Cerita tentang seseorang yang berasal dari Indonesia berpindah ke sebuah dunia fantasy, dimana terlihat gunung berbentuk pedang dan pulau melayang itu biasa. Untuk bertahan hidup dia yang tak memahami kemampuan peningkatan di fiksi memililih menggunakan Teknik dari Indonesia yang menggunakan Tenaga Dalam yang dia ubah beberapa caranya. Isi dari novel ini hanya perjalanannya mencari cara untuk membuat kemampuan tenaga dalam milik Indonesia bisa menyaingi peningkatan kemampuan di dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TrueRuler, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7: Qi
Didalam tulisan Cakra membayangkan kejadian siang tadi, juga pembicaraan yang berasal dari prasasti dan dentungan di malam hari tersebut.
“Ah apa ini?”
“Tulisanku kok bercahaya?”
Tulisan tulisan tersebut mengambang seperti air selama beberapa detik, setelah itu terjatuh kembali ke buku tidak ada efek yang terlihat. Cakra pun melanjutkan menulis walau tiap kalimat terjadi seperti itu tapi Cakra tak terlalu terganggu karena tulisannya gak terhapus. Sambil terus menulis Cakra kepikiran untuk menulis tentang praktisi dunia itu, saat dia mulai menulis sebuah penglihatan akan praktisi dan kegiatan mereka pada dunia muncul. Tangan Cakra bergerak tapi matanya gak melihat yang dia tulis.
*Sreet
Seorang anak sedang melihat desanya hancur, menggigit bibirnya dengan amarah yang nampak dimatanya.
“UUUUH… Kalian monster monster apa kalian tak menganggap kami untuk hidup?”
*suara daging terkoyak
Monster raksasa dengan daging melihat kepada anak kecil tersebut dengan mata buasnya. Tak lama dari jauh seseorang dengan pedang datang berlari mengusir mahluk itu.
“Nak apa kau tak apa apa?”
“Kakek… Nenek ku…”
“Tetaplah kuat nak,”
“Jikalau kau ingin membalas dendam ikutlah dengan ku”
Anak tersebut mengusap air matanya, dan menjawab.
“Baik aku akan ikut denganmu.”
Anak dan orang tersebut berjalan ke arah hutan, didalam hutan si anak melihat sebuah pondok kayu yang dikelilingi bambu ungu.
“Tempat apa ini?”
“Siapa sebenarnya kau tuan?”
“Aku hanya seorang ahli pedang yang menemukan sesuatu tapi tak mampu melanjutkannya karena masalah umurku”
Anak tersebut heran.
“Menemukan apa?”
“Kalau kau ingin tau panggillah aku sebagai guru”
“Baik, Guru!”
Sang pembawa pedang menceritakan kisahnya bagaimana dirinya bisa sekuat itu,
“Aku akan mulai dari diriku yang sedang mengawal seorang putri”
“Dalam perjalanan ada seekor Binatang monster yang menyerang”
“Dalam serangan aku terkena cakaran”
“Saat itu aku sekarat, tapi tak jauh dari itu sebuah hutan bambu mengeluarkan kabut ungu menutupi pandangan lawan”
“Sang putri yang terlalu baik saat itu membawaku untuk bersembunyi ke hutan bambu tersebut”
“Sampai sekarang”
Anak tersebut heran terhadap melompatnya cerita.
“Kemana putri itu?”
“Oh maaf, tak lama setelah itu sang putri kembali karena pasukan bantuan telah menjemput hanya saja diriku tak bisa ikut karena dianggap akan menyusahkan”
“Aku saat itu dilantik sebagai penjaga perbatasan disini untuk mengatasi monster jikalau aku selamat”
“Jenderal begitu saja menyerahkan token kepadaku”
Anak tersebut terlihat paham.
“Lalu bagaimana dengan hal yang kau temukan guru?”
“Oh ya, saat itu aku benar benar sekarat juga mendapatkan perawatan seadanya”
“Nah bambu ini membantuku, aku tiba tiba melihat energi ungu dari bambu merawat luka luka-ku”
“Selain itu aku juga mulai bisa melihat aliran jikalau itu pekat”
“Dari sini energi itu juga meningkatkan tubuhku”
“Aku bisa menebas tangan monster tersebut dengan mudah karena ini”
“Hanya saja aku merasa ini bisa lebih jauh tapi aku tak paham caranya”
Anak itu mulai memahami tapi dia pun tak paham, tapi sang pembawa pedang menyuruh anak itu merasakan energi tersebut terlebih dahulu. Anak itupun menutup mata dengan posisi bersila, terlihat dari mata sang pembawa pedang anak ini dikelilingi oleh energi dari bambu. Selain itu tubuh anak itu juga menyerap energi dari bambu cukup baik, sang pemegang pedang membiarkan anak tersebut terus menyerap energi dari bambu. Setelah mencapai 12 jam anak tersebut merasakan rasa lapar dan mencium bau makanan yang dimasak.
“Uhhhh… perutku”
“Nak apakah kau sudah selesai?” kata sang pembawa pedang.
“Eh sudah berapa lama aku melakukan itu?”
“12 jam, apakah kau merasakan perubahan?”
“Ya… aku lapar”
“Hahahaha… sudahlah makan dulu”
Anak tersebut ikut duduk di meja, mulai mengambil piringnya dan makan dengan lahap. Sang pemegang pedang yang melihat cukup senang dengan lahapnya anak tersebut makan. Setelah makan sang pemegang pedang menanyakan kea nak itu tentang progressnya.
“Bagaimana apakah progress mu sudah lebih baik?”
“Aku merasakan energi itu, terus kuserap tapi entah kenapa setiap kali menyerap itu pecah”
“Kadang juga energi itu mengisi perutku seperti berusaha membentuk sesuatu”
“Tapi ketika aku berusaha fokus membentuk semuanya pecah”
“Kurasa itu sebuah kemajuan”
“Aku bahkan tak merasakan apapun diperutku”
Anak tersebut mengangguk, malam itu sang pembawa pedang menyuruh anak tersebut untuk tidur karena besok pagi akan ada latihan untuk menguatkan tubuh. Mereka tertidur, ketika bangun pada pagi hari sang pembawa pedang membangunkan anak itu.
“Ayo kita pergi, kita perlu latihan pagi”
“Emmm…. Ya” menjawab sambil mengantuk.
Mereka berjalan ke atas sebuah bukit memanjat gunung pada pagi hari sambil mengawasi desa desa disekitar. Sang pembawa pedang membuat sang Anak untuk bolak balik dari puncak beberapa kali baru setelah itu memberikan anak itu makanan. Setelah makan diteruskan kembali untuk anak tersebut menyerap energi karena pernapasannya dianggap paling kuat saat ini. Anak tersebut dibagi 2 jam untuk Latihan menyerap dan 2 jam untuk olahraga memperkuat tubuhnya.
Selama beberapa hari si anak terus melakukan hal tersebut dirinya mulai merasakan jikalau tubuhnya mulai menguat. Selain itu anak tersebut juga mulai bisa mengumpulkan titik energi sehingga terbentuk wadah untuk menampung energi tersebut.
“Guru aku telah berhasil membentuknya”
“Bagus, apakah ada perubahan?” sang pembawa pedang dengan tersenyum.
“Ada aku merasakan penyerapan lebih lancar”
“Tapi apakah tak ada sebutan untuk energi ini?”
“Bagaimana kalau kita sebut sebagai Qi”
“Karena hal ini bisa kita ambil dengan bernafas dan bentuknya seperti udara atau gas ini kurasa lebih tepat”
“Dan mari kita sebuh wadah yang ada di dirimu sebagai dantian”
“Baik”
Anak tersebut terus mengisi dantian miliknya selama beberapa tahun dengan selingan olahraga. Si pemegang pedang juga mengajarkan anak tersebut cara untuk mengayunkan pedang. Si Anak tumbuh dengan sehat dan bugar, dari seorang anak kecil beberapa tahun sudah menjadi seorang pemuda tampan. Pada beberapa hari saat anak itu mulai menyelesaikan untuk memenuhi dantian miliknya, energi tersebut mulai terpusat dan memadat saat itu juga awan petir terlihat berkumpul. Sang pembawa pedang yang melihat itu kaget.
“Apa apaan”
“Awan itu terlihat mengamuk”
“Tapi kenapa? Sepertinya bukan mengarah padaku?”
“Jangan bilang”
“Gawat muridku terlalu fokus”
“Apakah ini hukuman dunia?”
Anak tersebut tiba tiba terangkat mulai melayang terangkat ke langit, saat telah mencapai posisi tubuh anak itu mulai disambar petir. Tapi anak tersebut gak goyah, petir pertama, petir kedua, petir ketiga, petir keempat, didalam tubuh anak itu energi berputar dan memadat dantiannya mengeras. Petir kelima, petir keenam dan petir ke tujuh turun, tubuh anak itu terlihat sedikit retak. Ditiup angin anak tersebut retakan di tubuhnya hancur memperlihatkan sebuah tubuh yang sangat kuat tanpa luka. Didalam tubuh anak itu dantiannya telah berganti menjadi sebuah pil emas.
*Dang… suara lonceng berbunyi
Anak tersebut membuka matanya….
Hiss memang lagi mode survival tapi jangan kebanyakan atuh...