Di bawah pendar lampu Los Angeles, hidup Lux Victoria hancur dalam semalam. Maksud hati hanya memeriksa kesehatan, hasil tes justru menyatakan dirinya hamil. Padahal, Lux bersumpah belum pernah tersentuh pria mana pun.
Demi membuktikan kebenarannya, Lux Nekat membeli tes Kehamilan di larut malam.
Takdir konyol justru mempertemukannya dengan Braxton Valerio Desmon, putra kedua dari pengusaha kaya keluarga Desmon.
Demi memenangkan taruhan konyol bersama teman-temannya, Braxton nekat mencium Lux di depan apotek.
Sial bagi mereka, keluarga Lux yang menguntitnya mendapati situasi tersebut dan salah paham.
Kejadian beruntun itu menyeret Lux dan Braxton ke dalam jerat kesalahpahaman, di mana pernikahan paksa menjadi satu-satunya jalan keluar yang disiapkan kedua orang tua Lux.
Happy reading 🌷🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#21
Suara kucuran air di dalam kamar mandi utama perlahan terhenti, menyisakan keheningan yang mendadak terasa begitu pekat di dalam kamar Penthouse.
Lux masih mematung di tepi tempat tidur dengan ponsel pribadi milik suaminya yang terkulai di genggaman. Panggilan dari pria misterius di seberang sana telah terputus secara sepihak tak lama setelah pria itu menyadari kesalahannya.
Kening Lux berkerut rapat, menebak-nebak siapakah wanita yang dimaksud baru saja melarikan diri dari rumah sakit dan sedang mengarahkan mobilnya menuju penthouse.
Pintu kamar mandi berbahan marmer terbuka. Uap hangat meluncur keluar bersamaan dengan langkah Braxton yang baru saja selesai membersihkan diri.
Pria tampan itu hanya melilitkan handuk putih di pinggangnya, membiarkan rambut hitamnya yang basah meneteskan sisa air di atas bahu dan dada bidangnya yang atletis. Wajahnya tampak amat segar dan santai, dipenuhi pendar kebahagiaan seorang pria yang baru saja melewati malam penuh cinta.
Namun, saat sepasang mata cokelatnya menangkap sosok Lux yang duduk kaku seraya memegang ponsel miliknya, senyum santai di wajah Braxton seketika melenyap.
"Ada apa, Sayang?" tanya Braxton pelan, melangkah mendekati tempat tidur dengan raut bingung.
Lux menengadah, menatap suaminya yang berdiri di hadapannya. "Sepertinya... asistenmu baru saja Menelpon."
Mendengar kata "asisten", raut wajah Braxton mendadak berubah drastis. Tubuhnya yang rileks seketika mengeras, dan ketegangan yang amat pekat terpancar jelas dari garis rahangnya. Pria itu menyadari bahwa ia telah menyewa tim pengawal dan informan khusus untuk mengawasi pergerakan Amelia Giger di rumah sakit secara ketat.
"Apa yang dia katakan?" tanya Braxton tiba-tiba dengan nada suara yang amat serius, tajam, dan dalam—kehilangan seluruh nada manisnya dalam satu detik.
Lux agak terkejut melihat reaksi suaminya yang mendadak tegang. Namun, ia berusaha menyampaikan apa yang didengarnya secara polos.
"Dia bilang... ada seorang wanita yang baru melarikan diri dari rumah sakit sepuluh menit yang lalu," ujar Lux, mengingat-ingat laporan di telepon tadi. "Pria itu bilang wanita itu mengarahkan mobilnya ke Penthouse milikmu dengan kecepatan tinggi. Saat aku membalas bahwa kau sedang mandi, pria itu langsung panik dan meminta maaf karena mengira kau yang mengangkatnya."
Jantung Braxton mendadak berdegup kencang secara liar.
Amelia Giger.
Nama itu seketika bergema di kepala Braxton bagaikan sirine bahaya. Pria itu sadar betul bahwa wanita gila yang baru sadar dari koma itu kini sedang lepas kendali dan berpotensi menghancurkan kedamaian yang baru saja dibangunnya bersama Lux. Pria itu mengutuk ketidakbecusan tim pengawalnya dalam hati karena membiarkan Amelia meloloskan diri.
Namun, Braxton adalah seorang analis bisnis yang pandai mengendalikan emosi dan situasi. Ia tahu betul ia tidak boleh membiarkan rasa panik atau kekhawatiran meracuni pikiran istrinya. Mengutarakan ancaman sosok Amelia yang obsesif saat ini hanya akan membuat Lux merasa terancam dan cemas.
Dengan kekuatan kendali diri yang luar biasa, Braxton menyunggingkan senyum miringnya yang amat tampan—senyuman narsis dan menggoda yang biasa ia gunakan untuk mengalihkan perhatian istrinya.
Braxton merebut ponselnya dari tangan Lux secara santai, melemparkannya ke atas tempat tidur, lalu menundukkan tubuhnya untuk mengecup singkat bibir merona istrinya.
"Pria di telepon itu pasti hanya staf keamanan properti Penthouse yang salah memberikan laporan," racun pengalihan Braxton meluncur begitu mulus dan meyakinkan dari bibirnya. "Jangan dipikirkan, Sayang. Mereka sering kali terlalu dramatis mengabarkan lalu lintas."
Lux menatap suaminya ragu. "Benarkah?"
"Tentu saja," goda Braxton dengan nada suara berat yang seksi. Pria itu merendahkan kepalanya, menyapukan ujung hidungnya ke rahang mulus Lux yang berhias jejak kemerahan. "Daripada memikirkan laporan salah sasaran itu... bagaimana dengan kondisi tubuhmu sekarang? Apa masih sakit?"
Wajah Lux seketika merona merah padam. Ia menepuk dada telanjang suaminya dengan gemas. "Braxton! Kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu lagi?!"
"Aku hanya perhatian pada istriku tercinta," balas Braxton tengil, mengusap lembut paha mulus Lux dari balik jubah mandi. "Bagaimana kalau kita makan siang di luar? Ada suamimu yang paling tampan ini yang siap menggendongmu sampai ke dalam mobil, Sayang."
Mendengar tawaran manja dari suaminya, sifat gengsi dan ketegasan khas Lux perlahan kembali. Ia menaikkan dagunya, menatap Braxton dengan mata abu-abunya yang berkilat penuh kejahilan.
"Boleh," jawab Lux mantap. "Dan kurasa... aku memang perlu memamerkan corak kemerahan di tubuhku ini di depan publik!"
Tawa renyah dan keras seketika meledak dari tenggorokan Braxton. Pria itu menggelengkan kepalanya geli melihat kepolosan dan kejengkolan istrinya yang sangat unik.
"Kau bisa menggunakan syal untuk menutupi lehermu, Nyonya Desmon," kekeh Braxton seraya mengelus pipi hangat Lux.
"Tidak!" potong Lux dengan cepat dan tegas, menyilangkan tangannya di dada. "Biar seluruh kota tahu seberapa brutalnya suamiku ini!"
Braxton kembali tertawa bahagia, merengkuh pinggang Lux dan mengecup dahinya secara amat mesra. Namun, di tengah gelak tawa tersebut, mata abu-abu Lux mendadak menatap Braxton dengan tulus dan penuh dengan rasa ingin tahu yang mendalam.
"Ngomong-ngomong, Braxton..." bisik Lux pelan, memegang kedua lengan kekar suaminya. "...ceritakan padaku. Siapa orang yang kau jenguk ke rumah sakit kemarin?"
Pertanyaan itu seketika membuat senyum Braxton sedikit tertahan. Tatapan matanya bergulat hebat di balik pendar cokelatnya yang hangat.
Braxton memandang wajah polos istrinya—wajah manis yang baru saja ia perjuangkan dan ia peluk semalaman. Braxton memilih untuk tetap menyembunyikan masa lalu kelam dan kegilaan Amelia Giger.
Ia tidak ingin kebahagiaan murni yang baru mekar di antara mereka ternoda oleh bayang-bayang seorang wanita obsesif dari masa lalunya.
Pria itu ingin menjadi benteng pelindung yang menanggung ancaman itu sendirian tanpa perlu membebani pikiran istrinya.
"Dia... teman lama keluargaku," bisik Braxton tenang, mengarang alasan dengan rapi. "Dia mengalami kecelakaan tragis dan baru saja sadar dari koma panjangnya."
Mendengar penjelasan tersebut, raut wajah Lux seketika berubah menjadi amat prihatin. Hati lembut seorang seniman di dalam dadanya tersentuh oleh rasa kasihan yang tulus.
"Kasihan sekali dia..." gumam Lux lirih, menyandarkan kepalanya di dada Braxton. "Setelah koma sepanjang itu... apa dia tidak mengalami lupa ingatan?"
Braxton tertegun sejenak. Menyaksikan bagaimana istrinya menunjukkan rasa empati yang begitu murni pada wanita yang sebenarnya berniat merusak pernikahan mereka membuat rasa bersalah sekaligus rasa cemburu yang aneh mencubit dada Braxton.
Pria narsis itu tidak suka jika perhatian atau simpati istrinya terbagi pada orang lain—terutama pada sosok yang sangat ia benci.
Braxton menyunggingkan senyum godanya, berpura-pura merajuk secara dramatis. Ia menarik wajahnya dari Lux, menaikkan sebelah alisnya dengan ekspresi berpura-pura kesal yang amat menggemaskan.
"Kau memikirkan dan mengkhawatirkan keadaannya?" tanya Braxton dengan nada menuntut yang dibuat-buat. "Di depanku, Lux? Aku cemburu..."
Lux membelalakkan matanya terkejut. "Kau... cemburu?"
"Tentu saja!" pungkasi Braxton tegas dengan gaya narsisnya yang manja. "Kenapa kau tidak mengkhawatirkan perasaanku saja? Suamimu ini dari tadi berdiri di depanmu, hampir mati menahan kelelahan dan rasa cinta padamu... tapi kau malah mengkhawatirkan teman lamaku yang bahkan tidak kau kenal!"
Melihat respon merajuk yang begitu kekanak-kanakan namun amat tampan dari suami narsisnya, pertahanan dan sifat galak Lux runtuh sepenuhnya. Hatinya meleh oleh rasa manis yang luar biasa.
Dengan gerakan yang amat manja—sebuah pemandangan yang amat langka dari seorang Lux Victoria—gadis itu melingkarkan kedua tangan mulusnya di leher Braxton. Ia berjinjit kecil di tepi kasur, menyembunyikan wajahnya yang merah membara di leher kokoh suaminya.
"Sayangku... cintaku... maafkan aku," bisik Lux manis dengan suara lembut yang teramat manja di telinga Braxton. "Aku tidak bermaksud begitu... Jangan cemburu, ya?"
Deg!
Kata-kata manja yang terlontar polos dari bibir istrinya seketika membuat pertahanan Braxton hancur berkeping-keping. Jantungnya berdegup segila-gilanya, dan rasa bahagia yang tiada tara meluap memenuhi seluruh rongga dadanya.
Braxton tak sanggup lagi menahan rasa gemasnya. Lengan kekarnya langsung merengkuh tubuh tipis Lux erat-erat, mengangkat istrinya dari kasur dan memutar tubuhnya di udara seraya tertawa bahagia.
"Kau benar-benar pinter merayu sekarang, Nyonya Desmon!" seru Braxton tertawa renyah, mendaratkan kecupan-kecupan panas di seluruh wajah Lux. "Ulangi kata-kata itu lagi! Panggil aku seperti tadi!"
"Tidak mau!" jerit Lux tertawa geli seraya memeluk leher Braxton erat-erat. "Sudah cukup!"
"Ulangi atau aku tidak akan membawamu makan siang!" goda Braxton tengil.
"Braxton Desmon!! Kau benar-benar mesum dan menyebalkan!"
Di tengah gelak tawa dan kemanjaan yang membuncah di dalam kamar mewah tersebut, kehangatan cinta di antara mereka semakin menguat rapat.
Namun di luar sana, dalam deru mesin mobil yang melaju kencang membelah jalanan Los Angeles, ancaman nyata tengah bergerak mendekati benteng kebahagiaan mereka—menunggu detik terbaik untuk meledakkan rahasia yang tersembunyi.
semangat ya bang, buat meluluhkan hati Lux