Dia kembali bukan untuk melindungi, tapi untuk mengeksekusi.
Lima belas tahun di medan perang mengubah Nathan Wiratama menjadi Raja Perang yang ditakuti dunia. Kini, ia pulang demi satu misi: memburu dalang pembantaian keluarganya.
Demi melacak sang iblis, Nathan menyamar menjadi pengawal pribadi Elena, janda konglomerat yang memiliki banyak musuh. Di sana, ia juga harus menghadapi Clara, putri majikannya yang perlahan jatuh cinta pada pesona dinginnya.
Satu per satu bukti terkuak, membawa Nathan pada kenyataan paling brutal: Iblis yang ia cari selama ini adalah Elena—wanita yang kini ia lindungi dengan taruhan nyawa.
Saat topeng hancur, akankah Nathan tetap mencabut nyawa Elena, meski harus menghancurkan hati Clara?
"Tidak ada yang bisa melindungi Anda dari saya, Nona."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keheningan yang Berdarah
Kabut tebal di atas Danau Lavender perlahan bergerak, didorong oleh hembusan angin pagi yang membawa aroma pinus basah dan tanah lembap. Bagi orang awam, tempat ini adalah surga ketenangan yang puitis. Namun bagi Nathan Wiratama, setiap jengkal kabut adalah tirai yang bisa menyembunyikan ujung laras senapan runduk.
Instingnya yang telah diasah selama lima belas tahun di bawah hujan peluru tidak pernah berbohong. Getaran niat membunuh yang sempat ia tangkap dari seberang danau telah hilang, namun Nathan tahu sang pengintai masih berada di sana, bersembunyi di balik barisan pohon pinus yang rapat.
Nathan tetap berdiri kokoh, tangannya masih terlipat di belakang punggung. Ekspresi wajahnya tidak berubah sedikit pun, tetap datar, dingin, dan waspada. Ia tidak ingin melakukan gerakan mendadak yang bisa membuat pengintai itu sadar bahwa posisi mereka telah terbongkar.
Di sampingnya, Clara masih asyik mengoleskan kuas ke atas kanvas. Gadis itu tampak sangat tenang, tenggelam dalam dunianya sendiri yang penuh warna.
"Nona Clara," panggil Nathan dengan suara rendah namun tegas.
"Ya, Nathan?" jawab Clara tanpa mengalihkan pandangannya dari lukisan danau yang hampir setengah selesai.
"Angin pagi ini mulai terasa terlalu dingin, dan kabut semakin tebal. Kelembapan udara yang tinggi bisa merusak kualitas cat minyak Anda sebelum mengering dengan sempurna," ucap Nathan, menyusun alasan logis yang tidak akan menimbulkan kecurigaan.
Clara menghentikan gerakan tangannya sejenak. Ia merasakan hembusan angin yang memang mulai menusuk tulang, lalu menatap langit yang tertutup awan kelabu. "Hmm, kamu benar juga. Tapi sayang sekali, aku baru saja mendapatkan inspirasi untuk bagian gradasi airnya."
"Ada sebuah pondok kafe kecil di dekat gerbang masuk taman yang memiliki area semi-terbuka dengan pemanas ruangan. Dari sana, Anda masih bisa melihat sudut danau ini dengan jelas melalui dinding kaca," lanjut Nathan, matanya menyapu sekeliling secara perlahan.
Clara menoleh ke arah Nathan, tersenyum kecil. "Kamu ini sangat detail, ya? Baiklah. Tolong bantu aku merapikan peralatan ini. Tapi sebelum kita ke kafe, aku ingin membeli secangkir cokelat panas di kedai dekat dermaga utama. Kamu mau titip sesuatu?"
"Saya akan menemani Anda ke kedai terlebih dahulu, Nona. Baru setelah itu saya akan memindahkan mobil dan peralatan Anda ke area kafe," jawab Nathan taktis.
"Tidak perlu sekaku itu, Nathan. Kedainya hanya berjarak lima puluh meter dari sini, dan jalurnya sangat bersih. Kamu bisa memindahkan barang-barang ini ke mobil dulu agar tidak terkena embun yang semakin tebal," bantah Clara lembut sambil mulai merapikan kuas-kuasnya.
Nathan terdiam selama satu detik. Jarak lima puluh meter ke kedai adalah area yang relatif aman dan berada di bawah pengawasan pos penjaga taman. Sementara itu, posisi pengintai berada di seberang danau, terpisah oleh bentangan air sejauh seratus lima puluh meter yang mustahil ditembus dengan senjata jarak pendek tanpa menarik perhatian.
"Baiklah, Nona. Tetaplah berada di jalur setapak utama yang ramai. Saya akan menyusul Anda dalam waktu tiga menit," ucap Nathan akhirnya.
Clara mengangguk ceria, mengambil dompet kecil dari tas kanvasnya, lalu berjalan ringan menyusuri jalur kayu dermaga menuju kedai kopi kecil di dekat pintu masuk taman.
Begitu sosok Clara menjauh dan berbelok di balik rimbunnya tanaman hias, tatapan mata Nathan langsung berubah. Kelembutan formal sebagai pengawal menguap seketika, digantikan oleh tatapan dingin seorang predator puncak yang siap berburu.
Ia meletakkan tas kanvas milik Clara ke dalam bagasi sedan mewah dengan gerakan yang sangat cepat dan efisien. Nathan tidak langsung menyusul Clara. Sebaliknya, ia berjalan memutar menuju area belakang toilet umum yang berbatasan langsung dengan hutan pinus lebat di sisi barat danau.
Dengan gerakan yang sangat senyap, Nathan melompati pagar pembatas kayu setinggi satu setengah meter. Begitu kakinya menyentuh tanah hutan yang tertutup dedaunan pinus kering, tubuhnya seolah menyatu dengan kegelapan kabut.
Ia bergerak tanpa suara, memanfaatkan setiap batang pohon besar sebagai perlindungan. Kecepatannya luar biasa, jauh melampaui kemampuan manusia biasa. Di medan perang, kemampuan bergerak senyap seperti ini adalah pembeda antara hidup dan mati.
Hanya butuh waktu kurang dari dua menit bagi Nathan untuk menyeberangi sisi barat danau dan mencapai area hutan pinus di seberang dermaga, tempat di mana ia merasakan getaran niat membunuh sebelumnya.
Nathan berhenti di balik sebatang pohon pinus besar yang dahannya merunduk rendah. Matanya menyipit, mengamati tanah di depannya.
Di sana, di atas tanah yang agak gembur karena embun pagi, terdapat jejak sepatu bot taktis yang masih sangat baru. Di dekatnya, beberapa ranting kecil tampak patah dengan sudut yang tajam, indikasi bahwa seseorang baru saja berdiri lama di tempat ini sambil membawa beban berat di pundaknya.
Insting pelacakannya bekerja dengan cepat. Nathan mendongak, melihat ke arah jalur setapak yang menanjak ke arah perbukitan pinus di belakang danau. Kabut di sini jauh lebih tebal, membatasi jarak pandang hingga hanya sepuluh meter.
Dia belum pergi jauh, batin Nathan dingin.
Ia melangkah maju, mengikuti jejak samar yang ditinggalkan oleh sang pengintai. Langkah kaki Nathan tidak menimbulkan suara sedikit pun, bahkan selembar daun kering pun tidak berderit di bawah sepatu kulitnya.
Sekitar lima puluh meter di dalam hutan pinus yang sunyi, sesosok pria bertubuh tegap dengan jaket taktis abu-abu tampak berjalan dengan tergesa-gesa. Di pundaknya tergantung sebuah tas ransel militer berukuran sedang yang berisi teropong binokular dan peralatan komunikasi. Pria itu sesekali menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikutinya.
Namun, pengintai itu tidak pernah menyadari bahwa maut sedang berjalan tepat di belakang bayangannya.
Saat pria itu hendak melompati sebuah batang pohon tumbang, sebuah tangan yang kuat seperti cengkeraman besi tiba-tiba muncul dari balik kabut, mencengkeram rahangnya dari belakang dan membekap mulutnya dengan sangat rapat hingga tidak ada suara yang bisa keluar.
Pria itu terbelalak ketakutan. Insting tempurnya langsung bereaksi, ia mencoba menarik pisau komando yang terselip di pinggangnya. Namun sebelum tangannya sempat menyentuh gagang pisau, Nathan sudah terlebih dahulu memutar lengan kanan pria itu ke belakang dengan satu gerakan mematikan.
KRAK!
Bunyi sendi bahu yang terlepas terdengar samar di tengah kesunyian hutan. Pria itu mengejang menahan rasa sakit yang luar biasa, namun bekapakan tangan Nathan di mulutnya membuat jeritannya hanya terdengar seperti erangan tertahan yang menyedihkan.
Nathan menyeret tubuh pria itu ke balik rimbunnya semak liar di bawah pohon tumbang. Dengan satu sentakan kaki yang presisi, Nathan menjatuhkan pria itu ke tanah, lalu menekan lututnya yang berat tepat di atas dada sang pengintai, mengunci seluruh gerakannya.
Nathan menatap pria di bawahnya dengan mata yang sepenuhnya kosong dari emosi, tatapan yang biasa ia berikan kepada musuh-musuh yang akan ia eksekusi di medan perang.
"Satu suara di luar bisikan, dan aku akan mematahkan jakunmu," ucap Nathan, suaranya terdengar sangat tenang namun membawa aura kematian yang begitu pekat hingga pria di bawahnya gemetar hebat.
Nathan perlahan melepaskan bekapannya, namun jemari tangan kirinya kini berada tepat di atas tenggorokan pria itu, siap memberikan tekanan mematikan kapan saja.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Nathan dingin.
Pria itu terengah-engah, keringat dingin bercucuran di pelipisnya meskipun udara pagi sangat dingin. "A... aku tidak tahu apa maksudmu... aku hanya turis..."
KREK.
Nathan memberikan sedikit tekanan pada tenggorokan pria itu, menyumbat aliran udaranya selama tiga detik hingga wajah sang pengintai mulai membiru sebelum melepaskannya kembali.
"Aku tidak memiliki waktu untuk mendengarkan dongeng," bisik Nathan datar. "Pilihanmu sangat sederhana. Bicara, atau tubuhmu akan menjadi pupuk di bawah pohon pinus ini dan tidak akan pernah ditemukan oleh siapa pun."
Pria itu terbatuk-batuk, menatap mata Nathan dan menyadari bahwa pria di depannya bukanlah seorang pengawal biasa. Di dalam mata dingin itu, ia melihat bayangan ribuan nyawa yang telah melayang. Ini adalah mata seorang pembantai.
"Robert..." bisik pria itu akhirnya dengan suara parau yang gemetar. "Robert yang menyuruhku... kami hanya diperintahkan untuk mengawasi."
"Mengawasi apa?"
"Mengawasi pola pertahananmu... dan mencari celah untuk menculik anak itu lagi pekan depan saat ibunya pergi ke luar kota."
Mata Nathan sedikit menyipit. "Elena akan pergi ke luar kota?"
"Ya... ada pertemuan tahunan pemegang saham di kota pelabuhan utara. Elena akan membawa sebagian besar tim pengawal intinya, meninggalkan Clara dengan pengamanan minimum di rumah. Robert berencana menyerang saat itu."
Nathan mencatat informasi krusial itu di dalam kepalanya. Ini adalah kepingan informasi berharga. Konspirasi di dalam Megantara Group tampaknya bergerak lebih cepat dari perkiraannya, dan Elena sengaja membiarkan dirinya rentan untuk memancing musuh-musuhnya keluar atau mungkin ada skenario lain yang lebih gelap.
"Siapa orang dalam di Megantara yang membayar Robert?" tanya Nathan lagi.
"Aku tidak tahu! Demi Tuhan, aku bersumpah!" suara pria itu naik satu oktav karena panik, sebelum Nathan kembali menekan tenggorokannya dengan keras. "Hanya Robert yang berkomunikasi langsung dengan klien. Kami hanya pion lapangan yang dibayar harian!"
Nathan menatap pria itu selama beberapa detik, menganalisis detak jantung dan pergerakan matanya. Pria ini tidak berbohong. Dia memang hanya pion kecil yang tidak tahu apa-apa tentang konspirasi tingkat atas.
"Terima kasih atas informasinya," ucap Nathan lembut.
Pria itu menghela napas lega, berpikir bahwa kejujurannya telah menyelamatkan nyawanya. "Tolong... biarkan aku pergi..."
"Aku ingin," bisik Nathan, wajahnya mendekat ke telinga pria itu. "Tapi dalam duniaku, saksi mati adalah saksi terbaik."
Sebelum pria itu sempat memproses kata-kata tersebut, tangan kanan Nathan bergerak dengan kecepatan kilat, mencengkeram kepala pria itu dan memutarnya dengan satu sentakan kuat yang terlatih.
KRAK!
Leher pria itu patah seketika. Matanya terbelalak kosong, dan seluruh tubuhnya langsung lemas tanpa kehidupan.
Nathan berdiri dengan tenang. Ia tidak menunjukkan rasa bersalah atau ragu sedikit pun. Baginya, melenyapkan pion musuh seperti ini sudah menjadi aktivitas harian yang biasa dilakukan seperti bernapas.
Dengan cepat dan efisien, Nathan memeriksa saku jaket pria itu. Ia mengambil ponsel sekali pakai milik sang pengintai, sebuah pisau taktis, dan dompetnya untuk menghilangkan identitas. Setelah itu, ia menyeret mayat pria itu jauh ke dalam semak-semak yang paling lebat, menimbunnya dengan tumpukan daun pinus kering dan dahan pohon yang membusuk. Di bawah kabut tebal dan area taman yang jarang dijamah manusia ini, mayat ini tidak akan ditemukan selama berminggu-minggu.
Nathan memeriksa pakaian jas hitamnya. Bersih. Tidak ada noda darah atau kotoran yang menempel. Ia merapikan dasinya, menyisir rambutnya yang sedikit berantakan menggunakan jari, lalu berjalan kembali menuju pagar kayu perbatasan hutan.
Tepat tiga menit setelah ia meninggalkan mobil, Nathan sudah berdiri di lobi pondok kafe kaca yang hangat. Di tangannya, ia membawa tas peralatan melukis Clara yang sempat ia ambil dari bagasi mobil.
Pintu kafe terbuka, dan Clara berjalan keluar dengan membawa nampan kecil berisi dua cangkir kertas yang mengepulkan uap hangat. Senyumnya mengembang lebar saat melihat Nathan sudah berdiri di sana menunggunya.
"Lama sekali, Nathan! Aku hampir saja berpikir kamu tersesat di tempat parkir," canda Clara sambil berjalan mendekatinya, menyerahkan salah satu cangkir kertas kepada Nathan. "Ini, cokelat panas dengan kayu manis. Sangat cocok untuk mengusir hawa dingin pagi ini."
Nathan menerima cangkir hangat tersebut, membungkuk pelan dengan sopan santun seorang pengawal yang sempurna. "Terima kasih, Nona Clara. Maaf membuat Anda menunggu. Ada sedikit masalah dengan pengunci bagasi mobil, namun semuanya sudah teratasi."
"Tidak apa-apa," jawab Clara riang, menghirup aroma cokelat panasnya dengan puas. "Ayo masuk. Aku sudah memesan meja terbaik di sudut sana yang langsung menghadap ke danau. Pemandangan kabutnya masih sangat indah dari dalam."
Nathan mengikuti langkah Clara dari belakang. Saat ia melangkah masuk ke dalam kafe yang hangat dan diiringi alunan musik jazz yang tenang, Nathan melirik ke arah luar jendela kaca besar menatap lurus ke arah hutan pinus yang sunyi di seberang danau.
Di sana, di bawah tumpukan daun kering, salah satu mata-mata Robert kini telah menjadi jasad yang dingin. Dan di dalam genggaman saku jasnya, ponsel sekali pakai milik pengintai itu siap digunakan untuk melacak langkah Robert selanjutnya.
Satu langkah lagi menuju kepalamu, Elena, batin Nathan dingin, sebelum menyesap cokelat panasnya dengan wajah yang kembali tenang tanpa cela.