NovelToon NovelToon
The Alpha'S Secret Girl

The Alpha'S Secret Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:612
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

“Rangga Dewantara Aldebaran menguasai sekolah ini, tapi Keisha Zahra Aurellia menguasai jantungnya.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Bab 16: Pagi Baru di Bawah Langit Kelabu

Cahaya matahari pagi yang biasanya menyinari halaman SMA Nusantara tampak terhalang oleh gumpalan awan kelabu yang menggantung rendah di atas langit kota. Udara terasa dingin setelah semalam disiram hujan deras, menyisakan genangan air di beberapa sudut pelataran parkir sekolah. Meskipun suasana luar tampak suram, denyut kehidupan di koridor utama sekolah tetap berjalan seperti biasa. Para siswa lalu-lalang membawa buku catatan, mengobrol dalam kelompok kecil, atau bergegas menuju kelas masing-masing sebelum bel masuk berbunyi.

Di gerbang utama, sebuah motor sport hitam besar berhenti dengan mulus di tepi jalan. Pengendaranya melepas helm full-face dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya tampak sedikit kaku saat mematikan mesin.

Rangga Dewantara Aldebaran turun dari motor, lalu berbalik untuk membantu Keisha turun dari boncengan. Meskipun balutan perban di lengan kanan atasnya tertutup rapat di balik jaket kulit tebal yang ia kenakan, gerakan pemuda itu masih menyiratkan sisa-sisa rasa nyeri dari insiden berdarah di pelabuhan tua malam sebelumnya.

Keisha mendaratkan kakinya di atas aspal dengan hati-hati. Gadis itu langsung menatap cemas ke arah lengan kanan Rangga, memastikan pria di hadapannya tidak terlalu memaksakan diri.

"Lengan Kakak gimana? Masih sakit banget?" tanya Keisha dengan nada suara penuh perhatian, manik matanya memindai wajah Rangga yang tampak sedikit lebih pucat dari biasanya.

Rangga tersenyum tipis, menampilkan gestur santai demi meredakan kekhawatiran yang terpatri di wajah gadis itu. "Udah mendingan, Keish. Jangan terlalu dipikirin, ini cuma luka gores biasa. Yang penting sekarang lu fokus aja sama jadwal pelajaran hari ini, jangan sampai telat masuk kelas."

Keisha mendengus pelan, meskipun ia tahu membantah ucapan sang ketua geng adalah hal yang sia-sia. "Iya, Kak... Tapi nanti pas jam istirahat pertama, Kakak harus tetap minum obat penahan sakit yang aku bawain di tas. Awas aja kalau sampai bandel!"

Mendengar nada bicara mengancam namun terdengar manis itu, tawa pelan lolos dari bibir Rangga. "Siap, Bos. Pengawas akademik paling galak sedunia," balas Rangga mengejek pelan, membuat rona merah tipis seketika menghiasi pipi Keisha.

Mereka kemudian berjalan berdampingan memasuki gerbang sekolah. Kehadiran mereka berdua sontak menarik perhatian puluhan pasang mata siswa-siswi yang berlalu-lalang di koridor. Bisik-bisik penasaran langsung terdengar di setiap sudut lorong. Berita tentang insiden skorsing massal, bentrokan dengan geng Viper, hingga hubungan misterius antara sang ketua geng paling ditakuti dan siswi beasiswa teladan kini telah menjadi topik hangat paling panas di seluruh penjuru SMA Nusantara.

Namun, tidak satupun dari bisikan-bisikan itu yang dihiraukan oleh Rangga maupun Keisha. Mereka berjalan dengan kepala tegak, seolah menegaskan kepada seluruh sekolah bahwa ikatan di antara mereka kini telah melewati batasan dunia jalanan yang kejam.

Di sisi lain koridor lantai dua, tepat di depan ruang guru, suasana tampak jauh lebih menegangkan. Satria dan Bara berdiri menyandar di dekat dinding piala prestasi sekolah, mengawasi gerak-gerik beberapa guru BK yang sedang memegang berkas laporan kedisiplinan terbaru.

"Lu lihat ekspresi Pak Gunawan pagi ini, Bara?" bisik Satria menyikut lengan sahabatnya sambil melirik ke arah pintu ruang guru yang terbuka setengah. "Gua yakin banget hari ini bakal ada panggilan lanjutan soal sanksi skorsing kita atau evaluasi ulang buat Rangga."

Bara menghembuskan napas berat, melipat kedua tangannya di dada. "Mau gimana lagi, Sat. Masalah di pelabuhan kemarin malam pasti bakal bocor ke pihak sekolah cepat atau lambat. Untung aja anak-anak Viper lagi pada tiarap dan belum berani muncul lagi setelah si Reno babak belur dihajar kemarin."

"Pokoknya kalau sampai ada guru yang berani coba-coba nyingkirin Rangga dari sekolah gara-gara masalah ini, gua orang pertama yang bakal maju protes ke kepala yayasan," geram Satria dengan nada suara penuh emosi.

Bel sekolah berbunyi nyaring, menandakan jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Satria dan Bara segera melangkah pergi menuju kelas mereka masing-masing, meninggalkan area koridor guru yang mulai sepi.

Di dalam ruang kelas XI-IPA 2, suasana belajar mengajar berlangsung cukup tenang. Keisha duduk di bangkunya di barisan tengah, mendengarkan penjelasan guru mata pelajaran Biologi dengan saksama. Namun, pikirannya sesekali melayang memikirkan kondisi Rangga di kelas sebelah.

Sintia, yang duduk di bangku tepat di sampingnya, menyenggol pelan lengan Keisha menggunakan siku tangannya.

"Keish..." bisik Sintia hati-hati agar tidak terdengar oleh guru di depan kelas. "Lu beneran nggak apa-apa setelah kejadian mengerikan di pelabuhan kemarin malam? Sumpah ya, waktu aku diculik sama anak-anak Viper kemarin, aku pikir hidup aku bakal berakhir di tangan mereka. Untung banget Kak Rangga datang tepat waktu."

Keisha menoleh sekilas, lalu mengangguk pelan. "Aku baik-baik saja, Sin. Cuma... aku masih ngerasa bersalah banget karena gara-gara aku, Kak Rangga jadi terluka parah ketusuk pisau."

"Duh, jangan ngomong gitu, Keish," sanggah Sintia cepat. "Itu kan murni ulah preman-preman jalanan yang emang cari gara-gara duluan sama Black Raven. Lagian, lihat aja sekarang cara Rangga natep lu... Sumpah, itu bucin tingkat dewa! Ketua geng paling ditakuti se-kota bisa berubah jadi kucing manis pas di dekat lu."

Wajah Keisha kembali memerah mendengar ledekan sahabatnya itu. Ia mencubit pelan lengan Sintia sambil tersenyum malu-malu, menyuruh gadis itu kembali fokus mencatat materi pelajaran di papan tulis sebelum guru sejarah menegur mereka berdua.

Waktu berjalan dengan cepat hingga akhirnya bel istirahat pertama berbunyi nyaring, membebaskan seluruh siswa dari kejenuhan kelas selama tiga jam pelajaran berturut-turut. Suasana koridor sekolah langsung berubah menjadi riuh rendah oleh suara langkah kaki dan gelak tawa siswa yang berjalan menuju kantin.

Sesuai dengan kesepakatan harian program bimbingan kedisiplinan khusus, Keisha tidak pergi ke kantin bersama Sintia, melainkan berjalan menuju sudut perpustakaan sekolah tempat Rangga sudah menunggunya.

Begitu Keisha tiba di meja panjang sudut perpustakaan, ia mendapati Rangga sudah duduk di sana sambil membuka buku paket ekonomi. Pemuda itu mengenakan jaket kulitnya, dan meskipun raut wajahnya tampak lebih segar dibanding pagi tadi, Keisha masih bisa menangkap sedikit garis kelelahan di sekitar mata pemuda itu.

"Mana obatnya?" tanya Rangga langsung begitu melihat Keisha berdiri di hadapannya, bahkan sebelum gadis itu sempat meletakkan tas ranselnya di atas kursi.

Keisha mengerjap kaget, lalu tersenyum kecil sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi obat dan sebotol air mineral dari dalam tasnya. Ia menyerahkan obat tersebut kepada Rangga dengan tatapan penuh perhatian.

"Nih, diminum dulu sesuai jadwal," perintah Keisha lembut namun tegas. "Jangan ditahan-tahan sakitnya. Kalau Kakak pingsan di sini, aku nggak mau repot-repot gotong badan Kakak yang berat itu."

Rangga menerima obat tersebut, menelannya dengan bantuan air mineral, lalu tersenyum miring menatap gadis di depannya. "Berat gini juga ototnya kuat buat ngelindungin lu dari preman mana pun, Keish," candanya pelan.

Keisha menarik kursi di hadapan Rangga, lalu membentangkan buku catatan dan modul latihan soal di atas meja. "Udah, jangan mulai ngegombal lagi. Sekarang kita mulai sesi bimbingan akademik hari ini. Kemarin soal matematika Kakak banyak yang salah, jadi hari ini kita mulai dari bab persamaan linear."

Rangga menghela napas pasrah, menyandarkan punggungnya pada kursi sambil melipat tangan di dada. Meskipun ia benci matematika setengah mati, duduk berjam-jam mendengarkan suara lembut Keisha menjelaskan rumus-rumus rumit adalah hal paling menenangkan yang pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Namun, ketenangan di sudut perpustakaan itu tidak berlangsung lama.

Tiba-tiba, pintu utama perpustakaan terdorong terbuka dengan kencang. Satria dan Bara masuk dengan langkah tergesa-gesa, napas mereka memburu, dan wajah mereka tampak pucat pasi seolah baru saja melihat sesuatu yang sangat mengerikan.

Rangga langsung bangkit berdiri dari kursinya dengan gerakan cepat, mengabaikan sedikit rasa nyeri di lengan kanannya. Aura dingin dan waspada seketika menguasai tubuhnya.

"Ada apa lagi, Sat?" tanya Rangga tajam, menatap sahabat setianya dengan sorot mata menyelidik.

Satria menelan ludah susah payah, mencengkeram tepi meja kayu di dekat mereka. "Bos... kita kecolongan. Tadi pagi, pihak kepolisian sektor kota mendapat laporan anonim tentang gudang pelabuhan tempat insiden kemarin malam, dan... dan mereka menemukan jejak darah serta pisau yang tertinggal." Satria mengambil napas pendek. "Pihak kepolisian sekarang sudah mengeluarkan surat penangkapan darurat... dan mereka sedang dalam perjalanan menuju ke sekolah kita untuk menjemput pelakunya."

Mendengar berita mengejutkan itu, Keisha membelalakkan matanya ngeri. Buku catatan di tangannya terjatuh begitu saja ke lantai perpustakaan.

Dunia di sekeliling Keisha seakan runtuh seketika. Ancaman penjara dan kehancuran masa depan yang sebenarnya kini benar-benar berada di depan mata, mengancam untuk merenggut satu-satunya orang yang paling berharga dalam hidupnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!