NovelToon NovelToon
Sepatu Lusuh

Sepatu Lusuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:377
Nilai: 5
Nama Author: Heriawan

Dulu, sebelum jalan aspal mencapai Dusun Wanasetra, aku dan adikku harus bangun ketika langit masih gelap. Kami berjalan lebih dari tujuh kilometer menuju sekolah, melewati pematang sempit, kebun, lereng rawan longsor, dan sungai yang tidak memiliki jembatan tetap. Di kaki kami hanya ada sepatu bekas dari pasar loak. Sepatu itu terlalu sempit untukku, terlalu besar untuk Nira, dan selalu basah saat musim hujan.
Kami menjahit telapak yang terbuka dengan benang karung, menambalnya memakai potongan ban, lalu memakainya kembali pada pagi berikutnya. Di sekolah, sepatu lusuh itu menjadi bahan ejekan. Di rumah, sepatu yang sama menjadi bukti bahwa Ayah dan Ibu masih berusaha menjaga kami tetap belajar. Ketika panen gagal, Ibu sakit, dan Ayah menerima pekerjaan berbahaya di tempat pemecahan batu, perjalanan menuju sekolah berubah menjadi perjuangan mempertahankan keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BATU PERTAMA YANG LICIN

Kami berdiri di tepi sungai lebih lama daripada biasanya. Air membawa ranting, daun, dan busa berwarna cokelat. Suaranya memukul batu-batu besar sampai percikan kecil mengenai kaki kami.

Pesan Ayah teringat jelas: jika air menutup batu ketiga, kami harus pulang.

Batu ketiga belum sepenuhnya tertutup. Bagian atasnya masih muncul sebesar punggung kerbau. Namun, setiap beberapa detik gelombang melewatinya. Aku mencoba menilai apakah kami masih bisa menyeberang. Jika pulang, kami akan dianggap tidak hadir. Jika menunggu, air mungkin semakin tinggi.

"Kita pulang saja," kataku.

Nira langsung menggeleng. "Hari ini aku membaca."

"Besok masih bisa."

"Bu Satya sudah menuliskan namaku."

Aku menatap wajahnya. Ia benar-benar takut kehilangan kesempatan membaca di depan kelas. Bagi anak lain, itu mungkin tugas biasa. Bagi Nira, membaca adalah saat ketika semua orang diam dan mendengarkan suaranya. Ia selalu berlatih di rumah, membaca buku yang sama sampai hafal.

"Airnya cepat," kataku.

"Aku pegang tangan Kakak."

Seharusnya aku membawa kami pulang. Aku adalah kakaknya. Ayah telah memberi aturan. Namun, aku juga takut pada buku kedisiplinan dan tatapan kepala sekolah. Aku takut dianggap malas. Pada usia sebelas tahun, rasa malu kadang lebih kuat daripada rasa bahaya.

Aku mengambil tongkat kayu dan turun ke tepi air. Batu pertama berjarak satu langkah dari tanah. Permukaannya lebar, tetapi licin karena lumut. Aku menginjaknya dengan kaki kanan, lalu mengetuk beberapa kali untuk memastikan tidak goyah.

"Tunggu sampai aku bilang," kataku.

Nira mengangguk.

Aku berpindah ke batu kedua. Air menyentuh sisi sepatu kiri. Retakan kecil pada sol terasa dingin. Setelah mencapai batu ketiga, aku berbalik dan mengulurkan tangan.

"Sekarang. Pelan-pelan."

Nira menginjak batu pertama. Sepatu cokelatnya terlihat besar di atas permukaan batu. Ia membuka kedua tangan untuk menjaga keseimbangan. Tali tasnya melorot dari bahu.

"Lihat aku," kataku. "Jangan lihat air."

Ia menatap wajahku dan melangkah ke batu kedua. Kakinya sedikit tergelincir, tetapi ia berhasil bertahan. Aku maju mendekat, berdiri dengan satu kaki di batu ketiga dan satu kaki di batu kedua.

"Pegang."

Tangannya masuk ke dalam genggamanku. Jarinya dingin.

Saat ia hendak berpindah, arus menghantam sisi batu. Sepatu kanannya tergelincir. Tubuh Nira berputar dan lututnya jatuh ke air. Ia menjerit. Aku menarik tangannya sekuat tenaga. Tongkat kayuku hanyut, tetapi aku berhasil mengangkat tubuhnya ke batu ketiga.

Air masuk ke kedua sepatunya. Roknya basah sampai lutut. Tasnya terkena percikan, tetapi bekal masih aman.

"Sakit?" tanyaku.

Nira menggigit bibir dan menggeleng. Matanya penuh air. Aku tidak tahu apakah itu air sungai atau air mata.

Kami menyelesaikan penyeberangan dengan lebih lambat. Aku menginjak setiap batu dua kali sebelum menyuruhnya maju. Ketika sampai di seberang, kaki kami gemetar. Nira duduk di tanah dan memeluk lutut.

"Kita pulang," kataku.

Ia kembali menggeleng. "Sudah setengah jalan."

Sebenarnya kami belum mencapai setengah perjalanan. Namun, jika kembali, kami harus menyeberangi sungai sekali lagi. Aku melihat air yang terus naik dan akhirnya setuju melanjutkan.

Di balik semak, aku membantu Nira melepas sepatu. Air keluar dari dalamnya seperti dituangkan dari cangkir. Kaus kakinya basah dan penuh pasir. Aku memerasnya kuat-kuat, lalu menggantungnya sebentar pada ranting.

"Pakai tanpa kaus kaki," kataku.

"Nanti Bu Guru marah."

"Kaus kaki basah membuatmu sakit."

Aku juga membuka sepatu kiriku. Air masuk melalui retakan sol. Tumitku lecet dan ada titik darah kecil, tetapi aku tidak menunjukkannya. Aku memeras kaus kakiku, memasangnya lagi karena hanya sedikit basah, lalu mengikat sepatu lebih kuat.

Nira memasukkan kaki telanjangnya ke sepatu. Kulit bagian dalam yang kasar langsung menggesek kulitnya.

"Perih," katanya.

"Kita jalan pelan."

Matahari mulai muncul ketika kami mencapai jalan kabupaten. Dari sana, sekolah masih sekitar dua kilometer. Anak-anak lain berjalan dalam kelompok. Beberapa menoleh pada rok Nira yang basah. Aku berjalan di sampingnya agar tubuhnya sedikit tertutup.

Kami tiba setelah bel pertama berbunyi. Pak Sasmita berdiri di gerbang dengan buku kecil di tangan.

"Terlambat lagi, Langga," katanya.

Aku menunduk. "Sungainya tinggi, Pak."

Ia melihat pakaian kami, tetapi hanya menulis sesuatu. "Alasan tidak mengubah waktu. Masuk. Besok berangkat lebih pagi."

Aku ingin mengatakan kami sudah bangun sebelum ayam berkokok. Aku ingin mengajaknya melihat sungai. Namun, kata-kata itu berhenti di tenggorokan. Aku dan Nira berjalan masuk tanpa menjawab.

Di kelas dua, Bu Satya segera melihat keadaan Nira. Ia menyentuh rok yang masih lembap dan bertanya apa yang terjadi. Nira menjawab singkat bahwa ia terpeleset. Bu Satya menyuruhnya duduk dekat jendela yang terkena matahari. Ia memberikan kain untuk mengeringkan kaki dan tidak memarahinya karena tidak memakai kaus kaki.

Aku harus masuk ke kelas lima di ujung koridor. Sepanjang pelajaran, pikiranku terus kembali kepada Nira. Aku membayangkan ia menggigil, dimarahi, atau menangis sendirian. Saat istirahat, aku berlari ke kelasnya.

Nira duduk dengan buku terbuka. Wajahnya pucat, tetapi matanya terang.

"Tadi aku membaca," katanya sebelum aku bertanya. "Tidak salah satu kata pun."

"Bagus."

"Bu Satya bilang suaraku jelas."

Ia tersenyum. Aku ikut tersenyum, meski melihat kedua sepatunya diletakkan di bawah jendela. Bagian dalamnya dijemur menghadap matahari. Kaus kaki basah tergantung pada sisi meja.

Kami makan nasi jagung bersama di belakang kelas. Nira menggigil beberapa kali, tetapi tetap mengatakan dirinya tidak apa-apa. Aku membagi potongan tempe milikku menjadi dua dan memberikan bagian yang lebih besar kepadanya.

Sepulang sekolah, sepatu Nira sudah agak kering. Kami takut sungai semakin tinggi, tetapi ternyata air mulai turun. Kami menyeberang tanpa jatuh. Perjalanan pulang terasa lebih panjang karena kaki Nira sering berhenti.

"Kenapa?" tanyaku.

"Ada pasir di dalam sepatu."

Kami tidak membuka sepatu sampai tiba di rumah. Ibu sedang mengiris singkong ketika melihat rok Nira yang kotor. Wajahnya langsung berubah.

"Apa yang terjadi?"

"Cuma terpeleset," jawab Nira cepat.

Ayah belum pulang. Aku membantu Nira duduk dekat tungku. Ketika Ibu membuka tali sepatu dan menariknya perlahan, Nira mendesis. Kulit di belakang tumitnya menempel pada bagian dalam sepatu.

Setelah kaki itu keluar, kami semua terdiam.

Telapak dan tumit Nira dipenuhi garis merah. Beberapa kulit terkelupas. Pada sisi jari kelingking ada luka tipis yang mengeluarkan darah. Bentuk garis-garis itu mengikuti lipatan kasar di dalam sepatu, seperti peta kecil yang digambar dengan rasa sakit.

Ibu menatapku. Ia tidak memarahiku, tetapi itu membuatku merasa lebih bersalah.

Nira mencoba tersenyum. "Besok pasti sudah sembuh."

Aku berjongkok di depannya dan melihat garis merah yang belum pernah kulihat sebelumnya. Untuk pertama kalinya, aku bertanya dalam hati apakah sepatu yang kami kira akan membawa kami ke sekolah justru sedang melukai langkah adikku sedikit demi sedikit.

1
Riska Noor
bagus ceritanya, realita di pelosok daerah tertentu..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!