NovelToon NovelToon
Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Satpam Sakti: Sang Raja Serigala

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12: Sang Serigala di Balik Seragam Satpam

Pagi itu Bima mengundurkan diri dari Apartemen Danau Utara.

Ia tidak menunggu Jarot kembali dari pemeriksaan. Dengan kontrak lama, foto jadwal, dan salinan bukti pembayaran gaji di tangan, Bima mendatangi kantor pengelola gedung lalu menyerahkan surat pengunduran diri tertulis.

Staf yang menerimanya membaca nama Bima dua kali.

"Pak Bima Prawira?"

"Benar."

Perempuan di balik meja langsung merapikan posisi duduk. Kabar tentang seorang satpam yang menjatuhkan tiga polisi dan melucuti pistol telah menyebar lebih cepat daripada laporan resmi.

Manajer operasional datang tidak sampai lima menit kemudian. Ia mengajak Bima masuk ke ruang kecil, menawarkan air mineral, lalu berbicara dengan kehati-hatian orang yang takut salah memilih kata.

"Kami sudah memeriksa catatan shift dan meminta keterangan beberapa petugas," katanya. "Tindakan Pak Jarot tidak mewakili kebijakan pengelola."

"Saya mengerti."

"Status pemberhentian yang dia umumkan tidak sah. Kalau Pak Bima ingin tetap bekerja, kami bisa memindahkan koordinasi sementara ke orang lain."

Bima menggeleng. "Saya tetap mengundurkan diri. Lingkungan kerjanya sudah tidak sehat, dan saya mendapat peluang lain."

Manajer itu tidak memaksa. Hak gaji Bima dihitung sampai hari terakhir, ditambah penggantian jadwal dan setengah bulan upah sebagai penyelesaian hubungan kerja secara baik. Semuanya dicantumkan dalam lembar perincian, ditransfer melalui rekening, dan ditandatangani kedua pihak.

Bima membaca setiap baris sebelum membubuhkan nama.

"Tambahan ini dari pengelola," jelas sang manajer. "Bukan untuk menutup perkara. Jika polisi meminta keterangan, kami tetap menyerahkan rekaman dan dokumen."

"Kalau begitu saya terima."

Kesopanan mereka lahir lebih banyak dari rasa segan daripada penghormatan tulus. Bima tidak peduli. Selama haknya dibayar dan bukti Jarot tidak disembunyikan, ia tidak membutuhkan upacara permintaan maaf.

Ia mengemasi barang sebelum pukul sepuluh.

Seluruh hidupnya di asrama masuk ke satu koper: beberapa pakaian, alat mandi, dokumen, sepatu, dan dompet berisi foto lama. Doni membantu membawa koper sampai gerbang sambil terus mengeluh.

"Asrama bakal sepi, Bang. Siapa yang lempar bantal kalau aku berisik?"

"Bang Kliwon. Tangannya lebih berat."

"Bang kerja di mana setelah ini?"

"Nanti kamu tahu."

"Rahasia lagi."

"Kalau saya kasih tahu, lima menit kemudian satu kompleks tahu."

Doni tidak bisa membantah.

Bima menyewa kamar kos di pinggiran Surabaya. Bangunannya berada di ujung gang sempit, dua lantai dengan cat hijau yang mulai mengelupas. Kamarnya hanya cukup untuk ranjang, lemari, meja kecil, dan kamar mandi tanpa pemanas air. Jendela menghadap tembok rumah sebelah.

Biaya sewanya murah. Pemilik kos tidak banyak bertanya selama KTP dicatat dan uang bulan pertama dibayar.

Tak seorang pun akan menduga bahwa pria yang meletakkan satu koper di atas ranjang itu pernah memegang nasib ribuan orang bersenjata.

Bima bukan sekadar mantan tentara bayaran.

Dua belas tahun lalu, ia memasuki dunia konflik sebagai anak empat belas tahun tanpa keluarga, uang, atau negara yang benar-benar menunggunya. Ia mulai dari pekerjaan paling rendah: membawa peti amunisi, membersihkan senjata, dan berjaga di luar tenda orang lain. Di tempat-tempat di mana nama asli hanya memperbesar risiko, ia belajar bahwa kemampuan adalah satu-satunya identitas yang dihargai.

Ia bertahan.

Kemudian ia memimpin.

Dari satu tim kecil, Bima membangun pasukan yang kemudian dikenal sebagai Serigala Merah. Mereka menerima kontrak pengawalan, penyelamatan sandera, evakuasi warga, perlindungan jalur logistik, dan operasi bersenjata di berbagai wilayah konflik. Nilai kontraknya tumbuh dari ribuan menjadi jutaan dolar. Pemerintah bayangan, perusahaan tambang, dan kelompok bersenjata sama-sama pernah mencoba membeli jasanya.

Orang-orang yang bertempur di sisinya memanggilnya Sang Serigala.

Musuh yang selamat memakai nama lain.

Raja Serigala.

Pada puncaknya, satu perintah Bima dapat menggerakkan konvoi lapis baja, tim penembak jitu, pilot helikopter, tenaga medis lapangan, dan jaringan logistik di beberapa negara sekaligus. Ia pernah menghentikan evakuasi bernilai jutaan dolar karena pihak pemberi kontrak menyembunyikan keberadaan warga sipil di zona tembak. Ia juga pernah membawa seluruh timnya menembus pengepungan demi menjemput dua anggota yang dianggap pihak lain tidak layak diselamatkan.

Itulah alasan orang-orang Serigala Merah mengikutinya. Bukan sekadar karena ia paling kuat, melainkan karena Bima tidak meninggalkan orangnya untuk menjaga angka keuntungan.

Kekayaan yang dikelolanya pernah cukup untuk membeli gedung seperti Larissa Couture tanpa pinjaman. Rekening operasionalnya tersebar dalam berbagai mata uang, kendaraan tempur disimpan di beberapa gudang, dan setiap perantara besar di wilayah konflik mengenal nama sandinya. Namun semua sumber daya itu adalah milik pasukan, bukan mahkota pribadi yang ingin ia pertahankan.

Ketika Bima membubarkan Serigala Merah, ia tidak menyisakan takhta untuk diduduki lagi.

Julukan itu tidak datang dari kebengisan tanpa arah. Bima tidak pernah membiarkan anak buahnya membunuh warga sipil demi mempercepat operasi. Ia menolak kontrak yang meminta pembantaian, meski bayarannya cukup untuk membeli armada kendaraan lapis baja. Namun ketika seseorang mengarahkan senjata kepada timnya, ia tidak memberi kesempatan kedua.

Di bawah komandonya, Serigala Merah menjadi salah satu pasukan bayaran yang paling ditakuti di jalur konflik lintas benua.

Dan di antara semua orang yang mengikutinya, Surya adalah satu-satunya yang berani menendang pintu ruang komandannya tanpa mengetuk.

Surya bukan bawahan.

Ia saudara.

Kekuatan Bima juga bukan sekadar hasil latihan militer. Bertahun-tahun lalu, seorang guru pengembara mengajarinya Aji Surya Candra, olah napas dan tenaga dalam yang mengatur tubuh mengikuti ritme siang, malam, dan tarikan napas. Melalui latihan panjang, daya ledak, kepekaan, ketahanan, dan kendali tubuhnya tumbuh melampaui batas petarung biasa.

Ia telah mencapai tingkat Tenaga Inti.

Pada tahap itu, tenaga tidak lagi hanya menghantam dari permukaan. Ia dapat dialirkan, ditahan, atau dilepas dengan ketepatan yang cukup untuk mematahkan benda keras tanpa menghancurkan tangan sendiri. Itulah alasan dua pria bersenjata di apartemen terasa seperti lawan latihan. Itulah alasan tiga polisi terlatih tak mampu mengunci geraknya.

Namun Bima mandek selama tiga tahun.

Jalan menuju Manunggal tidak bisa dibuka hanya dengan otot atau pengulangan gerakan. Ada sesuatu dalam batinnya yang menolak menyatu. Tiga tahun operasi, korban, keputusan buruk, dan wajah orang-orang yang gagal ia selamatkan menumpuk menjadi dinding yang tidak terlihat.

Kematian Surya satu setengah bulan lalu bukan awal dari dinding itu.

Kematian tersebut adalah batu terakhir yang membuatnya tak tergoyahkan.

Setelah menguburkan sahabatnya, Bima memanggil seluruh komandan Serigala Merah. Ia membubarkan pasukan yang dibangunnya sendiri, menyelesaikan kontrak yang masih bisa ditutup, dan membagikan dana operasional serta rekening rahasia sebagai pesangon kepada orang-orang yang pernah mengikutinya.

Tak ada perebutan takhta.

Tak ada perang pengganti.

Raja Serigala menghilang begitu saja.

Ia pulang ke Indonesia membawa satu koper, pakaian secukupnya, dan foto Surya. Kekayaan yang pernah berada di bawah kendalinya tertinggal sebagai uang hidup bagi para mantan anak buahnya. Yang ia simpan hanya kemampuan, ingatan, dan janji terakhir.

Kini kamar kos sempit itu menjadi markasnya.

Bima membuka koper, menggantung kemeja, lalu menaruh foto Surya di atas meja untuk sesaat.

"Jangan tertawa," gumamnya. "Tempat ini masih lebih bersih daripada barak pertama kita."

Surya di dalam foto tetap menyeringai.

Menjelang siang, Bima mengenakan kemeja polos dan pergi ke kantor Larissa Couture. Gedungnya tidak terlalu tinggi, tetapi fasad kaca dan logo perak di atas pintu menunjukkan perusahaan yang sedang berkembang. Truk kain masuk melalui gerbang samping. Pegawai membawa gulungan bahan, kotak sampel, dan rak pakaian dari satu bagian ke bagian lain.

Bima berdiri di depan meja resepsionis.

"Saya menelepon tadi pagi soal lowongan keamanan."

Resepsionis menyerahkan formulir dan mengarahkannya ke ruang bagian SDM. Bima mengisi identitas asli, alamat kos baru, pengalaman satpam Danau Utara, serta pengalaman kerja keamanan kontrak di luar negeri tanpa mencantumkan nama Serigala Merah.

Pada bagian alasan meninggalkan pekerjaan, ia menulis: konflik dengan atasan langsung sedang ditangani pengelola dan kepolisian; mengundurkan diri secara resmi setelah hak diselesaikan.

Staf SDM membaca jawabannya dengan alis terangkat.

"Anda jujur sekali, Pak Bima."

"Kalau saya sembunyikan, verifikasi akan menemukannya."

"Kami perlu menghubungi pengelola Danau Utara."

"Silakan. Nomor manajer operasional ada di lampiran."

Wawancara berlanjut bersama pengawas keamanan. Ia menanyakan prosedur buku tamu, pemeriksaan kendaraan, penanganan kebakaran, dan cara menghadapi pegawai yang menolak diperiksa.

Bima tidak menjawab seperti petarung. Ia menjawab seperti petugas: mencatat, memberi peringatan, memanggil penanggung jawab, mengamankan jarak, dan menggunakan kekuatan hanya bila ada ancaman langsung.

"Kalau ada pencuri membawa pisau?" tanya pengawas.

"Utamakan menjauhkan orang lain, tutup jalur keluar, panggil polisi, lalu hentikan ancaman dengan risiko paling kecil."

"Bisa bela diri?"

"Sedikit."

Pengawas melihat bahu dan telapak tangannya. "Sedikit, ya?"

Bima tersenyum sopan.

Verifikasi telepon ke Danau Utara memberi jawaban yang jauh lebih baik daripada perkiraan staf SDM. Manajer lama menegaskan bahwa Bima mengundurkan diri secara sah, tuduhan pencurian terbukti rekayasa, dan kinerjanya sebelum konflik tidak bermasalah.

Menjelang sore, kontrak masa percobaan diletakkan di hadapannya.

Bima membaca gaji, jam kerja, BPJS, aturan lembur, kewajiban pemeriksaan latar, dan ketentuan penghentian. Setelah semua jelas, ia menandatangani.

"Mulai besok pagi," kata staf SDM. "Hari ini ambil ukuran seragam dan kartu akses sementara."

Di ruang perlengkapan, Bima menerima dua set seragam abu-abu gelap dengan logo Larissa Couture di lengan. Ia mencoba satu set untuk memastikan ukuran. Seragam itu lebih rapi daripada milik Danau Utara, tetapi bagi orang lain tetap saja pakaian petugas yang berdiri di gerbang.

Tak seorang pun di ruangan itu tahu mereka baru saja memberi kartu akses kepada Raja Serigala.

Sore menjelang ketika Bima keluar dan berdiri di depan gedung. Logo perak Larissa Couture memantulkan cahaya matahari. Pegawai lewat tanpa menoleh dua kali kepada satpam baru.

Ia menyentuh saku tempat foto Surya disimpan.

"Surya, aku sudah sampai," bisiknya.

Bima memasang kartu akses di dada dan melangkah melewati pintu sebagai orang yang tidak dianggap siapa-siapa.

Mulai hari itu, Vanya Wijaya berada dalam jagaannya.

1
GEMBONG SAKTI
hilangkan penyebutan saya, pakai aku malah lebih bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!