Muzan Kibutsi, seorang remaja dari Bumi, meninggal akibat kecelakaan dan bereinkarnasi ke dunia One Piece beberapa bulan sebelum perjalanan Luffy dimulai. Sebagai orang biasa tanpa kekuatan apa pun, ia memperoleh Puppet System, sebuah sistem yang memungkinkannya melakukan gacha menggunakan Belly untuk mendapatkan boneka karakter dari berbagai dunia anime.
Setiap boneka memiliki penampilan, kemampuan, dan gaya bertarung seperti karakter aslinya, tetapi sepenuhnya dikendalikan oleh Muzan dan setia tanpa syarat.
Dengan mengumpulkan Belly, membangun koleksi boneka, dan bergerak dari balik bayang-bayang, Muzan perlahan mengukir namanya di lautan. Sementara sejarah One Piece terus berjalan, seorang dalang misterius mulai memainkan perannya di balik panggung, siap mengubah keseimbangan dunia dengan pasukan boneka dari berbagai dimensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RabilMuhammadTahir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Kematian, Reinkarnasi, dan Nol Belly
Hujan turun dengan deras malam itu, membasahi jalanan aspal kota yang memantulkan cahaya neon dari papan reklame. Di trotoar yang sepi, seorang remaja laki-laki berjalan dengan langkah tenang. Tangannya memegang sebuah kantong plastik berisi beberapa barang kebutuhan sehari-hari dan sebuah manga volume terbaru yang baru saja ia beli.
Namanya adalah Muzan Kibutsi. Usianya tujuh belas tahun. Di mata orang lain, ia hanyalah seorang siswa SMA biasa yang cenderung pendiam dan jarang bergaul. Tidak ada yang spesial dari kehidupannya, selain dedikasinya yang cukup tinggi terhadap dunia fiksi, terutama anime dan manga. Di antara ribuan cerita yang pernah ia baca, One Piece selalu menempati posisi teratas di benaknya. Dunia bajak laut yang luas, penuh kebebasan, misteri, dan strategi selalu berhasil memicu imajinasinya.
Namun, imajinasi itu terpaksa berhenti malam ini.
Semuanya terjadi terlalu cepat, namun bagi Muzan, detik-detik itu terasa seperti ditarik dalam gerakan lambat. Saat ia menyeberang di persimpangan jalan, sebuah truk kargo berukuran besar melaju dengan kecepatan di luar batas wajar. Pengemudinya tampak tertidur. Lampu depan truk itu menyorot tajam, menyilaukan mata Muzan.
Muzan tidak menjerit. Ia tidak menangis. Sifatnya yang selalu tenang dan rasional bahkan di saat-saat kritis membuat otaknya bekerja dengan dingin.
Kecepatannya sekitar delapan puluh kilometer per jam. Jaraknya kurang dari lima meter. Otot kakiku tidak akan sempat merespons untuk melompat menghindar. Sudut benturan ada di sisi kiri tubuhku.
Analisis itu adalah pikiran terakhirnya.
Brak!
Suara tulang yang remuk kalah oleh derit rem yang terlambat dan hantaman besi melawan daging. Rasa sakit yang luar biasa meledak sedetik, sebelum akhirnya kegelapan total menelannya. Kematian tidak datang dengan malaikat penyambut, melainkan hanya kekosongan yang dingin dan sunyi.
Entah berapa lama waktu berlalu. Mungkin satu detik, mungkin ribuan tahun.
Muzan mulai merasakan sesuatu. Itu bukan rasa sakit akibat hantaman truk, melainkan rasa perih di sekujur kulit, hembusan angin yang membawa aroma garam yang sangat pekat, dan suara deburan ombak yang membentur karang.
Ia membuka matanya perlahan. Pandangannya kabur, menyesuaikan diri dengan cahaya matahari yang menyengat. Hal pertama yang ia lihat adalah langit biru yang sangat cerah, dihiasi burung-burung camar yang terbang berputar-putar.
Muzan mencoba bangkit, namun tubuhnya terasa sangat lemah dan ringan. Ia menunduk dan terdiam. Tangan yang ia lihat bukanlah tangannya. Tangan itu kecil, kurus, dipenuhi kotoran dan beberapa luka gores. Pakaiannya hanyalah kain compang-camping yang kebesaran, berbau apek, dan tidak layak disebut baju.
Ia memejamkan mata, mengatur napasnya. Kepanikan adalah musuh terbesar dalam situasi yang tidak diketahui. Ia menarik napas dalam-dalam, menahannya, lalu menghembuskannya perlahan.
Aku ditabrak truk. Aku seharusnya sudah mati. Tulang rusuk kiriku hancur lebur. Tapi sekarang, aku bernapas. Tubuh ini milik seorang anak kecil, usianya mungkin sekitar dua belas atau tiga belas tahun. Aku bereinkarnasi.
Muzan tidak membuang waktu untuk meratapi nasib atau berteriak kebingungan. Ia segera berdiri, mengandalkan dinding kayu lapuk di sebelahnya untuk menopang tubuh kurusnya. Ia berada di sebuah gang sempit yang kotor, di antara dua bangunan berbahan kayu dan batu bata yang terlihat berarsitektur klasik, mirip dengan kota-kota pelabuhan di Eropa pada abad pertengahan.
Ia melangkah keluar dari gang dengan hati-hati. Begitu sampai di jalan utama, pemandangan yang terhampar di hadapannya membuat pupil matanya sedikit melebar.
Di ujung jalan setapak berbatu itu, terdapat pelabuhan yang ramai. Kapal-kapal kayu bersandar, namun bukan sekadar kapal biasa. Beberapa kapal memiliki layar besar dengan lambang tengkorak, sementara yang lain memiliki lambang burung camar biru memegang timbangan—lambang Angkatan Laut.
Orang-orang berlalu-lalang. Ada yang membawa pedang di pinggang mereka, ada yang memanggul senapan laras panjang, dan ada pula pedagang yang berteriak menjajakan barang. Di sebuah papan pengumuman kayu yang tak jauh dari tempatnya berdiri, tertempel beberapa lembar kertas buronan.
Ia berada di dunia One Piece. Dan melihat dari perahu-perahu kecil serta seragam Angkatan Laut berpangkat rendah yang berpatroli, ia yakin saat ini ia berada di salah satu pulau di East Blue. Mungkin Loguetown, atau mungkin pulau pelabuhan kecil lainnya yang menjadi tempat singgah para pelaut.
Dan siapa dirinya saat ini? Muzan menatap pantulan dirinya di genangan air sisa hujan. Seorang anak yatim piatu yang kurus kering. Bukan bagian dari klan D, bukan anak naga langit, bukan pemakan buah iblis, bahkan mungkin ia belum makan selama dua hari penuh.
"Menarik," gumam Muzan pelan. Suaranya serak dan parau.
Tepat pada saat itu, ketika ia baru saja menerima realitas barunya, sebuah suara mekanis yang dingin dan tanpa emosi bergema di dalam kepalanya, bersamaan dengan munculnya sebuah panel holografik berwarna biru transparan tepat di depan matanya.
«"Puppet System berhasil diaktifkan."»
Muzan tidak terkejut. Ia hanya memundurkan wajahnya sedikit untuk membaca teks yang melayang di udara. Sistem tidak terlihat oleh siapa pun yang lalu lalang di sekitarnya. Orang-orang terus berjalan tanpa mempedulikan anak gembel yang sedang menatap kosong ke udara.
«"Selamat datang di dunia One Piece, Host."»
«"Puppet System adalah sistem eksklusif yang memungkinkan Host untuk memanggil, menyimpan, dan mengendalikan entitas 'Boneka' dari berbagai dunia dimensi lain."»
Muzan mengangkat tangannya, mencoba menyentuh layar biru itu. Jarinya menembus panel, tetapi pikirannya tampaknya bisa bernavigasi melaluinya. Dengan fokus mental, ia melihat menu utama dari sistem tersebut. Ada beberapa tab yang tersusun rapi:
[Status]
[Puppet Gacha]
[Inventory]
[Shop]
[Mission]
[Achievement]
[Collection]
[Puppet Storage]
[Belly Counter]
Sebagai seseorang yang sangat familiar dengan konsep seperti ini dari kehidupan sebelumnya, Muzan dengan tenang membuka tab [Status] terlebih dahulu. Ia harus mengetahui kapasitas tubuh barunya.
[STATUS HOST]
Nama: Muzan Kibutsi
Usia: 14 Tahun
Afiliasi: Tidak Ada (Warga Biasa East Blue)
Kekuatan Fisik: 4 (Rata-rata orang dewasa normal adalah 10)
Kecepatan: 5
Ketahanan: 3
Kekuatan Mental: 85 (Tertinggi karena reinkarnasi jiwa dewasa)
Kapasitas Pengendalian Boneka: 1 (Maksimal jumlah boneka yang bisa dikendalikan secara bersamaan saat ini)
Muzan menghela napas tipis. Seperti dugaannya, tubuh ini sangat lemah. Jika ia diserang oleh preman jalanan paling rendahan sekalipun, ia bisa mati konyol hari ini juga.
Ia kemudian mengalihkan fokusnya ke fitur inti dari sistem ini: [Puppet System].
Sebuah jendela penjelasan muncul.
«"INFORMASI BONEKA (PUPPET):"»
«"1. Boneka adalah replika sempurna dari karakter berbagai dunia fiksi (anime, manga, dll)."»
«"2. Boneka memiliki penampilan, suara, cara berbicara, memori otot, kemampuan tempur, dan gaya bertarung persis seperti aslinya."»
«"3. PENTING: Boneka TIDAK memiliki kesadaran, emosi, atau kehendak sendiri. Mereka adalah cangkang kosong yang dikendalikan 100% oleh pikiran Host."»
«"4. Boneka akan bertindak sesuai kehendak Host. Host dapat membuat mereka berbicara, bertarung, dan bereaksi, di mana Sistem akan membantu menerjemahkan 'gaya asli' karakter tersebut secara otomatis agar tidak terlihat kaku, selama Host memberikan perintahnya."»
«"5. Boneka tidak bisa mengkhianati Host."»
«"6. Jika Boneka hancur, Host dapat memperbaikinya dengan biaya tertentu atau melakukan gacha untuk mendapatkan salinannya kembali."»
Muzan menyipitkan matanya, menganalisis setiap kata. "Sistem boneka tanpa kesadaran... Ini adalah yang terbaik," batinnya.
Sebagai orang yang tidak mudah percaya pada orang lain dan benci pengkhianatan, memiliki bawahan mutlak yang tidak punya emosi adalah aset yang tak ternilai. Ia tidak perlu khawatir soal kesetiaan, tidak perlu membangun ikatan emosional, dan tidak perlu repot mengurus drama bawahan. Mereka hanyalah alat. Alat yang sempurna. Jika ia memanggil pendekar pedang ahli, ia bisa membuat pendekar itu bertarung mati-matian melindunginya tanpa ada keraguan seperseribu detik pun.
Ia beralih ke tab [Puppet Gacha].
Layar berubah, menampilkan sebuah roda roulette besar dengan kilauan warna-warni mulai dari putih, hijau, biru, ungu, emas, hingga merah pekat. Di bawah roda itu, terdapat daftar harga yang membuat Muzan menghentikan napasnya sejenak.
«"BIAYA GACHA:"»
1.000 Belly → Gacha Tingkat Rendah (Karakter umum, prajurit biasa, kekuatan sangat rendah)
10.000 Belly → Gacha Tingkat Menengah (Karakter dengan kekuatan tempur layak)
100.000 Belly → Gacha Tingkat Kuat (Karakter ahli, letnan, pengguna kekuatan khusus)
1.000.000 Belly → Gacha Tingkat Legenda (Karakter kelas atas, kapten, jenderal)
10.000.000 Belly → Gacha Tingkat Mitos (Karakter puncak, dewa, entitas pemusnah)
«"Mata uang yang digunakan terhubung langsung dengan harta duniawi yang dimiliki Host, yaitu Belly."»
Mata Muzan terfokus pada tab di sudut kanan atas layarnya: [Belly Counter]. Ia mengarahkan pikirannya ke sana.
«"Saldo Belly: 0"»
Sebuah kesunyian yang ironis menyelimuti pikiran Muzan di tengah keramaian pelabuhan.
"Tentu saja," gumamnya pelan, sudut bibirnya sedikit berkedut.
Ia adalah gembel yang baru saja bereinkarnasi. Boro-boro sepuluh juta Belly, sepeser keping perunggu pun ia tak punya di sakunya. Bahkan untuk melakukan gacha paling ampas sekalipun seharga 1.000 Belly, ia tidak sanggup. Di dunia One Piece, harga koran yang diantar oleh News Coo saja sekitar 100 Belly. Ini berarti ia harus mencari uang. Bekerja, mencuri, berburu hadiah, atau berdagang.
Muzan membuka tab [Mission].
«"Tidak ada misi aktif. Jelajahi dunia untuk memicu misi."»
Ia mencoba membuka tab [Shop].
«"Fitur Shop terkunci. Akan terbuka setelah Host mencapai akumulasi kepemilikan 1.000.000 Belly."»
Muzan bersandar kembali ke dinding bata di belakangnya. Perutnya berbunyi pelan. Kelaparan adalah masalah nyata saat ini. Jika ia tidak mendapatkan makanan dalam waktu dekat, sebelum ia sempat memikirkan strategi besar mengarungi dunia bajak laut, ia akan mati kelaparan di gang kotor ini.
Ia nyaris mematikan sistem itu ketika pandangannya menangkap satu tab yang belum ia periksa: [Inventory].
Dengan sisa harapan, ia membuka tab tersebut. Layar menampilkan puluhan kotak kosong (slot penyimpanan). Namun, di kotak pertama ujung kiri atas, ada sebuah ikon berbentuk kotak hadiah berpita merah.
Muzan memfokuskan pikirannya pada ikon tersebut.
«"Item: Paket Hadiah Pemula."»
«"Apakah Host ingin membukanya?"»
"Buka," perintah Muzan dalam hati.
Kotak itu bersinar keemasan di dalam layar, lalu terbuka. Suara notifikasi yang menyenangkan berbunyi.
«"Selamat! Host mendapatkan [Tiket Gacha Karakter Kuat] x1."»
«"Tiket ini setara dengan melakukan satu tarikan Gacha senilai 100.000 Belly, dijamin mendapatkan Boneka berperingkat Kuat (Tier Biru/Ungu)."»
Mata hitam Muzan memancarkan kilau kepuasan. Sistem ini tidak membiarkannya mati di hari pertama tanpa senjata. Satu karakter setara tarikan 100.000 Belly sudah cukup sebagai modal awal untuk bertahan hidup dan mulai mengumpulkan kekayaan di East Blue. Tingkat kekuatan di East Blue adalah yang paling lemah dibanding lautan lainnya. Seorang karakter tingkat "Kuat" dari dunia anime lain mungkin setara dengan kapten bajak laut elit atau petarung Angkatan Laut berpangkat tinggi di wilayah ini.
"Sistem, gunakan Tiket Gacha Karakter Kuat sekarang."
Panel berubah. Sebuah tiket emas melayang ke arah roda roulette di layar Gacha. Roda itu mulai berputar dengan kecepatan gila. Warna putih, hijau, biru, ungu, dan emas berbaur menjadi pusaran cahaya.
Muzan memperhatikan tanpa berkedip. Ia adalah orang yang tidak percaya pada keberuntungan belaka, namun saat ini, semuanya murni probabilitas.
Putaran roda mulai melambat. Jarum penunjuk melewati warna hijau, meluncur pelan di atas warna biru, hampir berhenti di sana, namun terus bergeser secara dramatis hingga terdengar bunyi KLIK! yang keras.
Jarum itu berhenti tepat di warna ungu gelap yang memancarkan aura dingin.
«"DING!"»
«"Gacha Selesai. Selamat, Host mendapatkan Boneka Tingkat Kuat (Tier Ungu)!"»
«"Mengekstrak data karakter... Menyesuaikan dengan hukum fisika dunia One Piece..."»
«"Ekstraksi selesai."»
Sebuah kartu perlahan muncul dari layar. Kartu itu bergambar seorang pemuda bertubuh tegap, mengenakan seragam pemburu berwarna hitam gelap dengan haori (mantel luar) yang terbagi menjadi dua pola berbeda: sisi kanannya berwarna merah tua polos, sedangkan sisi kirinya memiliki pola geometris hijau, kuning, dan oranye. Di pinggangnya tersarung sebuah pedang Nichirin dengan tsuba (pelindung tangan) berbentuk heksagonal.
Ekspresi pemuda di kartu itu sangat datar, mata birunya terlihat sedingin dan sedalam lautan palung.
Muzan membaca nama yang tertera di bawah kartu tersebut.
«"Boneka Diperoleh: Giyu Tomioka"»
«"Asal Dunia: Demon Slayer (Kimetsu no Yaiba)"»
«"Afiliasi Asli: Demon Slayer Corps (Water Hashira)"»
«"Gaya Bertarung: Water Breathing (Pernapasan Air)"»
«"Status Boneka: Tersimpan di [Puppet Storage]"»
Jantung Muzan berdetak sedikit lebih cepat. Bukan karena kegembiraan yang kekanak-kanakan, melainkan antisipasi taktis. Giyu Tomioka, sang Pilar Air. Seorang master pedang dengan kecepatan dan refleks manusia super, mampu membelah baja dan iblis dengan satu tebasan. Terlebih lagi, teknik Pernapasan Air-nya sangat cocok dengan dunia maritim One Piece.
Di lautan terlemah seperti East Blue, kekuatan seorang Hashira sudah berada di batas atas pertarungan fisik. Giyu tidak memakan buah iblis, yang berarti ia tidak takut air laut, sebuah keuntungan luar biasa di dunia ini.
"Keluarkan Giyu Tomioka," perintah Muzan dengan pikiran yang difokuskan pada tab [Puppet Storage].
«"Memanggil Boneka: Giyu Tomioka..."»
Di udara kosong di depan Muzan, partikel-partikel cahaya ungu mulai berkumpul, membentuk pusaran energi yang perlahan menyusun bentuk manusia. Dimulai dari ujung kaki yang mengenakan sandal zori dan kaus kaki tabi putih, seragam hitam, haori dua pola, hingga rambut hitamnya yang diikat ke belakang.
Hanya butuh tiga detik sebelum partikel cahaya itu memudar. Di sana, di dalam gang yang kotor, berdiri sosok Giyu Tomioka dalam wujud fisik yang sempurna. Hembusan napasnya pelan, pedang Nichirin tersarung rapi di pinggang kirinya.
Namun, yang membuat bulu kuduk Muzan sedikit meremang adalah mata Giyu. Mata biru gelap itu sepenuhnya kosong. Tidak ada kehangatan, tidak ada kehidupan, tidak ada jiwa di baliknya. Giyu hanya berdiri mematung layaknya manekin lilin kualitas tinggi. Ia bahkan tidak berkedip jika tidak diinstruksikan.
«"Sinkronisasi Pikiran dimulai. Harap Host fokus untuk mengambil kendali Boneka."»
Muzan menutup matanya. Tiba-tiba, ia merasakan sensasi ganjil yang luar biasa. Pikirannya seolah bercabang menjadi dua layar monitor. Ia bisa merasakan angin laut menerpa wajahnya sendiri (Muzan), namun secara bersamaan, ia juga bisa merasakan berat pedang di pinggang 'dirinya' yang lain (Giyu).
Ia membuka matanya kembali. Dari sudut pandang Muzan, ia melihat Giyu berdiri di depannya. Tapi dari sudut pandang Giyu, ia melihat seorang anak kecil kurus berpakaian compang-camping menatap ke arahnya. Ini adalah sensasi multi-tasking yang absolut.
Dengan sebuah niatan, Muzan 'menggerakkan' boneka itu.
Giyu Tomioka berkedip. Lalu, dengan gerakan halus yang mematikan, tangan kanan Giyu meraih gagang pedangnya, menariknya keluar sekitar satu inci. Suara gesekan logam yang tajam bergema di gang sempit itu.
Muzan takjub. Otot-otot tubuh Giyu terasa begitu kuat, energinya terasa melimpah. Memori otot tentang teknik-teknik pedang Pernapasan Air ada di sana, siap diakses oleh Muzan kapan saja layaknya file di dalam komputer. Muzan tidak perlu tahu bagaimana cara berayun yang benar, karena tubuh boneka itu sudah diprogram untuk melakukannya secara sempurna. Muzan hanya perlu memberikan command (perintah).
Sarungkan kembali, perintah Muzan.
Klik. Giyu memasukkan kembali pedangnya dengan cepat dan mulus.
Muzan tersenyum tipis, sebuah senyuman kalkulatif. "Dengan ini, aku tidak akan menjadi mangsa di dunia ini. Aku yang akan menjadi pemburu."
Tiba-tiba, telinga Giyu yang jauh lebih peka daripada telinga Muzan menangkap suara langkah kaki berat mendekat dari arah ujung gang yang mengarah ke bagian dalam kota. Muzan segera merespons melalui pendengaran bonekanya.
Tiga orang pria dewasa berjalan memasuki gang sempit tersebut. Mereka mengenakan pakaian bajak laut yang lusuh—kemeja tak dikancingkan, bandana kotor, dan celana longgar. Masing-masing dari mereka membawa senjata; satu orang membawa parang, satu membawa pisau belati, dan yang paling besar membawa pentungan kayu bertatahkan paku besi. Bau minuman keras yang murah menguar dari tubuh mereka.
"Oi, oi, lihat apa yang kita temukan di sini," ucap pria yang membawa parang, matanya menatap liar ke arah tubuh kurus Muzan. "Seekor tikus kecil yang tersesat dari selokannya."
Pria berbadan besar dengan pentungan tertawa kasar. "Kudengar rumah pelacuran milik Madame Kyla sedang mencari anak-anak baru untuk dijadikan pembantu atau... yah, mainan. Anak ini memang kotor, tapi kalau dimandikan, kita mungkin bisa dapat 5.000 Belly untuknya."
Muzan tetap diam, berdiri bersandar di dinding. Wajahnya tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun. Otaknya memproses informasi dengan cepat. Tiga pria bersenjata. Kemungkinan bajak laut kroco yang sedang singgah di pulau atau preman lokal. Nilai jualku 5.000 Belly. Mereka berniat menculik.
"Tunggu, siapa pria di sebelahnya?" tanya pria pemegang belati, baru menyadari sosok Giyu yang berdiri diam dalam bayang-bayang gang. Haori aneh Giyu dan pedang di pinggangnya membuat mereka sedikit waspada.
"Hanya orang asing yang kebetulan lewat," kata pria besar itu, meludah ke tanah. Ia mengangkat pentungannya, menunjuk ke arah Giyu. "Oi, samurai aneh! Serahkan bocah itu kepada kami dan pergilah. Kalau kau ikut campur, kami akan mengulitimu hidup-hidup. Kami ini bagian dari Bajak Laut Taring Berdarah!"
Tentu saja, Giyu tidak merespons. Ia hanya menatap kosong ke arah ketiga preman itu.
Bagi ketiga bajak laut itu, kebisuan Giyu dianggap sebagai penghinaan dan tantangan. Pria berparang itu menggeram marah. "Berani sekali kau meremehkan kami! Akan kupotong lidahmu!"
Pria berparang itu berlari menerjang ke arah Giyu, mengangkat parangnya tinggi-tinggi untuk menebas leher pria berhaori aneh tersebut.
Dari sudut pandangnya, Muzan hanya menonton. Detak jantungnya stabil. Jarak pria itu lima meter... empat meter... tiga meter...
Terlalu lambat, pikir Muzan. Gerakan preman itu di mata Giyu terlihat seperti gerakan slow-motion yang penuh celah.
Di saat parang itu hampir mencapai leher Giyu, Muzan akhirnya memberikan perintah pertamanya.
Cabut pedangmu. Jangan bunuh dia. Putuskan tangan kanannya.
Dalam sekejap mata, bahkan sebelum preman itu menyadari apa yang terjadi, sosok Giyu menghilang dari tempatnya berdiri.
"Pernapasan Air, Bentuk Pertama: Tebasan Permukaan Air." (Muzan membiarkan sistem mengeluarkan suara Giyu yang datar dan dingin untuk intimidasi).
SYAATT!!
Sebuah kilatan cahaya biru berbentuk gelombang air yang indah membelah udara di gang gelap tersebut. Suara tebasan yang sangat jernih memotong keheningan.
Preman berparang itu tiba-tiba berhenti. Matanya melotot. Ia melihat tangan kanannya yang masih memegang parang terbang ke udara, terpisah dari lengannya. Tiga detik kemudian, barulah rasa sakit yang mengerikan menjalar ke otaknya, diikuti oleh semburan darah merah pekat yang muncrat dari pangkal lengannya yang buntung.
"AAAARRRGGGGHHHH!!!!"
Jeritan melengking yang memekakkan telinga pecah. Pria itu jatuh berlutut, memegangi lengannya yang terpotong sambil berguling-guling di tanah yang basah.
Dua bajak laut lainnya mematung. Wajah mereka pucat pasi. Pentungan kayu dan belati bergetar di tangan mereka. Mereka tidak melihat pria berhaori aneh itu mencabut pedangnya. Mereka hanya melihat kilatan air, dan tiba-tiba teman mereka kehilangan tangan.
Giyu Tomioka berdiri di belakang preman yang jatuh itu. Pedang Nichirin-nya yang berwarna biru cerah tidak menyisakan setetes darah pun di bilahnya. Posisi berdirinya sempurna, tanpa celah, menatap dingin ke arah dua pria yang tersisa.
Muzan, yang masih bersandar di dinding, menatap panel sistem di depannya dengan senyum tipis yang tak kentara.
«"Misi Baru Terpicu: Basmi Ancaman Lokal."»
«"Tujuan: Kalahkan tiga anggota Bajak Laut Taring Berdarah."»
«"Hadiah: 15.000 Belly, 10 Poin Pengalaman Sistem."»
Mata Muzan berkilat. Ini bukan sekadar ajang bertahan hidup. Ini adalah sumber pendapatannya yang pertama.
"Giyu," ucap Muzan dengan suaranya yang serak dan parau, berperan sebagai 'tuan' yang misterius di hadapan para musuh.
Boneka Giyu tidak menoleh, namun pedangnya diangkat perlahan, mengarah pada preman bertubuh besar.
"Habisi mereka. Tapi jangan merusak wajah mereka. Kita harus memastikan mereka punya harga buronan untuk ditukar."
Satu perintah diberikan, dan malam di East Blue itu akan menjadi panggung pertama dari seorang dalang bayangan yang kelak akan mengguncang lautan dengan pasukan bonekanya. Perjalanan panjang mengumpulkan Belly demi supremasi baru saja dimulai