali mendecak sebal. "Cih, baru mulai udah nyindir," gumamnya ketus.
Suasana masjid yang sejuk karena embus angin sepoi-sepoi dari jendela besar lama-kelamaan membuat pertahanan Naya runtuh. Perutnya yang baru diisi bubur, ditambah rasa lelah akibat hukuman menyapu halaman tadi pagi, dan kantuk yang luar biasa karena baru tidur beberapa jam membuat kelopak mata Naya terasa seberat timah.
Srak... srak...
Suara goresan pulpen para santriwati yang sibuk mencatat untaian kalimat Gus Zayyan terdengar seperti lagu pengantar tidur di telinga Naya. Kepala Naya mulai terangguk-angguk kecil. Ia mencoba menegakkan punggungnya, bersandar pada salah satu tiang beton masjid yang berada tepat di sampingnya.
"Mbak Nay... Mbak Nay, jangan tidur. Itu Gus Zayyan lagi ngejelasin bagian penting," bisik Aliyah sambil menyenggol pelan lengan Naya menggunakan sikunya.
"Engg... bentar, Al. Lima menit doang... mata gue lowbat banget," igau Naya dengan suara super pelan. Kepalanya kembali terkulai, kali ini benar-benar bersandar nyaman pada tiang masjid dengan mata terpejam rapat. Buku catatan di pangkuannya nyaris merosot ke lantai.
Di balik kelambu hijau, Gus Zayyan yang sedang membaca bait-bait kitab mendadak menghentikan bicaranya sejenak. Mata elangnya yang tajam di balik lensa kacamata menangkap sebuah pergerakan yang tidak biasa dari balik kelambu putri. Melalui kain kelambu yang tipis, ia bisa melihat dengan jelas siluet seorang santriwati yang duduk bersandar di tiang masjid dengan posisi kepala yang miring sepenuhnya—tertidur pulas di tengah-tengah ratusan santriwati yang sedang menyimak.
Zayyan mengenali bentuk tubuh dan jilbab abu-abu instan itu. Siapa lagi kalau bukan si ratu onar dari Jakarta, Nayanika.
Bukannya memarahi secara langsung, Gus Zayyan justru mengulas senyum sinis yang sangat tipis, hampir tak terlihat. Ia membetulkan letak mikrofon di depannya, lalu melanjutkan penjelasannya dengan volume suara yang sengaja dikeraskan dan penuh penekanan pada setiap kata.
"Dalam bab ini disebutkan, salah satu ciri orang yang tidak memiliki niat tulus dalam menuntut ilmu adalah... mereka yang fisiknya berada di dalam majelis, namun jiwanya melayang entah ke mana. Biasanya, ciri-cirinya sangat mudah dikenali. Ketika orang lain sibuk membuka mata dan hati untuk mencatat ilmu, dia justru sibuk menutup mata, bersandar di tiang masjid, dan kepalanya terangguk-angguk seperti sedang menikmati musik di kelab malam."
DEG.
Mendengar kata 'kelab malam', Sarah dan Aliyah langsung tersentak. Mereka spontan menoleh ke arah Naya yang masih memejamkan mata dengan mulut sedikit terbuka.
"Astagfirullah, Mbak Nay! Bangun, Mbak!" Sarah panik setengah mati. Ia mencubit paha Naya dengan cukup keras.
"Aduh! Sakit, Sar!" Naya tersentak kaget. Matanya langsung terbuka lebar akibat rasa perih di pahanya. Nyawanya yang belum terkumpul penuh membuatnya refleks berteriak kecil, membuat beberapa santriwati di saf depan menoleh ke arahnya dengan pandangan menegur.
Gus Zayyan di balik kelambu kembali mendeham keras lewat mikrofon, memutus kegaduhan kecil itu.
"Menuntut ilmu membutuhkan kesadaran penuh. Bukan sekadar datang karena terpaksa, apalagi karena sedang menjalani masa percobaan kontrak tertentu," lanjut Zayyan dengan nada suara yang terdengar datar, namun sarat akan sindiran telak yang hanya dimengerti oleh satu orang di masjid itu. "Sebab, jika seseorang tidur saat dikasih ilmu, bagaimana dia bisa menepati janji-janji yang sudah dia tanda tangani di atas meja? Benar begitu, para santri sekalian?"
"Benar, Gus..." jawab para santri dan santriwati serempak, meskipun sebagian besar dari mereka bingung dengan maksud kata 'kontrak' dan 'meja' yang diucapkan oleh sang Gus.
Naya yang kini sudah sadar sepenuhnya, merasakan darahnya berdesir naik ke wajah. Matanya melotot tajam ke arah siluet Gus Zayyan di balik kelambu. Giginya menggertak geram. Ia tahu persis, seratus persen, bahwa kalimat-kalimat tadi sengaja diucapkan si es batu itu untuk mempermalukan dirinya!
"Sialan... dia sengaja nyindir gue di depan orang banyak!" umpat Naya dengan napas memburu, tangannya mengepal kuat di atas buku catatannya yang masih kosong melongpong. Rasa kantuknya menguap habis dalam seketika, digantikan oleh rasa jengkel yang membakar dada.
"Mbak Nay, muka kamu merah banget. Kamu enggak apa-apa?" tanya Aliyah cemas melihat dada Naya yang naik turun menahan emosi.
"Gue enggak apa-apa, Al. Gue cuma baru tahu kalau ada ustaz yang hobinya nyindir orang pakai mikrofon. Pengecut banget!" ketus Naya dengan suara yang agak keras, sengaja agar suaranya bisa menembus kelambu hijau di depannya.
Sarah ketakutan mendengarnya, langsung membekap mulut Naya menggunakan telapak tangannya. "Sssttt! Mbak Nay, kecilin suaranya! Nanti kalau kedengaran Gus Zayyan, hukuman Mbak Nay bisa ditambah lagi!"
Naya menepis tangan Sarah kesal, namun ia terpaksa menahan diri. Ia kembali menatap lurus ke arah depan kelambu dengan pandangan menusuk, seolah-olah ingin menembus kain hijau itu dan mencabik-cabik wajah kaku Gus Zayyan yang masih melanjutkan kajiannya dengan ekspresi yang teramat tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
"Lihat aja lu ya, Zayyan sarap. Lu pikir lu bisa jinakin gue pakai cara ginian? Enggak akan pernah!" banting Naya dalam hati, bersumpah untuk membalas dendam pada sesi interaksi berikutnya. Hari pertama kontrak mereka baru berjalan beberapa jam, namun Naya sudah memastikan bahwa hidup Gus CEO itu tidak akan pernah tenang selama dia berada di Pesantren Al-Falah.
BERSAMBUNG
ahhhh gus zayyan, naya yg di perhatiin aku yg baperrrrrrr
lanjut thor up yg banyak