NovelToon NovelToon
Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Di Balik Pintu Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nisaul Mardhiyah

" Ahh ugh Dia suamiku, Aksa... Kita tidak boleh melakukan ini," bisik Valerian di tengah napasnya yang memburu. "Tapi dia tidak pernah melihatmu sebagai wanita, Kak. Sedangkan aku? Aku menginginkanmu sampai hampir gila," balas Aksa dengan tatapan mata yang penuh obsesi.

Bagi Damian, Valerian hanyalah sebuah kewajiban di atas kertas kontrak bisnis keluarga. Dua tahun pernikahan berjalan, Damian tidak pernah sekali pun menyentuh istrinya, membiarkan Valerian layu dalam kesepian di rumah megah yang sedingin es.Namun, malam badai itu mengubah segalanya. Berawal dari rasa iba yang berubah menjadi ketegangan tak terkendali, Aksa—adik kandung Damian yang tinggal serumah dengan mereka—melanggar batas suci.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7. Ketegangan di Balik Kamar

Tok! Tok! Tok!

"Aksa! Aku tahu kau di dalam. Buka pintunya," suara Damian kembali terdengar dari balik pintu, kali ini dengan nada yang jauh lebih tegas dan tidak sabaran.

Valerian mencengkeram kemeja putih Aksa dengan sangat kuat. Seluruh tubuhnya gemetar, wajahnya pias menatap daun pintu yang hanya berjarak beberapa meter dari posisi mereka. Napasnya tertahan di tenggorokan. Ia merasa seolah-olah kematian sedang mengetuk pintu kamar itu.

Namun, Aksa justru menunjukkan reaksi yang sama sekali tidak terduga.

Pria itu tidak bergerak sedikit pun untuk membukakan pintu. Aksa hanya menatap daun pintu itu dengan tatapan dingin, lalu perlahan tatapannya kembali jatuh pada Valerian. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman tipis yang menenangkan sekaligus penuh dengan pembangkangan. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, Aksa membawa jari telunjuknya ke depan bibir, memberi isyarat agar Valerian tetap diam.

Aksa meraih ponselnya di atas nakas, mengetik sesuatu dengan cepat, lalu mengirimkannya pada Damian.

Di balik pintu, terdengar suara denting ponsel Damian. Damian membaca pesan dari adiknya:

Aku mau tidur, Kak. Badanku sangat lelah setelah makan malam tadi. Urusan proyek bisa kita bahas besok pagi di kantor.

Di koridor luar, Damian menatap layar ponselnya dengan kening berkerut dalam. Rahangnya mengeras. Ada rasa tidak puas yang mengganjal di dadanya, namun ia tidak punya alasan logis untuk mendobrak kamar adiknya sendiri. Dengan langkah berat yang sarat akan kekesalan, Damian akhirnya berbalik dan melangkah pergi meninggalkan koridor kamar Aksa.

Mendengar suara langkah kaki Damian yang kian menjauh, Valerian mengembuskan napasnya yang sejak tadi tertahan. Ia lemas, nyaris merosot ke lantai jika saja lengan kokoh Aksa tidak segera menangkap pinggangnya.

"Aksa, kau gila! Bagaimana kalau dia curiga dan mendobrak pintu?" bisik Valerian dengan suara parau yang ketakutan.

Aksa tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mengangkat tubuh ramping Valerian ke dalam gendongannya, membawanya menuju ranjang besar bernuansa gelap miliknya. Aksa merebahkan Valerian dengan teramat lembut, seolah-olah wanita di bawahnya adalah barang pecah belah yang paling berharga di dunia.

"Malam ini, lupakan Damian, Valerian," bisik Aksa, suaranya merendah seksi saat ia ikut merangkak naik ke atas ranjang, mengurung Valerian di bawah kungkungan tubuh jangkungnya. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu kita. Malam ini, kau hanya milikku."

Di dalam kamar yang terkunci rapat dari dunia luar, Aksa benar-benar membuktikan ucapannya. Ia memperlakukan Valerian bagaikan seorang ratu, seorang wanita yang paling istimewa dan dipuja. Berbanding terbalik dengan sikap kasarnya yang posesif tadi, kini setiap sentuhan Aksa dipenuhi dengan kelembutan yang memabukkan.

Aksa mengecup kening Valerian, turun ke kelopak matanya, lalu membisikkan kata-kata pujian yang belum pernah Valerian dengar dari mulut Damian selama dua tahun pernikahan mereka. Aksa menyentuh setiap jengkal kulit Valerian dengan penuh penghargaan, menghapus seluruh rasa tidak percaya diri dan kehinaan yang selama ini ditanamkan oleh Damian. Di atas ranjang Aksa, Valerian merasa benar-benar hidup, dicintai, dan diinginkan seutuhnya. Mereka tenggelam dalam lautan gairah panas yang lambat dan penuh perasaan hingga fajar hampir menyingsing.

Sementara itu, di kamar utama, atmosfer terasa sedingin es.

Damian baru saja kembali dari ruang kerjanya setelah menyelesaikan beberapa dokumen. Ia berjalan menuju ranjang besar mereka, berniat untuk mengistirahatkan tubuhnya. Namun, begitu matanya menatap ke arah tempat tidur, langkah kaki Damian seketika terhenti.

Ranjang itu kosong. Selimutnya masih tertata rapi, dan tidak ada tanda-tanda keberadaan Valerian di sana.

Damian mengernyitkan dahi. Ia berjalan menuju kamar mandi, mengetuk pintunya, namun tidak ada jawaban. Kamar mandi itu kosong dan gelap. Damian memeriksa ruang pakaian, bahkan balkon kamar, namun Valerian sama sekali tidak ada di mana pun.

Jantung Damian mendadak berdegup dengan irama yang tidak beraturan. Rasa cemas yang bercampur dengan amarah yang pekat seketika membakar dadanya. Ini sudah jam tiga pagi, dan istrinya tidak ada di dalam kamar mereka.

Pikiran Damian langsung melayang pada kejadian di koridor beberapa hari lalu, dan bagaimana anehnya sikap Valerian saat makan malam bersama Clarissa tadi. Ego lelaki dan rasa cemburu Damian yang selama ini ia sangkal kini meledak sepenuhnya.

Damian mencengkeram ponselnya, mencoba menghubungi nomor Valerian. Namun, ponsel wanita itu tidak aktif.

"Rupanya kau benar-benar mulai berani bermain di belakangku, Valerian," geram Damian dengan suara baritonnya yang bergetar karena amarah yang memuncak. Rahangnya mengeras begitu rapat hingga urat-urat di lehernya menegang.

Damian melangkah keluar dari kamar utama dengan tatapan mata yang menyala berbahaya. Langkah kakinya yang berat dan penuh emosi kembali mengarah lurus ke ujung koridor lantai dua. Targetnya hanya satu: Kamar Aksa.

Damian berdiri di depan pintu kamar adiknya dengan aura membunuh yang sangat pekat. Ia tidak akan mengirim pesan lagi. Kali ini, tangannya terangkat dan mulai menggedor pintu kayu itu dengan sangat keras, siap menghancurkan apa pun yang menyembunyikan istrinya malam ini.

BUG! BUNG! BUNG!

"Aksa! Buka pintunya sekarang juga! Atau aku hancurkan pintu ini!" teriak Damian berang, suaranya menggema hebat di keheningan seisi rumah.

Di atas ranjang besar itu, Valerian langsung terduduk dengan napas memburu dan mata terbelalak horor. Seluruh tubuhnya mendadak sedingin es. Piyama sutranya yang sedikit berantakan membuat kepanikannya naik dua kali lipat.

Aksa dengan sigap menahan bahu Valerian, menyalurkan kehangatan lewat tatapan matanya yang tetap tenang seolah tidak terjadi apa-apa. "Tenang, Valerian. Masuk ke dalam walk-in closet-ku, lewat pintu rahasia di dalam yang tembus ke koridor belakang dekat jemuran lantai dua. Kau bisa kembali ke kamar utama dari sana," bisik Aksa cepat namun teratur.

Valerian tidak membuang waktu. Dengan jantung yang berdegup gila, ia melompat dari ranjang, menyambar ponselnya, dan menyelinap ke dalam lemari besar Aksa. Beruntung, rumah megah arsitektur kolonial ini memiliki beberapa akses lorong pelayan yang saling terhubung.

Begitu memastikan Valerian sudah aman, Aksa sengaja mengacak-acak rambutnya, membuka kemejanya hingga bertelanjang dada, lalu berjalan dengan langkah gontai dan wajah luar biasa mengantuk.

Cklek.

Aksa membuka pintu tepat saat tangan Damian terangkat untuk menggedor lagi.

"Ada apa sih, Kak? Ini jam tiga pagi, kau berisik sekali," gerutu Aksa sambil mengucek matanya, memasang wajah dongkol yang sangat natural.

Damian tidak memedulikan protes adiknya. Dengan wajah yang menggelap dipenuhi riak cemburu, ia langsung menerobos masuk ke dalam kamar Aksa. Sepasang netra elangnya menyapu seluruh sudut ruangan—menatap ranjang yang berantakan, memeriksa kamar mandi yang terbuka, hingga ke sudut sofa. Kosong. Tidak ada tanda-tanda Valerian di sana.

"Di mana Valerian?" tanya Damian, suaranya merendah penuh ancaman sembari berbalik menatap Aksa.

Aksa mengerutkan kening, menatap kakaknya dengan ekspresi heran yang dibuat-buat. "Kak Vale? Mana aku tahu. Dia kan istrimu, kenapa mencarinya di kamarku? Memangnya dia tidak ada di kamar utama?"

Damian mengepalkan tangannya. Tatapannya menatap tajam ke arah mata Aksa, mencoba mencari kebohongan di sana.

Tepat di saat ketegangan di antara dua pria itu kian meruncing, sebuah suara langkah kaki yang ringan terdengar mendekat dari arah koridor luar.

"Kak Damian? Aksa? Kenapa kalian malah berkumpul di sini?"

Itu suara Dania. Si bungsu keluarga Wardhana itu berdiri di ambang pintu dengan piyama bermotif beruang abu-abu, dengan wajah mengantuk yang menggemaskan. Namun, yang membuat jantung Damian dan Aksa sama-sama mencelos adalah sosok di belakang Dania.

Valerian ada di sana.

Wanita itu berdiri di samping Dania, mengenakan jubah tidur panjang yang tertutup rapat, memegang secangkir teh hangat yang masih mengepul. Wajahnya tampak lelah, namun ia berhasil memasang ekspresi datar yang tenang.

"Damian? Kenapa kau berteriak di kamar Aksa?" tanya Valerian, suaranya diusahakan tetap stabil meski batinnya baru saja melewati sakaratul maut.

Damian tertegun. "Kau... dari mana saja, Valerian? Aku mencarimu ke seluruh kamar."

Dania langsung menyenggol lengan Damian dengan cemberut. "Kak Damian ini keterlaluan, deh. Kak Vale tadi dari kamarku! Aku terbangun karena perutku kram karena datang bulan, jadi aku memanggil Kak Vale ke kamarku untuk meminta tolong dibuatkan teh herbal hangat dan mengompres perutku. Kak Damian tidurnya saja yang seperti kebo sampai tidak sadar istrinya keluar kamar!"

Aksa yang melihat itu diam-diam menarik napas lega di dalam hati, memuji kecerdasan Valerian yang sempat singgah ke kamar Dania untuk membuat alibi yang sempurna.

"Nah, dengar sendiri kan, Kak? Makanya jangan langsung menuduh yang tidak-tidak. Sudah ya, aku mau lanjut tidur. Mengantuk sekali," seloroh Aksa dengan nada humorisnya yang khas, lalu dengan santai menutup pintu kamarnya kembali, menyisakan Damian, Valerian, dan Dania di koridor.

1
Unicha
komen dong teman seperjuangan klw suka 😍
Unicha
komen dong teman" seperjuangan klw suka 😍
Unicha
Terimakasih telah membaca ,jangan lupa beri dukungan kalian ya ,,agar aku makin semangat 😍, dukungan kalian sangat berarti untukku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!