MY IDOL MY SUGAR DADDY Disya Putri, mahasiswi ekonomi yang berjuang menopang hidup dan ibunya, terpaksa menyetujui tawaran tak terduga dari Min Jae—idol papan atas yang dikenal dengan nama panggung Zelo. Hubungan mereka bermula dari perjanjian tanpa cinta: ia melayani, ia dibayar. Namun perlahan transaksi itu berubah menjadi rasa tulus, hingga masa lalu kelam Min Jae kembali hadir. Li Bora, mantan kekasih sekaligus produser yang dulu pergi tanpa penjelasan, kini kembali membawa ancaman dan rahasia besar. Di tengah tekanan publik, penolakan keras ayah Min Jae yang menganggap latar belakang Disya tidak setara, serta bukti perjanjian awal yang dijadikan senjata, mereka diuji hingga ke titik terberat. Di saat yang sama, tersembunyi kebenaran mengapa Li Bora dulu pergi, dan siapa yang sebenarnya mengatur semua ini dari balik layar. Akankah cinta yang tumbuh di antara keterpaksaan mampu bertahan melawan ambisi keluarga, masa lalu yang kelam, dan dunia yang menentang? Atau mereka justru menyadari bahwa pertemuan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan takdir yang telah lama disiapkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~TAWARAN TAK TERDUGA
Jam kerja kafe Nudake berakhir pukul sebelas malam. Lampu ruangan dipadamkan satu per satu, menyisakan cahaya remang di ruang tengah. Disya melipat seragamnya rapi, menyimpannya ke dalam tas ransel yang sudah agak usang. Tubuhnya terasa pegal, namun pikirannya masih tertinggal pada kejadian tadi siang dan percakapan dengan Jack.
"Disya, kau pulang dulu ya? Hati-hati di jalan," kata Lee Tae Hee sambil mengunci pintu belakang. "Besok tak perlu buru-buru datang jika kuliahmu mulai siang."
"Terima kasih Oppa Tae Hee. Kau juga hati-hati," jawab Disya sambil tersenyum, lesung pipinya samar terlihat.
Udara malam Seoul makin dingin. Disya berjalan menuju halte tak jauh dari sana, berniat menunggu bus seperti biasa. Namun baru beberapa langkah, sebuah sedan hitam besar berhenti perlahan tepat di hadapannya. Mobil itu tampak sangat mewah, hitam pekat tanpa satu pun coretan.
Jendela sisi pengemudi turun perlahan. Terlihat wajah pria yang selalu bersembunyi di sudut kafe—Min Jae. Kini ia sudah melepas topi dan masker, memperlihatkan wajah aslinya yang tampan namun tetap dingin. Cahaya lampu jalan menyorot garis rahangnya yang tegas.
"Naiklah," ucapnya singkat. Suaranya tenang, tak memaksa namun sulit ditolak.
Disya tertegun. "Eh... Oppa? Ini... untuk saya?"
"Benar. Saya ingin membicarakan sesuatu. Naiklah, malam sudah larut," jawab Min Jae ringkas.
Ragu sejenak, Disya akhirnya membuka pintu dan masuk. Kabin mobil itu luas, hangat, dan berbau wangi lembut. Hanya ada mereka berdua. Mobil pun melaju perlahan meninggalkan halaman kafe.
"Kau mau ke mana Oppa?" tanyanya pelan, sedikit gugup.
"Ke tempat yang tenang. Tak jauh dari sini," jawab Min Jae menatap jalan sepi. "Saya tak sengaja mendengar percakapanmu di balkon tadi."
Wajah Disya memerah seketika. "Maaf Oppa... saya tak bermaksud berbicara keras dan mengganggu ketenanganmu."
Min Jae menggeleng pelan. "Kau tak mengganggu. Saya justru tertarik dengan apa yang kau katakan. Kau ingin hidup tenang, tak perlu pusing soal uang, bukan?"
Disya menunduk menatap tas di pangkuannya. "Iya... tapi itu hanya angan-angan. Saya tahu saya harus berusaha keras."
Mobil berhenti di tepi danau buatan yang sunyi, jauh dari hiruk-pikuk. Lampu kota tampak samar di kejauhan. Min Jae mematikan mesin, suasana hening sejenak.
"Saya punya tawaran," buka Min Jae perlahan, menatapnya lekat dengan kesungguhan yang jarang terlihat. "Saya bisa penuhi semua kebutuhanmu. Biaya kuliah, sewa apartemen, uang saku lebih dari cukup, hingga kebutuhan ibumu di Jeju pun bisa saya tanggung sepenuhnya."
Disya melongo tak percaya. "Maksud Oppa?"
"Kau tinggal menemani saya," lanjutnya tenang. "Saya tak butuh janji cinta, tak butuh status, tak butuh janji masa depan. Saya hanya butuh tempat pulang yang aman, seseorang yang tulus, dan tak memanfaatkan nama saya sebagai Zelo. Sebagai gantinya, kau tak perlu lagi bekerja seberat ini. Kau bisa fokus kuliah dan hidup tenang."
Disya terpaku. Ia paham betul arti tawaran itu: ikatan tanpa nama, saling memberi apa yang dibutuhkan. Ia gadis realistis, namun mendengarnya langsung membuatnya bimbang.
"Kenapa... kenapa Oppa memilih saya?" tanyanya pelan. "Masih banyak wanita lain yang lebih cantik, lebih kaya, lebih cocok."
Min Jae menatapnya tajam namun lembut. "Karena kau tampil apa adanya. Kau tak berusaha menyenangkan saya demi keuntungan sendiri. Saat dimaki Alice tadi, kau tak memelas, tak mencari perlindungan. Kau bertahan dengan caramu sendiri. Itu yang saya cari."
Ia berhenti sejenak. "Saya tak ingin menjalin cinta serius. Luka masa lalu masih ada. Tapi saya manusia biasa, saya butuh kehadiran. Saya tak mau melampiaskan perasaan pada sembarang orang. Kau butuh kenyamanan hidup, saya butuh kenyamanan hati. Ini perjanjian yang adil."
Disya menatap wajah pria di sebelahnya. Tak ada senyum palsu, tak ada niat tersembunyi. Pikirannya berputar: kuliah, sewa tempat, ibu yang tak perlu bekerja keras lagi. Namun hatinya bertanya—bisakah ia menjalani hubungan tanpa cinta?
"Berapa lama... perjanjian ini berlangsung?" tanyanya akhirnya.
"Sampai salah satu dari kita merasa tak butuh lagi," jawab Min Jae. "Kau bebas berhenti kapan saja. Saya takkan menahan."
Disya menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan. Ia menatap kembali ke mata Min Jae, lalu tersenyum tipis.
"Baik Oppa," ucapnya mantap. "Saya terima tawaran itu. Tapi saya punya satu syarat."
"Katakan."
"Jangan pernah berbohong padaku. Dan jangan pernah menyakiti saya dengan sengaja."
Sudut bibir Min Jae terangkat sedikit—senyum tipis yang nyaris tak pernah dilihat orang lain. "Sepakat."
Malam itu, di tepi danau yang tenang, dimulailah perjanjian tanpa nama antara gadis biasa dan idola ternama. Awalnya hanya hitam di atas putih, saling memenuhi kebutuhan masing-masing. Namun tak ada yang tahu, benih perasaan yang tak direncanakan perlahan mulai tumbuh di antara mereka.
Mobil kembali melaju, membawa mereka menuju jalan yang tak pernah mereka duga sebelumnya.