Shen Yu dikenal sebagai tuan muda paling bermasalah di Kota Qinghe. Ia gemar menghamburkan uang, membuat keributan, dan menghabiskan waktunya di rumah hiburan. Anehnya, setiap kali ia membuat masalah, sang nenek selalu berada di belakangnya.
Nyonya Lin bukanlah wanita tua biasa. Ia adalah legenda dunia persilatan, pendiri Aliansi Seratus Perguruan, dan sosok yang pernah menjaga kedamaian Dunia.
Namun ketika bayang-bayang perang kembali muncul dan musuh-musuh lama mulai bergerak, Shen Yu harus menghadapi kenyataan bahwa perlindungan neneknya tidak akan ada selamanya. Demi menjaga warisan orang yang paling ia cintai, ia perlahan berubah dari seorang tuan muda manja menjadi pendekar yang akan menentukan masa depan Kekaisaran dan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Debu perlahan menghilang.
Bekas pertarungan masih terlihat jelas di seluruh halaman keluarga Shen. Batu-batu pecah berserakan. Pepohonan tumbang. Namun tak seorang pun berani bergerak.
Qin Feng dan Qin Hai masih berdiri membeku. Harapan terakhir mereka...
Telah berubah menjadi mayat. Qin Feng mundur selangkah tanpa sadar.
"T-Tidak...Ini tidak mungkin..."
Shen Yu menatap mereka berdua dengan tenang. Ia lalu berjalan perlahan mendekat.
Tap...
Tap...
Tap...
Setiap langkahnya membuat jantung Qin Feng berdetak semakin kencang. Qin Hai buru-buru menarik putranya ke belakang.
"Tuan Shen...Kami salah. Kami mohon ampuni kami."
Shen Yu berhenti tepat di depan mereka.
"Kalian salah?"
Qin Hai langsung berlutut.
"Benar. Kami tidak akan mengganggu Tuan Shen lagi."
Qin Feng menggigit bibirnya. Walau tidak rela...
Ia tetap ikut berlutut.
Shen Yu menatap keduanya beberapa saat. Lalu tersenyum kecil.
"Kalau begitu, aku juga ingin bertanya. Kemarin saat Guru Besar Liu hendak membunuhku apakah kalian juga berniat mengampuniku?"
Qin Hai langsung terdiam. Tak mampu menjawab. Shen Yu menggeleng pelan.
"Kalau aku kalah yang tergeletak di tanah sekarang adalah aku kalian bahkan tidak akan memberiku kesempatan berbicara."
Suasana kembali sunyi.
Shen Yu menutup kipasnya.
"Nenek pernah mengajariku belas kasihan diberikan kepada orang yang tidak sempat berbuat salah. Tapi orang yang sudah berkali-kali datang ingin membunuhmu tidak pantas diberi kesempatan kedua."
Qin Feng mendongak.
"Tunggu—"
Belum sempat menyelesaikan ucapannya...
Shen Yu sudah berada di depannya.
Plak!
Satu tamparan membuat tubuh Qin Feng berputar beberapa kali sebelum menghantam tanah.
Giginya berhamburan.
Darah mengalir dari mulutnya.
"Aaargh!"
Qin Hai langsung panik.
"Feng'er!"
Ia baru hendak menolong putranya.
Namun...
Shen Yu menendang lututnya.
Krek!
Suara tulang patah terdengar jelas.
Qin Hai menjerit sambil berlutut.
"AAAH!!"
Shen Yu memandang keduanya dengan datar.
"Kalian terlalu sering mengandalkan orang lain. Hari ini cobalah rasakan bagaimana rasanya ketika tidak ada siapa pun yang menyelamatkan kalian."
Qin Feng merangkak sambil menangis.
"Tuan Shen aku salah aku benar-benar salah ampuni aku..."
Shen Yu menggeleng pelan.
"Kalau setiap permintaan maaf bisa menghapus semuanya dunia ini sudah terlalu damai."
Boom!
Shen Yu menghentakkan telapak tangannya ke tanah.
Gelombang energi langsung menghantam tubuh Qin Feng dan Qin Hai. Keduanya terpental puluhan meter. Meridian mereka hancur. Seluruh kultivasi yang mereka bangun selama bertahun-tahun lenyap seketika.
Qin Feng menatap kedua tangannya dengan putus asa.
"Kultivasiku...Kultivasiku..."
Shen Yu berbalik tanpa melihat mereka lagi.
"Aku tidak akan membunuh kalian. Hiduplah...Dengan menyaksikan semua yang pernah kalian banggakan hilang dalam satu hari."
Wajah Qin Feng dipenuhi keputusasaan.
Baginya...
Hidup tanpa kultivasi jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Pak Hong kemudian memberi isyarat kepada para pengawal keluarga Shen.
"Usir mereka."
"Baik."
Qin Feng dan Qin Hai segera diseret keluar dari kediaman keluarga Shen. Tak seorang pun merasa iba.
Wei Gong yang sejak tadi menonton akhirnya melangkah maju.
"Sudah selesai?"
Shen Yu menoleh.
"Sudah."
Wei Gong mengangguk.
"Kalau begitu ikut aku ke istana. Jangan membuat Yang Mulia menunggu."
Shen Yu mengibaskan kipasnya.
"Tentu."
Wei Gong menghela napas lega.
"Bagus. Setidaknya kau masih mengerti aturan."
Ia berbalik hendak berjalan keluar.
Namun...
Shen Yu tiba-tiba memanggil.
"Hei, Kasim."
Wei Gong berhenti.
"Ada apa?"
Shen Yu menunjuk ke arah bahu Wei Gong.
"Kau tidak sadar?"
Wei Gong langsung mengernyit.
"Sadar apa?"
"Ada debu."
Hampir semua mata langsung tertuju kepada Wei Gong.
Sebagai kasim kesayangan kaisar, penampilannya selalu dijaga sempurna.
Tanpa berpikir panjang, Wei Gong buru-buru menepuk-nepuk jubahnya.
"Di mana?"
"Sebelah kiri."
Wei Gong segera membersihkan bagian kirinya.
Shen Yu menggeleng.
"Bukan... sebelah kanan."
Wei Gong kembali menepuk-nepuk jubahnya.
"Masih ada."
"Belakang."
Wei Gong berputar membersihkan punggungnya.
Beberapa pelayan keluarga Shen mulai menundukkan kepala menahan tawa. Mu Xueyi sampai menutup mulutnya. Setelah sibuk beberapa saat...
Shen Yu baru tersenyum.
"Sudah bersih."
Wei Gong menghela napas lega.
"Syukurlah."
Shen Yu kemudian berkata santai.
"Padahal dari tadi memang tidak ada debu."
"..."
Halaman keluarga Shen langsung hening. Lalu beberapa pelayan tak sanggup lagi menahan tawa.
"Hehe..."
"Hahaha..."
Bahkan Pak Hong sampai memalingkan wajah agar tidak terlihat tersenyum.
Wajah Wei Gong langsung memerah. Baru kali ini dalam hidupnya...
Ia dipermainkan di depan begitu banyak orang seperti orang bodoh. Ia menggertakkan gigi.
"Shen... Yu..."
Namun Shen Yu hanya membuka kipasnya sambil tersenyum.
"Ayo berangkat. Jangan sampai Yang Mulia menunggu."
Wei Gong tidak berkata apa-apa lagi. Ia berbalik dan berjalan keluar. Tetapi di balik lengan jubahnya...
Kedua tangannya sudah mengepal erat.
*"Bocah sialan....Aku akan mengingat penghinaan ini."*